RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~ADU FISIK~


__ADS_3

“Haori … Haori … Haori … kau jangan banyak berkhayal saat menjawabku, cukup jawab dengan jujur saja.”


“Hee … emang itu kurang jujur menurutmu.”


Yoki agak kalah dari segi mental. Dia sedikit memundurkan kepala dan kembali pada fakta ‘bahwa segala sesuatu yang ada di kelas ini, memiliki kemungkinan tersendiri’. Mau tidak mau bukan. Mungkin, otak Yoki harus diperbaharui untuk menambah wawasannya.


“Yah, memang sih aku tidak mengerti. Tapi …,” Yoki memajukan badan. Dia semakin mendekati Haori, sedangkan Haori sendiri tidak gentar pada gertakan itu, “Jika kau macam-macam dengan Gaia, aku tidak akan main-main untuk menghajarmu.”


“Mau serius juga tidak apa-apa. Lagipula, aku memang masih punya dendam dengan sesuatu yang ada di dalammu.”


“Kau! Bukan berarti aku tidak bisa menghajarmu hanya karena kau seorang wanita. Terserah kamu meracau apa, yang penting kamu tidak akan pernah bisa mempengaruhi otakku lagi. Aku … akan tetap menghajarmu!”


Kalimat provokasi yang murahan, bahkan kata-kata yang dirangkai sedemikian rupa itu tidak menampilkan intimidasi. Hanya sisa ampas dari emosi Yoki saja. Haori tentu saja tahu, dia memajukan badan untuk menantang Yoki. Yoki menangkap itu sebagai kegagalannya.


Sekarang siapa yang menang secara mental? Tentu saja Haori, hanya dialah satu-satunya yang tersenyum di posisi mereka berdua yang saling berhadapan.


“Apa jadi, bertarungnya?”


“Baiklah, kalau kau memaksa.”


Tentu saja Yoki gugup, tapi demi harga diri seorang laki-laki dia melawan. Yah, sambil sedikit berharap kalau yang diucapkan Haori hanya sebuah gertakan semata.


Namun, sejujurnya harga diri Yoki sudah bocor. Kegugupannya tertangkap di mata Haori. Dia tahu, dibalik keberanian nada bicara Yoki, ada sebuah keraguan yang tersimpan. Dan itu telah menjadi hiburan tersendiri baginya.


“Baiklah kalau kamu bilang begitu. Tapi kurasa tempatnya jangan disini, nanti sekolah tercintamu ini malah rusak.”


“Jadi kita pindah ke mana?”


Jawaban Yoki akan dinyatakan langsung oleh Haori. Dia mengangkat satu tangan, membentuk jari seperti hendak menjentikkannya.


“Multifunction, Teleport.”


Ketika jentikkan jari berbunyi, Yoki dan Haori menghilang dari kelas itu. Sekarang seluruh penghuni sekolah sudah tidak ada. Kasihan pak satpam yang disuruh untuk berjaga, walaupun dia disuruh berjaga oleh pak Thomas, tapi yang dia jaga sekarang hanyalah sekolah yang kosong. Yah, mana mungkin orang yang tertidur akan sadar sampai dia terbangun.


“Ini … tidak mungkin, aku ada di taman.”


Simpulan Yoki didapat dari suasana di lingkungan sekitarnya. Permukaan tempat dia berada terbuat dari gabungan tanah dan rumput pendek.


Beberapa meter dari tempatnya ada sebuah jalan yang terbuat dari batu. Berpola dan pastinya diperuntukkan untuk pejalan kaki. Sisanya, ada bermacam-macam wahana untuk anak-anak dan sungai yang mengalir mengitari taman.


Bagaimana dengan nasib Haori? Dia sekarang berada tidak jauh dari Yoki. Sangat dekat malah, hanya 10 meter tanpa ada objek yang menghalangi mereka berdua.


“Ya ampun, di zaman ini sangat susah bagiku untuk mengeluarkan sihir. Mana yang aku simpan selama ini habis dalam waktu sekejap. CIKH, lagipula tuanku lama sekali kembali ke wujud asalnya.”


Memang Haori sedang meracau dan tidak ada niatan untuk memberitahu informasi itu pada Yoki. Tapi, suara yang keluar dari mulut Haori bertindak nakal dan mampir ke telinga Yoki. Jadi, semua racauan Haori tadi telah terkirim ke otak Yoki. Diproses dan akan menghasilkan sesuatu.

__ADS_1


“Sihir … mana … jangan-jangan mereka benar-benar ada.”


