RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~MOMEN YANG TAK TERDUGA~


__ADS_3

“Uhhhhhh ….”


Mulai deh. Setelah dipicu, Kenichi akan menjadi pembawa acara yang akan memandu suasana yang semakin memanas ini.


“Cih … cih … cih … cih … aduh, Yoki parah. Aku kira selama ini ….”


“Bukan gitu. A-aku … hanya ….”


“Hahaha … lihatlah ekspresimu itu. Kau seperti korban tabrak lari yang tidak tahu apa-apa. Oh yah …,” Kenichi mendekati Yoki, ada wajah penghakiman yang membuat Yoki merasa tidak enak, “Gimana rasanya … Yoki?”


“Khekkk … aku tidak tahu apa-apa. Aku .…”


Mau dibuang kemana wajah Yoki, dia sedang bingung untuk memikirkannya. Kemana pun dia kabur, Kenichi selalu dapat menjangkaunya.


“Jangan ditutup-tutupi Yoki. Aku tahu kau merasa seperti sedang diberikan makanan enak oleh seseorang kan, ya kan?”


Kalau mau diledakkan, ledakan saja. Yoki terlalu berlebihan dalam menahan emosinya. Kalian tahu, pertanyaan demi pertanyaan yang dicuatkan Kenichi, telah memicu Yoki untuk menonton kembali adegan yang tidak mengenakan itu.


“Kalian ngomongin apa? Kok dari tadi wajah Yoki jadi merah.”


“Yosh, waktunya kita menginterogasi pelaku kedua. Jadi aku tadi sedang membahas tentang kasus yang kalian lakukan.”


“Kasus apa?”


Kenichi berdiri, dia akan mulai bercerita. Deheman kecil menegakkan martabat Kenichi. Tak lupa pula dengan badan tegap yang menaikkan derajatnya.


“Kasus yang melibatkan dua buah kasih yang tersambung dari dua insan yang saling mengikat satu sama lain. Dua ikatan yang menyatukan tubuh mereka sesaat, membuat momen yang tak akan mudah dilupakan. Di bawah sang mentari, dua kali, di dua kesempatan yang sama. Ugh, sungguh romantis, sungguh satu kesatuan yang ….”


“Pak hakim, jangan kepanjangan. Nanti waktunya gak cukup.”


Penyebab hancurnya pidato Kenichi adalah Aiha, yang sedari tadi terus menahan diri untuk menunggu Kenichi mengatakan satu kalimat. Satu kalimat yang akan mengungkapkan seluruh kejahatan Yoki dan Gaia.


“Hosh … hosh bu saksi. Tadi aku hanya sedikit mengucapkan kata pembuka,” satu tangan Kenichi diacungkan dengan mantap ke atas, “Yang kami maksud adalah … pelukan kalian berdua.”


“Heh!”


Teriakan itu bukan datang dari ketiga orang peserta, tapi dari tambahan penonton yang tak sengaja ikut dalam acara. Bukan hanya satu, tapi semua orang yang menjadi penghuni kelas. Ditambah, dengan seorang guru yang hadir di barisan paling belakang.


Benar-benar satu set yang lengkap. Mereka hadir, karena panggilan takdir yang digaungkan oleh bel. Bukan penonton bayaran, semuanya hanyalah penonton dadakan.


“Aaaaaa … mati aku, bunuh aku, aaaaaa ….”


Dalam ekspresi Yoki yang diam mematung, ada racauan yang meledak-ledak di dalamnya. Racauan berulang, yang pasti tidak dia keluarkan untuk saat ini.


“Yoki … Gaia … apa yang dikatakan Kenichi benar gak?”

__ADS_1


Pak guru masih tetap setia dengan posisi di belakang, hanya para muridlah yang menyingkir dari hadapannya.


Untuk Yoki, sepertinya dia sedang tidak bisa diajak bicara, tubuhnya sedang kritis karena mengeras seperti batu. Sedangkan Gaia, hanya mengangguk kaku tanpa ada reaksi kaget karena kasusnya yang sudah diketahui banyak orang.


