
Police line yang membentang entah apa alasannya, serta suasana yang mungkin boleh dibilang tidak ada tanda-tanda kehidupan selain perempuan itu. Wah, mungkin suasana menjadi horor dan penuh misteri.
Pasti Gaia benci dengan keadaan ini, baru masuk saja sudah tidak nyaman.
“Ada apa dengan onsen ini?”
Hanya respon datar yang diterima. Padahal Gaia butuh penjelasan untuk menghilangkan ketidak nyamanannya.
“Nanti kita bicarakan,” gadis itu melirik Gaia sembari berjalan, “Oh yah, maaf yah sebelumnya. Tiket yang waktu itu kami bagikan seharusnya kami tarik, tapi karena sudah terlanjur menyebar makanya tiket itu tidak bisa dengan mudah kami tarik.”
“Iya gak apa-apa. Tapi aneh rasanya, kenapa onsen ini jadi menyimpan kesan horor kalau sepi begini?”
Memang benar, sedari tadi Gaia terus melirikkan matanya kemana-mana. Kedua tangannya ia lipat di dada, sedangkan bulu kuduknya otomatis berdiri. Ini adalah salah satu ketakutan Gaia, yaitu rumah yang menyeramkan.
“Hahaha … mungkin itu karena lukisan-lukisan tua yang terpajang.”
“Kalau boleh tahu, kenapa tiket-tiketnya ditarik?”
Ekspresi gadis itu tiba-tiba menjadi datar, aneh. Padahal baru saja dia tertawa dan Gaia mengira kalau tadi adalah kesempatan yang tepat untuk bertanya. Yah mau bagaimana lagi, benar-benar gadis yang susah ditebak.
Setelah berjalan agak lama, akhirnya mereka berhenti di sebuah ruangan. Jika dilihat dari barang-barang perkakas, benda-benda yang sudah usang dan tidak terpakai. Mungkin gambaran itu sudah cukup menjelaskan kalau tempat yang mereka datangi adalah gudang.
“Ee … kenapa kita ke sini?”
“Tenang, duduk saja di situ.”
Tunjukkan jari merujuk pada dua buah zabuton (alas duduk tradisional jepang yang terlihat seperti bantal duduk biasa) yang ada di sudut ruangan. Gaia duduk di atasnya, begitu pun dengan gadis yang duduk di sebelah.
“Oke, aku akan jawab semua pertanyaanmu tadi. Gudang ini adalah penyebab masalah yang terjadi di onsen ini.”
“Maksudnya?”
Gaia penasaran sekaligus tersentak. Ternyata gadis itu menuntunnya ke sumber jawaban.
“Karena di ruangan inilah disimpan sebuah barang. Barang itu berupa sebuah gaun yang telah … yang telah menyebabkan pemilik dari onsen ini meninggal dunia.”
Dirinya tak kuasa menahan air mata. Memang wajar, apalagi yang diceritakan adalah kejadian tragis. Itu pasti sangat memilukan untuk diingat kembali.
Gaia tahu akan hal itu. Dia memang tidak mengetahui kebenarannya, tapi tetap saja, jika itu sudah menyinggung perasaan orang lain mungkin agak layak untuk tidak lanjutkan. Makanya, wajahnya pun ia buang ke arah lain.
“Maaf telah bertanya padamu, lebih baik tidak kuteruskan.”
“Tidak, kamu harus mengetahui kebenarannya.”
Gaia tersentak, dia langsung mengembalikan pandangan. Dan yang dia lihat, apa-apaan gadis itu. Gadis itu menatap Gaia seperti dialah pelakunya, terlihat jelas tangisan dan kemarahan yang bercampur aduk.
Ekspresinya menjadi kacau dengan mata yang melotot dan tangan yang memegang lengan Gaia dengan erat. Saking eratnya, sampai Gaia meringis kesakitan.
“A-ada apa ini, kenapa? Kenapa aku jadi sangat ketakutan?”
Hanya dilampiaskan dalam gumaman. Tentu saja dia tidak akan berbicara langsung dengan wanita yang tidak jelas itu.
“Boleh aku lanjutkan?”
Hanya anggukan saja, ketakutan Gaia semakin lama semakin naik. Apa yang ada di mata wanita itu adalah … kegilaan. Hal ini baru saja terjadi dan perubahan yang tiba-tiba itu tentu sangat … menakutkan.
