
Saat Terasaka sudah pingsan, Kenichi menyingkir dari atas perut lawannya. Membersihkan diri dan memegangi bagian tubuh yang terluka amat parah. Ada yang lebam, ada pula yang terluka.
“Ahhh ... sakit sekali badanku.”
”Maaf yah Kenichi, aku menjadi beban lagi bagimu.”
“Tidak, justru kamulah yang selalu menjadi kekuatan bagiku. Karena itulah, aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu untuk semuanya.”
Mendengar balasan Kenichi, hati Yoki sedikit tenang. Setelah menatap temannya, matanya agak sedikit teralihkan ke seorang pria yang sudah terkapar pingsan di bawah. Pria yang tidak lain adalah Terasaka itu memang tidak menerima luka yang cukup banyak, namun sepertinya hanya butuh satu serangan fatal saja untuk bisa menjatuhkannya.
Atau, memang daya tahan tubuhnya yang melemah. Terlalu banyak energi negatif yang keluar, sehingga ia tidak bisa mengatur jiwa dan raganya. Yah, itu bisa jadi penyebabnya.
“Tapi Kenichi, sebenarnya apa yang dia maksud sebagai ibu?”
“E-e … haha. Sudahlah, tidak usah pusing memikirkannya.”
Kenichi menjawab sambil melangkahkan kaki menjauhi tempat itu. Namun sayang, Yoki tidak menerima jawabannya.
“Jangan sembunyikan apapun dariku Kenichi!”
Nada Yoki menjadi sedikit lebih ketus, dia berucap dengan perasaan marah dan kesal yang bercampur aduk.
“Haaah … nantinya juga kamu pasti akan tahu, yang pasti … dia harus belajar untuk tidak buta pada perasaannya sendiri.”
Ingin rasanya Yoki membalas ucapan itu, namun sepertinya ia sedikit memahami maksud Kenichi. Sedikit gumaman tiba-tiba muncul di otaknya yang mengingatkan Yoki pada tindakan yang dilakukan Terasaka kepada mereka berdua. Memang tidak pantas, pikirnya.
“Jadi apa keputusanmu?”
“Ehmm … apa kita harus meninggalkannya?”
Yoki bertanya, sedari tadi matanya terus menatap iba Terasaka. Simpatinya begitu besar saat melihat keadaan Terasaka.
“Menurutku, kita tinggalkan saja.”
“Hee ….”
Yoki terheran, namun Kenichi menangkap maksudnya sebagai sebuah pertanyaan untuk menjelaskan jawaban Kenichi.
“Hewan buas ini sedang terganggu emosinya, jika yang membangunkan dia adalah mangsa yang telah membuatnya kalah … maka dia tidak akan segan untuk menuntaskan dendam.”
“Tapi ….”
“Percayalah dia tidak selemah itu. Tidak, sampai dendamnya terbalaskan.”
Kenichi meneruskan langkah, sedangkan Yoki menatap Terasaka dengan rasa iba, takut, dan heran pada kata “ibu” yang disebutkan Terasaka. Memang dia hampir mengetahuinya, namun tidak sempat mengungkapkannya.
Sepertinya, Yoki memang harus mencari sendiri maksud dari kata itu.
“Sebenarnya Yoki, aku juga bingung harus mengeluarkan ekspresi apa saat melihat keadaan Terasaka.”
Kenichi hanya bergumam. Hanya bergumam pada ekspresi asli yang dia sembunyikan.
Di sepanjang perjalanan, mereka berdua hanya terdiam. Kenichi masih menahan rasa sakit, sedangkan Yoki masih memikirkan kejadian tadi. Benar-benar terngiang di kepalanya.
Sesampainya di rumah Yoki, mereka berdua langsung melepas perlengkapan dan bersiap-siap untuk mandi. Bagi Kenichi, ini adalah kesempatan yang bagus untuk membersihkan luka.
“Oh yah Kenichi, kamu mandi duluan aja oke.”
Kenichi tersenyum sembari memiringkan kepala. Handuk yang merupakan milik Yoki, diserahkan pemiliknya untuk Kenichi.
“Yoki, baju ini ditaruh dimana?”
