
Di iringi matahari yang hendak tenggelam, salah seorang pemuda pemudi bergerak melompati satu datang ke dahan lainnya, Nang In dan Qiau Mey memutuskan untuk pulang lebih cepat.
Entah karena ada angin apa tiba - tiba perasaan Qiau Mey sangat tidak tenang, resah dan gelisah, ia mencemaskan keadaan kedua orang tuanya di dalam sekte.
Nang In pun merasakan hal yang sama, meski tidak sekuat yang dirasakan Qiau Mey, namun jelas ia sangat terganggu dengan perasaan itu, jadi memutuskan untuk bergerak lebih cepat.
"Mey'er sebaiknya kita percepat perjalanan kita!" ucap Nang In sambil menengok ke gadis di sampingnya.
"Baik, eh apa yang In gege lakukan?!" Qiau Mey terkejut melihat Nang In berhenti lalu berjongkok.
"Cepat naik ke punggungku, kita tidak mempunyai banyak waktu lagi!"
Dengan raut wajah yang memerah juga ragu, Qiau Mey menjatuhkan tubuhnya di punggung Nang In.
Nang In yang mengetahui tingkat Kultivasi Qiau Mey sampai di Qi Gathering tingkat 8 tentu tidak akan bisa mengimbangi kecepatannya, jadi menggendongnya agar tidak tertinggal adalah cara yang tepat, hari menjelang malam, ia takut akan ada beberapa halangan yang menghadang, belum lagi perasaan tidak enak yang sejak tadi menggangunya, membuatnya semakin gelisah.
Nang In melesat dengan cepat, melompat dari satu pohon ke pohon lainnya, gerakannya nampak sangat lincah menyusuri ke dalaman hutan, tidak ada halangan diperjalanan sehingga bisa sampai lebih cepat.
Setelah beberapa meter lagi mencapai pintu masuk sekte, ia merasakan ada sesuatu yang salah, tidak ada penjaga yang menunggu di pintu masuk, selain itu asap hitam yang berasal dari dalam sekte mengepul ke angkasa, hal itu sontak membuat Qiau Mey langsung panik dan meminta Nang In untuk bergerak lebih cepat.
Namun saat itu juga Nang In merasakan niat membunuh samar yang mengarah padanya, "Satu...dua...tiga, setidaknya ada lima yang mengejarku!" gumam Nang In dalam hati sambil waspada dengan keadaan sekitar.
Dua pisau terbang ke arahnya, Nang In menghindari serangan itu dengan mudah, namun berikutnya, sosok yang memakai topeng kucing muncul dari balik semak lalu menyerang Nang In.
Nang In reflek menendangnya hingga membentur pohon, melirik ke arah Qiau Mey, ia menyuruh gadis itu turun agar dirinya bisa leluasa bertarung, sebelum memberi aba - aba, gadis itu berlari menuju sekte.
"Mey'er jangan gegabah!" teriak Nang In.
Tidak mendengarkan peringatan Nang In, Qiau Mey justru terus berlari dengan berlinangan air mata, ia sangat mengkhawatirkan keadaan kedua orang tuanya.
"Cih, kalian keluarlah, tidak usah bersembunyi seperti pengecut!" ucap Nang In mendengus dingin.
__ADS_1
Dari balik pohon muncul empat sosok bertopeng kucing yang memegang belati di tangannya masing - masing. Tatapan Nang In menjadi lebih dingin lalu melesat ke arah mereka.
**
Masuk ke dalam, perasaan Qiau Mey semakin gusar, ia melihat beberapa mayat anggota sekte nya tergeletak tewas dengan cara yang mengenaskan, ekspresi marah, sedih dan kesal menyelimuti dirinya.
Di sekitarnya pun banyak pertempuran yang terjadi di dalam sekte, para murid dan beberapa Tetua sedang bertarung habis - habisan dengan pasukan Pembunuh bertopeng.
Saat hendak berlari tiba - tiba, didepannya dihadang oleh empat pembunuh topeng kucing, Qiau Mey dengan cepat mengeluarkan sebuah pedang dari cincin ruangnya.
"Ingin pergi kemana Nona kecil hehe?"
Karena emosi Qiau Mey langsung menyerang ke arah mereka, dua dari mereka ikut menyerang, ketiganya bertarung lumayan sengit. Kedua sosok topeng kucing tidak menyangka bahwa gadis cantik di depannya mampu menahan mereka berdua, belum lagi kelihaiannya dalam bermain pedang benar - benar tidak boleh diremehkan.
"Serang bersama!"
Dua orang yang sebelumnya terdiam ikut bergerak dan membuat Qiau Mey sangat kesulitan, meski ia berhasil membunuh salah seorang dari mereka, namun beberapa bagian tubuhnya terluka, ketiga Pembunuh bertopeng itu terus menekan Qiau Mey hingga berhasil menghempaskannya beberapa meter ke belakang.
