
"Apa - apaan dengan hasrat membunuhnu itu?" Bong Lu terkejut ketika merasakan hawa membunuh Nang In yang begitu pekat.
"Kenapa kau terkejut, jika dibandingkan denganmu, bukankah ini belum seberapa?" Nang In memiringkan kepalanya karena bingung dengan ucapan wanita di depannya.
"Bodoh, tentu hal yang wajar jika Cultivator aliran hitam memiliki aura pembunuh yang begitu pekat, tapi jika Cultivator aliran putih yang memilikinya tentu sangat aneh" ucap Bong Lu yang mengira bahwa Nang In berasal dari sekte aliran putih, karena kebanyakan dari mereka memilih untuk menghilangkan aura pembunuhnya, sedangkan Cultivator aliran hitam, justru mereka berlomba - lomba untuk mendapatkan hasrat pembunuh yang begitu pekat.
Aura pembunuh dapat digunakan untuk mengintimidasi lawan karena menunjukkan seberapa banyak korban yang sudah ia bunuh.
"Apa aku pernah mengatakan bahwa aku dari aliran putih?" Nang In memiringkan kepalanya, pemuda itu kemudian menciptakan dua pedang dari es, "Aku tidak peduli dengan omong kosong seperti itu, bagiku untuk saat ini adalah menyiksamu lalu membunuhmu dengan kejam!" ucap Nang In dengan mata yang berubah menjadi merah darah, ia mengeluarkan hawa pembunuh yang berasal dari Demon Jade membuat kepribadiannya sedikit berubah.
"Hahaha dasar bocah angkuh! tapi aku suka semangatmu" Bong Lu menyeringai kejam, dari tubuhnya merembes aliran qi yang tersalur pada pedangnya. Memutarnya beberapa kali wanita itu mengayunkannya dengan kuat membuat beberapa bilah yang melesat ke arah Nang In.
"Aku akan terpotong jika terkena serangan itu! Sihir Es - Jarum Es!" ucap Nang In lalu mengayunkan tangannya, udara dingin langsung berhembus kencang membuat jarum es raksasa yang bergerak ke arah Bang Lu.
"Sihir Es - Kabut Es!" Nang In menghirup nafas dalam - dalam membuat dadanya mengembang lalu menghembuskannya. Kabut es seketika menutupi seisi arena pertandingan.
"Serangan lemah seperti ini tidak akan dapat menebasku bocah!" Bong Lu mengayunkan pedangnya menghancurkan jarum es Nang In dalam sekali serang, "Kabut, apa ini ulahnya?" Bong Lu terkejut ketika jarak pandangnya tertutupi oleh kabut es.
"Apa kau pikir aku tidak akan menemukanmu? Hahahaha jangan bercanda, trik murahan seperti ini dapat ku atasi dengan mudah!" mata Bong Lu menjadi tajam lalu menebaskan pedangnya membuat hembusan angin yang menghilangkan kabut, namun saat itu juga kabut kembali menyelimuti jarak pandangnya.
Tidak peduli berapa kali Bong Lu menghilangkan kabutnya, kabut es itu tetap kembali muncul. Merasa dipermainkan Nang In, Bong Lu akhirnya mulai mencari keberadaan Nang In.
Tidak hanya Bong Lu yang dibuat kesal dengan kabut buatan Nang In namun para pengkhianat yang saat ini sedang melawan Qiau Mey begitu terganggu karena kabut es yang tiba - tiba muncul.
"Sepertinya aku mengenal kabut ini, jurus ini milik In'gege" tebak Qiau Mey karena sebelumnya ia pernah melihat jurus Nang In ketika pertarungan di Heaven Moon Sect.
"Mey'er aku butuh bantuanmu!" suara yang tidak asing terdengar di telinga Qiau Mey, gadis itu langsung tau bahwa ini pesan telepati ini dari Nang In, "Tentu In'gege, aku akan membantu dengan segenap kemampuanku! apa yang harus aku lakukan?" balas Qiau Mey.
"Mudah saja, aku ingin kau menggunakan kekuatan matamu untuk menyebutkan posisi musuh berada" seru Nang In.
__ADS_1
"Tentu In'gege, aku akan menyebut posisi mereka!" ucap Qiau Mey lalu kedua matanya memancarkan cahaya biru muda, kekuatan dari salah satu 17 Magic Eyes, mata yang dapat melihat aura seseorang, Alert Eye.
