
Keesokan harinya ....
Lonceng di sebuah kedai kopi berbunyi, menandakan datangnya seorang pelanggan untuk mencicipi cita rasa kopi yang ditawarkan.
“Selamat datang. Ke-Kenichi ….”
“Yo, Yoki.”
“Kenapa kamu bisa ada disini?”
“Pertanyaan macam apa itu.”
Kenichi tersenyum saat mengatakannya, diikuti dengan kedua tangan yang ditekukkan di kedua sisi pinggangnya, serasa lelucon baginya.
“Yah aku ke sini karena mau minum kopi lah.”
“Bu-bukan itu,” menggaruk kepalanya dan menjeda perkataannya, “Yang aku maksud, darimana kamu tahu kalau aku bekerja di sini?”
“Heee, bagaimana kalau kita bicarakan ini setelah aku memesan kopi?”
“Baiklah.”
Kenichi duduk di meja yang ada di dekat jendela, diikuti oleh Yoki yang menyerahkan menu pada Kenichi. Tak butuh waktu lama bagi Kenichi untuk memilih, dia sepertinya sudah tahu apa yang akan dia pesan.
Pesanan diserahkan dan diantarkan untuk disajikan pada Kenichi. Mengambil kopi yang tersimpan rapi di cangkir putih penuh ukiran, Kenichi hendak mencicipi cita rasa kopi yang dia pesan.
“Wah enak sekali.”
“Tentu ini berasal dari biji kopi dan cita rasa pilihan.”
“Itu motto kami.”
Tiba-tiba muncul seorang bapak entah darimana. Sepertinya ucapan Yoki menjadi lonceng baginya untuk muncul, hampir otomatis muncul kecuali jika sedang sakit dan berada di tempat jauh.
Yah, kalau dia bisa mendengarnya dari tempat jauh sih, sudah pasti Yoki curiga kalau atasannya adalah mahkluk gaib.
Kenichi sedikit terkejut, namun Yoki terlihat sudah bosan. Pertama kali bekerja di sini, memang Yoki langsung kaget, tapi sekarang sudah tidak. Karena itu sudah menjadi makanannya sehari-hari.
“Kenapa dia?”
Kenichi bertanya, sembari menyeruput kopinya.
“Ahh tidak usah ditanya.”
“Nice job Yoki, teruskan seperti itu biar semua orang tahu cita rasa kopi ciptaan kita.”
“Ya, ya, ya. Terserah Andalah tuan.”
Menghilang lagi dan suasana kembali lenggang, Kenichi memalingkan pandang ke arah Yoki yang masih memegang nampan, hendak kembali berjaga.
“Apa kamu punya waktu sebentar?”
Kenichi bertanya dengan tangan yang mengembalikan cangkir ke tatakannya. Belum habis kopi itu, hanya berkurang seperempat.
Sedangkan Yoki terlebih dulu mengecek kondisi kedai, sepi ternyata. Mungkin, Yoki punya waktu untuk mengobrol dengan Kenichi.
Duduk dengan seragam yang masih melekat, Yoki sudah siap mengobrol dengan Kenichi.
__ADS_1
“Pertama aku mau jawab pertanyaanmu dulu. Aku tahu kamu bekerja di sini karena … aku pernah mengawasimu.”
Jawaban itu diiringi dengan tatapan tajam Kenichi. Tatapan itu bisa membuat orang lain takut saat mendengar ucapan dan saat melihat tatapannya itu. Itu juga berlaku untuk Yoki, dia sedikit gugup. Tapi berusaha tenang dengan menaruh nampannya di meja.
“Maksudmu?”
“Ahh, tidak usah takut. Aku tidak akan menjelaskannya lebih jauh dan akan langsung ke inti dari maksud kedatanganku.”
Kenichi menjeda dengan melanjutkan minumnya. Memang sesuai dengan keadaan di sekitar kedai, hujan dengan skala sedang tentu akan menambah kenikmatan meminum kopi yang hangat.
Segera setelah cangkir kopinya ditaruh, Kenichi sudah siap untuk melanjutkan ucapannya.
“Tunggu dulu, apa ini berkaitan dengan masalah kemarin?”
Padahal, Kenichi belum mengeluarkan sepatah kata pun, tapi Yoki sudah menyerobotnya. Apalagi ucapan itu salah, dijelaskan dengan sebuah gelengan kepala.
“Tidak, aku hanya ingin menunjukkan sebuah tempat kepada kalian.”
“Kalian? Maksudmu aku dan Gaia?”
“Iyalah, siapa lagi.”
“Haaah kalau gitu, kenapa gak dibicarain pas di sekolah?”
“Hehe, gak tahan aja.”
Kenichi menggaruk-garuk pipinya sembari kembali menyeruput kopinya. Sedangkan Yoki membantingkan diri ke sandaran sofa dengan kedua tangan yang dilipat di dada, serta kepala yang menatap ke luar jendela yang ada di samping kanan.
“Kalau gitu, gimana caranya kamu ngasih tahu Gaia? Kalau hari ini kan, kita tidak tahu dia sedang ada di mana dan sedang melakukan apa.”
“Di toko buku favoritnya.”
Sepertinya perkataan Kenichi tadi masih terngiang di kepala Yoki. Sampai-sampai, menggunakan itu untuk mendeskripsikan cara Kenichi mengetahui kebiasaan Gaia.
Untuk Kenichi, dia hanya mengangkat kedua bahunya ke atas dengan senyuman yang ditampilkan. Seperti bangga kalau perkataannya tadi, membekas di kepala Yoki.
“CIKH, ya udah aku minta izin dulu sama atasan.”
