RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~MASIH KURANG SERIBU LANGKAH~


__ADS_3

Kenichi tahu maksud dari diskusi yang terbuka itu. Mereka hendak menjatuhkan mental orang yang disiksa, dengan mendiskusikan rencana-rencana kejam di depan orangnya.


“Jadi, apa yang akan kalian lakukan dengan tubuhku?”


Mereka yang sedang berdiskusi berbalik menatap Kenichi. Kenichi tidak terprovokasi sama sekali dengan diskusi mereka. Dia hanya menanggapi dengan santai, seperti sudah menyerahkan tubuhnya untuk disiksa. Atau seperti dia sudah menjual dirinya sendiri.


Dari mata mereka, Kenichi tahu kalau mereka semua sedikit tersentak. Penyembunyian itulah yang membuat Kenichi tersenyum, dia tertawa karena mereka berusaha mengurangi rasa kagetnya.


“Oh kalau itu, kami akan memukulimu dulu.”


“Hahaha, cara kalian bikin bosan saja hahaha ….”


“Oh bosan yah, ada saran?”


Kenichi terdiam sesaat. Bukan berarti dia mau memikirkan pertanyaan orang itu. Tapi, ada sesuatu yang ingin dia ungkapkan.


“Apa yang kalian rasakan saat kalian mengambil nyawa seseorang?”


Sebuah pertanyaan yang membuat mereka bingung dengan jawabannya. Lagipula, alur pertanyaan Kenichi tiba-tiba melenceng dari pertanyaan mereka.


“Kenapa kau bertanya tentang itu, apa kau mulai takut?”


“Tidak, aku hanya penasaran. Orang yang tadi aku lempar, menunjukan mata yang lega. Dia melihatku seperti sebuah cahaya baginya dan kupikir, dia juga kalian semua memiliki masalah yang sama denganku.”


Ucapan yang membuat tawa mereka meledak-ledak. Jawaban itu memang tidak mereka sangka akan keluar dari mulut Kenichi. Mereka mengartikan itu sebagai tanda kalau Kenichi sudah pasrah dengan nasibnya. Dibuktikan dari cara ngomong yang menurut mereka sudah ngawur.


“Terserah kamu ngomong apa, tapi entah kenapa aku merasa kalau diakhir hidupmu kamu peduli kepada kami. Apa kamu sedang … bertobat?”


Kenichi juga ikut tertawa karena pertanyaan itu.


“Bertobat, hahaha … kau pikir dengan bertobat bisa menghilangkan semua dosaku.”


Lagi-lagi, sebuah jawaban yang membuat mereka semua kebingungan.


“Oh yah, sekarang sudah jam berapa?”


“Sekarang jam 17.45.”


Salah seorang dari mereka bisa menjawab setelah melihat jam di ponselnya.


“Memang kenapa?”


“Karena aku akan mulai menghitung mundur.”


“Apa maksudmu?”


Berhasil, mereka semua tersentak. Tapi, itu bukan sekedar ancaman biasa loh. Mana mungkin Kenichi, apalagi dengan senyumannya hanya mampu membuat rencana seperti itu. Gertakan, bukanlah gayanya.


“Tiga … dua .…”


“Sebentar, apa maksudmu?”


“Satu.”


Untuk sesaat mereka tercengang. Setelah semua mata berkeliaran kesana kemari, barulah mereka menyimpulkan kalau itu hanyalah sebuah tipuan.


“Hahaha … pinter juga kau ….”


Pria yang tertawa itu terhenti sejenak, tangannya yang menunjuk Kenichi menjadi lemas. Tiba-tiba saja, sebuah suara dering ponsel berbunyi dari saku celana Kenichi.


Sesaat masih hening. Mereka memang tidak tahu arti dari dering ponsel itu. Tapi firasat mereka berkata buruk. Apalagi nada deringnya mengganggu dan volume yang dihasilkan sangat keras. Sekarang mereka mulai merefleksikan kembali. Apakah tadi hanya sebuah gertakan?


