
Keesokan harinya Nang In terbangun dengan nyeri dibagian paha kanannya, meski sudah diobati, namun membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh, lagi pula belati itu mengandung racun yang lumayan mematikan.
Tentu Nang In dapat membuat penawarnya dengan mudah menggunakan beberapa elixir yang ia bawa dari Pulau Rempah.
Mengesampingkan tentang itu, ekspresi Nang In kian serius, melihat bagaimana semalam ia diserang, tidak menutup kemungkinan bahwa Liang Chou dan orang - orang terdekatnya ikut diserang.
Tok Tok Tok!
Lamunannya terpecahkan saat terdengar suara ketukan pintu, membuka pintu, ia terkejut dengan orang yang berdiri di depannya. Sosok gadis cantik dengan mata biru secerah langit pagi, rambut berwarna biru dengan kulit mulus seputih salju, dipadukan dengan seragam sekte yang mendominasi warna biru dan putih.
Gadis itu mengukir senyuman yang bisa membuat jantung para lelaki berdegup kencang, membuatnya tampak sangat mempesona. Ya, jika itu dimata lelaki normal. Namun di mata Nang In, entah kenapa keindahan itu tidak membuatnya terlena, memasang ekspresi normal bahkan tampak biasa.
"Bukankah kau gadis yang kemarin, bagaimana keadaanmu sekarang?" ucap Nang In, ia sedikit bingung untuk mencari topik.
"Berkat anda aku baik - baik saja", gadis itu membungkuk dengan hormat, "Terima kasih banyak atas kebaikan anda Tuan"
"Tolong jangan terlalu formal, panggil saja aku Nang In" ucap Nang In sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal, "Lagi pula sepertinya kita seumuran"
"Ah maaf, perkenalkan namaku Qiau Mey, murid dari Heaven Moon Sect, ku harap kita bisa berteman dengan baik", Qiau Mey memperkenalkan diri dengan sopan.
"Tentu, ngomong - ngomong apa tujuan Nona Qiau mengunjungiku?", Nang In mengangkat satu alisnya.
Gadis itu seperti menyadari sesuatu, "Oh benar, tunggu sebentar", lalu pergi dari kamar Nang In, beberapa saat setelahnya gadis itu kembali masuk membawa sebuah nampan dengan semangkok nasi dan air, "Saudara Nang aku bawakan sarapan pagi untukmu"
Nang In sedikit terkejut melihat itu, "Nona Qiau, seharusnya kau tidak perlu repot - repot membawakan sarapan untukku"
Qiau Mey tersenyum, "Sama sekali tidak repot, justru tujuanku kemari selain berterima kasih, aku ingin mengantarkan ini", gadis itu maju satu langkah ke arah Nang In, "Lagi pula Saudara Nang pasti lapar bukan?"
"Tentu saja tida-"
Kriiuuukkkk!
Ucapan Nang In tercekat karena terdengar suara perutnya yang seakan berteriak, keadaan kamar menjadi sunyi seketika.
"Ekhhmm ekhhmm maksudku, tentu saja aku akan menerima jika Nona Qiau memang ingin memberikan sarapan itu untukku", Nang In memaksa bersikap tenang, mengambil nampan dari tangan Qiau Mey lalu diletakkan di lantai.
Dengan wajah yang memerah karena malu, ia memakan sarapan itu dengan lahap, Qiau Mey yang menyadari hal itu tertawa sembari menutupi mulut dengan tangannya.
__ADS_1
Gadis itu duduk disebelah Nang In lalu berkata, "Saudara Nang makanlah perlahan, karena aku tidak akan meminta sarapanmu"
"Uhhhuuukk-", mendengar itu Nang In langsung batuk, ia memukul - mukul dadanya karena tersedak.
Qiau Mey tertawa kecil sembari memberikan segelas air kepada Nang In, gadis itu lalu memandang Nang In dengan kedua tangan yang menopang dagu, tampak senang melihat tingkah Nang In.
