
Di sebuah sungai yang mengalir begitu deras, tepatnya disebuah batu besar dibawah air terjun, terlihat seorang pemuda yang tengah terbaring tidak sadarkan diri.
Pemuda itu mempunyai rambut hitam pekat dengan wajah yang mampu membius para wanita yang melihatnya, suara gemercik air membangunkan pemuda itu.
Ya. Pemuda itu adalah Nang In. Setelah sadar ia langsung menoleh ke sekitar, rindangnya hutan dengan air yang begitu segar langsung menerpanya, ia beranjak bangun menuju daratan karena sekarang setengah tubuhnya terendam air.
"Lukaku langsung pulih, apa ini karena Ruler Of Ice?" Nang In bertanya - tanya, menggerakkan tubuhnya, ia terkejut karena luka yang sebelumnya ia terima telah pulih, bahkan saat ini tubuhnya begitu segar karena dipenuhi qi yang meluap - luap.
Pada saat yang sama, terdengar teriakan seorang gadis dari arah yang tidak jauh dari tempat Nang In berdiri. Pemuda itu mengeluarkan jubah dan topeng dari space ring lalu berlari menuju sumber suara yang ternyata berasal dari sebuah desa terpencil.
**
Di sebuah perkampungan kecil yang jumlah rumahnya kurang dari 40 rumah saja, terlihat para warga berkumpul di lapangan besar.
Di depan mereka tampak empat orang berwajah sangar dengan tubuh kekar berdiri di depan para warga, masing - masing dari mereka memegang golok, satu di antara mereka yang merupakan pemimpin mengenakan pakaian yang berbeda.
"Tuan Yanjian terimalah beberapa koin ini, hanya ini yang bisa saya berikan untuk anda" ucap seorang wanita paruh baya dengan seorang anak laki - laki berusia 7 tahun di dekatnya.
"Tentu tidak masalah, selama kau dapat memberi kami 600 keping perak perbulan kami akan menerimanya" ucap pria yang bernama Yanjian lalu menyuruh wanita tua itu untuk pergi meninggalkan barisan.
"Selanjutnya" ucap seseorang di samping Yanjian.
Seorang wanita kurus maju lalu mengeluarkan sekantung koin, Yanjian menerima lalu menghitungnya.
"Berapa banyak kantung ini?" tanya Yanjian.
"Em - Empat ratus koin perak tuan" ucap wanita kurus itu dengan raut wajah ketakutan.
"Apa kau punya simpanan lain?" tanya Yanjian.
Wanita kurus itu ingin menjawab tapi ragu karena jika iya menjawab jujur maka semua koin simpanannya akan dirampas.
"Apa kau tuli? apa kau masih mempunyai koin simpanan, jika ada cepat berikan padaku!" tanya Yanjian lalu orang yang disampingnya menodongkan ujung goloknya ke leher wanita kurus itu.
"Aaa...da Tuan!ta..pi koin itu untuk biaya hidup selama sebulan!" tanya wanita kurus itu dengan tubuh gemetaran.
"Kalau begitu cepat berikan simpanan itu padaku!" ucap Yanjian sambil menjulurkan tangannya menagih koin perak wanita di depannya.
"Taa..pi Tu..an! koin itu untuk biaya-"
"Aku tidak peduli, bukankah sudah kesepakatan jika setiap bulan kalian harus memberikan 600 koin perak kepada kami, jika tidak maka kau akan merasakan tajamnya golok tajam ini!" Yanjian menyela ucapan wanita di depannya sambil mengeluarkan aura pembunuh.
"Jika kau ingin mendapatkan uang maka kau harus bekerja bodoh!"
__ADS_1
Suara seorang pemuda terdengar dari atap rumah Yanjian berada, melihat ke sumber suara melihat seorang pemuda mengenakan topeng dan jubah yang berdiri di atas rumah tersebut.
"Aku tidak tau siapa dirimu, tapi yang ku tahu kalian adalah gerombolan pemalas yang ingin mendapatkan uang secara cuma - cuma, benar - benar sekelompok sampah tidak berguna!"
"Dasar bocah tengik, apa kau tidak tau siapa kami!?" seseorang di samping Yanjian berteriak kesal.
"Bukankah sudah ku bilang, bagiku kalian cuman segerombolan sampah yang membuat sesak dunia?" Pemuda Bertopeng itu memiringkan kepala.
"Sepertinya kau ingin sekali mati!" Yanjian yang sudah kesal dengan ucapan pemuda di depannya, melakukan segel tangan, bola petir tercipta disampingnya. "Mati kau!"
Blar!
Suara ledakan terdengar membuat semua orang terkejut, Yanjian menembakkan bola petir itu tepat ke arah pemuda bertopeng di depannya, asap mengepul menutupi pandangan ketika ia mengira bahwa pemuda di depannya telah tewas.
"Hahaha aku yakin tubuh pemuda itu sudah menjadi-"
Belum sempat Yanjian menyelesaikan ucapannya, ia terkejut karena pemuda tersebut masih di tempat yang sama dengan tubuh yang utuh tanpa terluka sedikitpun.
"Cih serangan lemah seperti ini bahkan tidak akan cukup untuk membunuh seekor kecoa!" Pemuda Bertopeng yang merupakan Nang In mengibaskan tangannya ke jubahnya.
"Aku yakin bocah ini melakukan trik, bunuh dia!" teriak Yanjian, ketiga bawahannya langsung berlari ke arah Nang In dengan golok di tangan mereka.
Salah seorang dari mereka melakukan gerakan menusuk, Nang In dengan mudah menangkisnya lalu meraih leher orang itu untuk mencekik hingga wajahnya memerah.
