
“Beneran gak parah kah? Kumohon, aku ingin melihatnya.”
Ternyata usaha Yoki gagal. Pada akhirnya, topik yang diambil tetap terarah ke situ saja. Mau bagaimana lagi, Yoki tidak bisa memaksakan kehendaknya kepada Gaia.
“Iyalah, tenang saja sudah kami obati. Hmmm, ya sudah kamu boleh melihatnya deh.”
Yoki menuruti permintaan Gaia, tapi yang mengambil inisiatif adalah Kenichi. Dia langsung membuka baju dan menunjukkan lilitan perban yang ada di sekujur tubuh. Tenang saja, hanya sekilas. Sehingga hampir semua orang yang ada di kelas, tidak memperdulikan kondisi Kenichi.
Sedangkan untuk yang meminta, ekspresi yang terlintas di wajah Gaia sangat sesuai dengan perkiraan Yoki.
“As-taga.”
Gaia langsung menutup mulut untuk menyembunyikan keterkejutannya. Apalagi ada tambahan kesedihan dalam wajah Gaia.
“Tenang saja, gak usah menunjukkan wajah yang seperti itu. Aku beneran gak papa kok.”
Yah, Kenichi berusaha menenangkan kegelisahan Gaia. Tapi, itu juga bisa dibilang sia-sia.
Sementara itu, ada juga sekelompok orang yang melihat mereka bertiga. Mereka tidak lain adalah teman-teman Terasaka yang menjadi saksi, sekaligus pelaku.
Tatapan mereka tajam ke arah orang yang telah mengalahkan pemimpinnya.
“Bagaimana keadaan bos saat ini? Apa dia baik-baik saja saat kita meninggalkannya?”
“Tenang saja, pasti bos baik-baik saja. Tapi ….”
Tiba-tiba orang itu berhenti bicara. Berganti dengan sebuah ekspresi penuh ketakutan.
“Tapi yang paling kita takutkan adalah kemarahan bos kita.”
Salah seorang di antara mereka malah menegaskan ucapan tadi. Itu pula yang menyebabkan tersebarnya ketakutan dari satu orang kepada yang lain.
“I-iya juga sih. Tapi takutnya kalau kita gak kabari dia, kemarahannya malah makin besar kepada kita.”
Semua berpikir keras, mereka ingin mencari jalan keluar dari permasalahan ini.
“Biar aku saja yang telepon.”
Hingga seseorang mengambil inisiatif, dia adalah orang yang paling berani mengambil keputusan di antara mereka. Yah, inisiatif ini diapresiasi dengan mata-mata yang menatapnya.
__ADS_1
“Anazawa.”
“Yah, biarin lah. Nanti pulang sekolah aku akan menelponnya. Lagipula, aku kuatir pada keadaannya.”
Semua mengangguk, tanda mengerti. Sekarang masalah ini sudah selesai, tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi.
“Ada bu guru, semuanya berdiri.”
Seorang siswa berdiri, seraya memberi perintah pada murid-murid di kelas itu. Sepertinya, jika dilihat dari gelagatnya, siswa itu adalah ketua kelas dari kelas ini.
Dengan cekatan, murid-murid di kelas itu langsung berdiri dan segera membungkuk sekaligus memberi hormat pada guru yang sedang berjalan ke meja guru. Bu guru yang mendapat salam dari semua murid, langsung tersenyum ramah pada murid-murid di kelas itu.
Langkahnya terus berjalan hingga berhenti di samping meja guru. Dari postur tubuh dan bentuk wajah, sudah dapat dipastikan kalau guru itu berbeda dari wali kelas mereka terdahulu. Sudah pasti, karena wali kelas terdahulu … sudah meninggal.
Melihat guru baru tersebut, tentu membuat Yoki langsung menunduk. Hatinya begitu perih saat mengetahui faktanya, ia merasa sangat bersalah hingga bisa diisyaratkan kalau dia mengganggap dirinya sebagai tersangka.
Sedangkan di sisi lain, Kenichi menundukkan kepala dan dimiringkan sembari menatap perilaku Yoki dalam-dalam. Dia sepertinya tahu kalau ini akan terjadi. Hanya satu yang dia tidak tahu, yaitu tindakan yang dilakukan Yoki hari ini.
“Halo anak-anak selamat pagi.”
“Selamat pagi Bu.”
“Baiklah, semuanya duduk.”
Murid-murid pun segera duduk di tempatnya masing-masing. Sangat serempak dan itu menunjukkan kekompakan mereka.
Setelah semua duduk, bu guru segera mengabsen kehadiran murid-murid yang seperti biasanya diurutkan dari absen yang paling awal. Tanda mereka hadir adalah dengan mengangkat tangannya.
Setelah beberapa saat memanggil satu persatu murid sesuai nomer absen, sampailah bu guru pada
urutan nomer absen siswa yang bernama Terasaka, saat Bu guru memanggil namanya, “Terasaka ... Terasaka …,” malah tidak ada jawaban yang dia dapatkan.
“Terasaka absen 27 hadir?”
