RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~DIMULAINYA LIBURAN~


__ADS_3

Akhirnya, setelah melewati 1 jam perjalanan yang berat, mereka semua sampai di depan penginapan. Lelah, letih, lesuh mereka lalui.


Bagaimana tidak, mereka semua berjalan sambil membawa bawaan mereka masing-masing yang bisa ditaksir sangat berat, dilihat dari bentuk tas yang sudah mengembang. Sedikit lagi, tas mereka semua pasti rusak dan memuntahkan isinya.


“Woi, kenapa aku yang harus bawa barang-barang ini?”


Pak guru mengeluh pada tugas yang diemban olehnya. Itu semua akibat dari kelalaiannya dalam menjalani tugas. Dia dihukum oleh para murid untuk membawa barang bawaan murid-murid yang membawa dua tas.


Alhasil, dia harus mengangkut sekitar 5% barang bawaan semua murid. Itu termasuk berat, ditambah dengan barang bawaannya dan perjalanan yang amat panjang.


“Sudah, sudah jangan mengeluh. Turunkan saja di …,” mata siswi berambut pendek itu terkesiap, saat melihat pak guru dengan tumpukan tas sedang berjalan ke arahnya, “Ngapain ke sini, hei … hei!”


Tumpukan tas yang tinggi menutupi pandangan pak guru. Ia tidak bisa melihat jalan, alhasil dia berjalan ke sumber suara karena menyangka itu adalah tempatnya untuk menurunkan beban.


Pak guru itu menaruh semua tasnya. Tidak ada lembut-lembutnya, malahan tas-tas itu dilepaskan ke bawah tanpa menunduk terlebih dulu.


Semua tas menyentuh tanah dengan kasar, menimbulkan suara benturan dengan tanah dan jeritan seorang siswi. Aneh, pikir pak guru. Tidak mungkin tas-tas itu bisa memiliki kelamin, atau bahkan ada cewek di dalamnya. Pada akhirnya, hanya pikiran aneh dan mesum pak gurulah yang bergumam.


“Pak guru laknat, aku belum selesai ngomong!”


Dari tumpukan tas, keluarlah seorang siswi yang langsung membentak gurunya. Guru itu memberi respon kaget dan tersenyum kecut karena malu.


Sedangkan, semua murid malah menjadikannya sebagai lelucon. Mereka tertawa terbahak-bahak, membuat siswi itu membuang muka karena malu.


*********


“Yoki.”


Suara siswi terdengar dari belakang Yoki, membuat Yoki langsung berpaling.


“Ga-Gaia.”


Respon Yoki sedikit terkejut dengan dua tujuan yang berbeda, pertama ia melihat sosok yang sedari tadi tidak ia lihat. Yoki pikir, Gaia tidak ikut liburan ini.


Kedua, pakaian santai Gaia membuat Yoki terpesona. Rambut coklat Gaia begitu indah saat berhiaskan topi jerami di atasnya.


Pakaian Gaia sederhana sebenarnya, warna biru muda dengan strip putih yang membentang secara horizontal, dan rok biru selutut. Namun entah kenapa, Yoki begitu tertarik akan hal itu.


“Ma, aku tahu kamu kaget karena aku tidak ada di sana. Itu karena aku sedikit malu pada pakaianku.”


Jawaban Gaia diakhiri dengan kepalanya yang tertunduk malu. Entah kenapa dia, padahal tidak semua busana harus glamor dan mahal untuk menggambarkan kecantikannya.


Memiringkan kepalanya, Yoki berkata, “Kenapa harus malu, padahal kau sangat ca .…”


Ucapan Yoki terhenti saat mendengar sapaan seorang pria yang datang dari samping kiri. Pria itu adalah Kenichi yang menghampiri mereka dengan lambaian tangan.


Bukan perasaan senang, Yoki malah mengecutkan senyum seraya bergumam, “Dasar perusak suasana.”


“Kalian sedang apa?”


“Eeee ….”


