
Keesokan paginya, Nang In terbangun dengan tubuhnya yang memunculkan cairan hitam berbau busuk Kini tingkat Kultivasinya mencapai tingkat Qi Gathering 4.
Setelah itu ia diminta Zhou Jin untuk berlatih memanah bersama Lin Yue di tengah hutan.
Jika Zhou Jin merupakan jenius pedang yang dijuluki Sword King maka Lin Yue merupakan Archer Queen, selain mahir dalam ilmu pengobatan, wanita tua itu merupakan pemanah terbaik di Benua Surga Utara hingga disebut Archer Master.
Nang In tiba di tengah hutan dan menemukan bahwa Lin Yue telah menunggu, maka ia buru - buru berlari memberi hormat.
"Hormat kepada Bibi Guru"
Lin Yue mengangguk sambil tersenyum, "Semalam kamu telah mempelajari dasar - dasar tentang teknik memanah" Lin Yue mengambil busur dan anak panah, "Sekarang bibi akan memperagakan cara memanah yang tepat secara langsung, perhatikan baik - baik Nak"
"Baik Bibi guru"
Lin Yue mengambil busurnya yang berwarna hitam dengan corak emas sebagai pelengkap, busur itu bernama Black Blood Bow, termasuk spirit tool high - tier, busur yang menemani masa mudanya, sudah tak terhitung banyaknya nyawa Cultivator aliran yang terenggut karena busur itu.
Lin Yue menarik anak panah, bersamaan saat tali busur itu ditarik, tercipta anak panah yang terbuat dari listrik pada busurnya, mata Nang In melebar, meski bukan pertama kali ia melihat perubahan jenis, Nang In tetap kagum dengan apa yang dilakukan oleh Gurunya.
Busur diarahkan ke depan, Lin Yue memasukkan sedikit qi nya agar anak panah yang dikeluarkan tidak terlalu cepat dan bisa dipahami oleh Nang In.
Anak panah di tembakkan, meski sengaja diperlambat, namun panah listrik tetap melaju begitu cepat hingga mengenai bahkan menembus target 200 meter ke depan.
Nang In kagum dengan apa yang dilakukan Lin Yue, selain ketepatan akurasi yang begitu luar biasa, ia kagum dengan gerakan kecil yang dilakukan Lin Yue, sepintas terlihat tidak terlalu penting, namun nyatanya sangat dibutuhkan dalam seni memanah.
"In 'er sekarang giliranmu"
"Baik Guru"
Karena Nang In tidak mempunyai basic spirit, maka ia menggunakan anak panah, busur diarahkan ke arah target yang kurang lebih berjarak 20 meter di depannya, anak panah di tembakkan.
Tembakan pertama melebar dari target, Nang In kembali mengambil anak panah dan melepaskannya, tembakan kedua sedikit melebar namun mendekati target, pada tembakan ketiga.
Nang In lebih fokus dan memasukkan qi berwarna putih yang ia dapat saat mempelajari True Emperor Manual ke dalam busurnya, melepaskan dengan tenang.
Anak panah melaju diiringi tekanan udara yang begitu cepat, mengenai target bahkan menghancurkan beberapa pohon dibelakangnya.
Lin Yue tersenyum melihat Nang In berhasil mengenai target, lagi pula bakat yang ia punya sangat jarang dimiliki oleh pemuda seusianya yang ada di Benua Surga Utara.
Lalu qi berwarna putih yang keluar dari tubuh Nang In, selain memancarkan aura suci dan positif, aura itu membuat siapa saja yang berada di dekatnya merasakan ketenangan dan kedamaian.
Memang jika salah seorang Cultivator mempelajari empat manual terkuat, biasanya akan merubah warna dan sifat qi dari Cultivator tersebut, tidak terkecuali jika mempelajari Manual biasa.
Selesai latihan memanah, keduanya kembali ke rumah untuk beristirahat, sore harinya Nang In diberi tugas untuk berburu hewan buas biasa atau Demonic Beast yang tingkat Kultivasinya lebih rendah darinya.
Meskipun tingkat Kultivasi Nang In masih sangat rendah, namun sangat penting baginya untuk mencari pengalaman bertarung.
Bahkan dengan banyaknya pengalaman bertarung, seorang Cultivator yang tingkat Kultivasinya lebih rendah dapat mengalahkan Cultivator yang tingkat Kultivasinya lebih lebih tinggi darinya.
Karena tingginya tingkat Kultivasi bukan satu - satunya penentu kemenangan dalam pertarungan!
