RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~MELAWAN BERUANG 2~


__ADS_3

“Mungkin, karena kita berisik.”


“Maaf, maaf tuan beruang. Kami gak akan ribut lagi kok hehe ….”


Ucapan gagap itu, ditegaskan dengan kedua tangan yang melambai di depan dada. Tapi tidak ada jawaban dari beruang itu, hanya sebuah erangan layaknya seekor hewan liar.


Sepertinya bukan itu permasalahannya, karena beruang itu semakin berjalan mendekati mereka. Beruang itu menggertakkan giginya.


Di setiap langkah, dia semakin menambahkan kesan dengan langkah perlahan disertai gigi yang digertakkan.


“Tidak apa-apa, ini adalah kesempatanku untuk mengalihkan perhatiannya dari Kenichi.”


Gaia mengangguk setuju pada rencana Yoki. Tapi, dia juga tidak ingin menjadi penonton saja.


Walaupun, dengan cara ini Kenichi mempunyai kesempatan untuk memulihkan diri dan bahkan jika sempat, Kenichi bisa melarikan diri dari situ.


Sedangkan Gaia, tidak akan menjadi beban bagi Yoki. Yah, dia sadar pada kecepatan larinya.


“CIKH, kalau begini mereka berada dalam bahaya.”


Kenichi bergumam, sembari mencoba untuk bangun dari posisinya.


“Tidak, tidak akan aku biarkan sialan itu menganggu mereka berdua.”


Kenichi memalingkan pandangan ke sekeliling. Dia hendak mencari sesuatu.


“Nah, itu dia,” sembari mengambil sebuah batu yang tersedia di tanah, “Jangan abaikan aku, brengsek!”


Dia melempar batu itu dan menjadikan beruang sebagai targetnya. Rencananya berhasil, beruang itu terpancing untuk berbalik kembali ke arahnya.


“Begitu baru benar, sialan!”


Kenichi bergumam, perasaannya senang bercampur dengan rasa kesal pada beruang yang telah merusak rencana mereka bertiga.


“Apa yang kamu lakukan Kenichi? Biar aku saja yang mengulur waktu.”


Yoki tidak terima kalau rencananya hanya berakhir sampai di sini. Dia tidak mau menjadi beban bagi Kenichi, dan kata-kata itu benar-benar menyakitkan baginya.


“Cukup Yoki, biar aku saja yang menghadapinya. Kalian berdua tidak akan mampu melawannya.”


“Mana mungkin aku hanya menjadi penonton dan melihat kamu disiksa sendirian. Kita adalah teman dan sebagai teman, bukankah kita harus berbagi baik itu suka maupun duka.”


“Tapi kalau kalian tidak mampu aku lindungi, rasa sakit dalam diriku tidak akan terobati lagi.”


Kenichi menyimpan balasannya di dalam hati. Itu adalah rahasianya dan memang apa yang telah dia lakukan sampai hari ini. Baik itu fisik maupun otak, itu semua ditujukan untuk saat ini.


Itu adalah janji dan penyesalannya dulu, karena ketidak berdayaan dirinya. Karena saat itu dia terlalu lemah untuk menjadi seorang pelindung.


“Biar aku saja Kenichi!”


Yoki tetap tidak mau menyerah, dia tetap kukuh pada keputusannya.


“Bodoh, berarti Gaia juga akan terseret bersamamu.”


Ucapannya dibalas Kenichi dan ditambahkan dengan tangan yang menunjuk ke arah Gaia.


“Tidak Kenichi, aku juga akan ikut dengan Yoki.”


Ucapan itu langsung membuat Yoki menatapnya. Dia bahkan juga tidak tahu kalau Gaia masuk ke dalam rencananya.

__ADS_1


Sedangkan Kenichi, tersentak. Karena ucapan penuh resiko, telah dikeluarkan Gaia.


“Heee ... kenapa kamu juga ikut-ikutan?”


Yah, pada akhirnya mereka bertiga malah saling berdebat dan itu benar-benar membuat beruang tersebut kebingungan.


Dia berkali-kali membolak-balikan kepala, karena bingung untuk memilih target yang akan dia serang lebih dulu.


“CIKH, dasar naif! Tidak akan ada kesempatanmu untuk mengalahkannya.”


“Woi … woi. Gini-gini juga aku sudah pernah mengalahkanmu sebanyak .…”


Yoki menghitung menggunakan jari tangannya dan terhenti di jari manis.


“Eee, berapa yah?”


“Nol.”


Jawaban Kenichi bahkan ditegaskan dengan jari yang membentuk angka yang dia jawab.


“Yah haha. Iya juga sih.”


Yoki malu, apalagi angka itu diucapkan dengan nada yang ceplas-ceplos. Dia menyimbolkannya sebagai sebuah garukan di kepala, disertai dengan tatapan yang dibuang ke kiri.


“Aku juga setuju dengan Yoki, Kenichi.”


Dari belakang Yoki, Gaia maju dengan tekad yang sudah dia kumpulkan. Matanya berbinar, menatap berani temannya. Sedangkan kedua tangan di taruh dada sebagai simbol keteguhannya.


“Selama ini, aku selalu menjadi yang paling lemah di antara kita. Aku selalu menyusahkan kalian, onsen … akhhh.”


Tiba-tiba kepalanya seperti ditusuk sesuatu. Dia sekarang menyuruh tangan kanannya untuk menutupi bagian yang sakit itu.


