
"Aku heran kenapa kau tidak mendaftarkan dirimu di turnamen muda tahun ini?" tanya Niiu sembari memakan sesuap sop buah buatan Nang In.
Setelah pertandingan terakhir berakhir, ketiganya langsung pulang ke kediaman yang dikhususkan untuk Star Alchemist Assosiasiation, sebagai teman untuk melepas penat, Nang In membuat sop dengan buah - buahan sebagai bahan utamanya. Membayangkan ketika hari sedang begitu panas dan ditemani es buah yang sangat menyegarkan, tentu siapa yang akan menolak jika dibuatkan makanan seperti itu.
Nang In menutup mata sembari menyenderkan tubuhnya di tembok depan halaman, membuka satu matanya, Nang In berkata dengan nada malas, "Tidak bisa, karena itu bisa mengganggu tugas pengawalanku"
Niiu yang sedang menyisir rambut panjang Xuan Li menghela nafas, wanita itu sebelumnya sudah menawarkan kepada Nang In untuk mengikuti turnamen muda, namun pemuda itu menolak dengan alasan takut menganggu tugas pengawalannya.
"Padahal jika kau ikut, aku yakin juara 1 sudah pasti kau dapatkan" ucap Niiu dengan ekspresi kecewa, Xuan Li yang terlihat sedang bersantai pun menganggukkan kepalanya, setuju dengan pendapat Niiu.
"Senior, anda terlalu berlebihan menilaiku" Nang In tersenyum masam, jika dirinya mengikuti turnamen muda pun belum tentu dapat menenangkannya, lagi pula keberadaan Song Zixin, Jian Long dan Bai Luinha menjadi tembok besar bagi Nang In untuk memenangkan pertandingan.
Terlebih lagi alasan sebenarnya kenapa pemuda itu menolak untuk mengikuti turnamen muda adalah untuk menyembunyikan jati dirinya sebagai seorang Heaven Seal dan sebagai buronan yang sedang dicari oleh seluruh Cultivator aliran hitam.
"Tidak!" Niiu menggeleng ringan, "Aku yakin kau tidak akan kalah bahkan lebih hebat dari dari para jenius Golden Stars itu!" Niiu menatap Nang In dengan tatapan penuh keyakinan.
Melihat wanita disampingnya yang begitu percaya padanya, Nang In tersenyum masam, ia sudah merasakan sendiri bertarung dengan beberapa Golden Stars seperti Liiu dan Song Zixin. Meski percaya diri dapat mengalahkan mereka berdua, tentu Nang In pasti mendapatkan luka yang tidak ringan.
Mengambil topeng burung hantunya, Nang In beranjak bangun, "Aku ingin berkeliling sebentar, tidak masalah bukan?"
"Tentu, lagi pula Nona Xuan akan aman bersamaku" jawab Niiu dengan santai, namun saat itu Xuan Li sudah
"Aku ikut" ucap Xuan Li sambil merapikan pakaiannya.
"Apakah anda serius Nona?" Niiu memiringkan kepala, "Bukankah anda benci panas terik seperti ini?"
"Ya te - tentu, namun tidak salah bukan jika sedikit berjalan - jalan" ucap Xuan Li dengan wajah sedikit memerah, berusaha sebisa mungkin untuk menutupi kegugupannya.
"Eh~?"
__ADS_1
Niiu tersenyum penuh makna melihat tingkah gadis itu, jangankan jalan - jalan, biasanya gadis itu sangat enggan untuk keluar dari kamarnya jika matahari masih memancarkan panasnya.
Jadi menyadari ada sesuatu yang berubah dari diri Xuan Li, membuat Niiu merasa senang, wanita itu langsung menarik tangan Xuan Li membawanya ke kamar, meninggalkan Nang In sendiri di delan halaman.
"Hey Niiu, apa yang kau lakukan!?"
Di dalam kamar Xuan Li berteriak tidak puas, Nang In tidak begitu mengerti apa yang sedang mereka lakukan, lagi pula pemuda itu tidak begitu mengerti apa yang ada dipikiran para gadis.
Setelah beberapa menit, akhirnya Xuan Li keluar dari kamar bersama Niiu, Xuan Li nampak berbeda dengan pakaian yang baru ia ganti, selain lebih bagus, gadis itu bahkan berdandan dengan bedak tipis diwajahnya.
