
SIAPA YANG BERANI MENYERANG MARKAS-!?"
Mata Ketua Red Scorpion melebar melihat pemandangan di depannya.
Kobaran api membakar apa yang ada di dalam gua, beberapa anak buahnya mati karena hangus terbakar, dari balik kobaran api muncul sosok berjubah hitam yang tubuhnya di penuhi dengan qi berwarna biru.
Melihat sosok yang diduga pelakunya, Ketua Red Scorpion berteriak marah, "BUNUH B*JINGAN ITU!"
Pasukan Red Scorpion yang masih selamat menerjang ke arah sosok di depannya dengan berbagai senjata yang ada.
Sosok Berjubah Hitam yang tidak lain adalah Nang In ikut mengeluarkan sebilah pedang dari balik lengan jubahnya.
Slash!
Nang In melakukan tebasan ringan, seketika salah seorang kepala anggota Red Scorpion terpisah dari tubuhnya. Beberapa anggota Red Scorpion menyerang dengan serempak, Nang In menghindari semua serangan tersebut lalu melesat dengan pola zig - zag menebas apa pun disekitarnya.
Slash! Swosh
Nang In membunuh anggota Red Scorpion yang mendekat ke arahnya, dalam sekejap keunggulan jumlah sudah di atasi oleh Nang In.
Beberapa anggota Red Scorpion yang masih hidup berkeringat dingin, mereka hendak melarikan diri namun Nang In segera menghadang dan membunuh mereka.
Melihat anak buahnya dibantai habis membuat Ketua Red Scorpion murka, dia mengambil pedang besar, melesat lalu mengayunkannya dengan kencang.
"MATI KAU!"
Krak!
Pedang besar mendarat tepat di leher Nang In, mendengar seperti ada sesuatu yang patah Ketua Red Scorpion berteriak, " Hahaha Bagaimana lehermu? pasti hanc-"
Ucapan Ketua Red Scorpion tercekat karena Nang In membuka tudungnya, sepasang mata biru yang dingin menatapnya. Bukan itu yang membuatnya terkejut melainkan di leher Nang In muncul es yang melindunginya dari tebasan pedang besar tersebut.
"Ayolah Paman, pedang rapuh seperti ini tidak akan mampu menggoresku" ucap Nang In dengan senyum meremehkan.
Krak!
Es yang tertempel di leher Nang In meluas membekukan pedang besar yang menempel padanya.
Ketua Red Scorpion melepas pedangnya dan melompat mundur menjaga jarak, "Sial, terbakarlah b*jingan!", tangannya membentuk segel tangan.
"Fire Magic - Fire Ball"
__ADS_1
Dua bola api muncul di sekitar Ketua Red Scorpion lalu melesat ke arah Nang In.
Nang In melompat menghindari satu bola api, lalu menebas bola api yang terakhir menggunakan pedang besar yang tertutupi oleh es. Setelah itu Nang In melesat dengan cepat, Ketua Red Scorpion panik lalu buru - buru membentuk segel tangan lagi.
"Fire Magic - Fire Ba-
Slash!
Sebelum selesai mengucapkan mantra, sebuah tangan melayang ke langit - langit gua.
"UGKKH LENGANKU!" Ketua Red Scorpion menjerit, dia terguling - guling di tanah sambil menangis kesakitan.
Nang In dengan ekspresi dingin mendekat lalu menodongkan pedang besarnya tepat di leher Ketua Red Scorpion, "Ada kata - kata terakhir?"
Mendongak ke arah orang yang membuat tangannya menghilang, ekspresi Ketua Red Scorpion marah bercampur benci, dia yang merupakan Cultivator Qi Gathering tingkat 7 merasa harga dirinya diinjak - injak oleh seorang bocah yang usianya jauh dibawahnya.
Melotot seakan kedua matanya ingin keluar, Ketua Red Scorpion berteriak, "BERANINYA BOCAH SEPERTI-"
Slash!
Nang In langsung memotong leher Ketua Red Scorpion, membungkam mulut berisiknya.
Umumnya seseorang yang pertama kali membunuh manusia pasti mental mereka akan terguncang. Marah, merasa bersalah, sedih, perasaan itu bercampur aduk.
Ya. Meski dia akan sedikit mempertanyakan apakah tindakannya benar?
Jika dia membunuh, apa bedanya dirinya dengan orang - orang dihadapannya? apa bedanya dirinya dengan para b*jingan Black Skull Valley?
Menghela nafas panjang, Nang In tidak ingin memikirkan hal yang membuatnya pusing.
"Sebaiknya aku cari Gadis yang di maksudkan Paman Liang" setelah mengatakan itu Nang In menuju ke salah satu pintu gua kecil yang terletak di paling ujung.
Saat masuk ke dalam, dia dikejutkan dengan orang - orang yang terkurung di dalam sel, mereka adalah orang - orang yang diculik, keadaan mereka sungguh mengenaskan, kelaparan, kehausan, kurang tidur nampak di wajah mereka.