Bahkan tusukan itu masih saja menyerang kepalanya, tapi dia berusaha untuk menahan rasa sakit itu demi menyelesaikan ucapannya.


“Bahkan masih banyak lagi kegagalanku sebagai teman kalian. Aku tidak ingin gagal lagi, tidak akan pernah lagi.”


Gaia berbalik cepat ke belakang. Ternyata di situ masih ada ranting kayu yang runcing lagi. Dia langsung memungutnya dan berbalik ke posisi semula.


“Dengan apa yang aku perbuat ini, aku tidak mau lagi menjadi beban untuk kalian.”


Gaia memantapkan pegangan dan tatapannya. Walaupun terlihat jelas uraian air mata yang mengalir.


“Tidak akan lagi!”


Gaia maju, dia tidak memperdulikan lagi perbincangan ini. Kayu itu telah erat di genggamannya, dia tidak mau menahan perasaan ini lagi. Karena masih banyak beban yang harus dia pikul.


“Gaia!”


Yoki berusaha berteriak, hendak mencegah gerakan Gaia. Tapi sepertinya itu sudah terlambat, karena Gaia sudah menutup telinganya pada larangan mereka.


Gaia terus berjalan maju, tatapannya tetap sama. Sedangkan beruang itu masih diam menunggu lawannya maju.


Tapi ada yang aneh dari penampilan Gaia. Aura hitam muncul, walaupun tak kasat mata.


“Teruskan tuan, teruskan.”


Sebuah bisikan tiba-tiba muncul, itu adalah bisikan yang menyesatkan hatinya. Nadanya sama seperti nada yang sosok hitam tempo hari itu punya.


“Haaah ….”

__ADS_1


Kenichi tidak melihat aura hitam itu, dia hanya melihat tekad dan keteguhan yang membara di hati Gaia. Saat melihatnya, sepertinya Kenichi mengerti. Dia menghela nafas, dengan kepala yang menunduk ke bawah.


“Aku mengerti perasaanmu ….”


Dia berucap, sembari melangkahkan kakinya untuk maju.


“Bagaimana rasanya tidak bisa melindungi orang lain, bagaimana menjadi seseorang yang tidak bisa apa-apa pada saat itu ….”


Sekarang langkahnya diganti dengan gerakan lari. Dia juga berlari ke arah beruang yang juga merupakan target Gaia.


“RUARRWWW .…”


Beruang itu sudah tidak tahan. Sekarang beruang itulah yang akan menyambut mangsanya. Dia berlari ke arah Gaia.


Tapi, tidak ada respon ketakutan yang dialami Gaia. Sekarang dirinya telah diselimuti niat untuk menyelamatkan teman-temannya. Tapi, di sisi lain dia juga mendapatkan sebuah bisikan.


“Ketika kamu membunuh beruang itu, kamu akan kembali bringas lagi. Haaah, apa yang kamu lakukan kemarin sungguh indah.”


Itulah rencana dari sosok itu yang sebenarnya. Dia ingin mengubah Gaia ke wujud yang sangat mengerikan.


“Lagipula kamu tidak butuh teman. Yang tuan punya hanyalah aku dan para pelayanmu yang setia.”


Sementara itu, sekarang Kenichi sedang berlari mengejar beruang yang kian semakin dekat dengan temannya.


“Tapi … untuk apa kamu memiliki teman?” ucapan itu tiba-tiba membuat Gaia tersadar, “Untuk apa aku dan Yoki ada di sini?”


“Teman.”


Sekarang Gaia bimbang, tatapannya kosong. Dia seperti diam membatu. Tapi itu bukan pada waktunya, karena beruang itu sudah siap untuk mencengkramnya.


“Yoki!”


“Baiklahhh.”


Tiba-tiba Yoki sudah menyusul Gaia. Dia langsung mengambil dan melempar kayu itu pada Kenichi. Gaia yang sadar hanya bisa diam, seperti telah terkurung oleh kata-kata itu.


“Awas Gaia.”


Setelah melemparkan kayu itu, Yoki langsung mendorong Gaia ke samping kiri.


“Bagiku kamu bukanlah beban, karena tidak ada yang sempurna di antara kita.”


Kenichi menangkap kayu itu sembari melompat. Dengan lompatan yang jauh, dia berhasil menyusul beruang dan mendarat tepat di atas punggungnya.


“Walaupun rencana kami gagal,” sembari mencabut kayu itu dari punggung beruang, “Tapi kau tidak akan bisa merusak ikatan kami!”


“ARGHHHH .…”


Beruang itu mengerang kesakitan, saat kayu yang sudah tertancap di tubuhnya, kembali ditarik Kenichi. Seketika langkahnya terhenti, hendak melampiaskan rasa sakitnya.


Tapi, tindakan Kenichi tidak berhenti sampai di situ saja. Sekarang dia mengarah kayunya ke bawah, ke arah mulut beruang yang sedang terbuka.


“Mati kau!”


“ARGHHHH ….”


Beruang itu mengerang lebih keras. Setelah kedua rasa sakit itu diterimanya. Satu kayu telah menghilang dari punggungnya, tapi satu kayu lagi telah menusuk dan menembus mulutnya. Dia bergoyang kesana kemari. Sedangkan yang menungganginya langsung melompat ke kanan.


Seketika, pemandangan itu menjadi tontonan ketiganya. Mereka melihat proses kematian yang sedang dijalani oleh hewan buas tersebut. Hingga hewan itu berhenti dan ambruk ke tanah. Itu adalah tandanya, tanda kemenangan mereka.

__ADS_1


__ADS_2