RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~MELAWAN BERUANG 1~


__ADS_3

Beberapa saat, mereka bertiga diam memandangi beruang yang sudah memasang kuda-kuda untuk menyerang mereka. Mata beruang coklat itu begitu penuh dengan hawa nafsu hingga membuat mereka bertiga bergidik ketakutan.


“Haaah, biar aku saja yang maju.”


Tiba-tiba Kenichi mengambil sebuah keputusan yang sangat beresiko. Dia mengambil inisiatif untuk maju dan berdiri di depan Yoki dan Gaia. Dia sebenarnya takut, tapi kalau bukan dia yang melindungi teman-temannya, siapa lagi?


Dengan melepaskan tas yang digendong, dia sudah siap melawan beruang tersebut.


“CIKH … ini benar-benar menyebalkan.”


Kenichi bergumam sembari mengambil sebuah kayu runcing yang ada di bawah.


Benar-benar beruntung dirinya, karena sebuah senjata telah tersedia langsung di dekatnya.


“Baiklah, kita mulai!”


“Kenichi, apa maksudmu? Kamu bisa mati kalau menghadapinya.”


“Sudahlah Yoki, lebih baik aku yang maju. Lagipula aku yang mempunyai fisik paling kuat di antara kita. Jadi, lebih baik aku lawan daripada kita bertiga lari dan kehilangan semuanya. Yah, kau tahu kan perbedaan kecepatan di antara kita bertiga.”


Jawaban itu sebenarnya tidak menenangkan hati Yoki, tapi Kenichi tidak peduli. Dia tetap maju, tanpa memikirkan perasaan kedua temannya.


Walaupun sebenarnya, dia tidak mau kehilangan Yoki dan Gaia di tempat ini. Lagipula itu adalah tanggung jawabnya, karena telah mengajak mereka berdua datang ke bukit ini.


Saat dia maju selangkah, ada sesuatu yang menariknya dari belakang. Dia adalah Gaia, yang menatapnya dengan tatapan penuh kekuatiran.


“Kalian percaya padaku kan? Lagipula, teman harus saling percaya satu sama lain.”


Dia tidak mengharapkan jawaban apapun dari Yoki dan Gaia. Kenichi berbalik lagi dan melepas pegangan itu.


“Baiklah, maaf agak lama yah. Ayo kita mulai!”


Dengan hanya berbekal keberanian dan ranting kayu, dia maju. Menghadapi beruang yang akan menjadi lawannya.


Kemenangannya pun masih samar dan yah, yang dia lawan bukan orang tapi mahkluk yang mengandalkan instingnya.


Apalagi, Beruang itu pun tak mau kalah garang dari Kenichi. Dia juga berlari ke arah Kenichi dan saat mereka berdua saling berhadapan, Kenichi langsung melompat dan mengarahkan kayu secara vertikal ke punggung beruang.


Alhasil, sebagai akibatnya punggung beruang tertancap kayu. Sangat dalam, hingga bisa dirasakan bagaimana rasa sakit yang dialaminya.


Beruang itu berteriak kesakitan karena punggungnya yang tertusuk oleh kayu yang dipegang Kenichi. Sedangkan untuk lawannya, Kenichi sudah tidak mempunyai senjata lagi. Karena kayu itu tertancap sangat dalam, hingga patah menjadi dua. Satu masih menancap di punggung beruang dan satu lagi masih ada digenggamannya.


Namun beruang itu tidak membiarkan lawannya bernafas lega, dia langsung melompat dan menyeruduk Kenichi hingga terpental jauh.

__ADS_1


Jika saja Kenichi diberi waktu setidaknya tiga detik, mungkin dia bisa mengambil ancang-ancang untuk menghindari serangan itu.


Menyadari kalau lawannya tidak memberikan waktu untuk bernafas, Kenichi segera bangkit kembali. Untung rasa sakitnya tidak terlalu parah.


Tapi itu mungkin bukanlah sebuah keberuntungan, karena sekarang dia akan bertarung lagi. Dengan hanya mengandalkan tangannya saja.


Yah, walaupun memang dia sudah berhasil mendaratkan serangan, tapi itu semua belum bisa menghentikan lawannya.


“Payah, sekarang aku harus sangat berhati-hati saat melawannya. Tidak mungkin aku mencari senjata lain di saat yang seperti ini.”


Kenichi bergumam, dia sedikit kesal karena kehilangan senjatanya. Itu juga yang dikuatirkan oleh kedua temannya, mereka sangat takut kalau akan terjadi hal yang buruk kepada Kenichi.


“Yo-Yoki, apa Kenichi bisa mengalahkan beruang itu?”


Gaia berbisik pada Yoki, dia saat ini sedang berdiri di samping Yoki.


“Haaah, bukan bermaksud menakutimu. Tapi, sejujurnya aku juga tidak tahu.”


Yoki berpaling ke arah Gaia, hendak melanjutkan ucapannya.


“Lagipula, kalau kita turut campur … mungkin kita akan semakin membebaninya saja.”


“Lagi-lagi aku tidak bisa berbuat apa-apa sama kalian. Aku benar-benar payah.”


Kali ini Gaia tidak membalas ucapan Yoki, dia hanya bergumam meracau tentang ketidak berdayaannya.


