
“Selanjutnya kita akan bermain roaller coaster.”
“Yosh, apapun yang dipilih Haori aku pasti setuju.”
Selanjutnya adalah roaller coaster. Siapa sih yang tidak mengenal wahana yang satu ini, wahana permainan berupa kereta yang dipacu dengan kecepatan tinggi pada sebuah rel. Wahana ini sudah biasa ada di taman hiburan, jika tidak ada mungkin akan terasa hambar.
Roaller coaster yang ada di taman ini sangat besar. Tingginya saja sudah mencapai 73 meter, apalagi lintasannya panjang, berkelok-kelok, dan kadang-kadang menukik terlalu tajam. Yah, sebuah roaller yang penuh adrenalin bukan.
“Apa aku boleh ke toilet?”
“Baiklah.”
Untuk beberapa menit mereka bertiga menunggu Haori yang pergi ke toilet. Walaupun harus menunggu, tapi wahana ini tetap saja menyenangkan untuk dipandang. Setidaknya itulah yang tersirat dari senyuman mereka.
“Sekarang kita akan ngapain?”
“Eto … bukannya kita akan naik ke atas dulu.”
“Oke tunggu apalagi, ayo bersenang-senang.”
Haori yang kembali dari kamar mandi serasa berbeda, dia tidak seperti Haori yang tadi, yang tahu segalanya. Tapi apapun itu, sekarang Yoki, Gaia, dan Kenichi sudah duduk di roaller coaster. Yoki di depan, sedangkan Gaia dan Kenichi ada di belakangnya. Bagaimana dengan Haori? Anehnya hanya dialah yang masih belum duduk. Padahal, kursi di samping Yoki kosong.
“Apa yang harus aku lakukan?”
“Hee, duduk aja Haori. Di sampingku masih kosong.”
“Oke.”
Haori menuruti permintaan Yoki. Sekilas dia nampak seperti orang yang kebingungan.
“Lalu?”
“Lalu, kita tunggu saja.”
Sampai semua kursi penuh, barulah operator menjalankan kereta. Semula mereka akan berjalan pelan, sampai hal itu berubah saat mereka menukik ke bawah.
“A-apa yang terjadi dengan wahana ini?”
“Kamu kenapa Haori?”
“Tidak apa-apa, tapi kenapa rasanya wahana ini akan jatuh?”
Berbagai pertanyaan dilempar Haori saat wahana ini mulai berjalan, dia sudah seperti orang yang tidak pernah melihat wahana saja. Yang baru pertama kali menaiki roller coaster.
“Kenapa ini … heh … heh ….”
Racauan itu tidak ada apa-apanya sampai seperempat dari badan kereta sudah berada di rel yang menukik ke bawah.
Karena mereka berempat memilih kursi yang ada di barisan depan, mereka sudah bisa melihat bagaimana curamnya rel itu. Hampir sembilan puluh derajat. Tapi tenang, tidak ada apa-apanya untuk Yoki, Gaia, dan Kenichi.
“Yoki, apa yang akan terjadi dengan wahananya?”
“Gimana yah, wahananya akan meluncur ke bawah.”
“Hah!!! Takut, aku … aku gak mau naik. Aku mau turun Yoki, huahhh!!!”
Mau turun bagaimana, sekali roller coaster berjalan maka wahana ini hanya akan berhenti di tempat tujuan. Tidak mungkinkan operator hanya mementingkan perasaan seorang penumpang, dibandingkan belasan orang yang ikut menaiki wahana ini.
“Hee bukannya kamu yang nyaranin wahana ini.”
“Yoki … Yoki ….”
“Eee … pegang saja tanganku.”
Mungkin jawabannya akan ditunda, karena sudah hampir setengah badan kereta yang turun dan setelahnya, sudah pasti kereta meluncur dengan kecepatan yang sangat tinggi.
__ADS_1
Sangat cepat karena tukikannya yang begitu tajam. Hampir semua menikmatinya, terkecuali Haori dan Yoki. Karena Yoki yang menawarkan diri, makanya sedari tadi Haori terus memegangi tangan Yoki sampai … meremas-remas tulang Yoki dengan genggaman yang begitu kuat.