“Kalian semua, angkat tangan!”


Barulah mereka sadar. Suara itu, ketika mereka berbalik ke belakang barulah mereka tahu maksud dari hitungan mundur dan nada dering yang dihasilkan Kenichi.


Ada dua orang polisi yang datang ke taman, mereka datang bukan tanpa persiapan. Keduanya sudah siap dengan pistol yang ditodongkan. Sudah pasti mereka semua harus menyerah, kalau tidak mau tubuhnya ditembus peluru berkecepatan tinggi.


“Kenichi!”

__ADS_1


Percuma Terasaka meracau, Kenichi saja sudah sadar kalau Terasaka sudah tidak berdaya. Dia hanya memasang senyum pada keunggulan yang berbalik lagi padanya.


“Kalian semua akan ….”


Ucapan salah satu polisi terhenti, karena sebuah peluru yang mengenai kepalanya. Polisi yang satu lagi langsung memeriksa kondisi tubuh rekannya, sedangkan bawahan Terasaka langsung berpaling ke sumber tembakan.


Ternyata pelaku penembakan sama dengan yang menembak Kenichi. Dia juga masih memakai senapan yang sama, artinya peluru yang digunakan bukanlah peluru biasa.


“Apa yang kau lakukan?”


“Sudah, cepat pergi dari sini. Bawa targetnya dan … akhhh .…”


Belum selesai berucap, sebuah peluru dengan cepat mengenai tangannya. Kali ini peluru biasa, sudah pasti menimbulkan luka yang amat dalam bagi target. Dia bahkan tidak henti-hentinya mengerang kesakitan.


Lagi-lagi, bawahan Terasaka berpaling ke sumber tembakan. Ternyata berasal dari polisi yang rekannya masih terbaring.


“Payah, kalau begini ….”


“Terasaka, aku udahan yah.”


“Apa maksudmu? Akhhh ….”


Kenichi langsung mempraktekan jawaban, dia menendang kem*luan Terasaka dan keluar dari sekapan. Secara reflek Terasaka pasti mementingkan rasa sakit di kem*luannya, namun itu juga yang membuatnya terlambat.


“Dadah ….”


“Payah!”


Kenichi langsung berlari meninggalkan tempat itu.


“Kalian, kejar Kenichi sekarang!”


“Tapi ….”


Di saat salah satu orang hendak menolak, suara tembakan kembali terdengar. Sumber tembakan berasal dari pihak mereka, yang berarti tembakan itu ditujukan pada polisi yang satu lagi.


“Terus gimana lukamu?”


“Tenang saja, aku bisa menahannya.”


Mereka semua mengangguk tanda setuju dan meninggalkan tempat itu. Kenichi adalah target mereka yang pertama dan terutama. Sedangkan saat ini, tinggal tersisa tiga orang. Penembak yang masih berusaha mengurangi rasa sakit karena tembakan di tangan, Terasaka yang masih menahan sakit di ********, dan seseorang yang entah kenapa masih diam membatu di tempat.


Setelah mereda, barulah Terasaka mengikuti tindakan yang diambil bawahannya. Dia langsung berlari untuk mengejar Kenichi.


“Aku harus memastikan keadaan Yoki dulu.”


Kenichi berlari menyusuri gang. Walaupun tubuhnya sudah diselimuti luka dan lebam, tapi dia tetap fokus pada tujuan. Rasa sakit yang dia alami sekarang sih biasa. Baginya, itu hanya akan menambah koleksi dari semua luka yang dia dapat hingga detik ini.


“Tapi saat ini dia kan sedang bersama pak Thomas. Apa dia sudah pulang yah? Ehm, entahlah aku juga tidak tahu. Yang pasti, lebih baik aku cek dulu keadaannya.”