Qiau Mey mendengus kesal nafasnya naik turun tidak menentu, ia bangkit dengan kedua kaki yang gemetaran, mengenggam erat pedangnya ia merasa sangat tertekan karena kalah dengan mudah.
Beberapa langkah lagi pembunuh bertopeng itu mendekat, sebuah bola api mengenai wajahnya, membakarnya sampai mati. Hal itu membuat rekan - rekannya terkejut, menoleh ke sumber serangan, mereka melihat seorang pemuda yang mengenakan jubah hitam.
Qiau Mey tersenyum melihat Nang In datang, menoleh sekitar ia cukup terkejut bahwa Qiau Mey berhasil bertahan dari serangan empat pembunuh bertopeng bahkan membunuh salah satu dari mereka.
Dua pembunuh yang masih tersisa langsung bergerak ke arah Nang In dengan cepat, pemuda itu menciptakan dua tombak dari es lalu melemparnya tepat di jantung kedua pembunuh bertopeng itu hingga mati dengan keadaan terkejut.
"In gege, aku..." Qiau Mey merasa bersalah karena tidak mendengar ucapan Nang In.
"Telan ini" Nang In memberikan healing pill yang ia buat di Pulau Rempah, lalu berkata, "Kerja bagus karena sudah bertahan"
Qiau Mey tersenyum lalu menelan pill tersebut, energi qi berwarna hijau keluar dari bagian tubuh Qiau Mey yang terluka, seketika luka itu sembuh dengan cepat.
__ADS_1
Saat hendak pergi, beberapa pembunuh bertopeng muncul lalu bergerak ke arah mereka berdua, Nang In menghela nafas, uap dingin keluar dari mulutnya, mengibaskan tangannya.
Swosh!
Seketika beberapa pembunuh bertopeng itu membeku menjadi patung es, Qiau Mey yang mengetahui Nang In memiliki basic spirit es begitu terkejut.
"In gege, apakah kau berasal dari Frozen Island?" tanya Qiau Mey dengan sedikit terkejut.
"Hal itu akan ku jelaskan nanti, sebaiknya kita cepat masuk!"
"Baik In gege"
**
Sementara itu di dalam ruangan Patriack Ming sedang terjadi pertarungan yang berat sebelah, terlihat Liang Chou sedang melawan Hwang Guo dan pria paruh baya lainnya di tengah aula.
Di dekat mereka, salah seorang pria dengan rambut hitam setengah putih tersungkur tidak sadarkan diri di lantai, orang itu adalah Ming An, Patriack Heaven Moon Sect. Sedangkan di depannya, dua orang Tetua sedang bertarung melawan dua pembunuh bertopeng harimau.
"Ada apa Tetua Lang? apakah kehilangan lengan dan mata kananmu membuat kemampuanmu menjadi tumpul?" ejek Hwang Guo, kakek dari Hwang Yuan yang merupakan salah satu kandidat Patriack selanjutnya sekaligus pengkhianat sekte berbicara kepada Liang Chou yang sedang berlutut.
Liang Chou menggertakan gigi, setelah mengalami luka yang cukup parah pada pertarungan sebelumnya, kemampuan bertarungnya menurun drastis, belum lagi ia harus bertarung dengan lebih dari satu Tetua.
"Apakah benar ini Liang Chou yang terkenal berbakat itu? sungguh mengecewakan!" salah satu pria paruh baya lainnya menendang Liang hingga terpental membentur dinding.
Kedua Tetua yang Liang Chou lawan merupakan pengkhianat sekte, mereka dibawah komando Hwang Guo yang bekerja sama dengan sekte aliran hitam untuk menguasai Heaven Moon Sect.
Pada awalnya, rapat yang membicarakan terbunuhnya beberapa Tetua saat mengawal Qiau Mey tempo hari berjalan dengan lancar, namun tidak disangka di tengah - tengah itu Hwang Guo tiba - tiba berteriak ingin mengambil alih sekte dan saat itu juga pasukan bertopeng menyerang.
"Kenapa? kenapa kau mengkhianati sektemu sendiri!" tanya Liang Chou dengan ekspresi penuh kebencian, suara tawa yang nampak gila menjadi jawaban dari pertanyaan itu.
"HUHAHAHAHAHAHA LUCU SEKALI!"Hwang Guo menatap Liang Chou dengan tatapan merendah, "HEAVEN MOON SECT TELAH LAMA MATI, SAATNYA SEKTE ALIRAN HITAM KAMI UNTUK MENGAMBIL ALIH SEKTE LEMAH INI, JADI ENYAH DAN MATILAH!"
__ADS_1
Hwang Guo mengalirkan basic spirit api di pedangnya, lalu mengayunkan dengan cepat ke arah Liang Chou.