Road To Immortality

Road To Immortality
Pertandingan di Dapur


__ADS_3

"Niiu apa yang terjadi, kenapa banyak mayat berserakan? dan ada apa dengan penginapan ini?!" tanya Xuan Li mendekat ke arah pengawal cantik pribadinya, pada saat ia bangun dari tidur, ia terkejut bahwa Niiu sudah tidak berada di sampingnya.


Ketika keluar kamar Xuan Li bertambah terkejut ketika turun ke lantai satu dan melihat keadaan penginapan yang hancur, ia menemukan jejak pertarungan berupa beberapa mayat yang mati dengan cara yang mengenaskan dan bekas qi yang belum hilang membuatnya cemas dengan keselamatan Niiu.


Ketika keluar melewati lubang besar yang tercipta di penginapan, ia melihat Niiu yang sedang berdiri di samping pemuda bertopeng yang disewa untuk mengawalnya.


"Nona Xuan! anda sudah bangun?" ekspresi Niiu menjadi lebih cerah ketika melihat Xuan Li menghampirinya bahkan dengan wajah yang terlihat khawatir padanya.


Niiu melanjutkan sembari tersenyum menggoda, "Apa anda mengkhawatirkan saya Nona?~"


Mendengar ucapan Niiu, Xuan Li mendadak gugup, "Khawatir? untuk apa aku mengkhawatirkanmu?", ucap Niiu membuang muka dengan wajah memerah, nampak malu jika mengungkapkan bahwa dirinya memang khawatir dengan keselamatan Niiu.


Niiu masih tersenyum sambil menutupi mulutnya dengan tangan, wanita itu begitu menikmati Xuan Li yang malu - malu, "Ah, jadi seperti itu~"


"Be - Berhenti menggodaku!" Xuan Li menghentakkan kakinya lalu menunjuk ke arah Nang In, "Kau! bukankah kami sudah menyewamu untuk untuk menjadi pengawal kami, lalu kenapa Niiu harus bertarung lagi!"


Nang In menggeleng ringan, "Aku tidak memaksanya untuk ikut bertarung, Senior sendiri yang suka rela masuk ke dalam pertarungan" ucapnya dengan acuh tak acuh.


Nang In kini memakai topeng putih berbentuk burung hantu yang memperlihatkan area mulut, sebelum Xuan Li datang Niiu memberikan topeng cadangan dari dalam cincin dimensinya kepada Nang In, membuat pemuda itu tertolong karena identitasnya terjaga setidaknya untuk saat ini.


"Kau tidak memaksanya, namun karena kau lemah, mau tidak mau Niiu harus ikut ke dalam pertarungan!" ucap Xuan Li mendekat ke arah Nang In lalu menudingnya.


"Lalu siapa orang yang menyewa orang lemah sepertiku untuk menjadi pengawal kalian?" Nang In mendekat ke arah Xuan Li.


Keduanya berhadapan satu sama lain memancarkan aura permusuhan yang begitu kuat, melihat mereka berdua membuat Niiu tersenyum lembut lalu mendekat sambil merangkul mereka berdua untuk melerainya.


"Heh sudahlah, tidak perlu diperpanjang, lagi pula saya baik - baik saja bukan?" Niiu tersenyum kepada Xuan Li.


"Cih jika begitu baiklah" Xuan Li membuang muka, ia sebenarnya masih tidak terima Niiu harus bertarung, meski malu mengakuinya namun gadis itu bersyukur bahwa Niiu baik - baik saja.


Sementara Nang In, pemuda itu memilih diam, lagi pula jika Niiu tidak masuk ke dalam pertarungan, mungkin ia akan mengalami luka yang fatal dan berakibat kematian jika bertarung dengan Sosok berjubah merah yang lebih kuat darinya.


"Kalau begitu, sebagai permintaan maaf karena membuat Nona khawatir, malam ini saya akan memasakan daging ayam untuk anda!" teriak Niiu dengan ekspresi semangat.

__ADS_1


Namun raut wajah Xuan Li mendadak berubah ketika mendengar ucapan Niiu. Namun tetap menjawab meski dengan sedikit gugup dan berkeringat dingin.


"Ah..ba - baik Niiu!"


**


Malam harinya di penginapan yang sama, lebih tepatnya di dapur, terlihat Niiu yang sedang sibuk mengolah daging Purple Chicken, berbeda dengan penampilan biasanya yang selalu tampil tertutup, wanita itu kini mengenakan pakaian biasa lengkap dengan apron, membuatnya terlihat seperti wanita normal.


Di meja makan yang lebar, terlihat Nang In yang mengenakan topeng dan Niiu yang duduk dengan tenang.


Keduanya saling berhadapan namun tidak saling menatap melainkan saling membuang muka, Nang In menjadi sangat bingung melihat ekspresi Xuan Li yang seperti ketakutan melihat Niiu mulai memasak.


Tidak hanya mereka berdua, di samping Niiu terlihat nenek tua pemilik penginapan yang duduk dengan kepala yang terperban, wanita tua itu terluka ketika Nang In bertarung melawan Cultivator dari West End Sect, penginapannya yang hancur membuat nenek tua itu bersedih namun Xuan Li mengatakan bahwa ia akan mengganti kerusakan penginapan.


