
Sepulang sekolah, Kenichi berjalan dengan beban pikiran yang menghantuinya. Kehidupan SD nya buruk, begitu pun dengan SMP yang penuh dengan konflik. Ketika SMA ia mendapatkan cahaya, tapi cahaya itu sekarang sedang tertiup angin yang ingin memadamkannya.
“Payah, payah, payah.”
Bergumam, terdengar seperti racauan akan kesialannya. Kenichi sebenarnya tidak ingin terlibat lagi dalam urusan apapun itu, hanya terfokus pada teman-temannya saja.
“Bagaimana aku bisa menang dengan mereka ?! sementara, dominasi para anggota OSIS adalah anak-anak klub bela diri semua.”
Kenichi mulai mengingat kembali buku yang pernah dia baca di perpustakaan. Kebetulan pada hari itu dia sedang bosan. Berjalan melewati rak-rak buku yang tingginya melebihi tinggi tubuhnya, Kenichi asal memilih buku. Kebetulan pada saat itu, ia menemukan sebuah buku yang ditulis oleh salah satu murid lulusan SMA ini.
Buku itu malah hanya menyediakan sedikit halaman untuk dibaca, seperti cerpen kelihatannya. Padahal, rata-rata buku di perpustakaan adalah buku-buku tebal yang mempunyai halaman lebih dari ratusan.
Menurut orang mungkin aneh, tapi Kenichi menganggapnya sebagai sebuah keunikan tersendiri, khas dari buku itu. Tangannya antusias mengenggam bukunya, lalu membawanya ke sebuah meja bundar, tempat yang disediakan perpustakaan untuk membaca.
Kebetulan sudah pulang sekolah dan sudah sangat sore, jadi seluruh ruangan serasa milik Kenichi seorang. Yah, ditegaskan dengan Kenichi yang membaca sambil berbaring di lantai perpustakaan yang dilapisi karpet.
Dia membaca buku itu dengan antusias. Buku bersampul coklat yang berisi gambar dan huruf dengan bahasa yang seperti bahasa novel kebanyakan, komunikatif dan memakai sudut pandang orang ketiga.
Intinya buku itu berisi tentang sebuah kejadian yang pernah menimpa sekolah ini, 10 tahun yang lalu sekolah ini pernah mendapat predikat sebagai sekola terburuk yang ada di Kota Beppu. Lulusannya bukan jadi seorang yang punya cita-cita tinggi untuk sebuah pekerjaan, malah menjadi orang-orang jalanan dengan berbagai reputasi buruk yang melekat.
Cercaan dan makian dilayangkan pada sekolah ini, hingga membuat murid-muridnya menjadi kesal. Akhir ceritanya terjadi ketika salah seorang siswa mengusulkan untuk mendaftarkan sekolah ini menjadi salah satu sekolah peserta kejuaraan bela diri nasional di Jepang.
Hasilnya, sekolah ini memenangi kejuaran dengan dua pesertanya menjadi juara satu dan juara ketiga. Dari situ, sekolah ini mendapat tolakan untuk melompat ke masa depan yang lebih baik. Mereka berhasil membuktikan kalau sekolah mereka berhasil dengan hasil perjuangan dan jati diri mereka sendiri.
“Yah, mungkin itu alasan aku mau ke sekolah ini. Tapi, pada akhirnya kesulitan selalu saja merintangiku.”
Sambil mengatakan itu Kenichi, berhenti persis di depan sebuah mesin minuman. Dia sengaja menghampiri mesin itu, hendak mengambil minuman kaleng yang di pajang di dalamnya.
Memasukan uang senilai seribu yen ke dalamnya, Kenichi telah mendapatkan sekaleng minuman. Untung di situ ada tempat duduk, pikir Kenichi. Jadi dia bisa duduk sambil meminum minumannya.
“Apa yang harus aku lakukan agar kalah di pemilihan itu, apa?”
Sayang sekali tiada orang yang dapat menjawabnya. Lagipula, suasananya hanya terbalut kebisingan kendaraan yang lalu lalang. Pulang dari kesibukan kantor dan lain sebagainya. Langit jingga juga turut menghiasi suasana, untung anginnya sepoi-sepoi jadi Kenichi bisa tenang sambil menikmati suasana yang mendamaikan ini.
