
Tubuhnya yang penuh kerak beraroma busuk memaksanya untuk mandi lebih lama di Danau Langit Biru
Setelah membersihkan badan, Nang In duduk bersila di batu besar yang terletak di tengah danau, di tepi danau terlihat Zhou Jin yang sedang mengamati Nang In dengan kedua tangannya yang diletakkan dibelakang punggung.
"Ingat In'er, tenangkan dirimu dan cobalah menyatu dengan alam"
"Baik Guru"
Nang In memejamkan mata berusaha mencerna apa yang diucapkan Gurunya, ia mencoba menyatu dengan alam sekitar, mengosongkan pikiran, memusatkan konsentrasi untuk lebih memahami dan mengerti.
Tujuannya adalah untuk menemukan apa yang disebut qi.
Pikiran Nang In begitu fokus dan semakin fokus, seketika indra pendengarannya meningkat secara signifikan hingga mampu mendengar suara - suara disekitarnya, suara tetesan embun, hembusan angin, desiran ombak, semuanya tidak luput dari pendengarannya.
Beberapa lama setelahnya, semua suara itu tiba - tiba menghilang berganti dengan kesunyian yang berlangsung begitu lama.
Beberapa hari, minggu bahkan satu bulan telah berlalu, selain makan dan tidur, aktivitas keseharian yang Nang In lakukan hanya duduk bersila.
Hingga pada suatu malam, ditengah udara dingin yang menusuk tulang, aliran energi misterius yang sangat tipis perlahan masuk ke dalam tubuh Nang In, ia membiarkan energi misterius itu masuk ke tubuhnya.
Nang In membuka mata karena merasa ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya.
"Apa ini yang disebut qi?"
Tubuhnya terasa lebih segar juga lebih ringan, panca indranya pun sedikit lebih peka dari biasanya, jika dapat melihat, maka di dalam tubuh Nang In telah muncul benang qi berwarna biru yang menjalar di setiap bagian tubuhnya, tepat di bagian perut terdapat pusat aliran fokus qi, atau yang kerap disebut Dantian.
Nang In mendesah panjang sambil merebahkan tubuhnya di batu, wajahnya terukir senyuman yang penuh dengan kepuasan, meskipun berkembang dengan sangat lambat, Nang In cukup bangga dengan dirinya sendiri.
Dari kejauhan Zhou Jin dan Lin Yue tersenyum puas karena Nang In telah berhasil, meskipun membutuhkan waktu satu bulan untuk menemukan qi, mereka berdua memakluminya.
**
__ADS_1
Keesokan harinya setelah mengisi perut, Nang In dikejutkan oleh puluhan buku usang dengan ratusan lembar halamannya yang terpampang jelas di depannya.
"Guru, untuk apa buku sebanyak ini?" tanya Nang In dengan polos.
"Tentu saja untuk kau baca" jawab Lin Yue sambil melempar buku tebal kepada Nang In.
"Bukankah aku masih dibawah umur untuk membaca semua buku raksasa ini?" Jangankan membaca, mengangkat satu buku saja Nang In sudah kesusahan.
"Justru karena kau masih dibawah umur maka harus banyak membaca, lagi pula pengetahuan itu sangat penting untuk Seorang Cultivator, khususnya ilmu pengobatan" Lin Yue menambahkan.
Tidak hanya kekuatan, namun ilmu pengetahuan pun sangat penting untuk seorang Cultivator bertahan hidup di dunia yang penuh dengan tipu daya, mempelajari ilmu bisnis, politik, strategi perang dan yang tidak kalah penting yaitu mempelajari Ilmu pengobatan.
"In'er, Gurumu ini adalah Tabib nomor satu di Benua Surga Utara, jadi kau juga harus mempela- uhuk" ucapan Zhou Jin terhenti karena Lin Yue menyikut perutnya.
"Tidak usah bicara yang tidak perlu, In'er ayo baca" Lin Yue tersenyum lembut, namun senyumnya mengisyaratkan sesuatu yang lain.
