
Tetesan air dari langit - langit gua membuat Cultivator Bermata Satu sadar, ketika terbangun dia langsung diserang oleh rasa sakit yang luar biasa.
Menoleh ke kanan, ekspresinya kian berubah, "Lengan kananku... HILANG!"
Selain matanya kirinya yang buta karena serangan para pengkhianat, lengan kanan Pria itu kini harus terenggut, hal ini membuatnya sangat terpukul, karena bagi seorang Cultivator kehilangan sebelah lengan merupakan hal yang sangat fatal!
Suara dari arah samping terdengar, "Bersyukurlah karena aku tepat waktu mengobati luka Paman, jika terlambat, mungkin nyawa Paman berada dalam bahaya"
Menoleh ke sumber suara dia melihat seorang pemuda di dekat api unggun sedang memakan sate sekaligus mengeringkan pakaiannya.
Tubuh pemuda itu begitu terlatih, selain tinggi, otot - otot kokoh yang seakan dipahat nampak begitu keras dan nyata terpatri di tubuhnya. Selain itu wajah remaja itu begitu tampan, pipi tirus dengan rambut hitam legam mewarnai, mata tajam berwarna biru cerah menambahkan kesan dingin sekaligus misterius!
Benar, pemuda tampan itu adalah Nang In.
Setelah menembus portal dari Pulau Rempah, dia sampai di sebuah hutan yang cuacanya sedang hujan lebat, ketika hendak mencari tempat berteduh, Nang In mendengar suara orang teriak, segera dia pergi untuk mencari tau dan bertemu dengan Pria di depannya yang sedang di serang oleh pasukan Red Scorpion.
Mengingat kemampuan yang dia tunjukkan sebelumnya, Cultivator Bermata Satu diam - diam menelan saliva, diusia yang begitu muda mampu menyapu bersih pasukan Pembunuh Bayaran dengan mudah, monster macam apa dia!
Jika Nang In mengetahui apa yang dipikirkan Pria di depannya, mungkin dia akan muntah karena terkejut, karena apa yang dia lakukan tidak sehebat yang dilihat.
Menurut Zhou Jin, banyak cara untuk mengalahkan musuh yang jauh lebih kuat atau melawan musuh dengan jumlah yang lebih banyak, seperti menggunakan racun atau perangkap, tetapi hal yang Nang In lakukan ialah memanfaatkan medan geografis dan situasi.
Cultivator yang mempunyai basic spirit api sangat diuntungkan dengan pertarungan yang terjadi di dekat gunung berapi, tentu karena udara di sana begitu tinggi dan akan melipatgandakan kekuatan Cultivator yang mempunyai basic spirit api. Sebaliknya, jika Cultivator yang mempunyai basic spirit api bertarung di tempat yang sedang hujan tentu akan melemahkan dan menurunkan kekuatannya.
Hal tersebut yang Nang In rasakan, hujan lebat pada hari itu membuat udara disekitar menjadi rendah, sangat cocok untuk digabungkan dengan basic spirit es miliknya agar jadi lebih kuat.
Tentu pertarungan mengandalkan medan geografis tidak selalu menjamin kemenangan, karena jelas banyak faktor yang memengaruhinya.
Melihat luka - lukanya diperban sedemikian rupa dengan warna hijau dari tanaman herbal sebagai obat menghiasi, Cultivator Bermata Mata Satu langsung bersujud, "Terima Kasih karena telah menolong saya Tuan Muda, dan maaf karena telah menuduh anda sebagai seorang Pencuri!"
Selain karena mengobati seluruh lukanya, Pemuda di depannya tidak membawa lari harta sekte yang dia bawa, hal ini membuatnya berpikir bahwa Pemuda di depannya memang berniat ingin menolongnya, lagi pula jika ingin mengambilnya, dia mampu mengambilnya kapan pun dia mau, mengingat bahwa saat ini keadaannya sedang sangat lemah.
__ADS_1
Mengesampingkan tentang lengan dan matanya yang hilang, dia masih hidup? jelas merupakan keajaiban!
"Sama - Sama Paman, makan ini" Nang In memberikan satu tusuk daging kepada Cultivator Bermata Satu.
Pria tersebut menerimanya dengan penuh antusias, "Terima Kasih Tuan Muda"
Melihat Pria di depannya memanggilnya dengan sebutan itu, membuatnya tidak nyaman, "Paman, perkenalkan namaku Nang In"
Cultivator Bermata Satu memperkenalkan balik, "Perkenalkan namaku Liang Chou, Cultivator dari Heaven Mount Sect"
"Hmm Heaven Moon Sect?" ketika mendengar nama Heaven Moon Sect, Nang In berhenti mengunyah, lalu beberapa saat kemudian baru kembali melanjutkan makan, "Bagaimana Paman bisa diserang oleh para Pembunuh Bayaran itu?"
