
Di bawah langit biru yang dipenuhi dengan awan lembut, angin menggerakkan pepohonan menerbangkan dedaunan, kicauan burung membuat suasana lebih tenang, sangat tenang.
Terletak di perbatasan antara kekaisaran Blue Diamond dengan Kekaisaran Black Sun, berdiri sebuah sekte besar yang sudah ada selama beberapa ratus tahun yang lalu hingga mempunyai luas ukuran selayaknya sebuah kota, sekte itu bernama, Heaven Moon Sect.
Sekte itu dikelilingi oleh pepohonan yang menjulang tinggi, nampak begitu menyatu dengan alam sekitar. Di tengah hutan, nampak dua orang sedang melangkah menuju Heaven Moon Sect, mereka adalah Nang In yang sedang menggendong seorang gadis berambut biru dan di sampingnya Liang Chou.
Perjalanan mereka tidak mengalami gangguan yang terlalu berat selain serangan dari demonic beast atau orang yang ingin merampok mereka, keduanya melanjutkan perjalanan sampai tiba di Heaven Moon Sect.
Saat beberapa meter lagi sampai di pintu masuk, dari balik pohon muncul beberapa Cultivator yang mengenakan seragam sekte yang serupa dengan seragam yang dikenakan Liang Chou, mereka adalah murid - murid dari Heaven Moon Sect.
"Hormat kepada Tetua Liang!", para murid itu langsung menangkupkan tinjunya kepada Liang Chou.
"Tetua Liang, apa yang terjadi kepada anda? dan di mana para Tetua lainnya?" ucap salah satu murid dengan nada panik melihat kondisi Tetuanya.
Melihat Liang Chou yang terdiam dan tidak berniat menjawab, murid tersebut langsung berkata.
"Oh benar, maafkan muridmu yang telah lancang ini", murid itu membungkukkan badannya, lalu berkata pada murid lainnya, "Tunggu apa lagi, cepat buka gerbang! dan sampaikan kabar tentang kedatangan Guru Liang!"
"Baikk!" para murid itu menjawab dengan serempak, melakukan apa yang diperintahkan pemuda tadi.
Melihat pemuda dengan penampilan yang seumuran dengannya memerintah murid lain, Nang In berpikir bahwa pemuda itu memiliki identitas yang tidak biasa.
Pemuda tersebut melirik ke arah Nang In yang menggendong gadis berambut biru dengan tatapan sinis, lalu berjalan menuju sekte meninggalkan mereka berdua.
Nang In hanya tersenyum kecil menanggapi sifat ketidaksenangan pemuda tadi kepadanya.
Liang Chou mempersilahkan Nang In untuk masuk, keduanya pun masuk ke dalam sekte.
Ketika Nang In dan Liang Chou memasuki sekte, mereka langsung disambut oleh para murid laki - laki maupun murid perempuan, beberapa Tetua pun ikut menyambut mereka, mereka begitu terkejut ketika melihat lengan kanan dan mata kanan Liang Chou yang hilang.
Di tengah kerumunan itu tiba - tiba terdengar teriakan seorang Wanita yang tampak panik, ciri - ciri wanita tersebut sangat mirip dengan gadis berambut biru yang sedang digendong oleh Nang In.
__ADS_1
"Anakku - Anakku! bagaimana keadaan anakku!", wanita itu menerobos masuk ke dalam kerumunan menuju Nang In yang menggendong seorang gadis.
"Bagaimana keadaan Anakku!?" Wanita itu langsung bertanya kepada Nang In dengan panik.
Nang In hendak menjawab, namun Liang Chou lebih dulu bicara, "Nona Ling, tolong tenangkan diri anda terlebih dahulu"
Mendengar jawaban Liang Chou wanita itu marah, "Bagaimana bisa tenang jika anakku-", namun ucapannya tercekat ketika melihat kondisi Liang Chou.
Wanita itu ingin berkata, namun Nang In lebih dulu menyela, "Nyonya, Putri anda hanya kelaparan dan kelelahan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan"
Mendengar hal itu, wanita itu langsung menghela nafas lega, ia segera mengambil gadis berambut biru itu dari gendongan Nang In dan membawanya masuk ke dalam.
"Tetua Liang, apa yang terjadi kepadamu dan di mana Tetua lainnya?"
Seorang pria paruh baya dengan kumis dan jenggot yang lebat mendekati mereka, para murid yang disekitar mereka memberi hormat, Nang In hanya bisa mengerutkan dahi sedangkan Liang Chou, menunjukkan ekspresi ketidaksenangan terhadap pria tua itu, meski begitu ia tetap memaksa untuk bersikap ramah.
