RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~MURID BARU~


__ADS_3

“Baiklah anak-anak, hari ini kita kedatangan siswi pindahan dari SMA Kagoyashi.”


Semua mata memandang dan tertuju pada bu guru yang sedang berbicara di depan mereka. Suasananya begitu hikmat dan ditambahi pula dengan cuaca pagi yang cerah.


“Dia … eee ….”


Mata bu guru memandang ke samping, menatap pintu kelas yang seperempat terbuka. Tidak ada siapa-siapa, itu jugalah yang diartikan dari penglihatan murid-murid. Kosong entah apalah yang dinantikan, pikir semua murid.


“Anu, bu yang mana orangnya?”


Pertanyaan itu membuat bu guru menggaruk kepala. Dia juga sebenarnya tidak tahu harus menjawab apa, itupun ia umpat dengan kekesalan pada keterlambatan siswi pindahan itu. Baru hari pertama saja sudah telat, yah setidaknya itulah yang dikesalkan oleh bu guru.


“Ehh, kayaknya ….”


“Maaf bu guru.”


Tiba-tiba, sesosok gadis remaja muncul di depan pintu kelas. Dia terengah-engah, baju seragamnya agak berkeringat. Rambut pigtail berwarna pink milik gadis itu melambai ke bawah, mengikuti gerakan kepala yang sedang menunduk.


“Maaf, saya telat.”


Siswi itu mengangkat lagi kepalanya. Menatap bu guru yang juga membalas tatapan yang diberikan. Sepertinya, dialah murid pindahan yang dimaksud. Jika melihat dari tatapan yang diberikan bu guru. Yah, kehadiran yang membuat bu guru tidak perlu menjawab pertanyaan muridnya.


“Baiklah, silahkan perkenalkan dirimu.”


“Baik.”


Siswi itu berjalan santai dan berdiri di samping bu guru. Untuk ukuran murid baru, sepertinya dia cukup pemberani.


“Hai teman-teman, perkenalkan namaku adalah Hibiki Haori. Panggil saja aku Haori. Aku adalah siswi pindahan dari SMA Kagoyashi. Makanan kesukaanku adalah ikan, ayam, dan yah, pokoknya semua jenis daging aku makan. Olahraga yang ku suka adalah tennis. Kalau rasa takut, aku tidak takut apa-apa dan binatang kesukaan, pokoknya semua binatang yang aku suka makan. Lalu, hobiku adalah menulis, menonton televisi, mempelajari perilaku manusia ….”


“E-em.”


Gaya bicara yang terkesan imut dan lucu. Walaupun isinya aneh, tapi telah sukses membuat beberapa orang terpaku dan membatu. Apalagi, sebagian besar adalah kaum laki-laki. Sayang sekali kalau bu guru menghentikan ucapannya. Tapi mau bagaimana lagi, dia sudah terlalu lama berbicara.


“Hehe, maaf,” menggaruk kepala, sebagai tanda rasa bersalah, “Salam kenal dan mohon bantuannya yah.”


Lagi-lagi diucapkan dengan nada yang imut dan lucu, disertai dengan kepala yang dimiringkan.


“Baiklah, perkenalannya cukup sampai disitu. Nah, silahkan kamu duduk di kursi paling belakang yang ada di dekat jendela. Yah, di belakang siswa bernama Yoki. Soalnya, kemarin baru ditambahkan kursi baru untukmu. Moga-mogahan, kamu bisa nyaman duduk di belakang.”


Untuk memudahkan Haori, walau sebenarnya tidak perlu, bu guru berucap sembari menunjukkan maksudnya dengan tunjukkan tangan. Tunjukkan itu mengarah ke arah sebuah meja yang ada di belakang Yoki, tidak ada istimewanya sih meja itu. Sama seperti meja murid yang lain kok.


“Baik bu.”


Langkah Haori terlihat lucu saat berjalan, seperti ada beberapa lompatan kecil di dalamnya. Sementara itu, selama dia berjalan beberapa mata dengan kurang ajarnya terus mengikuti langkah kaki Haori. Hingga ketika Haori duduk, mata mereka semua langsung berubah haluan dan menatap bu guru.


*****


“Baik anak-anak, silahkan bentuk kelompok dengan teman-temanmu. Kelompoknya bebas dan anggotanya maksimal empat orang. Oh yah untuk Haori, ibu harap kerja kelompok ini menjadi kesempatanmu mengenal murid-murid lainnya. Jangan sungkan kalau kamu tidak tahu apa-apa, kamu boleh bertanya kok ke teman-teman serta ibu sendiri.”


“Baik bu guru.”


