Road To Immortality

Road To Immortality
Pertarungan di Eternal Flame Clan VI


__ADS_3

"Baiklah, ayo mulai!"


"Ayo..!"


Ucap Bai Luinha berlari kemudian disusul Qiau Mey yang berlari disampingnya, Bai Luinha menciptakan pedang es dengan ukiran indah sedangkan Qiau Mey masih menggunakan pedang yang sama.


"Jadi kalian berpikir bahwa kalian bisa mengalahkanku?" Bong Lu menatap kedua gadis di depannya dengan tatapan heran, merasa mereka sangat bodoh karena nekat bertarung dengannya, "Jangan pikir aku akan menahan diri, gadis kecil"


Swosh!


Tanah yang dipijak Bong Lu seketika retak karena dirinya melompat ke udara, pedang besar ditangannya digenggam erat dengan ekspresi bahagia diwajahnya wanita itu mengarahkan pedangnya ke arah Bai Luinha dan Qiau Mey.


Duar!


Ledakan yang diselimuti petir tercipta, di tengah asap yang mengepul sosok Bong Lu berdiri dengan ekspresi terkejut diwajahnya, serangan yang baru ia lepaskan tidak mengenai targetnya.


"Cih kalian sangat suka melarikan di-"


Slash!


Belum sempat Bong Lu menyelesaikan ucapannya sebuah belati yang terbuat dari es menggores wajahnya, wanita itu tidak menjerit kesakitan melainkan hanya diam, menggigit bawah bibirnya kerutan kemarahan muncul diwajahnya.


"SIALAN KAU BOCAH...! AKAN KU BUNUH KAU!" Bong Lu meraung kencang, saat hendak mencari keberadaan kedua gadis kecil itu, ia terkejut karena hawa kehadiran keduanya sama sekali tidak bisa dirasakan.


"Di mana mereka! kenapa hawa keberadaan mereka hilang!?" gumam Bong Lu dalam hati, setelah asap menghilang, wanita itu menjadi semakin waspada terhadap sekitar. "Keluarlah! sampai kapan kalian akan bersembunyi!"


Swosh!


Dari arah belakang sebuah pedang besar yang terbuat dari es terbang ke arah Bao Lu, wanita itu dengan cepat berbalik badan langsung menepisnya dengan mudah.


Di saat yang sama, Qiau Mey tiba - tiba muncul dari ketiadaan langsung menyerang bagian belakang Bong Lu, wanita itu menyadarinya dan langsung menahannya, meskipun Bong Lu diserang dari titik buta ia dapat bertahan dengan mudah.


"Jadi kau ingin bermain kucing dan tikus gadis kecil?!" ucap Bong Lu sembari menahan dorongan pedang Qiau Mey, "Sepertinya kau dulu yang seharusnya ku bunuh!"


"Coba saja jika bisa!" balas Qiau Mey sembari terus menyerang Bong Lu dengan permainan pedangnya yang halus.


"Jika itu maumu, maka akan kulakukan!"


Bon Lu menyeringai kejam lalu mulai membuat celah untuknya dapat melepaskan serangan, setelah mendapat peluang, wanita itu mengayunkan pedangnya.


Slash!


Darah menggenang di udara, tepat sebelum Bong Lu berhasil melukai Qiau Mey, Bai Luinha tiba - tiba muncul dari belakang lalu menebas punggungnya, Bong Lu meringis kesakitan membuat serangannya gagal, Qiau Mey yang lolos dari tebasan Bong Lu tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menebasnya.


"Sialan..! Beraninya kalian bermain curang..!" Bong Lu memegang perutnya yang berdarah karena serangan Qiau Mey, wanita itu dengan cepat menjauh dari kedua gadis itu untuk mengurangi luka yang akan ia terima.


"Curang? apakah hal itu penting dipertarungan liar ini?" Bai Luinha tiba - tiba menampakkan dirinya dari ketiadaan, ia mengenakan jubah pendek bewarna ungu yang terlihat begitu mencolok.


Tidak lama setelahnya Qiau Mey ikut muncul dari ketiadaan dan mengenakan jubah yang sama seperti yang dikenakan Bai Luinha, Bong Lu menyipitkan matanya melihat kedua gadis itu muncul dan kembali dapat merasakan hawa keberadaannya..