"Tetua Hwang, seperti biasa ketika diperjalanan, kami diserang oleh beberapa tikus bayaran", Liang Chou memaksa tersenyum ramah.
Keduanya saling tersenyum satu sama lain namun entah kenapa senyuman mereka berdua lebih seperti tanda permusuhan.
"Benar sekali, maafkan tindakanku yang kurang sopan ini, anda pasti lelah bukan? silahkan Tetua Liang" pria paruh baya itu tersenyum sembari mempersilahkan Liang Chou untuk berjalan lebih dulu.
"Terima kasih" ucap Liang Chou sembari tersenyum.
Ketika mereka berdua lewat, pandangan pria paruh baya itu mengarah pada Nang In, seorang pemuda yang tidak bisa ia baca tingkat praktisinya. Ketika mereka berdua sudah menjauh, tangan pria paruh baya itu menggenggam erat, matanya menusuk tajam ke arah Liang Chou dan Nang In.
Nang In jelas mengetahui bahwa pria paruh baya tadi merupakan salah satu dari pengkhianat sekte yang dimaksud oleh Liang Chou.
Di sepanjang jalan, Nang In tidak henti - hentinya dilirik atau dibicarakan oleh murid - murid dari sekte tersebut, entah karena wajahnya yang terlalu mencolok atau mereka berpikir bahwa Nang In merupakan murid yang diangkat langsung oleh Liang Chou.
Liang Chou sendiri merupakan Tetua termuda yang mencapai ranah Earth Foundation Mid - Stage menjadikannya sebagai Tetua yang dikatakan sebagai sosok jenius, banyak murid yang ingin berguru langsung dengannya, namun ditolak, entah karena alasan apa Liang Chou menolak untuk mengangkat seorang murid.
__ADS_1
Hal itu membuat sebagian murid salah mengira dan cemburu ketika Nang In dekat dengan Liang Chou.
Liang Chou mengantarkan Nang In ke kamar kosong agar bisa beristirahat, sebelum itu ia meminta Nang In agar bersedia menjadi saksi atas penyerangan yang terjadi kepada dirinya.
Ketika sendirian di kamar, Nang In tidak beristirahat, melainkan berkultivasi menggunakan teknik Emperor Body, ia mengeluarkan beberapa demonic core yang ia bawa dari Pulau Rempah untuk mempercepat teknik Kultivasinya.
Sore berganti malam, Nang In terus berkultivasi meski belum menemukan tanda bahwa ia akan naik ke tingkat Earth Foundation, ia mengingat ucapan Zhou Jin bahwa sangat mudah ketika seorang Cultivator ingin naik ke tingkat Qi Gathering, namun ketika mencapai Earth Foundation kebanyakan Cultivator akan mengalami kenaikan yang cukup sulit.
Mengingat bakat Nang In yang begitu rendah ketika menaikkan tingkat Kultivasi, ia hanya bisa mendesah pelan, merebahkan tubuh di lantai, ia memikirkan banyak hal.
Namun saat itu juga, hawa membunuh yang begitu pekat mengarah padanya, Nang In langsung bangun dan mengeluarkan sebilah pedang, waspada dengan serangan yang akan datang.
Swosh!
Klang!
Dari balik pintu sebuah pisau kecil terbang ke arahnya, Nang In menangkisnya dengan mudah namun saat itu juga, beberapa sosok yang memakai pakaian hitam dan topeng putih menyerangnya secara bersamaan.
Krak!
Nang In secara reflek melapisi tubuhnya dengan es, seketika pedang dan pisau yang mengarah padanya membeku, para pasukan bertopeng terkejut ketika Nang In mengeluarkan basic spirit es.
Salah seorang dari mereka memberi kode kepada rekan - rekannya untuk melarikan diri, Nang In yang mengetahui hal itu tentu tidak berniat membiarkannya.
"Jangan pikir kalian bisa kabu-"
Wush!
Sebelum ia menyerang, sebuah cahaya terang menyilaukan seisi kamar menutupi pandangannya. Beberapa saat setelah cahaya itu hilang, sosok bertopeng putih sudah hilang melarikan diri.
Mengetahui hal itu Nang In mendengus kesal, saat itu juga satu lututnya menempel di lantai, ternyata sebilah belati sudah menancap di pahanya.
__ADS_1