“Coba aku pikirkan lagi.”
Selama 15 menit Kenichi berpikir, tak menemukan sebuah jawaban. Hingga terasa kaleng minumannya sudah semakin ringan, pertanda habis isinya. Kenichi membuangnya dan pergi lagi ke mesin minuman, hendak membeli lagi minuman yang ada di situ.
Dirogohnya saku, namun tidak menemukan apa-apa. Sekali lagi dia lakukan, tapi hasilnya tetap sama. Di situ Kenichi sangat marah pada nasibnya dan memukul mesin yang tak bersalah itu. Ia pun berbalik hendak melanjutkan perjalanan pulangnya.
__ADS_1
“Sial! Jika saja aku punya uang lebih banyak.”
Mungkin itu adalah tanggapan atas kesialannya, tapi tetap saja itu telah membuatnya mengingat sesuatu. Matanya berbinar karena menemukan jawaban yang selama ini dia cari-cari.
“Hahaha … aku menemukannya, menemukan apa yang harus aku lakukan.”
Dengan perasaan senang ia pulang, sekarang bebannya berkurang karena ide yang baru saja dia dapat. Yang tersisa hanya kapan dia harus mengungkapkannya.
*****
Hari yang ditentukan pun tiba, semua anggota OSIS berkumpul di ruangan OSIS. Suasana tentu menjadi pengap, karena sekitar dua puluh murid duduk berkumpul mengelilingi seseorang. Yah, formasinya melingkar dengan seseorang yang menjadi pusat lingkarannya. Kira-kira seperti itu gambarannya.
“Apa kita bisa mulai votingnya?”
Salah seorang anggota OSIS bertanya pada seorang siswa yang duduk di tengah-tengah ruangan, siswa itu tidak lain adalah Kenichi. Ekspresinya begitu antusias, berbeda dengan Kenichi yang tetap santai dalam diam.
“Silahkan.”
“Baiklah, aku mulai dari siswi yang duduk di kananku. Mari, jadi apa kamu setuju dengan pengangkatan Kenichi? Jika ya, angkat tangan dan jika tidak, gelengkan kepalamu.”
Siswi mengangkat tangannya, pertanda setuju pada pengangkatan Kenichi. Begitu pun seterusnya, mereka semua mengikuti intruksi pemimpin dengan baik. Sedangkan hasilnya, dicatat oleh sekretaris OSIS yang duduk di kirinya. Jawaban terus diberikan hingga sampai ke sekretaris OSIS, dia yang memberi jawaban terakhir. Sedangkan pemimpinnya, sudah menjawab sedari awal.
“Silahkan diumumkan hasil votingnya, sekretarisku.”
Sekeretaris itu berdiri dengan tangan yang menggenggam sebuah kertas di kedua tangannya. Matanya diturunkan ke kertas untuk membacakan hasilnya.
“Hasilnya, sebanyak empat belas orang termasuk ketua setuju dengan pengangkatan Kenichi. Sedangkan yang tidak setuju ada enam.”
Yah, jawaban yang sudah diperkirakan Kenichi dari hari-hari sebelumnya. Tapi itu semua hanya dianggap biasa oleh Kenichi, karena ia sudah mempunyai sebuah bekal untuk melawannya.
“Yosh, jadi sudah diputuskan kalau kamu .…”
“Tunggu dulu, pertama kau tidak minta persetujuan dariku dan sekarang kau main memutuskan keputusan berdasarkan kehendakmu. Memang aku tahu kamu anak dari pahlawan yang sudah menyelamatkan sekolah ini, jadi otomatis pengaruh besar terhadap sekolah ini. Tapi masa kamu berperilaku seperti seorang anak kecil dan tidak menjadi dewasa. Jadi tolong dengar kemauanku.”
Ucapan itu begitu ketus direspon oleh ketua tersebut, tubuhnya yang tadi telah bersender kembali ditegakkan dan dicondongkan. Dengan wajah berhias kemurkaan yang masih lumayan. Bukan karena permintaan Kenichi, tapi pada kalimat yang ada di belakang.
