RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story

RISE OF CHIMERA: The Beginning Of This Story
~SEBELUM TERJADI 2~


__ADS_3

Karena Yoki dan Kenichi telah pergi, kini tinggal tersisa dua orang lagi di kamar. Mereka adalah Gaia yang sedang berbaring dan Haori yang masih tetap setia duduk di tempat yang sama.


“Kenapa kamu tidak ikut mereka berdua?”


“Uhm, aku hanya ingin menemanimu. Sekaligus, ingin bertanya padamu.”


Gaia melirikan kepalanya, menatap Haori yang ingin bertanya.


“Pertanyaan tentang apa?”


“Apa boleh?”


“Silahkan, aku akan menjawab sebisaku.”


Setelah mendapat izin, wajah Haori langsung tersenyum. Itu, langsung diartikan Gaia sebagai rasa terima kasih, karena telah diberi izin untuk bertanya.


“Oke, menurutmu seperti apa Yoki dan Kenichi?”


“Hee, apa pertanyaan ini yang kamu tanyakan pada Yoki.”


Seketika, wajah Haori menunjukkan reaksi kaget. Dia mengira kalau Gaia tahu tentang percakapannya dengan Yoki. Sebenarnya dia juga menyimpulkan kemungkinan lain, bisa saja Yoki memberitahukannya pada Gaia dan Kenichi.


Yah, menyimpulkan sendiri akan menjadi masalah bukan. Jadi dia akan melontarkan pertanyaan untuk memastikan.


“Kamu tahu?”


“Ahh tidak, hanya tebakan saja. Karena bagi Yoki, pertanyaan yang seperti itu bersifat pribadi. Apalagi dia ditanyai orang yang belum pernah ia kenal sebelumnya, ya kan?”


Kali ini Haori dapat bernafas lega, sekaligus mengangguk untuk menjawab pertanyaan Gaia.


“Jadi kamu bertanya tentang pendapatku mengenai Yoki dan Kenichi, yah?”


Haori hanya mengangguk. Dia ingin segera mendapatkan jawabannya.


“Satu kata sih, indah.”


“In-dah?”


Haori bingung dengan maksudnya, Gaia bisa melihat dan mengerti kebingungan itu. Yah, memang terkadang satu kata memiliki arti yang lebih rumit jika dibandingkan dengan gabungan kata yang komplek. Jadi perlu dijelaskan lagi, agar maksudnya dapat ditangkap baik oleh si pendengar.


“Yah, memang aneh sih ucapanku.”


Gaia membuang tatapan, ke langit-langit kamar.


“Aku juga tidak tahu maksud dari pertemanan yang sebenarnya. Tapi bagiku ….”


Rintik-rintik air mata itu, begitu menjiwai pikiran Gaia. Dia sangat terharu, memori lama kembali terngiang. Memori yang berjalan sesuai urutan waktu milik Gaia. Entah kenapa, suasana menjadi semakin mendalam.


“Segala tawa, kesedihan, dan perasaan lain yang kujalani bersama mereka begitu … indah. Sejak aku masih kecil, aku selalu dibully. Bahkan hingga SMA pun … tapi, hari itu aku bersyukur karena Yoki datang melindungiku.”


“Be-begitu.”


Haori sampai bingung sendiri karena Gaia bisa sampai seperti itu.


“Kenichi pernah bilang kepadaku …,” Gaia bersiap untuk mengeluarkan memorinya, untuk mengungkapkan ucapan Kenichi, “Kalau Yoki tidak datang, mungkin kamu akan menjadi korban. Karena saat itu, aku hanya mengikuti Yoki.”


Sesudahnya, tangisan deras datang menghampiri. Tidak peduli pada badan yang masih sakit, tidak peduli pada panas tubuh yang membara, di situ … Gaia mengeluarkan semua perasaannya.


Memang berlebihan, tapi jika dibandingkan dengan perjalanan hidupnya yang berat … mungkin, itu semua setimpal. Tidak terbayang, betapa beratnya hidup Gaia sebelum bertemu dengan Yoki dan itu semua, dikeluarkan melalui tetesan air mata.


“Maaf, aku terlalu berlebihan.”


“Ahh tidak-tidak, sebaiknya kamu istirahat dulu. Menangis saat sakit itu tidak baik loh.”


“Jadi bagiku, mereka adalah harta yang paling berharga.”