Kenichi bertanya, sembari melepas baju. Dari situ terlihat bekas luka yang ditimbulkan oleh teman-teman Terasaka. Lumayan banyak, tapi tidak parah. Hanya, yang mendominasi adalah memar. Sisanya dihiasi oleh luka biasa. Dan, yang pasti adalah luka bekas cakaran beruang. Tapi tenang, lukanya sudah menutup walau belum sempurna.
“Uhmm, taruh saja di situ. Nanti diplastikin.”
“Ahh, benar. Mungkin nanti aku akan memperbaikinya.”
__ADS_1
Setelah menatap pakaian Kenichi yang robek, Yoki memalingkan perhatian ke bekas luka yang terlukis di tubuh Kenichi.
“Lalu … apa kamu tidak apa-apa? Apalagi luka bekas beruang itu.”
Kenichi mengerti maksud Yoki, dia melihat ke arah yang dilihat Yoki.
“Tidak apa-apa sih, bekas luka seperti ini adalah bukti kejantanan seorang pria.”
Kenichi mengubah suasana pembicaraan, dia tidak mau temannya larut dalam kesedihan. Lagipula, hari-hari berat telah mereka lewati dan mungkin di masa depan pun akan demikian.
Kenichi mengerti akan hal ini dan dia selalu berharap kalau tidak akan terjadi sesuatu kepada mereka. Sekali pun terjadi, dia berharap kalau mental dan fisiknya akan siap.
“Heleh, sok sokan.”
Yoki menyenggol luka Kenichi, dia melakukan ini dengan sengaja. Hanya sekedar gurauan saja, lagipula itu tidak terlalu keras.
“Aduh du du, sakit tahu.”
“Kan.”
Yoki berjalan melewati Kenichi, dia hendak ke kamar. Handuknya juga sudah diberikan, jadi terserah Kenichi untuk mandi kapan pun dia mau.
“Haaah.”
Kenichi mengguyur badan, setibanya di kamar mandi. Dia hendak melepas segala lelah dan rasa sakitnya di situ.
“Kerja sama yah, kalau aku ke rumahku … pasti semuanya telah diambil. Apa aku harus mencarinya di rumah Yoki? Tapi rasanya tidak enak saja kalau harus mengobrak-abrik di rumah teman sendiri.”
Kenichi mengguyur lagi badannya. Air di situ terasa nikmat dan mengalir di sekujur luka. Walaupun agak perih memang, tapi Kenichi sudah biasa merasakannya.
“Walaupun aku masih menduga-duga, tapi kalau memang benar begitu faktanya, aku tidak menyangka kalau orang tua Yoki dulu adalah orang yang sukses.”
Keran air dimatikan, Kenichi memakaikan handuk di sekitar ********. Di luar, dia sudah ditunggu Yoki yang sedang memegang sebuah pakaian.
“Kenichi, karena ukuran kita agak sama,” sembari mengulurkan pakaian itu, “Kamu pakai saja punyaku.”
Kenichi menerimanya dengan sukarela.
“Baiklah, sekarang adalah giliranku untuk mandi.”
“Kalau gitu aku ganti baju dulu yah, apa boleh di kamarmu?”
“Silahkan saja.”
Tanpa berlama-lama lagi, Kenichi langsung beranjak ke kamar Yoki. Tapi, ada rencana terselubung yang menyelimutinya. Kenichi tidak sepenuhnya ke kamar Yoki dengan alasan untuk mengganti baju.
“Yosh, dia sudah masuk.”
Kenichi berbalik dan melihat keadaan kamar Yoki.
“Ya ampun, kamar seorang pemain game memang selalu berantakan kah?”
Kenichi berjalan sampai ke depan tempat tidur Yoki. Melihat sekilas, kekacauan yang terjadi di kamar Yoki.
“Tapi aku agak gak enak sih.”
Dia menunduk, hendak merenungkan lagi keputusannya. Ketika sudah diputuskan, lututnya menekuk mengambil posisi jongkok.
“Haaah mau bagaimana lagi, aku harus mengetahui rahasia ini. Tapi, apa benar informasi itu ada di kamar Yoki. Uhmm, kalau benar pasti Yoki sudah tahu kan.”
Dia tidak hanya bergumam, dia juga melihat ke sekeliling kamar Yoki. Seperti mencari petunjuk yang mungkin tersembunyi.
“Ke mana aku harus mencari infromasi yang aku inginkan, di waktu yang sesingkat ini?”