Tapi ini terlalu membuang-buang waktu, akhirnya Kenichi yang mengalah dan langsung berlari melangkahkan kaki ke arah beruang.


Masih diam, sepertinya beruang itu sedang mempersiapkan penyambutan bagi lawannya. Ketika mereka sudah saling berhadapan, beruang membuka mulutnya. Gigi tajam diperlihatkan, sebagai tanda intimidasi terhadap Kenichi.


Namun itu belum cukup untuk menakuti Kenichi, belum cukup untuk meredupkan tekadnya. Walaupun beruang itu cukup cerdik, tapi Kenichi jauh lebih cerdik darinya.


Kenichi dengan langkah sigap langsung memegangi kedua rahang yang sudah ternganga. Dia menahannya. Namun sebagai langkah tambahan, beruang itu memberikan dorongan.


Boleh dikatakan gagal, karena kekuatan mereka seimbang. Pada akhirnya, tidak ada satu pun yang terdorong dan masih dalam posisi yang sama. Beruang itu berusaha mendorong dengan keempat kakinya.


Sedangkan Kenichi, cara berdirinya saja sudah tidak enak. Kaki kanan ke depan, sedangkan kaki kirinya ditekuk membentuk kuda-kuda di belakang. Sehingga ketika dia mengelak, maka kesempatan terkena serangan juga semakin besar.


Walaupun mereka seimbang, itu semua akan diakhiri dengan batasan waktu. Saling mempertahankan posisinya, ini sudah memakan waktu yang lumayan lama.


“Payah, kalau seperti ini aku bisa kalah. Staminaku terus berkurang dan pasti perlahan-lahan dia akan mengungguliku.”


Kenichi masih meracau di dalam hati. Dia terus menerus menahan tubuh beruang yang kini sudah menunjukan keunggulannya. Kenichi terdorong, walaupun tidak banyak.

__ADS_1


Yah, pada akhirnya pemenangnya adalah siapa yang bisa bertahan lebih lama.


“Aku tidak bisa menahannya, jika menghindar pun tidak akan sempat. Berarti .…”


Sekarang Kenichi menguatkan kedua kakinya, dia ingin mengerahkan semua tenaga untuk saat ini. Bukan sebuah hal sia-sia. Karena perlahan tapi pasti, dia berhasil menarik kedua rahang beruang.


“Aku tidak akan menyerah, AKHHHH ….”


Dia menarik kedua rahang beruang ke atas, sehingga kaki bagian depannya terangkat ke udara. Hal itu disusul pula dengan kaki bagian belakang yang terangkat.


Tapi dia tidak berlama-lama, sesaat setelah keempat kaki beruang terangkat dia langsung membantingnya ke arah yang berlawanan. Hal itu dilakukan bersamaan dengan teriakan yang tadi dia lontarkan.


“Tidak kusangka, tubuh Kenichi sekuat itu.”


Yoki berdecak kagum. Walaupun masih ada rasa kaget saat melihat kejadian itu, tapi rasa syukur dan leganya jauh lebih besar dari perasaan yang lain.


“Haaah, syukurlah.”


Begitu pun dengan Gaia, dia benar-benar lega. Setidaknya, walaupun dirinya merasa menjadi beban. Namun dia tidak menjadi penyebab kemalangan yang mungkin ditimpa Kenichi.


Keduanya merasa lega, namun ini belum berakhir.


Kenichi langsung melompat mundur dari posisi beruang yang masih berada dalam posisi tidur akibat terbanting tadi.


Tapi kurang cepat. Kenichi belum memasang strategi pertahanan dan beruang itu sudah bangkit lagi dari posisinya.


Lawannya menjadi lebih marah, sepertinya dia tidak mau mengalah. Dia mengirimkan serangan balasan dengan satu cakar yang dilayangkan.


Kenichi masih bisa menghindarinya. Tapi untuk serangan kedua, dia tidak bisa menghindar. Serangan itu ditambahkan dengan sebuah lompatan yang kuat dan itu berarti, jangkauan beruang lebih besar dari Kenichi.


Pada akhirnya, tiga buah sayatan cakar telah terlukis secara diagonal di perut Kenichi.


“Arggghhh … arghhhh … sakit!”


Erangan Kenichi telah menjadi pemicu kepanikan kedua temannya. Mereka berdua berteriak, hendak memanggil Kenichi yang telah tumbang ke tanah.


“Kenichi!”


“Kenichi bangun!”


Teriakan dari Yoki dan Gaia telah membuat pandangan beruang itu berpaling. Dua banding satu, lebih baik dia menghabisi yang dua terlebih dulu. Yah, lagi-lagi itu semua berdasarkan instingnya.


Lagipula, lawan beratnya telah tumbang. Mungkin, akan lebih baik untuk tidak membiarkan mangsa yang lain lolos. Boleh dikatakan sombong, tapi itu tidak dikenal oleh hewan liar sepertinya.

__ADS_1


“Yo-Yoki, kenapa dia menatap ke arah kita?”


Tanpa sadar, Gaia sedang memegangi pundak Yoki dengan erat. Wajahnya bergemetar ketakutan, begitu pun dengan Yoki yang ada di sampingnya.


__ADS_2