Meski Nang In yang menciptakan kabut es namun pemuda itu tidak dapat melihat dengan jelas, itu sebabnya pemuda itu meminta bantuan Qiau Mey untuk menjadi penglihatannya, karena dengan kekuatan mata Qiau Mey dan kemampuan kamuflase Nang In, kedua hal itu dapat menjadi serangan yang berguna untuk melawan banyak musuh.
"Sihir Es - Kabut Es!" Nang In terus menerus menciptakan kabut es tanpa henti membuat jarak pandang di arena sekitar semakin buram, "Teknik Bayangan Ilusi - Kamuflase!" Nang In menggunakan jurus yang ia pelajari dari Niiu membuat tubuhnya menjadi menyatu dengan kabut es.
"In'gege, 4 orang musuh berada di samping kanan dan belakangku!" ucap Qiau Mey lewat telepati. Gadis itu mengetahui posisi musuh karena melihat aura orang - orang disekitarnya.
"Baik Mey'er!"
Swosh!Slash!
Dalam beberapa detik empat musuh dapat dipenggal dengan mudah, kemudian pemuda itu kembali membaur didalam kabut dengan cepat.
"10 langkah ke depan 3 orang dengan tombak dan pedangnya!" seru Qiau Mey memberi instruksi kepada Nan
Swosh!Slash!
Swosh!Slash!
"12 langkah ke belakang dan 3 langkah ke kiri, 5 orang dengan tombak dan pedang!"
Swosh!Slash!
"Siapa!? Tunjukkan dirimu-"
Slash!
"Tidak, jangan bunuh aku, kumoho-"
__ADS_1
Slash!
Satu persatu musuh dibunuh dengan cepat tanpa tau siapa yang telah merenggut nyawanya, teriakan putus asa mereka tidak membuat Nang In gentar untuk merenggut nyawa mereka, pedang di tangan Nang In berubah menjadi warna merah karena darah musuh yang ia bunuh.
Kemudian yang lebih mengejutkan lagi ialah setiap orang yang Nang In bunuh mengeluarkan qi merah dari tubuhnya lalu terserap paksa ke dalam tubuh Nang In. Mata pemuda itu kini bewarna hitam dengan pupil bewarna merah darah.
"Apa yang terjadi, aku seperti dipenuhi kekuatan!" seru Nang In dalam hati, tubuhnya terasa lebih ringan dan mengalir energi qi yang sangat banyak, "Jadi ini salah satu kemampuan dari Demon Jade?!"
Kekuatan Demon Jade tergantung seberapa banyak Nang In mengumpulkan aura pembunuh, semakin banyak Nang In membunuh maka Demon Jade akan menyimpan aura pembunuh tersebut untuk dijadikan kekuatan.
"Meski begitu efeknya bukan main - main! kesadaranku dipertaruhkan di sini!"
Ketika Nang In menggunakan Demon Jade, kesadarannya sedikit demi sedikit dikuasai oleh Demon Jade, tentu keberadaan giok iblis itu seperti pedang bermata dua, meskipun mempunyai banyak keunggulan namun tetap terdapat kecacatan.
"Aku hanya perlu bertahan!" Nang In memejamkan mata fokus pada sekitarnya, pemuda itu mengayunkan kedua pedangnya ke arah belakang.
Bong Lu muncul dari belakang Nang In sembari melancarkan serangan lutut, Nang In yang kurang cepat terpaksa menyilangkan kedua pedangnya untuk bertahan.
"Rencana yang bagus bocah! menggunakan kabut untuk mengurangi musuh...?!" Bong Lu mengayunkan tinju kirinya, "Keputusan yang sangat bijak!"
Duar!
Nang In terpental beberapa meter ke belakang namun dapat mendarat dengan baik, pemuda itu kembali menciptakan kabut lalu kembali membaur di dalamnya.
"Menggunakan trik yang sama? kau melakukan hal yang sia - sia!" Bong Lu menyeringai kemudian mengayunkan pedangnya membuat kabut langsung menghilang.
Nang In langsung muncul di belakang Bong Lu sambil mengayunkan pedangnya, namun saat itu Bao Lu menyadarinya dan langsung menghantam Nang In ke lantai.
"Sepertinya sudah saatnya kau mati..." Bong Lu menyeringai kejam lalu menusukkan tangan kirinya tepat di dada Nang In.
__ADS_1
Jleb!
"IN'GEGE...!!!" Qiau Mey spontan berteriak kencang melihat tangan kiri Bong Lu yang menembus dada pemuda itu.