Melewati gang, memasuki jalan raya, dan melewati gang lagi. Kenichi mau mencari jalan pintas ke sekolah, itulah makanya jalan yang sedari tadi dia lewati berupa gang. Walaupun memang agak lama, tapi bisa mempersingkat waktu perjalanan.


“Itu dia!”


Ternyata binatang buas tidak akan melepas mangsa semudah itu. Secara tekad dan niat, lawan Kenichi memanglah tangguh dan tidak pantang menyerah. Lihat saja, personel Terasaka yang masih sehat sudah berhasil melacak keberadaan Kenichi.


Sontak, Kenichi berpaling ke belakang. Ada sebelas orang yang mengejarnya, walaupun mereka berlari di posisi yang berbeda, tapi target mereka tetap satu yaitu Kenichi. Apalagi setelah mereka menemukannya, pandangan mereka tidak usah lagi berpaling ke kanan ke kiri untuk melacaknya.


“Menyerahlah Kenichi.”


“Tidak mau, aku tidak mau membuang-buang nyawaku untuk kalian.”


Bukan berarti ketika mereka berhasil menemukannya, di saat itulah mereka mendapatkannya. Mereka pikir Kenichi selemah itu. Tidak, mereka itu telalu meremehkannya. Cukup ketenangan Kenichi saja yang menjadi bukti, dengan itu dia masih bisa berpikir jernih dalam menyelesaikan masalah.


“Ayo, percepat langkah kalian.”


“Haaah, entah kalian itu bodoh atau bodoh.”


Kenichi sudah tidak peduli dengan kebodohan mereka. Yah, mau sejauh apapun mereka berusaha, mereka tetap tidak bisa mengalahkan Kenichi. Tadi saja mereka berhasil disusul oleh Kenichi, apalagi sekarang yang posisi Kenichi sudah ada di depan mereka.

__ADS_1


“Baiklah, memang masih agak lama sih sampai di sana. Tapi …,” Kenichi menoleh ke belakang, yang dilihat adalah sekelompok orang yang masih bersikeras mengejarnya, “Aku tidak bisa membiarkan mereka mengikutiku sampai ke sekolah.”


“Kalau lari lihat ke depan.”


Kenichi belum sempat berbalik, namun dia sudah terkena serangan dari depan. Mengarah ke kaki yang membuat tubuh Kenichi jatuh ke jalan. Daging melawan aspal, tentu saja yang menang adalah aspal. Sedangkan si daging meninggalkan bekas berupa luka.


“Kau pikir aku tidak tahu hah!”


Tangan Terasaka mengangkat tubuh Kenichi. Cara yang dilakukannya benar-benar tidak manusiawi, badan Kenichi bisa terangkat karena rambut yang ditarik Terasaka.


“Kau itu mau ke sekolah kan!”


Dalam pandangan samar-samar Kenichi, terlihat beberapa orang yang sudah berhasil mengepungnya. Bagai tikus dalam kandang, mungkin itulah kiasan yang tepat baginya. Si tikus kecil yang lincah ternyata bisa dikalahkan oleh sekelompok kucing yang bergerak berkelompok. Mau bagaimana lagi, lagi-lagi dia harus bertarung sendiri.


“Fufufu, jangan terlalu bangga hanya karena kau bergerak secara berkelompok.”


Kali ini Terasaka mendekatkan wajah Kenichi dengan wajahnya. Posisi kepala Terasaka sih membelakangi kepala Kenichi. Jadi Kenichi tidak bisa melihat ekspresi orang yang mengalahkan dia.


“Tenang saja kok, nanti kita juga akan punya waktu yang banyak. Ya kan, teman-teman?”


Tawa mereka sudah cukup untuk menjadi jawaban. Bagi Kenichi, tawaan mereka telah menjadi tanda-tanda berakhirnya permainan ini.


Badannya juga sudah terluka cukup parah. Tekad dan perjuangannya tidak mampu untuk memulihkan kondisi tubuh seperti sedia kala. Istilah lainnya, dia sudah mencapai batas.