“Heee … ayo bergemetar Gaia, ayo merasa bersalah. Aduh, ekspresiku bener-bener sudah mati kali yah.”


Ternyata ekspresi Gaia hanyalah sebuah topeng belaka. Dia bukan mau memakai topeng itu, tapi dia tidak bisa melepasnya. Aslinya, saat ini Gaia sedang sangat panik dengan kehadiran para penonton yang tidak terduga - ditambah, hakim yang merupakan gurunya sendiri.


“Kalian tahu kan kalau itu tidak diperbolehkan di sini?”


Hanya jawaban hampa, dengan sedikit anggukan dari Gaia. Benar-benar suram kondisi kelas ini, tapi memiliki aura yang panas.


“Kalau begitu, silahkan berdiri di depan kelas.”


Yoki dan Gaia langsung berdiri, mereka berdua sudah siap menjalani hukuman. Tegakan kaki Yoki bergemetar, ada rasa takut di dalamnya.


Ketika Yoki berjalan, dia dapat melihat sekilas wajah dari teman-teman sekelasnya. Benar-benar ekspresi yang beragam, tapi Yoki berpendapat kalau ekspresi-ekpresi itu tertuju pada hal yang negatif.


Sedangkan di sisi lain, dua orang sedang terdiam dalam kursi mereka. Kenichi dan Aiha, sedang meracau untuk menghakimi rasa penyesalan atas tindakan tadi. Mereka berharap, Yoki dan Gaia bisa memaafkan tindakan yang mereka perbuat.


Yah, tanpa dimohon pun, harapan itu sudah terjadi. Yoki tidak pernah secuil pun memikirkan tindakan yang Kenichi lakukan padanya, dia hanya memikirkan kemungkinan masa depan yang akan dia tanggung karena kejadian ini.


Bisa saja dia dipanggil sebagai laki-laki yang tidak benar, atau digoda-goda oleh teman sekelasnya. Sebelum kejadian ini, dia dan kedua temannya hanya menjadi bagian samar dari kelas ini, bahkan tidak ada. Dan karena kejadian ini, bisa jadi Yoki menjadi bahan perbincangan banyak orang. Apalagi, jika kejadian itu berada di tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.


“Cepat keluar kelas dan sepulang sekolah, temui bapak di kantor.”


Ucapan tak terduga tiba-tiba terdengar, sesaat setelah Yoki mengangguk lesuh. Yoki membantingkan kepala ke samping, dia tahu siapa pemilik suara itu.


“Kau pikir kau siapa hah!?”


Menarik, tidak terduga, dan yang pastinya sangat berani. Para penonton dadakan langsung bersorak, “Uh …,” dan terpanah oleh perlawanan yang tidak terduga itu. Di sisi lain, sang lawan yang tidak lain adalah pak guru, langsung menggetarkan mulut. Nampak jelas kalau dia sedang menahan amukan dengan getaran yang dia hasilkan.


“Aku Fujiwara Minato, guru bahasa jepangmu.”


Perkenalan yang tidak berguna, Gaia menganggapnya sebagai sampah dengan langsung membuang tatapan.


“Cikh, jangan sombong kau. Cuma jadi guru saja sudah begitu, “tatapan kasar langsung Gaia berikan pada tatapan pak guru yang tegas, “Kau tahu siapa aku, aku adalah … atatatatata.”


Lebih baik dihentikan, daripada makin kacau. Yoki mengerti itu, dia mengambil langkah pencegahan dengan menjewer telinga Gaia.


“Maaf pak, kami undur diri.”


Tadinya mata pak guru tidak peduli, tapi sekarang matanya turut mengikuti langkah Yoki dan Gaia keluar kelas. Dia hendak memastikan lawannya, agar tetap di bawah dan tidak bisa melawan.


“Pak.”