“Jadi apa maumu?”
“Apa yang paling berpengaruh di dunia ini menurutmu?”
__ADS_1
“Uang ….”
“Tepat.”
Kenichi bangkit berdiri dari duduknya, dia berjalan santai ke arah meja tempat ketua duduk. Hanya berjalan lurus dari tempat duduknya saja. Sedangkan kedua tangannya ditaruh di saku celananya.
Saat sampai, Kenichi memajukan kepalanya menatap siswa itu dengan tajam.
“Bagaimana kalau aku tawarkan sejumlah uang untuk membeli suara.”
Kenichi mengeluarkan segepok uang dari tangan kirinya, nilai sehelainya sama yakni 10000 yen. Saat disodorkan, semua anggota OSIS yang hadir di ruangan sedikit tertarik, tapi tidak mencoba bergeming. Mereka hanya berusaha menerka dalam hati, karena sejujurnya mereka tidak tahu apa yang direncanakan Kenichi.
Mendapat reaksi yang kurang memuaskan baginya, Kenichi tentu tidak mau kalah. Dia mengeluarkan lagi segepok uang dengan ketebalan yang lebih tipis dari yang pertama. Saat ini, rencananya sudah hampir mendekati kata berhasil.
“Haaah … uang tidak akan bisa mempengaruhi voting ini. Kau mending menyerah saja deh Kenichi.”
“Yakin,” Kenichi menaruh tangan kanannya di dagu, disertai dengan senyum yang masih menjadi misteri, “Kalau gak salah, 75 persen anggota OSIS adalah anak dari para pembisnis di berbagai tempat. Apa, kalian lebih mementingkan diriku yang belum pasti dapat membantu kalian daripada uang yang bisa membeli apapun yang kalian butuhkan.”
Kenichi berbalik badan dengan lirikan mata ke segala arah, tidak ada yang lepas dari lirikan matanya. Dia sedang melihat hasil dan hasilnya mereka semua mulai terpengaruh.
“Atau, bisa untuk foya-foya juga.”
Disitulah bidak Kenichi berhasil mendapatkan kemenangan, sudah tidak bisa terbantahkan. Apalagi itu semua terlihat jelas dari mata para anggota OSIS.
“Aku pikir kita harus melakukan vote ulang.”
“Tunggu dulu, hasil vote ini mutlak. Membeli suara adalah ilegal.”
“Bukannya acara ini juga bukan acara yang resmi atau bisa dikatakan ilegal, kan?”
Satu pertanyaan lagi dan berhasil membuat ketua bungkam. Dia tak punya kata-kata untuk melawannya. Dengan pasrah dia menyenderkan badan di sandaran kursi sembari menutup mulut dengan tangan kanan.
“Baiklah, yang setuju dengan pengangkatan Kenichi silahkan angkat tangan.”
Hasil sekarang berbanding terbalik dengan hasil voting yang pertama. Lebih menguntungkan ke arah Kenichi dengan hasil voting 60 banding 40. itu tentu telah membuat ketua pasrah, hanya bisa diam sambil menerima hasil yang sangat tidak ia harapkan.
“Jadi, bagaimana?”
“Haaah, baiklah baiklah. Kenichi kamu tidak jadi diangkat sebagai anggota OSIS sekolah ini.”
__ADS_1
Jawaban itu sangat membuat Kenichi senang. Tak bisa dipungkiri memang, kecerdasan Kenichi dapat mengalahkan semua orang yang ada di ruangan itu. Bahkan, ketua pun sampai harus mengakuinya dan sekarang, ia gagal mendapatkan anak emas itu.
Setelahnya, sudah bisa ditebak apa yang akan dilakukan Kenichi. Dia nampak sangat senang karena kekangannya telah terlepas satu. Tidak apa-apa, kekangan yang lain akan terlepas seiring dengan berjalannya waktu. Sekarang bukan waktunya untuk memikirkan itu, tapi menikmati hadiah dari usahanya. Begitulah pikir Kenichi, dirinya sekarang bebas untuk menjalani kehidupan pertemanannya dengan Yoki dan Gaia.