Jadi Yoki menjerit-jerit bukan karena wahana ini, tapi karena tangannya yang serasa remuk di tangan Haori. Mungkin, akan ada sedikit rasa penyesalan setelahnya.
Bahkan, setelah dirasa kurang Haori juga menyentuh bagian tubuh Yoki yang lain. Kepala, telinga, muka, semua menjadi korban bagi genggaman dan cubitan Haori. Sudah tidak usah diragukan lagi kalau kekuatan cubitannya sangatlah besar.
“Haaah … akhirnya, se-lesai ….”
Saat sudah turun dari wahana, Yoki langsung terbaring di bawah. Dia tak kuasa menahan semua itu, rasa capek dan lelahnya disebabkan Haori.
Bahkan rasa malu tidak diperdulikan Yoki lagi. Ya itu benar, mana ada orang yang berbaring di jalanan umum yang dilintasi banyak orang, setidaknya bagi orang yang masih waras.
“Hahaha … kayaknya Yoki sangat menikmati wahana itu yah.”
“Sudah Kenichi, jangan gitu.”
Bahkan Gaia yang menghentikan Kenichi juga ikut tertawa, walaupun tawanya hanya disembunyikan di mulut.
“Anu,” Haori menghampiri Yoki dan menunduk, “Maaf yah Yoki, aku sangat … ketakutan tadi.”
“Ahh, tidak … tidak. Aku tidak apa-apa kok, cuma mual gara-gara wahananya.”
Entah merasa tidak enak pada permintaan maaf Haori, Yoki tiba-tiba saja berdiri dengan kondisi sehat bugar seperti semula.
“Oh gitu.”
“Ngomong-ngomong, sekarang kita akan kemana lagi?”
“Uhm …,” tangan Haori memegang dagu, dia terlihat serius untuk berpikir, “Aku tidak tahu.”
Hanya ini hasil dari buah pemikiran yang mereka tunggu selama 3 menit. Mereka memang sudah kelelahan, tapi sayang kalau jatah satu wahana mereka buang.
“Haaah.”
Alhasil, mereka hanya bisa mendesah panjang.
“Sore hari … ahh aku punya ide.”
Mereka bertiga melirik Yoki.
“Bagaimana kalau kita naik kincir ria? Lagipula, kita bisa menonton sunset dari ketinggian.”
“Nice Yoki, aku sih setuju.”
Jawaban Kenichi mewakili yang lain, berarti sudah diputuskan kalau wahana terakhir yang akan mereka naiki adalah kincir ria.
Perjalanan memakan waktu yang lumayan singkat. Untung kincir ria adalah wahana dengan ukuran yang besar, jadi mereka tidak perlu repot-repot mencarinya di denah.
“Yosh, itu dia kincir rianya.”
Walaupun tidak ditunjuk Yoki, mereka bertiga masih dapat melihat wahananya.
“Baiklah, ayo kita naik.”
Mereka berempat naik dalam satu kabin. Kabin di wahana ini cukup untuk menampung 4 orang, jadi mereka berempat tidak usah berdesakan di dalamnya.
Setelah mesin menyala, roda kincir berputar dan membawa mereka ke atas. Benar kata Yoki, pemandangan dari atas sana memang benar-benar menakjubkan. Mata mereka berempat menyaksikan sang matahari yang akan segera berganti tugas dengan bulan.
Bahkan bagi Yoki, walau hanya sekilas, itu semua bisa menguak kembali masa lalunya. Yah, sebuah memori terlintas di pikirannya. Memori dimana ia masih bersama orang tuanya.
“Ayah, Ibu aku ingin naik itu.”
“Naik apa sayang?”
Ibu Yoki bertanya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
“Itu, yang berputar-putar dengan orang-orang yang diangkutnya.”
Akhirnya mereka tahu dengan apa yang diinginkan anaknya, sebuah kincir ria. Anak mereka Yoki ingin naik wahana itu.
Sedangkan mereka berdua, sebagai orang tua mereka terlihat sedih. Saat ini mereka hanya bisa melihat wahana itu dari kejauhan, dari luar taman hiburan.