Nang In langsung meminum segelas air itu hingga habis, setelah itu ia berkata," Nona Qiau, aku sama sekali tidak khawatir jika kau ingin meminta makanan ini"
Qiau Mey mengelus dagu, "Hmm itu artinya kau pasti sangat lapar bukan hingga makan begitu lahap?"
Nang In ingin menjawab, namun Qiau Mey kembali berkata, "Tetapi bukankah sebelumnya kau bilang kalau kau tidak lapar?~" tanya Qiau Mey dengan senyum mengejek sekaligus sedikit menggoda.
"Ah itu, aku-" ucap Nang In dengan sedikit panik.
"Pffftt! hahahaha", melihat ekspresi Nang In yang panik Qiau Mey tidak kuasa untuk menahan tawa.
Melihat ke arah Qiau Mey yang tertawa, Nang In melongo, ia merasa dipermainkan oleh gadis di depannya.
"Maaf - maaf kau sangat lucu, aku tidak tahan untuk menggodamu" Qiau Mey menghentikan tawanya, namun tetap memegangi perutnya, "Tidak usah mempedulikanku, ayo cepat habisi sarapannya"
"Ugkkh baiklah" ucap Nang In dengan nada sedikit tertekan.
"Ah benar, bagaimana jika kita berkeliling sekte? pasti sangat menyenangkan bukan?!", tanpa mempedulikan jawaban Nang In, Qiau Mey langsung menarik tangan pemuda itu lalu menyeretnya keluar kamar, "Ayo aku ajak kau berkeliling!"
Nang In hanya pasrah dirinya ditarik paksa oleh Qiau Mey. gadis itu mengajak Nang In berkeliling sekte.
**
"Sekte ini lebih besar dari yang ku Kira" ucap Nang In dengan terkejut, melihat beberapa bangunan yang menjulang tinggi, membentuk menara, benteng dan sebagainya.
Untuk ukuran sebuah sekte kecil biasanya tidak lebih lebih kecil dari sebuah kota dan untuk ukuran sekte menengah, kebanyakan mempunyai ukuran hampir menyamai sebuah kota besar, sedangkan sekte bintang 8 dan seterusnya, umumnya mempunyai ukuran melebihi sebuah kota besar, bahkan tidak sedikit yang mempunyai ukuran hampir menyamai sebuah Pulau.
Begitu besar hingga mampu menampung ratusan bahkan ribuan murid.
Heaven Moon Sect memang terlihat seperti sekte kelas atas, besar dan megah. Namun itu hanya sebatas tampilan luar, karena dari dalam, sekte tersebut begitu sepi dan tampak mati!
Melihat beberapa area yang biasanya ramai kini menjadi sepi, Qiau Mey tersenyum lalu mendongak ke langit.
__ADS_1
"Pada masa jayanya, Heaven Moon Sect merupakan sekte bintang 8 yang begitu disegani oleh sekte aliran hitam dan dihormati oleh sekte aliran putih. Bangunan besar dan megah itu tidak hanya menjadi pajangan belaka, melainkan menjadi simbol kebanggaan dari sekte ini" Qiau Mey bercerita dengan raut wajah sedikit sedih.
Nang In hanya diam, mendengarkan keluh kesah Qiau Mey, saat ini Mungkin gadis itu butuh pendengar yang baik.
Cultivator dari Heaven Moon Sect terkenal dengan Sword Dao atau pemahaman ilmu pedangnya yang begitu tinggi, tarian pedang yang indah seperti purnama yang menjadi cahaya di malam hari, keindahan gerakan seperti sebuah tarian, tetapi mematikan menjadi ciri khas dari sekte ini.