Sudah cukup sampai disitu, sekarang waktu bagi mereka semua untuk mencari kelompok. Dan yah seketika, kelas menjadi gaduh karena banyak murid yang berebut untuk mengambil kelompok. Kalau untuk Gaia, Yoki, dan Kenichi sih tidak masalah. Mereka hanya tinggal menunggu satu orang lagi dan orang yang menghampiri mereka adalah Haori.


Mereka bertiga hanya memandangi siswi baru yang sekarang tengah berdiri. Layaknya seseorang yang ingin melamar pekerjaan, Haori menunduk dan meminta agar dia boleh masuk ke kelompok mereka. Yah, mereka bertiga sebenarnya tidak bisa menolak. Karena semua kelompok sudah penuh.


Lagipula, perasaan mereka tidak enak kalau sampai membuat Haori berbuat sejauh itu. Itu, bukanlah yang mereka mau.


“Oke, mohon bantuannya.”


Diterima, Haori merasa senang dan tersenyum lebar. Dia mengambil tempat duduk di samping Gaia dan berada pula di sebelah jendela.


“Baiklah, sekarang ….”

__ADS_1


“Oh yah, boleh aku mengenal kalian lebih dalam?”


Mereka bertiga memikirkan dulu tawaran Haori, bisa jadi tawaran itu dapat mengganggu kerja kelompok mereka.


“Ya sudah, namaku Kenichi.”


Pada akhirnya, Kenichi menerima tawaran Haori terlebih dulu. Yah, sedikit perkenalan pada murid baru tidak terlalu buruk juga, siapa tahu mereka bisa lebih dekat dengannya. Lagipula, itu kan bagian dari instruksi bu guru tadi.


“Apa aku boleh tahu hobimu?”


“Hobiku … bela diri.”


“Ohh.”


“Kalau aku Gaia, hobiku membaca.”


Secara otomatis, Gaia mengambil giliran setelah Kenichi. Dia ingin mengungkapkan hobinya, siapa tahu Haori juga mempunyai hobi yang sama dengannya.


“Hoo, membaca kah. Uhmm, ngomong-ngomong siapa penulis favoritmu?”


“Mister N.”


Ternyata benar, dugaan Gaia tidak salah. Apalagi jika dilihat dari mata Haori yang berbinar, sepertinya Subaru Tenho juga penulis favoritnya.


“Uwow, dia memang benar-benar luar biasa. Walaupun hanya punya satu novel, tapi cerita novel itu mengandung banyak adegan yang menguras air mataku.”


Saking sukanya, Haori sampai menitikkan air mata dan menghayati setiap hal yang menyangkut tentang penulis favoritnya.


“Iya, sama hiks … hiks ….”


Sepertinya Gaia juga terpengaruh dengan cerita Haori. Sekarang mereka berdua malah menangis bersama-sama, bukannya mengerjakan tugas kelompok yang telah diberikan.


“Tapi, entah kenapa penulis itu terlalu kejam. Hampir semuanya mati, yah emang bakal nambah kesan sedih sih. Tapi …,” Kenichi menyandarkan punggungnya di kursi, “Bukankah itu terlalu berlebihan.”


“Uhmm, tapi menurutku itu malah harus terjadi buat keseimbangan akhir dari novelnya. Kan kamu tahu, pada akhirnya semua karakter itu sia-sia.”


Tidak terima dengan pendapat Kenichi, Haori angkat bicara. Bukan menolak, dia lebih ke arah meluruskan pendapat Kenichi yang menurutnya keliru.


Lagipula, mereka hanya adu argumen yang merupakan pendapat dari pribadi masing-masing. Argumen dari ketiga orang yang menyukai sesuatu yang sama.


“Bener juga sih.”


“Oy, aku gak ngerti dengan apa yang kalian ngomongin lah.”


Tiba-tiba Yoki memotong obrolan mereka bertiga, membuat ketiganya fokus menatap Yoki. Yah, Gaia dan Kenichi sadar kalau Yoki tidak suka, bahkan belum pernah membaca satu buku cerita mana pun.


“Oh yah, kalau tidak salah … kamu gadis yang pernah ngobrol denganku di kedai kopi tempatku bekerja kan?”


Mungkin itu jadi salah satu alasan Yoki memotong obrolan para penggemar buku. Dia sebenarnya ingin bertanya sesuatu pada Haori, karena Haori adalah orang yang pernah mengunjungi kedainya tempo hari.


“Ahh yah, kamu Yoki kan.”


Ini adalah kesempatan bagi Yoki untuk mempertanyakan topik pembicaraan mereka waktu itu, karena saat itu posisi mereka berdua hanyalah sebagai seorang pelayan dan pelanggan.


