
“Tapi … maaf yah. Aku tidak bisa bersama kalian lagi.”
Gaia berdiri, untuk berdiri saja dia memerlukan usaha yang besar. Perasaannya begitu berat untuk menyingkir dari kehidupan mereka berdua. Bagaimana pun, dia juga ingin kembali merajut kenangan bersama mereka. Yah, godaan dan keinginan pasti datang, namun Gaia tetap memilih pilihan yang terbaik.
Tanpa berlama-lama lagi, dia segera berbalik untuk pergi. Namun ada yang menghalangi. Baru satu langkah yang dikeluarkan, Gaia sudah tertahan oleh sesuatu. Gaia berbalik kembali dan melihat sebuah tangan yang menggenggam erat tangan Gaia.
Sontak Gaia terkejut, karena pemilik tangan itu adalah Yoki. Hati Gaia menjadi goyah, dia bingung ingin berada di sisi yang mana. Lagipula, seharusnya kesadaran Yoki belum pulih sempurna, tapi tangannya dengan nakal menggenggam tangan seorang gadis dengan erat.
“Yosh, ayo kita pergi ke bukit lagi. Tenang Gaia, jika kamu terjatuh, aku akan ada sebagai seorang pahlawan. Hohoho ….”
Yoki tidak berbincang secara langsung dengan Gaia, saat ini dia sedang berada di dalam mimpi. Mimpi itu seperti bercerita tentang rencana Gaia untuk kembali ke bukit bersama-sama. Selesai dengan satu kalimat penuh ocehan, Yoki menutupnya dengan senyuman yang sempurna.
Memang, panjang senyuman Yoki hanya sampai 7 sentimeter saja. Tapi apakah kalian tahu panjang arti dibalik senyuman itu? Yah, tak terhingga.
Bagi Gaia, yang dia lihat saat ini sudah sebesar dunia. Senyuman Yoki bagai penyelamat yang telah berhasil menarik Gaia keluar dari kegelapan. Dia telah membawa Gaia ke dunia yang baru, yang penuh dengan sukacita.
Kebahagiaan apalagi yang lebih besar dari ini. Seorang teman telah bangkit dari kematian. Bahkan, di awal kehidupan kedua Yoki, dia sudah memaafkan pelaku yang merupakan temannya sendiri.
“Makan malam sudah siap, ayo kita nikmati bersama-sama.”
“Cukup … cukup … jangan beri aku harapan untuk hidup lagi.”
“Adudududuh, apinya panas sekali. Hah? Bisa mati? tidak-tidak, aku tidak akan membiarkan kalian merasakan rasa sakit terlebih dulu. Walaupun itu berbicara tentang kematian, akulah yang akan mati pertama kali.”
“Apa yang kamu ....”
Sekarang Gaia sudah menyerah untuk pergi, kakinya sudah dicondongkan kembali ke brankar Yoki. Dia pun kembali menekuk lutut dan menangis sejadi-jadinya di samping tubuh Yoki yang semakin lama semakin membaik.
Itu adalah ocehan ternaif yang pernah dia dengar, juga sekaligus menjadi rangkaian kata yang dapat menusuk hati Gaia yang paling dalam. Lihat saja, dia menjadi lunglai, bimbang untuk menentukan pilihan.
“Kenapa … kenapa kamu memaafkanku semudah itu? Kenapa?”
“Sekarang, aku jadi tidak bisa menebus kesalahanku. Payah, Yoki naif, Yoki bodoh, Yoki ….”
Kita tinggalkan gadis muda yang sedang mengoceh itu. Di brangkar yang satunya lagi, sudah tercium bau-bau kehidupan. Penghuninya yang bernama Kenichi juga mengalami peristiwa yang sama dengan Yoki. Namun bedanya, dia sadar lebih cepat.
Kehidupan Kenichi kembali secara perlahan, jika diibaratkan, dia seperti sedang terbangun dari tidur. Hingga 1 menit berlalu, akhirnya Kenichi bisa dengan jelas melihat langit-langit ruangan.
Selama 1 menit tadi, ingatan Kenichi juga masih kosong. Jadi setelah ingatannya pulih, Kenichi langsung bangun dengan kasar. Dia tersentak, karena tidak mengenal ruangan tempat dia sadar.
“Di-di mana aku?”
Mata Kenichi melirik ke samping kiri dan menemukan Gaia yang sedang menangisi Yoki. Dia agak bingung dan bertanya-tanya tentang alasan mereka bertiga ada di tempat ini.
“Ga-Gaia.”
Gaia langsung mendongkakkan kepala. Dia menemukan Kenichi yang sudah dalam posisi duduk. Di saat yang bersamaan, Yoki juga mengalami hal yang sama dengan Kenichi. Dia menunggu satu menit, hingga kesadarannya kembali pulih dengan sempurna.
__ADS_1
“Kenichi … Gaia.”
Tapi cara bangun Yoki berbeda dengan Kenichi. Dia mengambil posisi duduk, dengan proses yang perlahan-lahan. Nah yang ini seperti bangun di pagi hari.
“Ke-kenapa kita disini? Terus tempat apa ini? Dan … dan kenapa kita tidur dengan memakai seragam sekolah?”
Ya ampun, sudah ada begitu banyak pertanyaan yang terlintas di kepala Yoki. Seharusnya dia menikmati dulu kehidupan keduanya.
“Ki-ta, ada di kamar mayat.”
“HEH!!!”
Mereka berdua langsung histeris. Sejujurnya, kamar mayat memang bukan tempat yang tepat untuk bangun. Apalagi namanya mengingatkan mereka dengan orang yang sudah tertidur selamanya.
“Ma-mayat? Yang bener aja, gak … gak mungkin kan.”