__ADS_1
Dengan sebilah pedang yang terbuat dari Iron Wood dan busur, Nang In masuk seorang diri ke dalam hutan, jika biasanya ia masuk bersama Zhou Jin dan tidak akan ada Demonic Beast yang berani menyerang, apa yang terjadi jika ia masuk seorang diri?
Tepat setelah Nang In melangkahkan satu kakinya, seekor ular langsung menerjang ke arah Nang In dengan ganasnya.
Tepat setelah Nang In melangkahkan kakinya, seekor ular langsung menerjang ke arah Nang In dengan ganasnya.
"Jadi kau lawan pertamaku" Nang In tersenyum percaya diri.
Ice Snake adalah Demonic Beast tingkat Qi Gathering 1, memiliki panjang sekitar 100 cm mengeluarkan bisa sedingin es, menurut buku yang ia baca, satu gigitan Demonic Beast itu dapat melumpuhkan seekor gajah normal dalam beberapa detik, bisanya dapat membekukan seluruh syarat dengan cepat, hal inilah yang membuatnya menjadi Demonic Beast yang cukup berbahaya.
Ice Snake menerjang dengan cepat, Nang In mengarahkan busur panah ke arah Ice Snake, mengalirkan sedikit qi putih lalu melepaskannya tanpa ragu.
Swosh!
Anak panah menembus kepala Ice Snake hingga tubuh ular itu terbelah menjadi dua, ia ingin mengambil bangkai Demonic Beast itu namun tiba - tiba terdengar pekikan dari angkasa, seekor elang terbang menuju ke arahnya.
Nang In memincingkan matanya dan langsung mengenali elang tersebut, elang dengan tubuh berwarna hitam legam. Black Eagle, merupakan salah satu Demonic Beast tingkat Qi Gathering 3, cakarnya yang kuat menyerupai besi dan ukurannya yang sedikit lebih besar dari elang pada umumnya.
Mengaitkan busurnya di punggung, Nang In telah bersiap dengan pedang di tangannya, menepis cakar Black Eagle dengan punggung pedang, percikan api tercipta karena benturan tadi, melihat serangannya gagal, Black Eagle kembali ke angkasa untuk bersiap dengan serangan selanjutnya, berulang kali serangan Nang In dengan cakar Elang Hitam berbenturan.
"Kau tangguh juga, tapi apa hanya ini kemampuanmu?" Nang In tersenyum mengejek, ia kembali bersiap menyiapkan serangan selanjutnya.
Black Eagle seakan sadar akan ejekan Nang In menjadi lebih agresif lalu terbang ke angkasa dan menukik tajam, kali ini dengan kecepatan yang lebih tinggi.
Nang In mengambil jarak lalu, "Sakura Blossom Technique, tarian kedua"
Melihat celah besar Black Eagle, Nang In langsung menyambutnya dengan Sakura Blossom Technique, seketika kepala dan kedua sayap Black Eagle terlepas dari tubuhnya.
Nang In duduk bersila meregangkan otot dan mengatur nafasnya, ia mengeluarkan botol giok yang berisi Golden Grass lalu meminumnya untuk memulihkan tenaga, meski yang ia lawan sebelumnya adalah Demonic Beast yang lebih lemah darinya, ia tetap harus menempatkan dirinya dalam kondisi terbaik.
Setelah beberapa menit mengisi tenaga, ia kembali bersiap untuk berburu, namun tanah yang ia pijak tiba - tiba bergetar hebat.
Sebelum Nang In menyadari getaran apa itu, seekor gajah berwarna merah menabrak Nang In dengan sangat keras, secara reflek ia menebasnya, namun kulitnya yang begitu keras tidak berhasil ia lukai.
Nang In terhempas begitu jauh namun dapat mendarat dengan baik, "Red Elephant, Demonic Beast itu lebih kuat dariku"
Red Elephant, gajah berwarna merah dengan tingkat Qi Gathering 6, tubuh setinggi 7 m, dilengkapi dua gading raksasa yang dapat menghancurkan tubuh manusia dalam sekali sentuh. Menyadari musuhnya yang lebih kuat darinya, Nang In tidak ingin mengambil resiko, ia melarikan diri ke dalam hutan.
Red Elephant mengejar Nang In dengan ganas, tubuh raksasanya sama sekali tidak memperlambat gerakannya, justru membuatnya bergerak dengan cepat, kulitnya yang begitu keras menghancurkan apa pun yang menghalanginya.
Nang In bergerak cukup cepat di atas pohon dengan bergelantungan menggunakan tanaman merambat.
Red Elephant yang mengejarnya tiba - tiba berhenti di tempat, hal itu membuat Nang In pun ikut berhenti di salah satu dahan pohon.