__ADS_1


Jubah ungu yang dikenakan Bai Luinha dan Qiau Mey adalah Spirit Tool High - Tier, jubah itu membuat pemakainya dapat menyembunyikan dirinya dan hawa keberadaannya, namun jubah itu dapat berfungsi jika dipakai oleh dua orang secara bersamaan.


"Saudari Bai, selain kegunaannya jubah ini begitu nyaman dikenakan" ucap Qiau Mey sembari memegang jubah yang ia kenakan.


"Tentu saja Saudari Qiau, jubah itu salah satu Spirit Tool kesukaanku, jadi tidak diragukan lagi kehebatannya" ucap Bai Luinha dengan senyum bangga.


"Jadi karena Spirit Tool itu kalian dapat menghilang dan menyembunyikan hawa keberadaan kalian? sungguh usaha yang sia - sia!" Bong Lu mencibir keduanya sembari menghentikan pendarahan di punggung dan perutnya.


"Sia - sia, lalu luka apa itu?" Bai Luinha memiringkan kepalanya dengan ekspresi polos sembari menunjuk luka yang dihasilkan Qiau Mey, "


"I - Ini karena aku lengah! Jika waspada, aku tidak akan terluka seperti-"


"Ya ya ya! manusia memang terbiasa memuntahkan omong kosong!" Bai Luinha langsung menyela ucapan Bong Lu dengan ejekan, "Bukankah begitu Saudari Qiau?"


"Benar Saudari Bai, kita harus memberinya lebih banyak pelajaran karena berani menyerang pertandingan hari ini!" ucap Qiau Mey dengan raut serius di wajahnya.


"Kau dengar itu nenek tua? kita akan memberimu pelajaran, jadi persiapkan tulang - tulang rentanmu itu untuk dihajar!" ucap Bai Luinha memprovokasi musuh di depannya.


"Beraninya dua bocah ingusan seperti kalian memperlakukanku seperti ini! aku adalah Bonh Lu! salah satu Cultivator terkuat dari Blood Mist Sect, dengan kekuatanku, akan sangat mudah bagiku untuk-"


"Sudah ku bilang manusia terbiasa memuntahkan omong kosong!" sela Bai Luinha dengan tatapan datar, gadis itu membuat kesal Bong Lu seperti tidak merasa bersalah sedikitpun membuat wanita itu semakin marah.


Menghunuskan pedang besarnya, Bong Lu berteriak, "Bocah gila, aku benar - benar tidak akan mengampuni kali-"


"Sudah ku bilang untuk tidak memuntahkan omong kosong!" lagi - lagi Bai Luinha menyela ucapan Bong Lu, bersamaan dengan itu kedua tangannya sudah membentuk segel tangan.


"Saudari Bai, aku mulai!" Qiau Mey yang sudah bersiap langsung bergerak menghampiri Bao Lu.


"Seni Pedang Emas - Tarian Cahaya Matahari!" tanpa pikir panjang Qiau Mey langsung menyerang Bao Lu, gerakannya nampak tidak beraturan karena sudah merasa lelah.


"Menyingkir dari hadapanku!" Bao Lu menahan serangan Qiau Mey kemudian membalasnya membuat gadis itu terhempas ke ujung.


Bong Lu yang sudah merasa kesal langsung berlari ke arah Bai Luinha tanpa mempedulikan Qiau Mey yang terpental begitu jauh, saat ini ia hanya ingin memberi pelajaran kepada gadis kecil yang membuatnya kesal.


"Akan ku bunuh kau gadis kecil! tidak peduli siapapun dirimu! pasti akan ku bunuh!" teriak Bong Lu dengan kesal.


"Coba saja jika bisa, Sihir Es - Puluhan Tombak Penghakiman!"


Swosh!


Setelah mengayunkan tangannya, puluhan tombak yang berada di angkasa melesat cepat ke arah Bong Lu, wanita itu sudah mengaliri pedang besarnya dengan basic spirit petir kemudian menghancurkan satu persatu tombak dengan mudah.


"Aku tambahkan dengan ini! Sihir Es - Penjepit Es!"