Memang Kenichi pernah ke rumah Yoki, tapi dia hanya melihat sekilas saja. Lagipula, saat ini dia juga sedang was-was. Takutnya Yoki sudah menyelesaikan mandinya.
“Tapi, apa mungkin ada di rumahnya? Cikh, bodoh kenapa mengambil keputusan yang teledor.”
__ADS_1
Menyesal sekarang bukanlah sesuatu yang berguna, dia sadar akan hal itu.
“Cobalah aku cari di sini.”
Dia mulai mengacak-ngacak kamar Yoki, tapi fokusnya hanya setengah. Sedangkan fokus yang lain dia tumpahkan untuk mengawasi pergerakan Yoki.
Untung kamar Yoki acak-acakan, jadi Kenichi bisa menutupi sedikit tindakannya. Dia terus mencari, menggali barang-barang mulai dari kasur, lemari atau apapun yang ada di kamar Yoki.
Ada beberapa lemari di kamar Yoki, satu persatu Kenichi mengecek bawahnya. Hingga tiba di satu lemari, dia menemukan sebuah kotak dengan tulisan di atasnya. Kotak berbentuk persegi, sekilas mirip dengan sebuah kotak pizza yang terbuat dari kardus.
Tanpa berlama-lama, dia segera menarik kotak itu keluar dari bawah lemari baju Yoki. Agak sempit, jadi Kenichi agak sulit untuk menariknya.
“Tolong jangan membuka kotak ini, karena itu akan membuat kami sangat sedih.”
Kenichi membaca tulisan yang tertempel di kotak itu. Ekspresinya tersenyum, entah karena apa.
“Kau benar-benar polos ya, Yoki.”
Ternyata itu adalah alasannya untuk tersenyum.
“Baiklah, sekarang aku harus membuka kotak ini.”
Kenichi melirikkan mata, mengunci fokus pada setiap sisi dari kotak tersebut. Tidak sulit untuk menemukan kunci, kunci itu berupa selotif hitam yang melindungi isinya.
“Hmmph, apa aku benar-benar akan membuka isinya?”
“Kenichi ….”
Di saat Kenichi ingin merenungi pertanyaan yang dia buat sendiri, datanglah orang yang menjadi kekuatirannya.
“Gawat!”
Kenichi menaruhnya kembali. Sangat cekatan, itu juga membuktikan kalau Kenichi masih dapat berpikir tenang di situasi yang seperti ini.
“Yo, Yoki.”
Untung masih sempat. Hati Kenichi pun merasa lega, karena dia masih mempunyai waktu untuk menutupinya.
Apalagi tadi Yoki sempat menyapa, jadi itu seperti sebuah alarm peringatan bagi Kenichi.
“Dari tadi kamu belum ganti baju?”
Itu sudah terlihat jelas dari penampilan Kenichi. Dia tidak memakai baju, hanya handuk yang melingkari pinggangnya.
“Heh! Oh ini ….”
“Haduh, cepat ganti baju sana.”
“Oke, oke maaf hehe.”
“Nanti aku tunggu di dapur.”
Kenichi mengangguk, sembari menyiapkan baju dan celana untuk dipakai. Sedangkan Yoki hendak pergi terlebih dulu, dia ingin menyiapkan makanan untuk santap malam mereka.
“Apa aku harus periksa kotak itu? Itu adalah kotak berharga miliknya sih,” Kenichi mendongkakkan kepalanya ke atas, “Haaah … tapi kalau tidak aku buka, apa aku bisa mengetahui rahasia itu?”
Sekarang busananya sudah lengkap, tinggal mengisi perut yang sudah kosong. Bahkan saat ini perutnya meronta, minta diisi oleh pemiliknya.
“Yoki masak apa nih?”
“Mana ada, kau tak lihatkah kalau ada bungkus makanan di situ.”
Kenichi mengikuti arahan jari Yoki. Di situ memang nampak sebuah bungkus makanan berbentuk kotak yang berwarna merah, lengkap dengan logo restorannya.
“Ya ampun, kirain kamu sudah diajarkan oleh bu guru Gaia.”
“Eee ….”
__ADS_1
Lelucon itu tidak terasa lucu bagi Yoki, dia malah menanggapinya dengan kesal.