Sebenarnya Yoki masih ragu memilih jawaban, untung terdengar pengumuman dari bu Mariko yang telah menyelamatkan dirinya.


Pengumuman itu menyuruh semua murid pergi ke lobi untuk mengambil kunci kamar. Mengikuti langkah bu Mariko, semua masuk ke dalam penginapan. Semua memberikan kekagumannya, pada interior yang dimiliki penginapan ini.


Bahkan, pelayanan yang mereka dapatkan sudah sangat ramah saat mereka pergi ke meja lobi. Di situ kunci-kunci dibagikan.


Dua orang satu kamar dan lorong pria serta wanita juga terpisah. Agar tidak terjadi tindakan yang aneh tentunya. Namun, masih saja ada yang tidak peka pada hal sepele itu.


“Kenapa lorong pria dan wanita dipisah?”


Semua murid langsung menatap siswa tersebut dan serempak menjawab, “Ya iyalah!”


Lalu kembali ke kesibukan mereka untuk mengambil kunci dan memilih kamar. Kalau pasangan, mereka sudah tentukan dari jauh-jauh hari. Jadi saat ini, satu urusan sudah terselesaikan.


Selesai memilih kamar, mereka semua makan siang dan dilanjutkan dengan acara main di pantai. Yah, tentu perjalanan ke pantai sama jauhnya dengan perjalanan dari dermaga ke penginapan.


Jadi saat sampai, bukan kegirangan yang mereka rasakan, tapi capek karena kelelahan.


“Hati-hati yah jangan sampai memilih wahana yang mahal, karena hanya beberapa wahana saja yang digratiskan.”


Pak guru mengatakan itu saat belum masuk ke area pantainya, dan saat sudah masuk pak guru langsung terkejut melihat keadaan murid-muridnya yang mengenaskan.

__ADS_1


Banyak dari para murid yang tergoler di pasir, hanya beberapa yang masih berdiri. Bahkan, beberapa menganggap pasirnya sebagai kasur yang empuk. Padahal kan, pasirnya sudah panas.


“Eee ….”


Pak guru menaikkan kaca matanya dan lanjut berbicara.


“Semua wahana di sini, sekolah yang bayar.”


“Yuhu!”


Semua langsung bersemangat dan bangun dari tidurnya. Sedangkan pak guru sudah bisa meramalkan dompetnya yang akan kosong bulan ini.


Yah, dia sudah bersiap-siap membuat rencana, minum air putih dan makan seadanya. Sungguh rencana yang matang bagi seorang guru, tapi bukan kebanggaan baginya.


Waktu di pantai sudah menjelang sore saat mereka datang, jadi hanya beberapa menit saja mereka bermain dan banyak wahana juga yang sudah tutup.


Apalagi, perjalanan dari pantai ke penginapan juga menghabiskan tenaga yang sangat besar. Kan mereka juga tidak mau sampai di penginapan saat hari sudah larut.


“Haaah, berjalan kaki bolak-balik membuat kakiku kesakitan … astaga.”


Setelah sampai di penginapan, mereka semua sudah dipastikan tepar di kamarnya. Ada yang mengeluh kesakitan kaki dan ada pula yang langsung tertidur pulas.


Sementara Yoki berbaring di kamarnya, tidak demikian dengan Kenichi yang masih kuat berdiri.


“Yah, anggap saja ini ujian praktek hahaha …,” Kenichi berjalan ke balkon kamar dan memandang keluar, “Makanya olahraga.”


“Haaah, kasih semangat dong.”


Badan Yoki bangun dan berjalan ke balkon, menemani Kenichi di sebelah kirinya.


“Bagaimana dengan Gaia yah?”


“Dia kan sama Hiyori.”


Mereka terlibat percakapan singkat hingga larut. Tanpa perlu makan, mereka berdua langsung tertidur di kasurnya. Kenichi berada di kasur yang ada di pojok kiri kamar dan Yoki di seberangnya.


