Road To Immortality

Road To Immortality
Salah Paham


__ADS_3

"Jangan mendekat, tolong jangan mendekat ampuni kami!" teriak salah seorang wanita di antara kerumunan para warga.


Para warga yang lainnya pun kerap menunjukkan reaksi penolakan di wajah mereka, mereka mengira bahwa Nang In merupakan cultivator aliran hitam yang gemar menyiksa dan membunuh orang tanpa sebab, hal ini membuat Nang In berpikir bahwa mereka salah paham.


"Tolong tidak usah takut, aku hanya ingin menolong kalian hanya itu!" ucap Nang In lalu menyodorkan koin rampasan kepada mereka, "Silahkan, ini koin kalian bukan?"


Salah seorang wanita maju satu langkah dengan ekspresi gugup, "K - Kau sungguh tidak ingin menyiksa dan memutilasi tubuh kami lalu dijual ke pedagang gelap bukan?" ucapan wanita itu membuat para warga mengangguk membenarkan.


Mendengar ucapan wanita di depannya membuat sudut bibir Nang In berkedut, jelas imajinasi mereka terlalu liar, Nang In menghela nafas lalu melempar beberapa kantung koin rampasan ke arah mereka.


"Itu koin milik kalian, desa ini akan aman dari para bandit busuk itu" ucap Nang In.


Setelah merasa Nang In tidak mempunyai buruk kepada mereka, seorang pria paruh baya mendekat ke arah Nang In, "Maafkan atas sikap warga saya tuan muda, kami hanya bersikap waspada karena belakangan ini keadaan desa sedang dibuat resah dengan ulah para bandit"


"Aku memahami kondisi kalian, tapi sekarang kalian tidak perlu khawatir karena mereka tidak akan berbuat onar di desa ini lagi" ucap Nang In ingin beranjak pergi namun ucapan pria tua itu membuatnya berhenti.


"Maaf tuan, meskipun empat orang tadi telah dibunuh, namun kelompok dibelakang mereka akan datang dan menuntut balas" ucap pria tua itu dengan sopan.


"Benar! bahkan mereka akan datang dengan jumlah yang lebih banyak dan hal ini justru membuat masalah kami bertambah besar!" teriak salah seorang pemuda diantara kerumunan warga.


Mendengar teriakkan pemuda di belakangnya pria tua itu hendak memarahinya karena berlaku tidak sopan, namun Nang In menghentikannya.


"Jika itu masalahnya maka mudah saja, aku hanya perlu menunggu hingga kelompok bandit itu datang lalu menghabisi mereka, sederhana bukan?" tanya Nang In membuat pria tua itu gugup, pemuda di depannya menganggap masalah berat yang dialami desanya seakan masalah sepele.


"Te - Tentu tuan muda, sebelumnya terima kasih karena telah menolong desa kami" pria tua itu kembali membungkuk sopan.


Nang In menggeleng ringan, "Kalau begitu aku akan tinggal di hutan untuk sementara waktu jika para bandit datang maka cepat beritahu aku"


Melihat Nang In pergi ke dalam hutan pria tua itu menghela nafas panjang, para warga langsung mengerumuni pria tua yang merupakan seorang kepala desa itu.


"Kepala desa bagaimana ini, desa kita sudah tidak aman, Tuan Wanyan pasti akan datang dan mencari keberadaan Tuan Yanjian" ucap salah seorang wanita yang sedang hamil.

__ADS_1


"Benar apa yang dikatakan istriku, mereka pasti marah jika tau Tuan Yanjian tewas di desa kita" pria yang merupakan suami wanita tadi membenarkan ucapan istrinya.


"Harap tenang semuanya, kita kuburkan jasad mereka terlebih dahulu, setelah itu kita kumpul untuk permasalahan ini" ucap kepala desa yang merupakan orang bijak yang ada di desa ini.


Para pria mengubur keempat jasad para bandit itu setelah semuanya selesai mereka kembali berkumpul untuk membahas permasalahan yang baru saja terjadi, setelah semua petinggi desa hadir barulah kepala desa memulai pembicaraan mereka.


"Baiklah langsung saja, desa kita saat ini sudah tidak aman karena ulah pemuda bertopeng itu, desa kita akan didatangi Tuan Wanyan dan anak buahnya" ucap kepala desa dengan serius.


"Lalu apakah kita harus mengungsi kepala desa?" tanya salah seorang pria.


Kepala desa menghela nafas, ia merasa tidak nyaman jika meninggalkan desa tempat kelahirannya, para warga pun beranggapan sama.