"Niiu seharusnya kau tidak usah repot - repot untuk memasakkan untukku, lagi pula kita bisa membeli makanan" ucap Xuan Li yang sedari tadi seakan mencegah Niiu untuk memasak.


"Tentu tidak kerepotan Nona, lagi pula untuk anda saya akan melakukan apa pun" ucap Niiu tersenyum tanpa menoleh, ekspresinya sangat bahagia memotong daging di depannya.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Niiu selesai memasak menu makan malam hari ini yang berasal dari daging Purple Chicken.


Mengkonsumsi Demonic Beast begitu baik untuk tubuh seorang Cultivator, kebanyakan dari mereka memilih memenuhi perut mereka dengan daging Demonic Beast karena manfaat yang terkandung di dalamnya.


Sedangkan mengkonsumsi Demonic Lord Beast tentu memberi manfaat yang begitu banyak dan lebih baik dari mengkonsumsi daging Demonic Beast. Begitu pun seterusnya, dibandingkan daging Demonic Lord Beast, daging Realm Beast memiliki kualitas dan manfaat yang lebih banyak.


Semakin memakan daging beast dengan tingkatan tinggi, maka seorang Cultivator yang memakannya akan membuatnya menaiki tingkat kultivasi dengan cepat bahkan dapat memperkuat Body Cultivator dan memperbanyak aliran qi.


"Makanan sudah siap" Niiu tersenyum ceria sambil menaruh masakan yang ia buat di depan ketiganya.


Namun ketika melihat makanan di depannya Nang In seketika membatu di tempat. Dia benar - benar tidak menyangka akan melihat makanan dengan gaya seni yang sangat kacau.


Apa yang Niiu masak masih tidak bisa diucapkan sebagai makanan, karena selain bentuk yang kacau makanan tersebut sudah gosong dengan bumbu - bumbu yang berbau tidak sedap dan memancarkan aura yang membuat lalat pingsan ketika hinggap.


"I - Ini makanan?" Nang In melihat makanan di depannya dengan ekspresi aneh.

__ADS_1


"Tentu saja" ucap Niiu dengan singkat lalu menaruh masakannya di piring Xuan Li membuat gadis itu menelan ludah. Bukan karena makanannya yang menggoda namun bau yang dipancarkannya pemuda itu menjadi mereka semakin kuat.


Melihat masakan Niiu, Nang In teringat dengan masakan buatan pamannya yang bentuknya tidak jelas dan rasanya sangat tidak enak.


"Jadi itu sebabnya gadis cerewet itu berekspresi aneh!" gumam Nang In.


"Nona sini, biarkan saya menyuapi anda-"


"Aku bukan anak kecil! umurku 12 tahun!" ucapan Niiu tercekat karena Xuan Li berteriak kesal, gadis itu tidak puas jika diperlakukan seperti anak kecil.


"Baiklah aku makan!" Nang In memotong daging ayam tersebut lalu memasukkannya ke dalam mulut.


"Uuhhuuukkk!! apa ini sungguh makanan?" ucap Nang In ketika menelannya, ekspresi pemuda itu begitu kaget dan kacau karena makanan yang ia makan sangat tidak enak. Menoleh gadis di depannya, ia segera mengetahui jika masakan buatan Niiu sangat tidak enak.


"Berani sekali kau meragukan masakanku!" Niiu bertanya kepada Nang In dengan ekspresi tidak puas.


"Aku sungguh tidak meragukan masakanmu, hanya saja penampilannya sedikit sangat kacau!" ucap Nang In.


Niiu mengerutkan keningnya melihat Nang In memandang rendah masakannya, wanita itu mendekati ke arah Nang In lalu menancapkan pisau di tembok samping wajah pemuda itu, kini wajah keduanya hanya berjarak beberapa jengkal hingga dapat merasakan nafas mereka satu sama lain.


"Sepertinya kau mempunyai cara kepercayaan diri yang bagus dalam hal memasak, bagaimana jika kita berlomba tentang masakan mana yang paling enak!" ucap Niiu dengan dingin.


Nang In tersenyum, "Tentu aku percaya diri dengan kemampuanku, namun akan lebih menantang lagi jika ada hadiah yang di dapat untuk orang yang memenangi lomba ini, bagaimana apa senior setuju?" Nang In mendekatkan wajahnya lebih dekat kepada Niiu.


"Baiklah setuju!" ucap Niiu tanpa pikir - pikir panjang, "Kita akan memberikan sesuatu yang menurut kita berharga bagaimana?" Niiu memegang dagu Nang In membuat pemuda itu mendongak sedikit ke atas.


"Setuju!" ucap Nang In.


"Kalau begitu perlihatkan kemampuanmu" ucap Niiu lalu menarik pisau yang menancap di tembok samping Nang In.


Nang In tersenyum lalu mengenakan apron putih bersih untuk melindungi pakaiannya, mengambil dua pisau pemotong daging, pemuda itu berkata dengan percaya diri.


"Sekarang saatnya giliranku memasak!"

__ADS_1


__ADS_2