__ADS_1


Gaia tersenyum, begitu pun dengan balasan Haori. Sekarang Haori tidak mempunyai pertanyaan lain untuk Gaia. Jadi Gaia bisa kembali tidur, lebih tepatnya mencoba untuk tidur. Karena buku kenangan yang telah dikeluarkan, tidak akan semudah itu untuk ditutup kembali.


Sementara itu, di dapur ….


“Akhirnya, coba aku cek bahan-bahan apa saja yang ada di dapur Gaia.”


Bukan hanya Yoki, Kenichi juga ikut membantu mengecek semua bahan yang tersedia. Mulai dari lemari hingga kulkas dan hasilnya, mereka kumpulkan semua di satu meja.


“Aku dapatnya sayuran semua.”


“Begitu, aku dapat ayam dan beberapa bahan yang lain.”


“Eto … jadi, kita mau bikin apa dengan semua ini?”


Kenichi berpikir sejenak. Dengan berbagai jenis sayuran yang ada di atas meja, mungkin mereka akan memasak makanan yang penuh dengan gizi dan vitamin. Apalagi Gaia sakit, dia tentu membutuhkan asupan yang menyehatkan.


“Ahh, gimana kalau kita buat sup?”


“Nice Kenichi, yosh kita langsung saja buat,” Yoki mulai mempersiapkan peralatan lainnya di atas meja,


“Jadi, pertama kita harus apa?”


“Pertama, kita lihat tutorial cara masaknya.”


“Heh! Jadi kau tidak tahu cara masak sup?”


“Yoi.”


Pada akhirnya, mereka berdua membutuhkan bantuan. Entah bagaimana hasil masakan dari dua orang koki yang amatiran ini. Yang penting sih bisa dimakan aja.


*****


“Gaia, makanannya sudah jadi.”


Yoki dan Kenichi sudah selesai. Lumayan singkat juga, hanya sekitar 20 menit saja. Masakan mereka berdua tersaji dalam mangkuk yang tertutup rapat, dilandasi oleh nampan yang bercorak cerah. Sebenarnya ada tiga mangkuk, tapi mangkuk dengan corak yang paling indah diberikan pada Gaia.


“Terima kasih Yoki dan Kenichi.”


“Langsung coba Gaia.”


Gaia mengangguk sembari melirikkan matanya lagi ke arah sup. Sekilas matanya memberikan penilaian, dari tampilan dan penyajiannya sudah oke dan nampaknya layak untuk dimakan. Ya, memang Gaia akan memakannya sih, soalnya dibuat dengan sepenuh hati.


“Selamat makan.”


Target pertamanya adalah kuah dan hasilnya, dia keasinan. Gaia menjulurkan lidah untuk mengurangi rasa asin dari sup itu.


Memang sih rasanya tidak tertahankan, tapi yang patut diapresiasi, Gaia tetap terus melanjutkan makannya. Walaupun itu sudah diketahui Yoki, Haori, dan Kenichi, Gaia tetap memaksakan sup itu masuk ke dalam tubuhnya.


“Gaia, kamu keasinan yah?”


Yoki berusaha menghentikan Gaia.


“A-ahhh tidak kok, hanya lidahku saja yang lagi tidak bisa mengecap makanan.”


“Haha, gak apa-apa kalau memang tidak enak. Lagipula …,” Yoki sedikit menjeda, “Kayaknya aku masukin garamnya kebanyakan, hehe.”


“Haduh, memang tak becus.”


Dengan kata-kata ketus, Kenichi membalas. Sedangkan Yoki, dia hanya menggaruk-garuk kepala. Dia sadar akan kesalahannya.


“Tidak apa-apa kok, rasanya pas dan aku harus tetap makan biar sehat.”


Dengan senyuman, dia berharap agar Yoki dan Kenichi tidak kuatir. Dia memakan sup itu dengan lahap, membuat Kenichi dan Yoki sedikit lega.


“Tapi, memang bener lidahku tidak bisa mengecap makanan … makanan yang telah kalian buat sepenuh hati.”

__ADS_1


Dalam hati Gaia bergumam. Rasa asin itu tidak ada apa-apanya bagi Gaia, dia sudah menghadapi banyak tantangan. Manis pahit kehidupan telah dia jalani selama ini.


