
Pada saat jam istirahat, Yoki dan kedua temannya makan di taman. Yah itu sih adalah tempat yang hampir sama setiap hari, tempat yang digunakan ketika berehat dari kesibukan di sekolah. Tapi, yang berbeda adalah kehadiran seseorang yang tiba-tiba ikut mereka makan di tempat itu.
Orang itu dari tadi membuntuti mereka, seperti orang yang tidak punya tujuan saja. Mulai dari kelas hingga kantin, dia selalu memberi jarak saat berjalan di belakang mereka.
“Aku izin makan bersama kalian yah.”
Orang itu adalah Haori, sekarang dia sudah menunjukkan dirinya di depan mereka.
“Eee, gak papalah. Ini kan tempat umum.”
Yoki yang memberikan izin. Sebenarnya sih dia tidak terlalu suka dengan itu, memberi izin agak terlalu formal baginya. Apalagi persoalannya hanya soal tempat untuk makan.
“Terima kasih.”
Setelah menerima izin, Haori langsung duduk di sebelah Gaia. Dia meneruskan makannya dengan lahap, tanpa memperhatikan mata Yoki, Gaia, dan Kenichi yang sedari tadi menatapnya.
“Wah, kau lahap sekali makannya yah.”
Setelah ditatap lumayan cukup lama, akhirnya Kenichi mengambil inisiatif untuk menunjukkan maksud dari tatapan tadi.
Sedangkan Haori yang baru sadar akan tatapan mereka, langsung berhenti mengunyah dan membalas tatapan yang diberikan padanya.
Bagaimana tidak, cara makan Haori sudah seperti orang yang tidak makan selama 3 hari. Benar-benar lahap dan rakus, bahkan menimbulkan bekas berupa remah-remah roti yang berjatuhan di seragamnya.
“Hee ….”
Haori langsung tertunduk, mungkin dia merasa kalau tatapan itu adalah pandangan negatif tentang dirinya. Yah, sepertinya dia menemukan sebuah masalah. Remah roti yang berjatuhan tadi, segera dia singkirkan dari seragam.
“Eee … apa yang kamu lakukan? Aku tidak bermaksud seperti itu kok.”
“Ku-ku kira kalian menilaiku sebagai gadis yang jorok dan rakus.”
“Ahh, mana mungkin kami seperti itu padamu. Sudahlah, biarkan saja kalau itu memang jadi kebiasaanmu.”
Yang tahu pertama kali adalah Yoki, dia langsung bergegas menghentikan tindakan Haori tadi. Jika dibiarkan, mungkin pandangan Haori tentang mereka bertiga akan berbeda.
“Ohh yah Haori, apa aku boleh bertanya tentang yang tadi itu?”
“Tentang itu yah. Hahaha … sepertinya kamu sangat tertarik yah.”
“Tentu saja.”
Yoki menjawabnya dengan semangat. Nadanya begitu antusias, tidak jauh berbeda dengan nada yang dikeluarkan di kelas tadi. Yah tapi, sekarang dia sudah memperhatikan kondisi sekitar. Ini tempat umum, jadi harus tenang dan tidak memancing perhatian.
“Waktu kepindahanku ke kota ini, aku melihat sebuah bukit. Itu adalah bukit yang ada di belakang sekolah kita.”
Mata Haori memandangi Gaia, Yoki, dan Kenichi yang duduk di sampingnya. Sekarang dia sudah sepenuhnya berhenti malahap roti, walaupun masih tersisa seperempat. Fokus bercerita adalah alasannya.
__ADS_1
“Suatu hari aku memutuskan untuk pergi ke bukit itu. Aku ke sana sambil membawa kamera kesayanganku. Yah, di sana memang benar-benar indah. Suasananya benar-benar layak untuk di foto. Suasananya, pemandangannya, bahkan sampai penghuni yang tinggal di bukit itu.”
“Kapan kamu pergi ke bukit itu?”
Tiba-tiba Kenichi bertanya, memotong Haori yang sedang mendalami cerita. Padahal tadi Haori tersenyum saat bercerita, seakan dia menjiwainya.
“Uhm kira-kira, saat pagi.”
“Begitu.”
Setelah dijawab, Kenichi diam lagi. Dia ingin mendengar kelanjutan cerita itu, sambil mendalami jawaban yang diberikan Gaia di dalam hati.
“Saat aku sedang turun bukit, tiba-tiba aku mendengar suara beberapa orang yang saling berbicara dan di saat yang sama pula, aku mendengar suara rauman binatang buas.”
Tiba-tiba, ekspresi Kenichi agak mendalam saat mendengar kata “beberapa orang”. Itu artinya, bukan hanya satu orang dari pihak Bonzo saja yang mengawasi mereka. Untuk saat ini Kenichi bisa menyimpulkan, rencana orang-orang dari kelompok Bonzo baru dimulai saat itu. Yah, ini sih urusan pribadinya jadi dia merasa tidak perlu untuk didiskusikan bersama dengan Yoki dan Gaia.
Untungnya, mereka berdua tidak mempermasalahkan hal itu. Mungkin itu adalah para pengunjung lainnya, itulah pendapat mereka berdua saat mendengarnya.
“Aku penasaran dan langsung menghampiri sumber suara. Kira-kira sih sebentar aku berlari dan menemukan kalau kalian bertiga sedang melawan seekor beruang.”
“Hoo, tapi kenapa kamu tidak menghampiri kami?”
“Gimana yah, aku memang sangat terkejut dan kagum pada pemandangan itu. Tapi kan aku belum kenal kalian, jadinya aku menahan niatku.”