"Hmm ada apa?"
Red Elephant menatap Nang In dengan tajam seakan memberi peringatan, lalu beranjak pergi.
Melihat ke arah sekitar, Nang In cukup terkejut karena masuk ke dalam kawasan yang dipenuhi dengan pohon raksasa berwarna ungu, suhu di kawasan itu begitu panas hingga melelehkan beberapa tumbuhan yang ada sana.
__ADS_1
Nang In tersadar kalau sekarang ia masuk ke dalam kawasan Pohon Roh Api, sarang dari Demonic Beast yang sangat berbahaya, Fire Monkey.
Beberapa waktu lalu Zhou Jin memperingatkan dirinya untuk tidak masuk ke dalam ke kawasan ini, karena Kera Api cenderung beringas jika ada makhluk asing yang masuk ke dalam area kekuasaannya.
Nang In menelan saliva, ia bisa merasakan puluhan pasang mata melihatnya dengan tatapan haus darah.
"Aku harus lari!" tanpa pikir panjang Nang In langsung turun dari pohon dan langsung berlari sekuat tenaga.
Puluhan White Monkey dengan nyala api dikepala muncul dan mengejar Nang In dengan ganas. White Monkey yang mengejar Nang In merupakan Demonic Beast tingkat Qi Gathering 1, memang lebih lemah darinya, namun yang berbahaya dari mereka adalah jumlahnya yang bisa mencapai puluhan bahkan ratusan.
Selagi berlari, Nang In mengambil banyak nyawa White Monkey yang menyerangnya, bukannya berkurang, justru jumlah mereka lebih banyak dari sebelumnya.
Terdengar suara kemarahan White Monkey karena kawanannya dibunuh, beberapa dari mereka menyemburkan bola api dari mulutnya.
"Menyemburkan api, bukannya itu curang?"
Nang In menepis bola api dengan pedangnya, karena jumlahnya yang terlalu banyak, tidak sedikit dari bola api yang mengenainya.
"Kalau sudah begini apa boleh buat!"
Nang In menerjang ke arah bola api itu dengan berani.
**
Tepat sebelum matahari terbenam, terlihat seorang anak berusia 8 tahun sedang berdiri susah payah dengan tubuhnya yang bermandikan darah. Setengah wajahnya mengalami luka bakar, disekitarnya berserakan puluhan bangkai White Monkey.
"Padahal aku sudah membunuh sebanyak ini, apa masih belum cukup" Nang In mendengus kesal, setelah mengambil banyak nyawa White Monkey, tiba - tiba muncul Demonic Beast lainnya menyerupai White Monkey namun dengan bulu berwarna merah.
Red Monkey, merupakan Demonic Beast tingkat Qi Gathering 6, mempunyai tinggi 2 meter dengan kobaran api yang lebih besar, jumlahnya lebih sedikit dari White Monkey, namun jauh lebih kuat.
Nang In mencoba bergerak, tetapi karena tubuhnya sudah mencapai batas, jangankan bergerak, ia malah terjatuh.
Puluhan Red Monkey bergerak ke arah Nang In dengan kepalan tangan yang diselimuti api, raut wajahnya menunjukkan kemarahan karena melihat keluarganya dibantai.
"Grrrrrowww!"
Tepat sebelum Red Monkey mendekat, terdengar suara auman.
"Suara apa itu?"
Red Monkey dan White Monkey yang mendengar suara auman tadi berlutut memberi hormat. Sosok kera dengan bulu berwarna merah gelap muncul, tinggi mencapai 9 meter dengan aura yang begitu mendominasi.
Red Monkey dan sisa - sisa White Monkey bersorak ria menyambut kedatangan pemimpin mereka, Fire Monkey.
Karena Fire Monkey, kawasan Pohon Roh Api menjadi kawasan terpanas di Pulau Rempah.
Melihat kedatangan Raja dari para monyet itu, Nang In hanya bisa menelan saliva, melawan White Monkey yang merupakan paling lemah, ia sudah terluka dan sekarang ia harus melawan raja dari mereka semua?
Fire Monkey menatap puluhan bangkai White Monkey yang berserakan, ekspresinya berubah menjadi dingin namun tubuhnya memunculkan kobaran api yang begitu besar, udara disekitar menyempit berganti temperatur suhu yang meninggi, tanah maupun tumbuhan mulai mengering, White Monkey maupun Red Monkey perlahan menjauh karena tidak tahan dengan panasnya.
__ADS_1
Red Monkey mendekat ke arah Nang In dengan tangan kanannya yang terlapisi api, mengangkat tinggi lalu dengan cepat mengarah ke Nang In.