“Malam itu merah darah, padahal saat itu tanggalan kembali berulang.”
Tiba-tiba saja gadis itu berdiri dan berjalan mengelilingi gudang. Sudah seperti pencerita yang menjiwai dongengnya.
“Dia menunjukkan jati diri yang sebenarnya … ahh tidak, bukan dia tapi mereka. Mereka yang tunduk di hadapannya.”
Perilaku aneh dilanjutkan dengan langsung berjalan dan duduk di tempat semula. Tatapan yang aneh dan menyeramkan melekat dalam tatapan Gaia, disertai senyuman lebar yang semakin menambah kesan.
__ADS_1
Siapa yang bisa tahan dengan pemandangan ini. Entah dia sudah gila karena kehilangan keluarga? Ahh, pandangan orang untuk pertama kali pasti bukanlah yang sebenarnya. Pandangan pertama pasti melibatkan emosi dan perasaan, sebelum semua itu diluruskan dengan logika.
“Apa aku sudah terjebak di sini? Dan … dan kenapa orang ini? CIKH, andai aku punya jawabannya.”
Mungkin terjebak juga bisa masuk ke dalam dugaan. Normalnya, gadis itu bisa saja langsung memberitahu semua ini saat masih di luar onsen. Tidak perlu sampai masuk ke dalam. Lagipula, mana ada orang yang mau menunjukkan kondisi rumahnya yang mengenaskan kepada orang lain.
“Kau tahu … kau tahu, waktu itu kami sedang mengadakan acara keluarga,” gadis itu mengangkat kedua tangannya, “Ada ayah, ada ibu, ada kakek, ada nenek ….”
Ternyata kesepuluh jari itu digunakan untuk menghitung jumlah anggota keluarga yang hadir. Setelah semua jari dia lipat, barulah bisa disimpulkan total anggota keluarganya berjumlah sepuluh.
“Malam itu sebenarnya penuh kehangatan, kami bergembira, bersenang-senang. Tapi ada satu hal yang kami tidak sadari, di saat yang bersamaan ternyata ada seseorang yang hari besarnya tidak dirayakan.”
Wanita itu menggenggam kedua tangan dengan erat, tangisan aneh mulai keluar setelahnya. Gaia sama sekali tidak mengerti maksud dari tangisan itu, bahkan dia sama sekali tidak mengerti dengan perilaku gadis ini.
“Ulang tahunnya sudah tidak dirayakan selama hampir sepuluh tahun.”
“Sepuluh tahun?”
Ucapan itu langsung tersambung ke otak Gaia. Sekilas terlintas berbagai dugaan berdasarkan maksud ucapan dari gadis itu.
“Selama ini aku tidak pernah merayakan ulang tahunku.”
Bersamaan dengan gumamannya, memori Gaia mulai menguak tentang masa lalu. Di mana dia masih kecil, saat dia berumur tujuh tahun.
Flashback*
“Ma, Gaia tadi abis ngerayain ulang tahun teman Gaia ma.”
“Oh, Gaia sudah dapat teman.”
“Iya ma, tadi Gaia juga sekalian ngebersihin toilet teman ma.”
“Ga-Gaia …,” Mamanya memeluk Gaia dengan erat dan penuh hisak tangis, “Kenapa kamu mau disuruh-suruh?”
“Gak apa-apa kok ma. Kata teman Gaia, Gaia bisa semakin sehat dan kuat … katanya sih kalau itu adalah salah olahraga yang bagus … hehehe.”
Entah apalagi yang harus dikatakan pada anaknya yang polos. Senyuman dan tawa itu benar-benar membuat ibunya merasa iba, dia itu anaknya, tapi dia hanya bisa bisu karena ketidakmampuan.
Yah, kondisi keluarga mereka yang miskin tidak akan bisa menuntut balas pada pelaku yang memiliki keluarga yang berkecukupan. Mereka akan terus ditindas, entah sampai kapan akan berakhir.
“Gaia …,” Ibunya menunduk, air mata itu masih terlihat, “Kamu belajar yang rajin yah, biar kamu tahu dunia ini.”
Lagi-lagi sebuah senyuman sebagai balasan. Gaia kecil mengangkat wajah ibunya kembali dan memberikan senyuman untuk dilihat sang ibu.
Apalah arti harta di dunia ini, bagi ibunya Gaialah satu-satunya harta yang dia miliki.
“Iya ma, Gaia janji.”