"Sebenarnya saat ini kita mempunyai dua pilihan, pertama, meninggalkan desa ini karena apa pun alasan yang kita berikan, Tuan Wanyan tetap akan menghancurkan desa kita, kedua, kita berharap penuh kepada pemuda bertopeng untuk membunuh Tuan Wanyan berserta anak buahnya" ucap kepala desa menjelaskan kepada para warganya.


"Sepertinya kita tidak mempunyai pilihan selain pilihan kesatu kepala desa, karena jika memilih pilihan kedua, pemuda bertopeng itu belum tentu bersungguh - sungguh untuk menolong kita" ucap seorang wanita berbadan gemuk.


"Benar sekali, lagi pula kita tidak tau asal - usul pemuda itu, bisa saja setelah menolong kita, pemuda itu justru melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Tuan Wanyan bukan?" ucap ketus pria dengan jenggot lebat.


"Lagi pula kalian lihat sendiri bukan bagaimana cara Pemuda itu membunuh Tuan Yanjian dengan sadis, sudah pasti dia berasal dari sekte aliran hitam" ucap seorang wanita bermata sipit.


"Tunggu! jangan - jangan pemuda itu yang sedang dibicarakan akhir - akhir ini, pemuda jenius dari Black Skull Valley?" teriak salah seorang warga yang curiga bahwa Nang In berasal dari Black Skull Valley.


"Itu masuk akal, kenapa dia bisa menang dengan mudah melawan mereka"


Para warga mulai sibuk membicarakan identitas Nang In yang mulai dicurigai sebagai murid jenius dari Black Skull Valley.


Perdebatan mulai memanas ke arah yang tidak terarah, kepala desa langsung menyela untuk menenangkan mereka semua.


"Semuanya harap tenang!"


Kepala desa meminta semuanya untuk diam, "Kita tidak tau siapa pemuda itu, tapi aku mempunyai firasat bahwa dialah orang yang akan menyelamatkan kita, untuk itu aku memutuskan untuk mencari tau lebih dalam tentang dia, jika sewaktu - waktu Tuan Wanyan dan anak buahnya datang, bilang kalau kalian tidak tau apa - apa!" ucap kepala desa.

__ADS_1


Para warga mengangguk mengerti dengan penjelasan kepala desa meski tidak dijelaskan secara rinci. Setelah itu para warga akhirnya membubarkan diri untuk kembali ke rumahnya masing - masing.


Sementara itu kepala desa memutuskan untuk mencari Nang In sekaligus memastikan apakah pemuda itu benar - benar ingin menyelamatkan mereka atau tidak.


**


Di sebuah hutan tepatnya di dekat gelapnya sebuah gua yang cukup kering, terlihat Nang In sedang duduk membakar daging sate di depan api unggun. Meski begitu sebenarnya pemuda itu masih memikirkan tentang gejolak aneh yang terjadi pada dirinya.


"Apa karena aku membunuh orang, sehingga demon jade di dalam tubuhku bereaksi?" ucap Nang In sembari memegangi dadanya yang sejak tadi terasa panas dan perasaan aneh yang menyelimuti kepalanya.


Nang In mengerutkan keningnya ketika menyadari dibalik semak terdapat seseorang yang sedang mengintainya, "Apa yang sedang kau lakukan kakek tua?"


"Maafkan sikap pria tua ini, tuan muda" kepala desa muncul dari balik semak lalu membungkuk hormat, ketakutan jelas tertera di wajahnya.


Nang In menghela nafas sebelum mengajak pria tua itu makan bersama dengannya, "Makan ini"


Nang In menyodorkan sate dengan ukuran jumbo di hadapan kepala desa, pria tua itu menelan ludah mencium aroma yang keluar namun masih enggan untuk mengambilnya.


"Ambilah, aku tidak dapat keuntungan apa pun jika meracunimu" ucap Nang In sambil memakan sate dengan lahap.


Menyadari apa yang dikatakan pemuda di depannya, kepala desa langsung meraih daging tersebut lalu memakannya.


"I...Ini?"


Ekspresi kepala desa berubah ketika merasakan masakan Nang In, ia tidak menyangka pemuda yang membunuh orang dengan mudahnya mampu membuat makanan senikmat ini.


"Jadi apa tujuan kakek datang menemuiku?" tanya Nang In kepada pria tua di depannya.


Kepala desa berdehem pelan, "Mohon maaf tuan, aku hanya merasa khawatir jika anda terlalu jauh dari desa anda akan telat memberi bantuan, karena Tuan Wanyan dan anak buahnya akan segera datang"


"Baiklah, selesai makan kita akan langsung pergi" ucap Nang In dengan singkat.

__ADS_1


"Ba - Baik tuan"


Keduanya menghabiskan daging dengan lahap setelah itu pergi menuju desa.


__ADS_2