Melihat hal itu, Nang In mendadak ngeri, ia tidak mau menjadi korban keganasan Lin Yue, "Ba - baik, Guru"
Nang In membuka lembaran buku usang tersebut, meskipun di luarnya tampak usang, namun isinya tertulis dengan sangat rapi dan jelas, di dalamnya tertulis dasar - dasar untuk menjadi seorang Tabib yang baik dan beberapa ilmu dasar tentang pengobatan.
"Baik Guru"
Sejak kecil Shen Li sudah mengajarkan Nang In membaca dan berhitung, jadi ia dengan mudah membaca buku yang diberikan Lin Yue.
**
Beberapa waktu telah berlalu, matahari kian meninggi hingga ke tengah langit, di bawah pohon kelapa, terlihat seorang anak laki - laki terkapar lelah dengan wajah yang tertutupi sebuah buku, disekitarnya berserakan buku - buku tebal maupun tipis.
"Buku - buku yang ku berikan sudah kau baca In'er?" Lin Yue datang sembari membawa botol giok di tangan kanannya.
Nang In langsung bangkit dan memberi hormat kepada Lin Yue, "Sudah Guru!"
__ADS_1
Lin Yue memberikan sebotol giok kepada Nang In, "Minum ini, herbal ini akan membuatmu tenang dan meningkatkan kecerdasanmu"
"Terima kasih Guru" setelah meminum minuman herbal itu, Nang In diperintahkan Lin Yue untuk segera pergi ke ujung Pantai menemui Suaminya.
Nang In berlari menuju Pantai dan menemukan Zhou Jin yang berdiri tenang memandang lautan.
"Sudah siap Nak?" tanya Zhou Jin dengan santai.
Nang In mengangguk, matanya memancarkan semangat yang membara, "Tentu saja Guru"
Melihat muridnya yang bersemangat membuat Zhou Jin merasa senang, untuk latihan pertama ia memerintahkan Nang In untuk berlatih fisik, yaitu berlari mengelilingi pulau sambil membawa dua ember yang penuh dengan air.
Setelah matahari terbenam, Nang In menghentikan latihannya, ia kembali berkumpul kepada kedua Gurunya yang sedang melingkari api unggun.
Lin Yue memberikan minuman herbal yang terbuat dari Golden Grass berusia 5 tahun.
Golden Grass adalah rumput berwarna emas yang banyak tumbuh di Pulau Rempah, memiliki manfaat untuk meningkatkan kualitas tulang dan memperkokoh tubuh, elixir ini sangat berguna untuk memperluas qi di dalam Dantian seorang Cultivator.
Tidak seperti Blood Ginseng dan White Carrot, Golden Grass tergolong elixir yang sangat langka dan lebih berkhasiat dari elixir pada umumnya.
Semakin tua usia sebuah elixir maka akan semakin berkhasiat, Golden Grass yang Nang In minum berusia 5 tahun, tidak terlalu tua namun cukup untuk perkembangan Nang In diusia yang sekarang.
Setelah menghabiskan Golden Grass berusia 5 tahun, Zhou Jin memberikan beberapa tusuk sate yang sudah matang lalu menaburkannya dengan pasir, melihat itu Nang In merasa heran, ia mengambil sedikit pasir lalu mencicipinya.
"Hmm ini...?" mata Nang In melebar, ekspresinya menunjukkan tidak percaya dan rasa kagum.
"Hehe enak bukan?" Zhou Jin tertawa kecil, ia seakan paham dengan apa yang Nang In rasakan.
Pasir di Pulau Rempah berbeda dari pasir pada umumnya, pasir di pulau ini terdiri dari campuran beberapa rempah khusus yang berkualitas, tanpa daging pun pasir ini masih sedap untuk dicicipi, jika para Juru Masak mengetahui hal ini, mereka pasti berbondong - bondong untuk pergi ke Pulau Rempah dan mengambil pasirnya.
Nang In masih sibuk memainkan pasir di tangannya, ia cukup terkejut bahwa pasir yang selama ini ia pijak ternyata memiliki rasa yang begitu nikmat.
__ADS_1
Melihat hal itu Zhou Jin tersenyum seraya berkata, "Masih terlalu cepat untukmu terkejut In'er, masih banyak hal lain yang akan membuatmu kagum jika tinggal di Pulau ini,
Mungkin terlambat jika mengatakannya sekarang tapi, selamat datang di Pulau Rempah Nak"