Road To Immortality

Road To Immortality
Sisi Gelap


__ADS_3

Setelah beberapa langkah berjalan Hwang Guo meninggalkan Nang In, aura pembunuh yang begitu kuat mengarah padanya, aura tersebut mengandung kebencian dan kemarahan yang begitu mendalam hingga membuat siapa pun yang didekatnya ikut gemetaran.


"Aura pembunuh siapa yang sampai sepekat ini!" Hwang Guo tersentak, ia spontan menoleh ke belakang.


Pria tua itu terkejut ketika melihat Nang In sedang berdiri dengan kepala tertunduk ke bawah, dari tubuhnya mengeluarkan qi berwarna merah darah yang terasa menakutkan hingga membuat krongkongan Hwang Guo menjadi kering.


"A - Apa yang-" tanpa sadar Hwang Guo sudah terjatuh karena tak tahan dengan aura pembunuh yang begitu pekat yang diarahkan padanya.


"Si - Siapa kau!?" teriak Hwang Guo dengan panik, wajahnya sangat ketakutan "Tidak!....jangan mendekat!....tolong jangan mendekat.. ampuni aku!"


Nang In berjalan dengan sempoyongan sangat pelan, namun satu langkah kakinya seperti mengandung medan gravitasi yang membuat Hwang Guo tidak bisa melarikan diri.


Hwang Guo kini melihat Nang In seperti melihat malaikat maut yang hendak mencabut nyawanya, ia terus memohon dan meminta ampun, namun tidak dipedulikan sama sekali, bahkan Nang In berekspresi yang membuat pria tua itu sampai terkejut.


Nang In menyeringai kejam dengan matanya yang berubah menjadi hitam gelap, pupil berwarna merah bersinar terang, percikan darah di wajah dan gigi membuatnya semakin menakutkan!


Melihat hal itu Hwang Guo seketika menangis ketakutan bahkan mengompol dicelana, ia seperti sedang menghadapi kematian itu sendiri.


Mengangkat tangannya, Nang In menebaskannya dengan cepat hingga kepala Hwang Guo terpisah dari tubuhnya, sampai akhir hayatnya Hwang Guo masih memasang ekspresi wajah yang ketakutan.


Pada saat itu juga dari balik pepohonan muncul puluhan pasukan bertopeng mendarat di sekitar Nang In.


"Mustahil! Tetua Hwang...!?" ucap salah seorang pembunuh bertopeng yang terkejut melihat mayat Hwang Guo tergeletak tanpa kepala.

__ADS_1


Melirik ke arah pemuda di depannya, seketika hawa pembunuh yang pekat mengarah pada mereka membuat mereka memundurkan langkahnya.


"Anak itu! bagaimana punya aura pembunuh yang begitu kuat!"


"Siapa dia?!"


"Serang dia secara bersamaan!" menyadari ada sesuatu yang berbeda dengan Nang In, pembunuh bertopeng harimau berseru lantang ke anak buahnya.


Beberapa pembunuh bertopeng kucing menyerbu ke arah Nang In, dari pada merasa takut atau khawatir justru Nang In tersenyum, senyuman yang nampak gila. Qi berwarna merah bercampur hitam keluar dari dalam tubuhnya lalu menyebar ke sekitar area membuat sesak nafas pembunuh bertopeng yang mengincarnya.


Slash!


Nang In mengayunkan tangannya, seketika bilah berwarna merah bercampur hitam menembus beberapa pasukan pembunuh bertopeng hingga tubuh mereka seolah mengering lalu menjadi abu.


Melihat hal itu membuat pembunuh bertopeng lainnya merasa terkejut sekaligus takut, mereka baru pertama kali melihat serangan yang membuat orang hingga menjadi abu, belum lagi aura pembunuh yang keluar dari tubuh Nang In semakin lama semakin pekat, membuat pasukan pembunuh bertopeng semakin gentar tak berdaya.


"Jangan takut, dia cuman seorang diri! ungguli dengan jumlah!"


Teriak salah seorang pembunuh bertopeng harimau menyemangati anak buahnya yang sudah putus asa, namun karena lawan di depan mereka begitu tidak masuk akal, gerakan mereka nampak ragu akhirnya begitu mudah mati ditangan Nang In.


Nang In menciptakan dua pedang dari es yang berwarna merah, sambil menyeringai dengan kejam, ia melesat dengan gerakan yang diluar akal sehat, membunuh satu persatu pembunuh bertopeng dengan sekali tebas, terkadang Nang In terus menyerang bahkan lawannya sudah terbunuh.


Dengan mengorbankan beberapa nyawa anak buahnya, seorang pembunuh bertopeng harimau melakukan segel tangan, angin berwarna hijau keluar darinya, mengibaskan kedua pedangnya.

__ADS_1


"Wind Magic - Wind Breeze!"


Seketika hembusan angin besar melesat ke arah Nang In, sebelum serangan tersebut mengenai Nang In, sebuah gelombang berwarna merah menghantam angin tersebut hingga menghilang.


"Au - Auranya lebih pekat dari sebelumnya!"


Nang In kembali melepaskan sejumlah qi berwarna merah hitam lebih banyak dari sebelumnya, hingga membuat beberapa area disekitar terkena dampaknya, tumbuhan mengering, tanah menjadi gersang dan para pembunuh bertopeng mereka semua goyah dan hendak melarikan diri.


Swosh!


Namun Nang In tidak membiarkan hal itu terjadi, ia menciptakan bongkahan es raksasa yang berwarna merah melingkari musuh yang ada disekitarnya. Menjilat darah di pedang esnya, ia menyeringai lebar, senyumannya bagaikan teror bagi siapa saja yang melihatnya.


Di bawah bulan purnama yang belum sepenuhnya naik ke angkasa menjadi saksi bisu atas mulainya pembantaian yang terjadi pada malam itu.


**


Setelah keadaannya sedikit membaik, Liang Chou berusaha keluar dari aula yang masih menjadi tempat pertarungan antara para Tetua dengan pembunuh Harimau. Ketika hendak sampai di pintu keluar, ia cukup terkejut karena mencium aroma darah pada satu titik yang begitu menyengat di hidungnya.


Melihat keluar, mata Liang Chou melebar melihat pemandangan di depannya, puluhan mayat pembunuh bertopeng tergeletak mati dengan berlinangan darah, jika bukan itu bukan apa - apa karena tubuh dari pembunuh bertopeng itu seperti terpotong - potong dengan rapi, nampak berantakan.


Di bawah cahaya bulan yang memamerkan keindahannya ia melihat seorang pemuda sedang berdiri menghadap langit, tangan kanannya memegang sebuah kepala salah seorang pembunuh bertopeng, ia tidak tau ekspresi macam apa yang ditunjukkan dari pemuda itu karena membelakangi dirinya, namun satu hal yang pasti, ia merasakan teror yang teramat menakutkan ketika melihat pemuda di depannya.


Tubuh Liang Chou bergetar hebat ketika mengetahui bahwa pemuda itu melirik ke arahnya dengan wajah yang terdistorsi, menyeringai dengan kejam menunjukkan wajah yang penuh dengan kegembiraan padahal setelah membunuh puluhan manusia dengan sadis.

__ADS_1


Perhatiannya teralihkan ketika wajah pemuda itu nampak tidak asing baginya, disaat ia mulai mengenali wajah itu, pemuda di depannya telah menghilang dan muncul di hadapan Liang Chou dengan mengayunkan dua pedangnya.


__ADS_2