Keesokan harinya, mereka semua dikejut oleh pak guru yang membawa banyak sepeda ke penginapan itu. Dia bilang, Takao lah yang menyediakan semua sepeda itu. Tentu saja ini adalah kabar yang menggembirakan, daripada pergi ke pantai dengan berjalan kaki, lebih baik mereka semua pergi dengan bersepeda.


Tapi, sebelum berangkat tentu mereka harus mengisi tenaganya. Apalagi banyak dari murid-murid yang tidak makan kemarin.


“Yu-huu!”


Tanpa harus disuruh, mereka semua langsung menyerbu pantainya. Ada yang menikmati ombaknya, menikmati pemandangan dan ada juga yang sedang menyiapkan rencana untuk guru mereka.


“Pak guru, jangan dibuka dulu penutup matanya.”


Kenichi memberi arahan sambil memasangkan rompi di badan gurunya. Di sampingnya juga ada beberapa siswa yang ikut dalam rencana ini, tidak termasuk Yoki yang menolak kejahilan Kenichi.


“Oke sudah siap kejutannya pak.”


Pak guru membuka mata. Awalnya dia merasa senang, namun saat matanya sudah terbuka, ia merasa heran dengan maksud kejutan dari Kenichi.


“Pak lari pak, ada anjing!”


Pak guru dengan bodohnya terprovokasi dan mulai berlari ke depan. Di saat yang bersamaan, speedboat juga sudah maju dengan kecepatan penuh.


“He,he,he, ada apa ini? Woi kenapa aku naik? Kenapa aku naik?”


Sudah terlambat bagi pak guru untuk menyadarinya. Saat ia menoleh ke belakang, Kenichi hanya tersenyum puas dengan jarak mereka yang semakin menjauh. Bukan hanya dengan Kenichi, namun dengan permukaan juga.


“Kenichi, kamu tahu kan aku takut ketinggian!”


“Hehe, tahu kok makanya aku ingin menyelamatkan bapak dari ketakutan yang bapak punya.”


Teriakan di udara hanya dibalas dengan gumaman Kenichi. Dia hanya menatap gurunya puas, pada hasil pencapaian Kenichi tentunya.


Semua benar-benar menikmati hari ini. Berlibur di pantai tanpa harus kelelahan seperti kemarin, dan makan siang prasmanan yang menambah suasana sederhana.


Pulang ke penginapan pun tanpa kesusahan seperti kemarin, karena beban mereka sudah ditopang sepeda sekarang.


“Baiklah, apa kalian mau acara api unggun?”


Pertanyaan itu menggugah ketertarikan semua murid. Di saat yang sama juga membuat mereka bingung. Api unggun? Tapi dimana? Yah, itulah pertanyaan dari mereka semua.

__ADS_1


“P-pak, dimana acaranya?”


“Di depan penginapan tentunya.”


Pertanyaan mereka semua sudah terjawab. Sekarang tinggal rasa gembira sebagai hasilnya.


“Yak, tanpa berlama-lama mari kita persiapkan sekarang juga.”


Dengan sebuah anggukan, mereka semua mempersiapkan segalanya dan hanya butuh waktu sebentar bagi mereka untuk selesai. Yah, kalau sudah ada semangat semua pasti beres.


Harapan mereka pada acara api unggun ini juga tidak sia-sia. Pasalnya, banyak sekali kegiatan yang bisa mereka lakukan. Bermain musik, mengobrol, bahkan hanya canda tawa saja sudah memeriahkan suasana malam.


Di satu sisi, pak guru mereka sedang narsis berfoto dengan seorang siswi berambut pirang sepanjang bahu. Yah, itu semua bukan kehendak dari inisiatifnya sendiri.


Malahan, lebih ke arah pemaksaan tentunya.


“Ish, apaan sih pak. Ihhh .…”


“Foto sebentar lah, kapan lagi kita bisa berfoto bersama.”


“Tidak mau,” sambil melepaskan tangan pak guru yang hendak berfoto dengannya, “Dasar jomblo akut!”


“Ughhh!”