Tetap masih tidak ada jawaban. Akhirnya, bu guru pun segera mengalihkan pandangannya ke arah meja Terasaka. Maklum, guru itu baru menjadi wali kelas mereka selama lima hari. Bisa ditebak kalau kelas itu sudah tidak memiliki wali kelas selama lebih dari satu minggu. Jadi, dia tidak tahu kalau Terasaka sudah tidak masuk lebih dari satu minggu. Benar-benar gila, bahkan dengan tingkat kehadiran yang seperti itu, seharusnya Terasaka sudah dikeluarkan dari sekolah.
“Terasaka belum masuk lagi yah dan dia juga belum mengirimkan surat izin selama lima hari sejak dia tidak masuk, kalau begini mungkin sekolah akan menskors Terasaka dari sini.”
Semua murid di kelas itu kaget mendengar keputusan bu guru. Terutama dengan teman-teman Terasaka yang langsung memfokuskan pandangan mereka menatap bu guru yang ada di depan kelas. Suasana kelas menjadi penuh dengan suara bisikan penuh misteri, karena hanya murid yang berbisik dan dibisiki saja yang tahu dengan yang diperbincangkan mereka.
__ADS_1
Untuk alasan, alasan dari keputusan wali kelas baru mereka cukup jelas sebenarnya, bahkan jujur itu terlalu baik. Di sekolah ini, murid yang bolos seminggu akan dikeluarkan dari sekolah. Tapi sekolah tidak ingin melakukan itu, mereka mempunyai alasan yang dirahasiakan kepada seluruh murid di sekolah.
Walaupun, tanpa sekolah sadari sudah ada beberapa murid yang mengetahui kebenarannya.
“Tidak bu! Terasaka sebenarnya sakit keras di rumahnya, jadi dia tidak bisa masuk sekolah dan dia juga tidak mau memberitahu bu guru karena dia takut kita semua menjadi kuatir tentang keadaannya.”
Seorang siswa berdiri sembari menghentakkan meja dengan kedua tangan, di dalam penjelasannya. Dia tidak lain adalah Yoki, yang telah merebut perhatian semua penghuni di kelas itu.
“Yoki! apa yang kamu lakukan?”
Kenichi berusaha untuk mencegah Yoki dengan berbisik padanya, agar tidak menarik perhatian tentunya. Namun, Yoki hanya menghiraukannya saja. Dia tetap teguh pada keputusan yang terlanjur ia keluarkan.
“Hmmm ... baiklah, walaupun tidak ada bukti tapi ibu akan mencoba percaya pada keteranganmu dan akan menulisnya di sebuah surat. Nanti kamu serahkan surat ini kepada Terasaka tapi kalau kamu berbohong kamu akan di skors juga, mengerti?”
Nada wali kelas yang baru ini sangat tegas rupanya. Berbeda dengan bu Mariko yang sangat lembut. Apalagi dengan ukiran gurat wajah yang semakin menambah kesan tua dan galak.
“Baik bu.”
Yoki pun kembali duduk dan setelah semua murid telah di absen, bu guru segera memulai pelajaran.
Pada saat jam istirahat Kenichi menghampiri Yoki yang duduk di taman sekolah, suasana saat itu masih senggang karena kebanyakan murid yang lain saat ini sedang berada di kantin. Yah, sebenarnya jaraknya sangat dekat, namun entah kenapa murid-murid memilih untuk makan di kantin.
“Apa yang kamu pikirkan? Kalau bu guru tahu kamu berbohong kamu juga akan diskors dari sekolah, kenapa kamu lakukan ini Yoki?”
“Apapun tindakannya terhadap kita, dia melakukan ini karena kita yang telah membuat ibunya terbunuh. Jika saja, jika saja aku tahu maka aku ....”
“Tapi darimana kamu tahu semua informasi tentang Terasaka, Yoki?”
Kenichi bertanya, sembari ikut duduk di samping Yoki. Kepalanya ditolehkan ke samping kiri dan sekarang mereka berdua saling bertatapan.
“Karena tadi, aku menyempatkan diri untuk mengunjungi ruangan yang memuat seluruh biodata murid murid di sekolah ini. Lalu aku pergi mencari informasi tentang Terasaka dari dokumennya dan aku mendapatkan sebuah kebenaran yang menyakitkan.”
Mendengar nama itu, tentu saja membuat Kenichi tersentak. Ternyata alasan Yoki adalah untuk mencari tahu informasi tentang Terasaka. Tapi Kenichi masih bingung, dengan kebenaran yang dimaksud Yoki.
“Apa yang dimaksud dari kebenaran itu? Bukannya, isi dari biodata Terasaka hanyalah sebuah informasi biasa.”
Kenichi larut dalam gumamannya, sampai-sampai Yoki memanggil kesadarannya kembali dengan sebuah tepukan di pundak. Yah, terlihat jelas sekali keterkejutan serta lamunan dari raut wajahnya.
Yoki sadar sih, sekarang dia akan menerangkan seluruh informasi yang dia dapat.
__ADS_1