"Para penduduk yang berada di sekitar sekte, begitu bangga karena telah dilindungi Heaven Moon Sect, para orang tua tidak henti - hentinya mengatakan pada anaknya bahwa 'Kau harus menjadi murid Heaven Moon Sect ketika dewasa nanti!' "
Qiau Mey tersenyum, namun senyuman itu mengandung kesedihan, "Tetapi sekarang keadaan telah berubah, sejak peperangan yang terjadi beberapa tahun lalu membuat sekte ini menurun"
Qiau Mey menjelaskan bahwa Heaven Moon Sect terletak di tengah perbatasan antara kekaisaran Black Sun dan Kekaisaran Blue Diamond. Wilayah ini kerap menjadi jalur perang antar kedua kekaisaran tersebut, jika hanya dilewati oleh beberapa Cultivator aliran putih tentu tidak masalah, namun beberapa sekte aliran hitam yang berasal dari Kekaisaran Blue Diamond kerap menyerang Heaven Moon Sect, berusaha mengambil paksa sekte tersebut!
Peperangan tidak bisa dihindari, dengan segala upaya Heaven Moon Sect mempertahankan keberadaannya, karena terus menerus digempur oleh sekte aliran hitam, sekte ini perlahan mulai melemah, tentu sekte aliran putih lainnya ikut membantu, jika tidak, mungkin sekte dan wilayah perbatasan sudah dikuasai oleh aliran hitam.
Beberapa tahun setelahnya, peperangan kian meredup, baik antar kekaisaran maupun antar aliran, namun dari pada berkembang, Heaven Moon Sect malah bertambah merosot, alasannya tentu karena permasalahan dari dalam.
Permasalahan itu terjadi ketika Patriack Heaven Moon Sect melakukan perjalanan jauh dan diserang oleh beberapa Cultivator aliran hitam, jika hanya Cultivator lemah, tentu akan diinjak dengan mudah, namun siapa bahwa mereka bertemu dengan Poison Cultivator yang berasal dari Black Skull Valley.
Patriack Heaven Moon Sect berhasil terkena racun dari mereka, alhasil beberapa anggota tubuhnya rusak parah, ia sudah memanggil tabib terbaik yang ada di kekaisaran Black Sun untuk mengobatinya, namun karena racun itu terlalu kuat, dia harus menanggung rasa sakit selama bertahun - tahun hingga ia divonis mati setahun yang akan datang.
Oleh karena itu diadakan pengangkatan Patriack yang baru, namun siapa sangka hal itu akan membuat Heaven Moon Sect terpecah belah.
Patriack telah menunjuk Liang Chou untuk menjadi penerus berikutnya, karena selain muda dan berbakat, pria itu mempunyai jiwa kepemimpinan yang baik, namun hal itu ditentang oleh Hwang Guo dan beberapa Tetua lainnya.
Akhirnya Heaven Moon Sect terbagi menjadi dua golongan, golongan pertama yang mendukung Liang Chou dan golongan kedua yang mendukung Hwang Guo, pria paruh baya yang kemarin bertemu dengan Nang In.
Setelah bercerita panjang lebar, Qiau Mey mendesah pelan lalu mengukir senyuman lembut, "Meski sudah melemah, sekte ini akan tetap menjadi rumah yang paling indah bagiku"
Nang In pun ikut tersenyum, ia tau bahwa gadis di depannya sedang merasa terpuruk namun berusaha tetap tegar, hal itu membuatnya kagum.
Mengelus lembut kepala gadis itu Nang In berkata, "Kerja bagus"
"Eh..."
Qiau Mey terkejut ketika Nang In mengelus kepalanya, melirik ke pemuda itu, ia melihat senyuman hangat terarah padanya.
"Nona Qiau! kemana saja anda pergi!"
__ADS_1
Terdengar teriakan seorang pemuda dengan seragam sekte biru putih mendekat ke arah mereka berdua.
Nang In mengetahui Pemuda itu, pemuda yang terang - terangan menunjukkan rasa tidak senang kepadanya sebelum memasuki sekte.