Bai Luinha menekan kaki kanannya membuat bongkahan es yang berada di sisi kanan dan sisi kiri Bong Lu kemudian menghempit wanita itu.


Swosh!Duar!


Dinding es hancur dengan mudah memperlihatkan Bong Lu yang baik - baik saja bahkan bertambah marah. Mengumpulkan basic spirit petir berbentuk bola di tangan kirinya, Bao Lu melepaskan sambaran petir yang besar ke arah Bai Luinha.

__ADS_1


"Sihir Petir - Petir Penghancur!"


Bai Luinha berdecak tidak puas kemudian meletakkan kedua tangannya di tanah menciptakan patung es raksasa yang menutupi dirinya.


Brat!


Patung es langsung hancur karena tidak dapat menahan sambaran petir milik Bong Lu, begitu pun dengan Bai Luinha, gadis itu terluka hampir disekujur tubuhnya.


"Untuk ukuran seorang wanita kau benar - benar tidak ramah!" Bai Luinha berusaha berdiri dengan tubuh yang gemetaran. Meski dengan semua luka itu ia masih tetap tersenyum lebar hal itu membuat Bong Lu merasa jengkel dan menendang perut gadis itu hingga terhempas jauh.


"Tenang saja gadis kecil, aku akan membayarmu karena membuatku kesal!" Bong Lu berjalan santai ke arah Bai Luinha sembari menggesakkan pedang di tanah.


Bukannya merasa takut, Bai Luinha justru menyeringai seperti menantang Bong Lu.


"DASAR GADIS KURANG AJAR-"


SLASH!


Bong Lu mengangkat tangan kanannya bersiap untuk menebas, namun sebelum itu terjadi tangannya sudah jatuh ke tanah. Hal ini yang membuatnya terkejut. Pandangannya terarah pada sebuah pedang yang dilempar oleh Qiau Mey.


"Rencana kita berhasil Saudari Bai...!" ucap Qiau Mey dengan nafas yang tidak beraturan.


"K - KAU! BERANINYA KAU MELAKUKAN INI?! BERANINYA!" Bong Lu yang kehilangan lengan kirinya bertambah marah, namun tidak langsung bergegas ke arah Qiau Mey, melainkan pandangannya terarah pada Bai Luinha yang sudah terluka karena serangannya.


"Kau akan ku urus nanti, sekarang aku akan fokus padamu..!" Bong Lu kembali fokus pada Bai Luinha, petir menyelimuti tubuhnya.


Brat!


Seketika disambarkan ke arah Bai Luinha, karena perbedaan tingkat kultivasinya yang begitu jauh, gadis itu menerima luka yang sangat berat.


"Kau akan merasakan kesakitan yang teramat sakit karena berani mengejekku...! matilah...!" Bong Lu mengeluarkan basic spirit petir kemudian menyambarkan pada Bai Luinha.


Brat!


Brat!


Brat!


"SA - SAUDARI BAI..!" Qiau Mey langsung panik dan mencoba menyelamatkan Bai Luinha, namun karena tubuhnya sudah diambang batas, gadis itu justru jatuh tersungkur di tanah.


Sementara Bai Luinha yang terkena sambaran petir berulang kali membuat gadis itu hampir tidak sadarkan diri, sekujur tubuhnya dipenuhi asap dan luka.


"Bagaimana, apa kau merasakannya...? jika itu kurang menyakitkan, maka akan ku tambahkan la-"


"Su - Sudah ku bilang... untuk berhenti memuntahkan omong kosong!" dengan suara yang lirih, Bai Luinha kembali membuat Bong Lu merasa begitu marah, harga dirinya sebagai Cultivator Sky Fondation sangat terhina.


"Akan ku akhiri ini dengan satu tebasan...!" Mengangkat tangan kanannya ke angkasa, energi petir langsung berkumpul di pedang besarnya, mengayunkan dengan nafsu membunuh, Bong Lu berteriak, "Matilah...!"


"Ti - Tidak...!" Qiau Mey ingin menghentikan yang sudah tidak berdaya, sebelum pedang Bao Lu menempel pada ujung kulit Bai Luinha, petir yang sangat besar tiba - tiba menyambar wanita itu.

__ADS_1


Brat!


__ADS_2