__ADS_1


Masih terbengong dengan pintu kelas yang sudah kosong, pak guru diingatkan oleh suara yang memanggil. Dia segera berbalik pandangan dan mendapati Kenichi yang sedang berdiri di depannya.


“Pak, aku juga mau dihukum. Kemarin saat ulangan matematika, aku menyontek punya Haori.”


“Heh! Mana ada urusannya dengan bapak.”


“Ya udah, saya mau dihukum karena malas belajar.”


Tidak ada hentian dari pak guru, dia tahu kalau hak belajar adalah milik murid-muridnya sendiri. Tapi tetap saja, kebingungan sedang melanda pak guru.


Baru pertama kali ada murid yang mengajukan diri untuk dihukum, apalagi datang dari murid yang sangat pandai.


“Kenapa dia?”


Untuk menghilangkan keraguan, mata pak guru mengikuti tubuh Kenichi yang beranjak keluar kelas, sambil menilik sesuatu yang salah dari perilakunya. Namun tetap saja, dia tidak menemukan apapun dari anak bernama Kenichi.


“Pak guru.”


Sebuah panggilan yang membuat pak guru kembali menoleh ke belakang. Kali ini yang dia dapati adalah Aiha, yang berdiri sambil menundukkan kepala.


“Saya juga mau dihukum.”


“Kenapa?”


Aiha menunjukkan alasan yang lebih jelas daripada Kenichi. Dari balik tubuh, keluarlah benda yang amat sangat mengandung unsur negatif. Unsur yang sangat buruk, tapi tidak bisa dihindari oleh setiap manusia di muka bumi.


Bahkan bisa memancing semua penonton ternganga, sungguh dahsyat sekali bukan. Mereka mendapatkan dua kali tontonan yang sangat menarik kali ini. Namun diantara kerumunan penonton, ada juga yang membuka mulut dengan maksud lain.


“I-itu kan bu-buku kit ….”


Untung dengan segera, temannya yang satu lagi langsung mendekap mulutnya dengan rapat. Dia tidak mau memancing arah fokus seluruh penonton kepada mereka. Bisa-bisa, nasibnya akan sama seperti Yoki dan Gaia.


“A-Aiha … itu ….”


“Iya benar pak, tadi aku baca buku yang tidak pantas. Permisi pak ….”


Lain penonton, lain juga gurunya. Mungkin kedua belah pihak hanya berbeda sudut pandang saja. Karena biasanya, anak-anak muda seperti itu suka dengan yang namanya kejadian yang heboh. Sedangkan guru, mereka selalu berpikir dewasa dan murid-murid itu juga merupakan tanggung jawab mereka.


Tapi walaupun berbeda pandangan, kedua pihak tetap bingung dan memutuskan untuk mengikuti langkah Aiha. Sebelum sempat menjejakkan kaki di luar kelas, Aiha segera menaruh buku tadi di atas meja. Lalu menghilang bersama dengan pintu geser yang sudah tertutup sempurna.


Masih diam semua, tidak ada lagi yang mengajukan diri untuk keluar kelas. Alhasil, pak guru pun merenungi kejadian tadi.


“Murid wanita, tambah dengan buku yang seperti itu, maka akan menjadi seseorang yang tidak baik.”


Renungan selesai, waktunya kembali ke dunia nyata. Apa yang disimpulkannya adalah hal yang benar, jadi sudah selayaknya bagi Aiha untuk mendapatkan hukuman.

__ADS_1


Memang sih, Jepang adalah salah satu negara yang memperbolehkan barang-barang yang berbau vulgar. Tapi, ini adalah sekolah. Tempat bagi ratusan murid untuk menuntut ilmu, jadi wajar saja kalau di sekolah ini ada peraturan seperti itu.


“Berarti dia akan menjadi calon-calon …, “memikirkannya saja sudah membuat pak guru menggeleng-gelengkan kepala, “Tidak boleh … tidak boleh, dia harus aku tobatkan sekarang juga.”


__ADS_2