“Oh itu, baiklah ayah sanggupi keinginanmu saat akhir bulan.”
“Kenapa gak sekarang yah?”
“Uhm, karena ini akan jadi hadiah untuk kelulusanmu nanti.”
“Hee, benarkah?” sebuah anggukan sudah cukup memuaskan Yoki, “Terima kasih.”
Bahkan, ditambah dengan pelukan erat untuk ayahnya.
“Hehe, tenang saja ayah sudah siapkan uang yang ba-nyak. Biar nanti kita bisa bermain di taman hiburan itu.”
Di malam harinya ….
Yoki terbangun karena dia diganggu oleh suara-suara. Ternyata berasal dari percakapan kedua orang tuanya, dia tahu setelah mengintip dan mendengar percakapan mereka.
“Gaji kita bulan ini gak cukup untuk membeli tiga tiket buat pergi ke taman hiburan itu, jadi mending kamu sama Yoki yang pergi ke sana.”
“Jangan Oda, anak kita mau kita berdua ikut juga. Kamu kan pernah ngobrol sama dia, tahu kan apa jawabannya. Lagipula, kamu sudah bilang kalau kamu punya uang yang sangat banyak.”
Ayah Yoki duduk, dia sedang dilanda stress berat. Bisa dibilang itu semua disebabkan oleh permintaan anaknya. Mereka tidak marah kok, sebenarnya mereka bisa menjawab “tidak”. Tapi kalau untuk anaknya, mereka tidak akan bisa menolak.
“Haaah, kalau gitu kita minta potong gaji kita bulan depan sama si bos.”
“Dan saat mereka meminta gaji itu, mereka berdua mati.”
Kesadaran Yoki kembali, dengan gumaman yang memicu air mata. Dia benar-benar sakit untuk mengingat memori itu, keinginan bodoh Yoki dengan gampangnya mau disanggupi oleh kedua orang tuanya.
Dan apa yang menunggu di akhir? Yang pasti bukan kebersamaan Yoki dan kedua orang tuanya menaiki wahana itu, tapi sebuah kematian. Kematian yang mengakhiri dan mengawali segalanya.
“Tapi setelah sekian lama …,” ucapan Yoki terjeda karena tangis yang mengiringinya, “Akhirnya ayah, ibu aku bisa naik wahana ini.”
Mungkin Yoki telah mengetahui alasan tangisannya, tapi tidak dengan yang lain. Mereka bertiga heran sambil menerka-nerka air mata itu. Mungkin karena pemandangan? Mungkin karena dia baru naik wahana ini sekali seumur hidup? Yang jelas, mereka akan mendapat kebenaran setelah bertanya.
“Kenapa kamu sedih Yoki?”
“Heh …,” agak terjeda karena kaget, “Aku hanya kelilipan saja, hehe.”
“Begitu yah.”
Bukannya mau menerima jawaban itu, hanya saja Gaia merasa tidak enak. Dia, bahkan Kenichi dan Haori tahu kalau wahana ini memiliki arti maupun kenangan yang penting bagi Yoki.
“Hahaha kayaknya ada sesuatu nih.”
Dan Haorilah yang mengungkapnya secara terang-terangan.
“Sudah berakhir, ayo kita turun.”
Kini roda kincir ria telah berhenti, mereka berempat turun dari wahana itu. Setelah tiket ditanda tangani, Gaia mengecek kembali sisa kuota dari tiketnya.
“Haaah, sayang yah kita sudah tidak bisa naik wahana lagi.”
“Ya mau bagaimana lagi, hari juga sudah malam.”
Sedangkan Kenichi mengecek langit.
“Kita langsung pulang?”
Tiga buah anggukan diterima Yoki, sekarang tujuan selanjutnya sudah jelas. Berjalan sejajar sampai ke halte bus. Karena ada beberapa individu yang punya arah dan tujuan yang berbeda, maka di halte inilah mereka berpisah.
__ADS_1
Kenichi ke rumahnya, Yoki dan Gaia seperti biasa pergi bersama, sedangkan Haori pergi ke hutan. Dia punya tujuan dan maksud lain, bukan berarti dia tinggal di hutan tapi di sanalah tempat untuk bertemu seseorang.