Saat Yoki sedang bertanya, Kenichi melirik sekilas ruangan itu. Hasil analisanya, Kenichi nampak tidak menunjukkan keraguan pada jawaban Gaia.
“Yoki … mungkin yang dikatakan Gaia benar deh.”
Yoki langsung berpaling lagi.
“Kita kan bangun di tempat tidur yang biasanya dipake buat kasur mayat yang akan disimpan di kamar mayat ini. Pertanyaannya, kenapa kita tidur disini?!”
Walaupun itu adalah sebuah pertanyaan dengan nada teriakan, setidaknya pertanyaan yang disampaikan Kenichi lebih spesifik dan mengarah pada alasan mereka ada di ruangan ini.
Dua buah gelengan kepala, telah membuat kebingungan Gaia semakin bertambah. Dia saja tidak tahu bagaimana keajaiban tadi bekerja, apalagi dampak dan alasan dari keajaiban itu.
“Tapi masa kalian gak ingat … kan aku yang ….”
Untuk sekarang, Gaia langsung menutup mulut. Dia tidak mau mengungkapkan itu pada mereka berdua. Tentu ada alasannya, dia tidak mau kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk saat dia bercerita tentang semua kejadian kemarin.
Lagipula mereka berdua tidak peduli sih, mereka masih bingung kenapa mereka ada di brangkar dengan keadaan tubuh yang tertutupi seragam.
Yoki yang sedang menyusuri tubuhnya menemukan sesuatu yang janggal. Alat vitalnya, teracung keluar dari dalam sangkar.
“Eh bentar-bentar,” Yoki sadar, dia langsung menutup ******** dengan merapatkan resleting celana, “Ga-Gaia, jangan lihat!”
“Ahh tenang aja, aku biasa aja ngeliat anu kamu yang kecil itu.”
“Heh! A-apa maksudmu?”
“Hahaha … sepertinya Gaia lebih pro dari kamu Yoki hahaha ….”
Memang candaan yang tidak patut untuk dibahas sih, tapi kalau bisa merayakan kebangkitan mereka berdua, Gaia juga tidak keberatan dengan hal itu. Yang penting, dia dapat melihat tawa mereka kembali. Lihat, sepertinya ada sebuah kantung air mata yang menggantung di mata Gaia.
Selain mengandung air, glukosa, dan kandungan yang lain. Di dalam tetesan air mata itu, juga terdapat beribu-ribu rasa syukur yang Gaia simpan untuk mereka berdua. Dia sama sekali tidak menyangka, pertobatannya diterima dan langsung mendapatkan hasil.
__ADS_1
Tentu saja Gaia tidak ingin membuat lubang untuk yang kedua kali. Dia tidak mau tontonan indah saat ini, menjadi tontonan horor yang dialami ketika kecil.
“Kurasa, aku tidak mau diriku yang dulu. Aku sudah tidak peduli lagi, selain mereka berdua aku sama sekali tidak peduli.”
“Gaia.”
Tiba-tiba sebuah tepukan mengganggu gumaman Gaia. Panggilan dan tepukan berasal dari satu orang yang sama. Dia adalah Yoki. Yang menggunakan tangan kanan untuk menepuk.
“A-apa?”
“Hee … kenapa kamu jadi gugup begitu. Ehm, gini … mending kita pergi dari sini, “Yoki melirik, memantau keadaan ruangan, “Kamar mayat ini sangat menyeramkan.”
Disimbolkan dengan bahu Yoki yang bergidik ketakutan.
“Baiklah, kalian bisa berjalan kan?”
“Iya.”
Yoki dan Kenichi membuktikannya dengan langsung turun dari brangkar.
“Oke, kita harus keluar dari sini tanpa ketahuan. Nanti kalau para penghuni lihat, kalian bisa disangka mayat hidup.”
“Haaah … kamu jahat sekali Gaia, tapi ya udah deh. Walaupun kalau keluar kayak gini, kita bakal disangka pencuri.”
“Pikiranmu lebih jahat Yoki. Uhmm, kita lewat pintu belakang rumah sakit. Oh yah, jam berapa sekarang?”
Gaia bingung ketika di tanya itu. Selama apapun dia berpikir, dia sama sekali tidak bisa menebak waktunya dengan tepat.
“Gak tahu yah, tapi kira-kira ini masih subuh.”
“Ya, bagus. Beberapa rumah sakit tutup saat malam, hanya UGD yang buka. Moga-moga, rumah sakit ini juga salah satunya.”
Mereka berdua menyetujui argumen Kenichi. Tanpa berlama-lama lagi, mereka bertiga langsung keluar dengan langkah yang seperti ninja. Sama sekali tidak ketahuan, bahkan saat mereka sudah keluar dari lingkungan rumah sakit.
Sementara itu, selang 10 menit setelah mereka keluar dari ruangan, datanglah para pembawa jenazah yang tadi mengangkut Yoki dan Kenichi ke sini.
Saat masuk, mereka langsung dikejutkan oleh kejadian yang benar-benar tidak terduga. Kedua mayat yang tadi mereka letakkan dalam brangkar hilang.
“Apa yang terjadi? Kenapa mereka berdua hilang?”
“Semua menyebar dan cari mayatnya.”
Pertanyaan demi pertanyaan terus mereka layangkan selama pencarian. Tapi sayangnya, semua itu hanya berujung pada hasil yang nihil. Mereka semua putus asa dan berkumpul di tempat awal.
“Kita bilang dulu ke dokter, baru setelah itu kita lakukan tindakan selanjutnya.”
Semua mengangguk. Dengan langkah yang tergesa-gesa, mereka melewati koridor untuk menemui dokter yang bertanggung jawab.
__ADS_1