Satu pertanyaan datang lagi, itu berasal dari Yoki. Setelah selesai menjawab pertanyaan itu, Haori mengambil jeda sebentar. Dia hendak memasukkan roti ke dalam mulutnya.
“Bentar, aku punya sebuah pertanyaan untukmu.”
“Yah, kenapa?”
“Ehm, apa kamu melihat ada hal-hal aneh yang terjadi di bukit itu? Maksudku pada hari itu?”
Haori butuh waktu untuk menjawab pertanyaan itu. Pertama dia mengunyah dan menelan sepotong kecil makanannya, lalu diakhiri dengan ucapan .…
“Apa yah?”
Jari telunjuk Haori terus menerus dibenturkan ke dagu. Otak Haori terus berputar untuk mengembalikan ingatan. Beberapa saat kemudian, potongan ingatan yang ada di kepala Haori sudah menyatu.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, pada akhirnya Haori bisa tersenyum karena menemukan jawaban yang dicari Kenichi.
“Ahh yah, kalau gak salah aku melihat seorang pria yang sedang berjalan-jalan mengelilingi bukit. Pria itu memakai jas warna hitam dan memakai topi … eee, bentar ….”
Butuh jeda untuk meneruskan ceritanya, dia agak lupa dengan ciri-ciri orang yang pernah ia lihat.
“Bagian atasnya berbentuk setengah lingkaran dan kalau gak salah warnanya hitam.”
“Topi Bowler!”
__ADS_1
Kenichi menegaskan penjelasan Haori, dia sangat kenal dengan topi jenis itu. Bahkan dia mempunyai urusan dengan orang-orang yang memakainya.
Ternyata bukan hanya Kenichi yang kaget saat mendengarnya, tapi juga dengan Yoki yang memasang raut wajah yang sama. Raut wajah itulah yang membuat Kenichi pada awalnya berpikir kalau Yoki sepertinya tahu tentang itu.
“Ada pesta kah di bukit itu.”
“Mana ada yang seperti itu! Kan udah kubilang kalau gak ada yang berani ke bukit itu.”
Ternyata sangat jauh dari ekspektasi Kenichi, dia kira Yoki bakal mengulik dan mengupas bagian dari masa lalunya.
“Lah terus orang itu siapa, apa dia juga mau kamping? Lagipulakan ada suara beberapa orang, apa mereka teman-temannya?”
“Eee ... entahlah.”
Kenichi enggan menjawab pertanyaan Yoki. Bukan tidak tahu dengan jawabannya, tapi dia belum terlalu yakin jika diungkapkan di hadapan Yoki. Apakah itu akan mengulik masa lalu Yoki? Apakah itu akan menjadi sebuah masalah bagi Yoki? Yang jelas, dia tidak mau kalau Yoki sampai terjerumus ke dalam masalah.
“Oh yah Kenichi, selain pria itu … aku juga mendengar suara yang sangat menyeramkan.”
Sekarang muka si pencerita bergemetar, merinding dengan cerita yang akan dibawakan. Sedangkan Kenichi, Yoki, dan Gaia ikut masuk ke dalam cerita, mereka mengabaikan urusan pribadi masing-masing demi mendengarkan cerita Haori selanjutnya.
“Suara itu bukan seperti suara singa, beruang atau hewan yang lain. Bahkan suara itu masih kalah dengan suara ini. Suara itu terdengar seperti … seperti suara sesosok wanita yang berteriak ketakutan. Kayak suara hantu ….”
Muka Haori masih menjiwai ceritanya, tapi berbeda dengan Kenichi, Yoki, dan Gaia yang langsung berubah sikap. Mereka sudah tahu kelanjutannya, makanya mereka semua memasang muka datar dengan maksud berkata, “Oh.”
“Ehh, iyaloh Haori.”
Tiba-tiba Yoki mengiyakan cerita Haori. Haori sih sudah siap dengan raut wajah yang seperti tadi, bahkan dia terlihat mengangguk dengan ucapan Yoki.
“Kayaknya mitosnya benar kalau di sana ada sosok hantu cewek yang selalu berteriak dengan suara yang seram dan keras.”
“Hee, benarkah Yoki?”
Yoki mengangguk sebagai tanda keseriusan dan itu jugalah yang membuat badan Haori semakin bergetar.
“Kabarnya dia sebenarnya sangat takut dengan keadaan hutan yang begitu menyeramkan, makanya dia mati karena syok dan .…”
“Dan setiap jam istirahat sekolah, hantu itu mendatangi orang yang telah memberitahukan kisahnya!”
Tiba-tiba orang yang Yoki sindir tadi berdiri dan langsung meneriaki Yoki. Bukan hanya sampai di situ saja, kedua tangan yang sudah dipersiapkan dengan matang langsung diluncurkan ke arah target yang tidak lain adalah Yoki. Sepertinya, Gaia sudah sadar dengan cepat.
“Awww … awww, sakit, sakit Gaia! Ahhhh … auwww!!!”
Ternyata serangan yang dilancarkan adalah sebuah jeweran keras yang tiada ampun menarik telinga lawannya. Yap, Gaia terlihat bersemangat sekali dalam menyiksa Yoki. Mungkin, itu didasari oleh pencemaran nama baiknya.
“Sekarang waktunya bagi setan itu untuk balas dendam!”
“Ahhh!!!”
__ADS_1
Sedangkan untuk penonton, Kenichi langsung tertawa terbahak-bahak saat melihat tingkah laku kedua temannya.
Hal ini berbeda jauh dengan Haori yang sedang bingung dengan maksud dari cerita Yoki dan Gaia, yah padahal mau didalami sejauh apapun itu semua akan berakhir sia-sia.