Apalagi dia tidak memikirkan ada jalan keluar yang lain. Wah, kalau sudah begini, mungkin tidak akan ada motivasi yang membangkitkan semangat Kenichi.


“Jadi, Kenichi ….”


Tiba-tiba terdengar dering ponsel yang memotong ucapan Terasaka. Bunyinya sih beda dengan yang tadi, Terasaka menduga itu adalah pertanda kalau ada dua ponsel di saku celana Kenichi.


“Hei kau, cepat ambil ponsel Kenichi.”


Terasaka menyuruh anak buah yang ada di belakang. Orang itu menurut, dia dengan sigap langsung memeriksa saku celana Kenichi. Hanya butuh waktu singkat, saku celana Kenichi tidaklah besar. Setelah mendapatkan ponsel, bawahan Terasaka segera memberikannya.


“Baiklah, mari kita lihat siapa yang akan menelponmu kali ini.”


Namun saat dicek, Terasaka langsung menyadari kesalahannya. Ternyata itu bukan suara dari dering telepon yang masuk, melainkan suara alarm yang terpasang. Dia melirik Kenichi kembali, yang dia dapat adalah sebuah senyuman.


“Kau dapatkan ponsel yang satunya lagi.”


Sekarang Kenichi mengambil dan melempar ponsel yang ada di saku celana bagian kiri. Ponsel itu adalah ponselnya sendiri. Dengan kerasnya dia melemparkan ponsel itu dan berakhir mengenai wajah Terasaka.


“Yosh! Waktunya kabur!”


Kenichi menghentakan kaki, dia hendak menembus barisan manusia yang menghadang di belakang. Apakah upaya berhasil? Tentu saja, bahkan tanpa dampak berarti yang diterima. Saat barisan belakang hendak menangkap, kaki Kenichi dengan cepat berseluncur di bawah mereka.


“Dasar kau!”


Terasaka masih menggenggam ponsel itu dengan kuat. Ingin rasanya memperlakukan Kenichi seperti yang saat ini sedang ia perbuat pada ponsel itu.


“Hoho, kau butuh seribu langkah untuk dapat mengejarku … Terasaka!”


Teriakan itu menyelingi tubuh Kenichi yang masuk ke sebuah lubang kecil. Tubuh Kenichi mendarat di sebuah gorong-gorong yang mengarah langsung ke sekolah. Cukup besar juga, setidaknya tinggi dari gorong-gorong itu adalah 3 meter.


Kenichi tidak punya waktu untuk melihat-melihat. Dia harus segera pergi, menyusuri penyelamat yang secara kebetulan meluputkannya dari kejaran Terasaka.


“Kalian, cepat masuk ke dalam!”


Semuanya menurut. Seratus persen niat mereka datang dari hati. Yah, harga diri mereka seperti diinjak-injak karena target sudah lolos untuk yang kedua kali. Target itu tidak akan mungkin mau dilepas, kalau mereka ingin dapat promosi dari atasan.


Tapi sayang, ada yang menghalangi niat mereka. Lima sosok yang muncul, sangatlah mereka benci. Kelimanya adalah musuh alami para penjahat. Siapa lagi kalau bukan polisi. Walaupun mereka unggul dalam jumlah, tapi itu percuma kalau dibandingkan dengan kekuatan.


“Kalian, yang melukai rekan kami bukan. Dan juga, ponsel. Ternyata pelakunya juga kalian, kan?”


“Apa maksud bapak? Ponsel ini bukan milik kami, ini milik ….”


“Ahh sudah jangan banyak omong. Jelas-jelas ponsel milik korban ada di tanganmu. Apalagi tadi kalian sempat melukai rekan kami. Bukankah itu sebuah tindakan untuk menutupi kejahatan.”


Kenichi sudah membuang sampahnya pada mereka. Sekarang Terasaka terpaksa menunda dulu urusannya, karena dia akan menghadapi hukum.

__ADS_1


__ADS_2