Lagipula, sup itu adalah hasil kerja keras teman-temannya. Dia menghargai dengan cara makannya yang lahap. Hingga habis tak tersisa, membuat Yoki, Kenichi, bahkan Haori sampai terkejut karena tekad yang Gaia miliki.


“Apa kamu tidak apa-apa Gaia?”


“Tidak, aku tidak apa-apa.”


“O-ohh ….”


Senyum yang Gaia berikan pada pertanyaan Yoki sungguh mempesona. Membuat Yoki tidak bisa berkata-kata. Air mata yang saat ini keluar begitu nyata dan tulus, yang tanpa Yoki sadari, itu adalah isi hati Gaia.


“Ba-baiklah kalau gitu.”


“Yosh kalau Gaia sudah menghabiskannya, sekarang tinggal giliran kita bertiga.”


“Eee … tapi aku gak yakin deh.”


Yoki langsung menatap tajam, dia tidak akan membiarkan Kenichi lolos begitu saja.


“Kau juga harus makan, Ke-nichi.”


Akhirnya Kenichi pasrah, itu karena Yoki terus memegangi tangannya. Yah, pada akhirnya mereka bertiga harus memakan makanan yang cenderung akan mendapatkan pendapat yang negatif. Haori makan satu mangkuk, sedangkan Yoki dan Kenichi harus berbagi di mangkuk yang sama.


“Baiklah, selamat makan!”


Yoki, Kenichi, dan Haori mencoba rasa kuahnya terlebih dulu dan hasilnya .…


“Hueekkkk!!!”


Ya, mereka bertiga keasinan. Reaksi yang dikeluarkan sama, saat ini mereka langsung menghilangkan rasa asin dari lidahnya.


“Kau masukin berapa sendok sih?”


“Satu, pake sendok yang ada di meja itu.”


“Heh! Kenapa pake sendok yang itu, itu kan kegedean!”


Hanya garukan kepala sebagai balasan. Sedangkan di sisi lain, Gaia tertawa kecil. Terbungkus rapi dalam tutupan tangan, sampai Yoki dan Kenichi tidak mengetahuinya.


Setelahnya, mereka bertiga berhasil menghabiskan sup itu seperti Gaia. Mungkin mereka tidak mau membuang makanan, yang sudah dibuat dengan bahan-bahan yang ada di rumah Gaia. Walaupun mereka memakannya dengan penuh penderitaan, tapi canda tawa bisa meredakannya.


“Yoki, sepertinya sudah mau malam. Apa kita akan pulang?”


“Ehm gimana yah ….”


“K-kalian pulang aja, soalnya aku juga pingin beristirahat penuh.”


Tiba-tiba Gaia memotong, membuat Yoki dan Kenichi berbalik ke arahnya.


“Ya sudah, jaga diri baik-baik oke.”


Gaia mengangguk, dia berdiri untuk mengantarkan mereka sampai ke depan rumah. Setelah mereka bertiga pergi, barulah Gaia berbalik dan kembali masuk ke dalam rumah.


Kenichi dan Yoki sudah merasa lega karena sudah melihat kondisi Gaia, tapi ada hal lain yang terdapat di pikiran Haori. Dia sengaja tidak ikut menaiki bus yang sama dengan mereka berdua.


“Cikh, tidak bisa kupercaya Gaia punya ikatan yang sangat kuat dengan kedua orang itu. Jika saja … jika saja aku ada saat itu mungkin aku yang akan melindunginya.”


Di kesunyian dan kegelapan hutan, Haori meracau. Wajahnya kesal dan marah, ditujukan kepada Gaia. Dia memilih untuk berjalan kaki saja, tapi arah jalannya tidak jelas. Buktinya saja, dia saat ini sedang berjalan-jalan di hutan yang bahkan terasa asing baginya.


“Harta … harta … CIKH, kata-kata apa itu. Tuanku tidak pernah berucap seperti itu, dia tidak mengenal cinta. Yang dia kenal adalah nafsu. Tatapan mata indah penuh nafsu itu, harus aku dapatkan kembali.”


Haori berhenti, sejenak dia melihat bulan.


“Yoki dan Kenichi harus membayar semuanya, Gaia tidak membutuhkan teman … karena teman hanya akan menghalangi jalannya.”

__ADS_1


Racauannya telah selesai, dia kembali meneruskan langkah dan menghilang di kegelapan hutan.


… Malam yang indah, tapi apakah malam di esok hari akan tetap sama? …


__ADS_2