Otak Yoki yang mencerna racauan itu saja sampai kebingungan. Apalagi, sekarang masih timbul kontradiksi di pikirannya. Mau dia lawan atau acuhkan, kenyataannya dia sudah mengalami apa yang disebut sebagai ‘sihir’.


“Aku tidak menyangka, kalau sihir itu benar-benar ada. Setahuku, dari beberapa film yang aku tonton, setiap orang yang ingin menggunakan sihir harus memakai mana. Mana juga ada dalam game, jika mana habis maka karakter yang dimainkan tidak bisa mengeluarkan skill. Itu artinya ….”


Dari posisi duduk, Yoki menatap Haori yang masih berdiri. Sepertinya gadis itu masih sibuk dengan masalahnya, sampai-sampai tidak memperhatikan kalau Yoki ada di situ.


“Aku selamat, Haori tidak akan bisa menggunakan skill sekarang. Yosh, tinggal adu fisik saja.”


Yoki menyamakan keadaan ini seperti di dalam game (pasti tahu kan game bergenre apa yang dimaksud). Sedangkan, untuk kontradiksi tadi sudah selesai dan diakhiri dengan kepercayaan Yoki akan adanya sihir. Sekarang dia bisa berdiri dengan yakin.


Memang, dia masih jauh dari kata menang. Tapi dia agak sedikit terbantu karena informasi yang dibocorkan Haori. Jika berarti pembayangan Yoki sama seperti di dalam game, berarti mereka berdua memiliki kesempatan yang tidak berbeda jauh.


Ingat, masih ada tiga faktor yang akan menjadi penentu. Pertama kekuatan, item/senjata, dan juga strategi. Setidaknya tidak akan terlalu berbanding jauh, bukan.


“Baiklah Haori, kapan kita mulai?”


Barulah setelah dipanggil, Haori mau menanggapi keberadaan Yoki. Dia menatap Yoki, masalah tadi dia tinggalkan dulu.


“Hoho, apa kamu sudah siap kalah?”


“Ya, aku sudah siap untuk menang.”


“Tapi kita hanya akan bertarung tangan kosong saja. Penyelesaiannya cuma dua, yang mati duluan atau lawan yang menang mengampuni yang kalah.”


“Oke, kita mulai.”


Keduanya berancang-ancang terlebih dulu, mereka juga sama-sama menguncikan pandangan satu sama lain.


“Yosh!”


Setelah selesai, mereka pun berlari. Titik temu keduanya akan jatuh ditengah, karena timing mereka berdua sama saat mulai berlari. Ketika sudah berada dalam jangkauan, tangan Yoki dengan sigap langsung melayangkan pukulan ke wajah Haori.


Terlalu terbaca, Haori bisa menangkis serangan itu. Yah, setidaknya itu menjadi gerakan pembuka dari serangan-serangan yang akan terjadi selanjutnya. Serangan yang mereka lontarkan berikutnya sangatlah cepat. Sulit untuk menjelaskannya dengan kata-kata.


Yang bisa dipastikan di sini adalah Yoki yang sedang bertahan dan Haori yang sedang menyerang. Jab, Hook, Uppercut, dan jenis-jenis pukulan lain terus Haori lontarkan. Walaupun sedemikian banyak gerakannya, Yoki masih tetap bisa menangkis itu semua.


Sekilas, dengan serangan yang semuanya pukulan, suasana mereka berdua seperti sedang melakukan pertandingan tinju. Pertahanan Yoki saja sudah seperti petinju. Tapi itu tidak salah, dengan semua serangan yang berupa pukulan, akan cocok untuk menahannya seperti itu.


Namun, serangan itu terlalu lama, daya tahan tubuh Yoki juga ada batasnya. Mau tidak mau dia harus menyerang. Yoki sadar sih, dia sedang menunggu timing yang tepat. Haori melancarkan pukulan jab, sekaranglah saatnya.


Pukulan jab Haori tidaklah kuat dan kencang, yang artinya tidak bisa dipakai untuk menyerang. Tapi, bukan berarti pukulan jab Haori lemah. Alasannya, dia ingin membongkar pertahanan Yoki. Yah, dia berhasil. Dengan Yoki yang akan menyambut pukulan itu.


Karena yang digunakan adalah tangan kanan, Yoki menariknya dengan tangan kiri. Tubuh Haori tertarik ke depan. Yoki tahu, Haori kalah dari segi pertahanan karena Haori seorang wanita. Bukan cuma itu sih, serangan tadi tidak bisa ditebak Haori. Dia terlena dengan pertahanan Yoki yang berlangsung lama, sampai tidak sadar kalau Yoki juga punya kesempatan untuk menyerang.