Lin Yue pernah menceritakan bahwa Heaven Moon Sect, pada masa jayanya merupakan salah satu sekte bintang delapan, sekte besar. Namun karena beberapa permasalahan dari dalam, membuat sekte ini perlahan merosot hingga menjadi Sekte bintang tiga, benar - benar turun drastis!
Liang Chou menghela nafas, "Cerita ini awalnya berawal dari misi pengawalan Putri Patriack dan salah satu harta penting dari Sekte untuk dipindahkan ke tempat yang lebih aman, namun ketika diperjalanan, sebuah tragedi terjadi"
Liang Chou menceritakan bahwa Heaven Moon Sect sedang menghadapi masalah pribadi dalam Sekte, Heaven Moon Sect terbagi menjadi dua kekuatan yang saling bertolak belakang karena perebutan tahta Patriack dalam Sekte.
Meskipun Liang Chou mengawal bersama beberapa Tetua, namun karena serangan dari dalam oleh para pengkhianat, hal ini berhasil melemahkan mereka, di tambah pasukan Red Scorpion yang jumlahnya tidak masuk akal membuat mereka kewalahan.
Saat kondisi menjadi sangat gawat, mereka membagi menjadi dua kelompok, mengamankan Putri Patriack lalu kelompok selanjutnya mengamankan harta sekte.
Liang Chou bersama beberapa Tetua yang mengamankan harta sekte benar - benar dibantai habis, seluruh rekannya tewas hanya tersisa dirinya, itu pun dengan kondisi yang memprihatinkan sedangkan kelompok yang mengkawal Putri Patriack tidak ada kabar yang pasti tentang keadaan mereka.
Namun setidaknya dengan pengorbanan rekan - rekannya, harta sekte tersebut dapat terselamatkan, setidaknya untuk saat ini!
Liang Chou mengira bahwa Nang In merupakan Cultivator dari Frozen Island, Karena Cultivator yang mempunyai basic spirit es dirumorkan hanya terlahir di Frozen Island, selain itu sangat jarang, bahkan tidak ada.
Frozen Island merupakan kelompok terkuat kedua di aliran netral, posisi pertama dipegang oleh Beast Soul Island, Pulau di mana Cultivator dan Spirit Beast saling hidup berdampingan.
Melihat hujan telah reda dan lukanya sudah terobati, Liang Chou tidak bisa menahan diri untuk pergi, "Terima Kasih atas pertolonganmu Nak, aku harus segera pergi"
__ADS_1
"Paman ingin mencari keberadaan Putri Patriack?"
"Benar" jawabnya tanpa menoleh.
"Tetapi Paman, kondisimu sanga-" ucapan Nang In tercekat karena melihat sorot mata Liang Chou yang berapi - api nampak sudah siap bahkan untuk mati sekalipun.
Nang In menghela nafas, lalu ikut bersiap - siap.
Melihat Nang In berkemas, Liang Chou bertanya, "Kau ingin pergi?"
"Ada kemungkinan jika Putri Patriack disekap di markas Red Scorpion, sedangkan rekan - rekan Paman, aku tidak menjamin bahwa mereka masih hidup, namun jika mereka hidup, paling tidak salah satu tangan atau kakinya sudah tidak ada" ucap Nang In dengan nada datar sambil memakai pakaiannya.
"Kenapa kau bisa berpikir demikian?" tanya Liang Chou.
Nang In menjelaskan saat di perjalanan menolong Liang Chou, dia melihat beberapa mayat tergenang darah dan air hujan, semua mayat tersebut berjenis kelamin laki - laki tidak ada wanita, Nang In mengambil kesimpulan bahwa Putri Patriack dan beberapa pelayan wanita dibawa pergi ke markas Red Scorpion.
Mendengar hal itu, Liang Chou menggertakan giginya, "In'er, bisakah aku meminta bantuanmu"
Mengingat keadaannya yang begitu lemah dia tidak punya pilihan selain meminta bantuan Nang In.
"Tentu" jawab Nang In singkat.
"Kalau begitu yang jadi permasalahan kali ini adalah di mana letak markas Red Scorpion?"
Mendengar pertanyaan itu, Nang In tersenyum sembari mengarahkan pandangannya menuju pojokan gua.
Liang Chou terkejut ketika melihat orang berkepala botak sedang terikat tak berdaya, orang itu adalah Pemimpin Red Scorpion yang Nang In tangkap.
Nang In mendekat sambil menjilat punggung pisau di tangan kanannya, "Saatnya membuat dirimu berguna"
Melihat senyuman Nang In entah kenapa membuat Pria Botak itu tiba - tiba berkeringat dingin.
__ADS_1