Suara retakan tukang tulang terdengar, orang tersebut langsung mati dengan kedua matanya yang memutih lalu Nang In melempar tubuhnya mengenai salah satu rekannya.
"B-jingan beraninya kau!"
Sementara satu rekannya bergerak ke arah Nang In menyerang membabi buta, Nang In dapat menghindari dengan mudah hingga tangan kanannya memukul orang tersebut.
Blar!
Pukulan Nang In membuat kepala orang tersebut pecah, membuat darah, tulang, cairan otak berserakan di mana - mana, hal ini membuat para warga berteriak histeris sementara Yanjian beserta satu anak buahnya mulai gemetar ketika melihat teman - temannya mati.
"Kamu seorang cultivator?" tanya anak buah Yanjian.
"Aku adalah orang yang akan mengirimu ke neraka" jawab Nang In.
"Sial, diperlakukan ini oleh seorang bocah!" ucap anak buah Yanjian yang tidak terima dianggap remeh oleh orang yang lebih muda darinya.
Nang In terkekeh, "jadi kalian sama sekali belum mengerti dengan posisi kalian saat ini? Jika kalian tidak melawan aku akan mengakhiri ini dengan cepat tanpa rasa sakit!"
"Sial sudah cukup!"
__ADS_1
Yanjian tidak tahan lagi, ia menciptakan tiga bola petir di sisinya lalu ketika ingin menembakan ke arah Nang In, namun pemuda itu tiba - tiba muncul di depannya.
Nang In mengayunkan tangan kanannya seperti hal nya sebuah pedang, saat itu juga lengan kanan Yanjian terlepas dari tubuhnya, darah mengenang ke udara.
"Tu..Tuan Yanjian!" ucap anak buah Yanjian dengan panik.
Yanjian meringis kesakitan memegangi area lengannya yang telah hilang satu, ia menatap ke arah pemuda di depannya dengan ekspresi ketakutan.
"Bukankah sudah ku bilang, jika kalian tidak melawan aku akan melakukannya dengan cepat tapi kalian justru ingin disiksa terlebih dahulu? Nang In menggeleng ringan lalu berjalan santai ke arah Yanjian.
Melihat Yanjian akan dibunuh membuat anak buahnya kabur, ia mengira bahwa hanya pemimpinnya yang ditargetkan oleh Nang In jadi ia mencoba melarikan diri, namun pada saat itu suara dingin terdengar.
"Siapa yang memerintahmu untuk pergi" Nang In berdecak kesal lalu mengejar orang itu.
Nang In menciptakan pedang dari es lalu menebaskan pedangnya tepat di bagian leher membuat tenggorokannya putus dan kemudian mati dengan darah yang menyembur keluar.
Nang In melirik ke arah Yanjian yang hendak kabur segera ia berlari lalu berdiri tepat di depannya.
"Sekarang giliranmu pak tua!" ucap Nang In.
Yanjian menelan ludah, ia bingung ketika Nang In membunuh teman - temannya dengan sangat sadis, sepengetahuannya jika seorang cultivator aliran hitam seperti Nang In sangat mendukung orang - orang jahat seperti dirinya, namun Nang In berbeda.
"Tuan Cultivator yang terhormat, tunggu dulu, bukankah kita berasal dari aliran yang sama, kenapa kita harus bertarung satu sama lain!?" Yanjian mencari banyak alasan karena mengira bahwa Nang In berasal dari aliran hitam.
"Apa aku terlihat seperti orang yang sealiran denganmu?" Nang In memiringkan kepalanya, "Lebih baik kau persiapkan dirimu untuk pergi ke alam berikutnya!"
Melihat pemuda bertopeng yang semakin mendekat membuat Yanjian panik, ia buru - buru merogoh kantongnya untuk menyerahkan koin hasil rampasan para warga kepada Nang In.
"Ambil semua koin ini, tapi tolong ampuni nyawa saya Tuan!" ucap Yanjian menyerahkannya koin rampasan kepada Nang In.
"Apa tidak membutuhkan uang kotorku yang ku butuhkan hanyalah nyawamu yang tidak berharga itu!" ucap Nang In semakin dekat dengan Yanjian.
"Berhenti! jika kau membunuhku sama saja menggali kuburanmu sendiri karena tuanku akan mencari dan membunuhmu!" ucap Yanjian dengan ketakutan.
Nang In tidak mempedulikan ucapan pria tua di depannya, di depan tatapan terkejut semua orang ia menciptakan dua pedang es lalu menusukkan keduanya tepat dikerongkongan Yanjian, secara bersamaan ia mengayunkan kedua pedangnya secara berlawanan membuat kepala yang berlumuran darah terjatuh ditanah.
Setelah itu semua orang yang telah ia bunuh memancarkan qi merah yang merasuki paksa tubuh Nang In, seketika tubuh pemuda itu menggeliat dengan cara yang aneh lalu jatuh berlutut dengan ekspresi yang begitu terkejut.
"A - Apa yang terjadi dengan tubuhku?" Nang In memegangi dadanya yang terasa panas, tubuhnya dikejutkan dengan perasaan yang seakan kehilangan sesuatu, seperti rasa lapar yang terus menggerogoti.
Sebelum Nang In menyadari apa yang terjadi pada tubuhnya, ia melihat para warga yang memandanginya dengan tatapan penuh ketakutan seperti memandang malaikat maut.
Pemuda itu hendak mengembalikan uang yang dirampas Yanjian dan anak buahnya, namun semakin ia mendekat, para warga semakin memundurkan langkahnya dengan ekspresi ketakutan.
__ADS_1
Hal ini membuat Nang In mengerutkan keningnya, jelas para warga salah paham dengannya!