Gaia mengangkat jari kelingking sebagai tanda. Simpel, tapi sangat berarti.
“Oh iya ma, Gaia mau nanya.”
“Nanya apa sayang?”
“Kapan Gaia ulang tahun ma? Kayaknya udah dua tahun Gaia gak pernah ngerayain.”
Mamanya hanya menatap lekat, dia masih belum menjawab. Sedangkan Gaia, dia kebingungan karena mamanya susah menjawab pertanyaan itu.
“Bukan hanya dua tahun, tapi kita tidak pernah merayakannya bersama.”
Hanya gumaman, dia tidak berani untuk mengungkapkannya.
“Ehm, nanti mama jawab yah. Mama lagi sibuk.”
__ADS_1
“Ma, kenapa nanti ma?”
Gaia terus-menerus menarik baju ibunya, sedangkan ibunya hanya membelai rambut Gaia dengan penuh kasih sayang.
“Tenang Gaia, suatu hari nanti kamu akan menemukan jawabannya. Di hari, dimana kamu akan melampaui batasanmu.”
Flashback off
“Itu sudah delapan tahun yang lalu, tapi aku tidak ingat apa-apa saat berumur lima tahun ke bawah.”
“Hei!!!”
Gadis itu mengganggu Gaia dengan teriakan yang keras, membuat dirinya yang sedang bergumam tersentak tiba-tiba.
“Kau dengar tidak?!”
“I-iya … iya aku dengar.”
Suasana kembali menenang, gadis itu sudah siap untuk melanjutkan ceritanya. Wajah yang tadi penuh amarah, berubah drastis menjadi datar.
“Karena itulah kami semua dihukum, karena bersenang-senang di atas penderitaannya.”
Air matanya keluar lagi, entah apalagi yang ia tangisi.
“Padahal malam itu jagung-jagung sudah panen di ladang pamanku, tapi … tapi tidak ada yang akan memanennya lagi dan untuk selamanya.”
“Lalu, berapa orang yang … terbunuh waktu itu?”
“SEMUANYA!!!”
Gaia merasa bersalah karena bertanya, sekarang bunyi teriakan yang sangat keras terus menggema di telinga. Yah, bukan pada jawaban dari pertanyaan itu tapi pada suara yang mengganggu.
“Kenapa bisa terjadi?”
Dia memaksa untuk bertanya, walaupun telinga sudah menjadi korban.
“Waktu itu kami sedang berkumpul, acara bakar jagung. Kau tahu, sekalian merayakan panennya jagung di ladang pamanku.”
Sebelum dilanjut, gadis itu mendekatkan wajah sedekat-dekatnya dengan Gaia. Sekarang wajah mereka hampir saling bersentuhan dan ketakutan Gaia semakin bertambah. Yah, aksi aneh lainnya.
“Tiba-tiba …,” tindakan aneh lainnya, dia merangkul pundak Gaia dengan tatapan dan ayunan tangan yang mengarah ke langit-langit, “Sesosok berwarna hitam muncul dari perapian, dia yang memberikan kami pencerahan sekaligus memberikan kami hukuman.”
“Kau tahu hukuman apa itu?”
Gaia mengelengkan kepala.
“Itu adalah kematian.”
“Ta-tadi kan kata kamu semua orang mati. Kalau kamu bisa bercerita seperti ini … berarti kamu gak mati kan?”
Gaia mengalah pada rasa ingin tahu dan sudah dapat ditebak apa yang selanjutnya dilakukan gadis itu. Yap, perilaku aneh lainnya. Gadis itu berdiri dengan kepala yang menghadap Gaia. Seperti semua gerakan itu tidak ada artinya.
“Pertanyaan bagus, aku suka orang yang seperti itu. Sebentar, aku perkenalkan diriku dulu.”
“Namaku … Natsuki Ino. Panggil saja Ino, senang bertemu denganmu. Oh yah, namamu siapa?”
“Gaia Yashashi.”
Tiba-tiba Ino mengubah tatapan ke arah lain, ada sesuatu yang terlintas di pikirannya.
“Kayaknya aku pernah mendengar nama itu. Bentar, bentar aku cari dulu di kitabku.”
Sebuah buku kecil yang usang dikeluarkan dari saku celana. Penampilan buku itu nampak tua, namun setelah Gaia sekilas melihat judul bukunya, dia menyadari sesuatu.
__ADS_1