Jarang-jarang kesempatan ini bisa datang, jadi dia tidak perlu membawa beban pikirannya lagi karena mereka bisa saling mengobrol sebagai sesama murid.


“Aku punya beberapa pertanyaan untukmu, uhmm …,” Yoki memegang dagu dengan satu tangan, dia sudah siap untuk bertanya, “Kenapa kamu tahu tempat kerjaku?”


“Kebetulan saja kok, aku hanya sedikit …,” Haori membuang tatapan ke samping kanan, sekarang wajahnya terlihat seperti sedang tersipu malu, “Mengikutimu.”


Wajah Yoki memerah saat mendengar kata-kata Haori, entah mantra apa yang terbalut di dalamnya. Mungkin itu karena ucapan yang berbanding lurus dengan wajah Haori yang tersipu malu, atau mungkin karena Yoki yang terlalu cepat menyimpulkan.


“A-a-apa maksudmu?”

__ADS_1


Sepertinya ini akan menjadi pembicaraan dua arah, karena Kenichi dan Gaia tidak mengerti dengan arah obrolan mereka.


Sebagai penonton, tapi dalam artian yang berbeda. Yah, tindakan pertama mereka saat melihat kedua orang itu saling berbalas kata adalah … menghindar.


Sepertinya, kedua murid itu juga salah pengertian. Jadi maksud Haori yang sebenarnya sudah dibelokkan.


“E-ehem … ehem ….”


“Kenapa Kenichi?”


Yoki bertanya, tapi dia sudah tahu sih maksud dari deheman Kenichi. Orang dia yang pertama kali membelokkan arti dari ucapan Haori dengan bertanya memakai nada yang gugup.


“Tidak, tidak ada apa-apa. Aku hanya sedikit serak.”


Mencoba berdelik, tapi aktingnya terlalu buruk. Kedua temannya sudah sadar, tapi entah kenapa Haori tidak sadar. Yah, itu bisa ditunjukkan dari raut wajah yang keheranan. Lugu, polos, mungkin itu bisa menunjukkan sifat Haori.


“Heleh, alasan.”


“Hehehe .…”


“Jadi, apa maksudmu tadi?”


Sekarang Yoki kembali ke topik utama.


“Jadi …,” gadis itu tersenyum dengan mata yang menatap langit-langit di belakang Yoki, “Aku pernah melihat pertarungan kalian bertiga dengan beruang di bukit yang ada di belakang sekolah dan … dan itu, adalah pemandangan yang sangat menarik.”


“Apa?”


Sepertinya Yoki tidak bisa mengontrol diri. Dia sampai tidak bisa membedakan tempat dan waktu yang tepat, sehingga sekarang dia menjadi perhatian penghuni kelas beserta gurunya.


Yoki yang sadar akan hal itu langsung memalingkan mata menatap guru yang juga menatapnya.


“E … tadi hanya masalah kecil tentang materi yang kami ambil,” Yoki menggaruk kepala dengan tubuh yang sudah ditegakkan, “Jadi, tidak ada apa-apa kok.”


“Cepat duduk dan selesaikan tugas kelompok kalian.”


Tanpa disuruh pun Yoki sudah langsung duduk, dia tidak mau menarik perhatian lebih banyak. Tapi tetap saja, Kenichi agak jengkel dengan perilakunya tadi.


“Haaah, dasar Yoki.”


Dari posisi punggung yang bersender di kursi, Kenichi memajukan badan dan mengarahkan tangannya ke arah Yoki.


Entah apa yang akan dilakukan Kenichi, tapi di dalam ketidaktahuan itu Yoki agak sedikit ketakutan. Sampai dia pada akhirnya tahu kalau Kenichi sedang menarik telinganya.


“Aww, maaf maaf.”


“Hahaha … gitu aja gak kuat, dasar lemah.”


Kenichi sudah selesai, dia kembali ke posisi duduk yang nyaman menurutnya. Sedangkan Yoki agak sedikit meredakan rasa sakit tadi.


“Apaan sih, gak jelas.”


Disertai racauan juga pada tindakan Kenichi.


“Sudahlah, kita kerjain dulu tugas kita baru nanti lanjut ngobrolnya.”


“Ya ya ya, terserah kau lah Kenichi.”


Kenichi memajukan badan, sekarang dia akan memulai pekerjaan yang tertunda tadi.


“Sekarang, kita mulai tugas kelompoknya.”


“Oke!!!”

__ADS_1


Ketiga orang itu menjawab serempak. Mereka sudah menunjukkan semangat dalam mengerjakan tugas. Walaupun masih ada pertanyaan di hati Yoki, tapi kewajiban harus dikerjakan terlebih dulu.


__ADS_2