Melihat sosok remaja yang tak dikenal masuk, sinar harapan muncul di mata mereka. Mereka langsung berteriak agar Nang In membebaskan mereka.
Tentu Nang In membukakan satu persatu sel secara paksa, lagi pula tidak ada alasan baginya tidak menolong mereka, ketika bebas, ekspresi bahagia terpatri di wajah mereka.
Mereka tidak henti - hentinya berterima kasih kepada Nang In bahkan beberapa dari mereka bersujud, membuat Nang In sedikit tidak nyaman.
"Mohon untuk semuanya menunggu di luar, kalian akan aku tuntun untuk keluar dari hutan!" ucap Nang In sambil menunjuk pintu keluar.
__ADS_1
Setelah para tahanan keluar, Nang In terus berjalan ke dalam, di sepanjang jalan ia membebaskan para tahanan yang terkurung, sampai di salah satu sel ia menghentikan langkahnya, sel itu lebih besar dari sel yang ada, seperti dipergunakan untuk mengurung tahanan yang sedikit berbeda dan benar.
Di dalam sel tersebut, terlihat seorang gadis cantik berambut biru gelap sedang terkurung di dalamnya, gadis itu sadar meski dengan ekspresi sedikit sayu dan lebam di kedua matanya karena menangis.
Menyadari sosok yang mendekat ke arahnya, gadis itu sedikit panik, mencoba kabur namun kedua tangan dan kakinya terikat, jangankan membebaskan diri, pandangan gadis itu sedikit buram, disaat ia mengira bahwa ia akan dilukai atau semacamnya.
Sebuah tangan halus mengelus rambutnya, merasakan kehangatan dari tangan itu, gadis berambut biru menoleh, ia melihat pemuda tampan berambut hitam dengan sepasang mata berwarna biru cerah tersenyum padanya.
Membuka mulut nampak ingin bicara, namun tidak bisa karena tidak ada tenaga yang tersisa, selain itu pandangannya kabur lalu tidak sadarkan diri.
Melihat gadis di depannya, Nang In langsung mengetahui bahwa ia merupakan gadis yang Liang Chou cari, membuka tali ikatnya ia langsung menggendongnya keluar.
Ketika diluar, puluhan orang yang sebelumnya disekap berkumpul, salah seorang dengan seragam sekte berwarna biru putih mendekat, orang itu adalah Liang Chou.
Dengan perasaan yang penuh kerisauan pria itu langsung menghampiri Nang In yang menggendong seorang gadis cantik.
"Nona Qiau Mey! bagaimana keadaannya? apakah dia baik - baik saja", tanya Liang Chou dengan panik.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Paman, dia hanya lelah dan kelaparan" ucap Nang In sembari tersenyum.
"Syukurlah" Liang Chou mengelus dada, bernafas lega.
"Kalau begitu ayo kita pergi" Nang In langsung melangkah keluar diikuti oleh Liang Chou dan para tahanan yang sebelumnya disekap.
Setelah keluar dari hutan, kelompok Nang In dengan para tahanan berpisah ditengah jalan, sebelum itu mereka tidak henti - hentinya berterima kasih dan bersujud kepada pemuda itu karena telah menyelamatkan mereka.
Melirik ke arah Liang Chou yang berekspresi muram, Nang In tau bahwa pria itu tidak berhasil menemukan rekan - rekannya, jika mereka semua mati, setidaknya Liang Chou ingin menemukan mayat mereka dan menguburkannya.
"Apa yang Paman temukan saat masuk ke dalam sisi kiri gua?" tanya Nang In.
"Aku menemukan ruangan penyimpanan harta, kemungkinan harta itu didapatkan dari merampas harta milik orang lain" Liang Chou menunjukkan space ring di jarinya, "Tentu akan ku bagikan harta ini kepada yang lebih membutuhkan"
Nang In mengangguk setuju dengan ucapan Liang Chou, lalu bertanya, "Sekarang kita akan menuju mana Paman?"
Setelah melewati hutan, ia sadar bahwa mereka berjalan tanpa tujuan, karena keadaan Liang Chou yang berlengan satu dan tidak memungkinkan dirinya untuk menggendong Putri Patriack, jadi Nang In yang harus menggendong gadis itu.
"Ah benar Tuan Muda Nang, sepertinya saya harus merepotkan anda lagi" Liang Chou membungkukkan badannya, "Tolong ikut saya menuju Heaven Moon Sect! bagaimana pun sekte kami telah berhutang budi kepada anda"
Nang In terdiam sesaat lalu berkata, "Baiklah Paman, tetapi jangan terlalu kaku kepadaku, itu sedikit membuatku tidak nyaman" Nang In menggaruk dahinya yang tidak gatal.
"Maafkan saya Tuan- maksudku Saudara Nang" Liang Chou tersenyum canggung karena salah memanggil.
__ADS_1
Nang In menghela nafas tidak ingin menanggapi lebih jauh, keduanya berjalan dengan tenang menuju Heaven Moon Sect.