"Ni - Niiu apa yang sebenarnya kau lakukan?!" ucap Xuan Li dengan wajah yang sedikit memerah.
"Sebagai putri dari Patriack Star Alchemist Assosiasiation anda harus selalu tampil menawan Nona" Niiu tersenyum memandangi gadis di depannya dari bawah hingga atas.
Xuan Li mengenakan seragam Star Alchemist Assosiation dengan motif bunga mawar, rambut panjang yang biasanya dilerai kini dikuncir kuda dengan hiasan emas sebagai hiasan di bagian samping kanan poninya, gadis itu nampak lebih cantik dari kebanyakan gadis seusianya.
"Kalau begitu tunggu apa lagi?" Niiu memiringkan kepala sembari tersenyum ceria, "Silahkan jalan - jalan"
Melihat keduanya sudah keluar dari kediaman, Xuan Li tersenyum lebar, ia tidak menyangka gadis manja yang sejak kecil selalu menempel padanya kini sudah remaja. Menatap langit biru yang begitu luas, wanita itu bergumam pelan.
"Cinta pertamakah?"
**
Sementara itu Nang In dan Xuan Li berjalan santai melihat - lihat kediaman Eternal Flame Clan, karena saat ini Klan Song menjadi tuan rumah, banyak Cultivator yang berasal sekte mana pun berjalan memenuhi jalan.
Keduanya kerap menjadi pusat perhatian, karena selain topeng yang Nang In kenakan identitas Xuan Li yang tidak biasa membuat banyak pasang mata melirik ke arah mereka.
"Hey, apa harus kita berjalan berjauh - jauhan seperti ini?" tanya Nang In dengan heran.
__ADS_1
Meski berjalan berdua, keduanya berjalan saling berjauhan, membuat Nang In merasa canggung harus bersikap seperti apa kepada Xuan Li.
"Ya - Ya harus! lagi pula aku tidak ingin orang - orang berpikiran aneh tentang kita" ucap Xuan Li sembari menundukkan kepala, rona merah terlihat di pipi manisnya.
"Benar sekali" ucap Nang In dengan singkat. Pemuda itu sebenarnya tidak terlalu memikirkan penilaian orang terhadap dirinya.
"In'gege!"
Saat itu suara yang tak asing terdengar, menoleh ke belakang ia melihat gadis berambut biru gelap yang ia temui ketika berada di Heaven Moon Sect, gadis itu adalah Qiau Mey.
"Maaf, mungkin kau salah-"
"Tidak!" Qiau Mey langsung menyela ucapan Nang In dengan tegas, "Sampai sekarang aku tidak pernah bertemu dengan pemuda yang memiliki aura pedang sekuat dirimu"
Memunculkan sebuah belati dengan batu merah delima sebagai hiasannya, gadis itu tersenyum lembut.
"Bukankah ini pemberianmu?"'
Menyadari jika dirinya tidak bisa mengelak, Nang In menghela nafas lalu membuka topengnya.
"Sepertinya aku tidak akan bisa mengelabuimu" Nang In tersenyum masam kepada Qiau Mey, kedua matanya yang dapat melihat aura seseorang itu membuat Qiau Mey dengan gampang mengenali seseorang.
"Itu sebabnya jangan meremehkan kemampuan hebatku ini hehe" Qiau Mey tertawa kecil sembari mengusap hidungnya dengan ekspresi bangga.
"Dasar bodoh, memangnya siapa yang sedang meremehkanmu?" Nang In balas tertawa.
Melihat Nang In dan Qiau Mey yang tertawa tanpa canggung membuat Xuan Li tidak nyaman, entah kenapa ada rasa sesak di dada yang membuatnya bingung, meski tidak mempunyai hubungan khusus dengan Nang In. Entah kenapa dari dalam lubuk hatinya menginginkan sesuatu dari Nang In.
"In'gege maukah kau beradu pedang denganku?"
__ADS_1
Saat itu lamunan Xuan Li pecah ketika mendengar ucapan Qiau Mey. Nang In tidak terkejut ketika mendengar tantangan yang keluar dari mulut Qiau Mey, pemuda itu tersenyum ringan sambil berkata.
"Ayo lakukan!"