__ADS_1


“Yosh.”


Dari yang jaraknya 1 meter, kini hanya terpaut menjadi 40 sentimeter. Kalau Yoki uppercut, maka habis sudah riwayat Haori. Itu masuk dalam bagian rencananya, sampai dia sadar kalau Haori sudah mengantisipasi hal itu.


Mau Yoki pukul pun, Haori sudah rela menggunakan satu tangan yang tersisa untuk melindungi bagian dagu. Jika sudah begini, pukulan uppercut Yoki tidak akan mengeluarkan kekuatan maksimal. Jadi, terpaksa Yoki menggunakan cara lain dengan menyabit kaki kiri Haori.


Tubuh Haori jadi jatuh ke kiri, tapi Yoki tidak akan membiarkannya jatuh. Dia memukul dulu agar kecepatan Haori menjadi lebih cepat saat hendak menyentuh tanah. Pasti, bisa dibayangkan rasa sakitnya bukan.


“Anak ini, ilmunya lumayan juga. Seseorang yang hanya bisa mengandalkan sihir seperti aku tidak akan bisa menandinginya.”


Tapi entah kenapa tinju Yoki berhenti, padahal tinggal sedikit lagi dia sudah bisa mendaratkan pukulan di wajah Haori. Saat Yoki menatap mata Haori, entah kenapa rasa ibanya muncul.


Sebagai gantinya, Yoki menggunakan tangan Haori yang sudah dikuasai untuk melempar tubuh Haori ke sisi lain.


Sekarang dampak yang diterima Haori menjadi jauh lebih kecil daripada serangan yang harusnya Yoki lancarkan tadi. Lihat saja, Haori sudah dapat berdiri lagi.


“Kenapa Yoki, apa karena aku wanita?”


“CIKH, tubuh ini terlalu lemah. Aku tidak akan bisa menandingi Yoki. Untung tadi dia tidak meninjuku, kalau tidak mungkin aku perlu waktu untuk memulihkan diri.”


Dilanjutkan gumaman untuk mencurahkan kekesalannya.


“Entahlah, aku agak kurang suka menghajar wanita. Karena bagiku, wanitalah yang harus kulindungi.”


“Dasar sialan, secara tidak langsung dia menghinaku sebagai penjaga tuanku. Lihat saja kau, akan kubuktikan kalau aku layak.”


Gumaman yang memotivasi. Semangat dan kemarahan Haori menjadi satu. Dia menjadikan harga diri sebagai taruhan di sini.


“Awas kau yah!”


Pertarungan akan dimulai lagi, kali ini Haorilah yang akan memulainya. Setelah saling berhadapan, yang pertama kali dilakukan Haori adalah tendangan. Tadi dia sadar, karena cuma memberikan tangannya kepercayaan untuk menyerang.


Untuk menebus kesalahannya itu, dia pun merelakan kaki untuk menjadi senjata. Yah, kali ini dia sudah menjadi ancaman untuk Yoki. Yoki menjadi kewalahan, walau dia hanya melakukan pertahanan.


Apa yang terjadi adalah serangan kombinasi antara kaki dan tangan, sudah jelas kalau level serangan Haori akan memicu Yoki untuk bertahan secara reflek.


“Serangan pertamamu tadi itu, hanya untuk mengukur kekuatanku kan?”


Haori bertanya sembari melancarkan serangan. Sedangkan Yoki hanya mengangguk, dia saat ini sedang menghemat stamina. Berbicara sambil bertarung bisa membuat pemakaian stamina menjadi boros.


“Berarti saat melakukan pertahanan terus menerus seperti tadi … kau ini menilaiku lemah, kan?!”


Emosi Haori meledak-ledak. Tempo serangan semakin cepat, dia ingin agar Yoki mau melancarkan serangan. Beberapa saja, agar harga dirinya tidak jatuh terlalu dalam.


“Dasar kau!”

__ADS_1


Bahkan sampai di titik ini, Yoki tetap tidak mau menyerang. Padahal pertahanannya sudah tumpul, tangannya sudah lebam. Tapi, dia masih berusaha keras untuk menahan itu semua.


Haori sudah muak dengan semua ini. Dia pun mengambil serangan yang lain. Satu kakinya dihentakan di tanah, membuat tubuhnya melompat. Lalu, satu kaki lagi dia jadikan sebagai senjata. Singkatnya, semua ciri-ciri itu mengarah ke gerakan salto.


__ADS_2