“Oh yah Yoki, kopi ini memang terbuat dari biji kopi dan cita rasa pilihan.”
“Itu motto kami.”
Saat orang yang sama tiba-tiba muncul, Kenichi langsung tertawa kecil. Sepertinya motto itu dia jadikan mainan untuk kesenangannya. Namun berbeda dengan Yoki, dia hanya menghela nafas saat melihat perilaku temannya.
Sambil berdiri, Yoki tidak lupa untuk mengambil cangkir Kenichi yang sudah habis. Dia memasukkannya ke dalam nampan dan membawanya pergi dari meja Kenichi.
Kenichi juga ikut berdiri dan berjalan keluar untuk menunggu Yoki. Setelah izin diberikan, Yoki melepas seragam dan pergi bersama Kenichi.
Sesampainya di toko buku, Yoki dan Kenichi berhenti sejenak untuk melihat toko buku yang boleh dikatakan tidaklah besar.
Biasa-biasa saja, namun tetap menjalankan tujuannya yaitu menyediakan buku untuk dibeli dan dibaca.
“Haaah, lumayan deket sih dari kedai kopi itu.”
Yoki berpendapat sembari meneruskan langkah untuk masuk ke dalam toko. Sesampainya di dalam, hanya butuh waktu sebentar untuk menemukan Gaia. Salah satu alasannya adalah ukuran dari toko buku ini.
“Gaia.”
__ADS_1
“Ka-kalian berdua, kenapa tahu aku ada disini?”
“Ahh, hanya kebetulan saja kok. Lagipula, entah kanapa Kenichi ingin bertemu dengan kita berdua.”
“Ehmm baiklah, aku mau bayar buku ini dulu.”
Gaia melakukan pembayarannya terlebih dulu, lalu pergi keluar toko buku bersama mereka berdua. Di toko buku itu disediakan beberapa meja untuk para pelanggan yang ingin membaca buku yang telah dibeli. Tentu mereka bertiga tidak ingin menyia-nyiakan fasilitas itu.
“Masalah yang kemarin ….”
“Akhhh .…”
Gaia langsung memegangi kepala dengan kedua tangannya. Dia melihat ke bawah dengan mata yang melotot tajam.
Trauma kembali menyerang dirinya, ingatan yang sudah dia lupakan, kembali terngiang-ngiang. Padahal, maksud Kenichi bukanlah itu.
“Maaf Gaia, aku tidak bermaksud ….”
Ucapan Kenichi langsung dipotong oleh satu tangan Gaia.
“Tidak, tidak apa-apa.”
Gaia mencoba untuk mengangkat kembali kepalanya.
“Hanya saja, entah kenapa kepalaku sangat sakit saat mengingatnya.”
“Hah! Sangat sakit, saat dia mengingat kenangan itu. Apa yang sebenarnya terjadi? Normalnya tidak akan seperti ini, apa ada sesuatu yang salah dengan Gaia? Atau … dia punya banyak informasi tentang itu? Atau jangan-jangan, ahh sudahlah. Kenapa aku jadi perusak suasana?”
Kenichi bertanya di dalam gumaman. Dia benar-benar kebingungan, tapi itu tidak diperlihatkan dalam bentuk fisik. Hanya sebatas pikiran di alam bawah sadarnya.
Sedangkan Gaia, langsung menetralkan ekspresinya. Dia berusaha mengalihkan suasana ini, dengan mengangkat buku yang ada di tangan kanannya dan menaruhnya di meja.
“Buku ini ceritanya benar-benar sangat menyedihkan.”
Untuk Yoki yang seorang gamer sih tidak akan mengerti, tapi tidak untuk Kenichi. Saat disodorkan buku itu, Kenichi langsung mengambil bukunya dan mengamat-amati buku itu secara singkat.
Dia seperti kenal dengan buku ini, mungkin pernah membacanya atau bahkan mempunyainya.
“Buku karya Mister N.”
“Iya, kok kamu tahu?”
“Hehe aku sudah membacanya sampai tamat. Petualang tiga orang sahabat ini begitu hebat. Bahkan saat mereka terpisah, mereka tetap berusaha untuk saling menguatkan melalui perasaan yang amat kuat satu dengan yang lainnya. Tapi sayangnya, hanya salah satu dari mereka yang tetap bertahan.”
“Eee, Kenichi … kenapa kamu memberitahu akhirnya? Kan aku belum baca.”
Kenichi hanya tertawa kecil, sambil menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal. Sementara Gaia memanyunkan bibirnya, geram pada reaksi Kenichi, namun tetap imut menurut Yoki.
Untuk Yoki, tentu saja dia kebingungan, membaca satu novel pun tidak pernah. Akhirnya, hanya menjadi penonton saja.
“Oh yah, aku kok jadi melanturkan arah pembicaraan kita. Jadi ada alasan apa kamu menemuiku?”
Pertanyaan ini yang ditunggu-tunggu Yoki, sekarang dia menjadi tertarik. Badannya di majukan dan matanya menatap Kenichi yang ada di samping kanan.
“Ehmmm jadi gini .…”
Kenichi merilekskan lagi posisi badan di sandaran kursi. Membiarkan kedua temannya yang masih duduk dengan posisi punggung yang tegak.
__ADS_1
“Karena kalian sudah menjadi temanku, aku ingin menunjukkan sesuatu pada kalian. Yah, itung-itung sebagai penenang dari kejadian-kejadian yang tidak mengenakan itu. Lagipula, aku ingin semakin mempererat pertemanan kita dengan acara ini.”
Mereka berdua merasa tertarik dengan tawaran Kenichi. Itu terlihat dari wajah yang antusias pada rencananya.