Sebuah kata-kata telah menjadi sebuah pukulan telak bagi guru tersebut. Dia langsung terjatuh ke belakang, sambil memikirkan kata-kata yang sangat ketus itu.


Sedangkan di sisi lain ….


“Hayato, bagaimana kamu melakukan trik sepeda yang tadi?”


Seorang siswa berambut coklat pendek, sedang berbicara dengan teman yang duduk di samping kanannya.


“Maksudmu, saat kedua kakiku naik ke saddle sepeda?”


“Banyak banget sih trik sepeda yang kamu pamerkan tadi, tapi kalau yang itu bagaimana yah?”


“Hehe itu semua hanyalah sebuah … keberuntungan saja.”


Hayato mengusapkan kepalanya, sambil memberikan senyuman. Mungkin sekarang tingkat kesombangannya sudah meningkat, melihat dari bentuk senyuman yang berbeda.


Jawaban yang membingungkan si penanya. Tapi maksud dari jawaban itu adalah simbol kesombangan milik Hayato.


Yah, Seperti itulah gambaran suasana yang disajikan secara alami pada malam hari ini. Suasana obrolan santai ditemani api unggun, yang menghangatkan suasana. Berkumpul bersama teman-teman sekelas sesudah melewati perjuangan yang panjang selama ujian.


Tentu, pengalaman dan sensasi ini akan sangat jarang terjadi ke depannya.


“Aku ingin mengambil perkusi ke bu Mariko.”


Di bawah pepohonan yang rindang, Terasaka meminta izin pada teman-temannya untuk pergi menemui bu Mariko. Dia ingin mengambil perkusi, agar suasana malam ini semakin meriah.


“Kau saja dulu, kami menyusul.”


“Owh sebentar,” Terasaka mendekatkan mulutnya ke salah satu temannya, “Bagaimana kalau setelah kita sudah mengambil perkusi di kamar bu Mariko, kita akan menjahili kamar Kenichi.”


Senyum langsung terpancar di wajah temannya. Itu adalah kesempatan dan waktu yang bagus bagi mereka. Apalagi, Kenichi masih fokus bercanda dengan Yoki dan Gaia.


Di depan kamar bu Mariko ….


“Permisi bu, aku mau mengambil perkusi yang ku titipkan.”


Berkali-kali Terasaka mengetuk pintu gurunya, namun tidak ada jawaban dari dalam. Pintunya saja tidak terkunci, malah terbuka sedikit. Dari intipan Terasaka, kamar bu Mariko seperti kosong dan gelap.


Memang dia agak takut, bukan karena seram atau apa. Tapi, takutnya bu Mariko sedang tertidur pulas di kamarnya dan Terasaka melihat hal yang tidak sepantasnya. Tapi ya sudahlah, ini sudah terlalu lama baginya untuk menunggu.


Pintu dibuka dan Terasaka syok saat melihat ke dalam. Bukan karena melihat posisi bu Mariko, atau hal-hal yang tidak sepantasnya. Tapi karena bu Mariko menghilang dari kamarnya. Ia mencoba berpikir jernih, barangkali bu Mariko sedang keluar kamar untuk melakukan sesuatu.


Jadi, dia berpikir untuk langsung mengambil perkusi dari dalam kamar bu Mariko. Kakinya berjalan pelan masuk ke dalam. Baru dua langkah ia berjalan, sebuah kertas terinjak di kakinya. Terasaka mengambil kertas itu dan membaca isinya.


“A-apa?”


Di sisi kertas yang ia baca, tercantum informasi yang mengejutkan dirinya. Sampai-sampai matanya bergidik, hampir seperti suasana orang yang sedang ketakutan. Menguatkan diri dan membalik sisi kertas. Terasaka menemukan tulisan yang membuat bulu kuduknya makin berdiri.


“Terasaka, jadi bagaimana?”

__ADS_1


Terasaka mendengar suara temannya. Dia berbalik badan dengan aura tubuh yang sama, dan saat sudah bertatapan.


“Bu Mariko, diculik.”


__ADS_2