
"Bagus - bagus! ayo kembali hibur aku botak HAHAHAHAHA!!!"
Seorang pemuda berambut kuning yang mempunyai tinggi sekitar 2 meter sedang dihantam begitu kerasnya oleh seorang biksu muda. Pemuda berambut kuning itu memasang ekspresi gila sedangkan biksu muda hanya memasang wajah datar saat menyambut setiap serangan.
"Mengesankan, tubuhmu terlatih dengan sangat baik!" ucap biksu itu sembari memainkan tongkat besinya dengan lihai.
Tidak jauh dari sana, berdiri seorang pemuda bermata sipit dengan pakaian serba coklat, mengamati pertarungan keduanya. Pemuda itu menyeringai seperti orang licik yang hendak menipu seseorang.
"Kekekek kedua orang itu kuat...! tidak sia - sia aku datang ke tempat ini...!" pemuda bermata sipit itu menjilat bibirnya namun mendadak menjadi waspada dan menarik dua belatinya karena merasakan ada orang di belakangnya.
"Tunggu! aku tidak bermaksud jahat!"
Dua ujung belati pemuda sipit itu berhenti beberapa meter sebelum mengenai leher seseorang yang muncul di belakangnya.
"Siapa kau?! Kenapa kau muncul di belakangku!?" Pemuda bermata sipit menyembunyikan keterkejutannya, ia cukup yakin dengan kewaspadaan dan kemampuan merasakan hawa Keberadaan seseorang, ketika pemuda berjubah hitam berada di belakangnya tanpa ia sadari, hal itu menjadi hal yang tidak biasa baginya.
"Perkenalkan namaku Nang In, aku kemari karena mendengar suara pertarungan" Nang In mengangkat kedua tangannya sambil tersenyum canggung.
"Baiklah aku terima alasanmu" pemuda sipit itu kembali menyarungkan kedua belatinya.
__ADS_1
Nang In mengangguk ringan sebelum menanyakan nama pemuda itu. Sebagai balasan pemuda sipit itu menghela nafas lalu mengulurkan tangannya.
"Namaku Xuo Duo, berasal dari Night Dagger Sect..."
Night Dagger Sect salah satu sekte menengah yang berada di Kekaisaran Blue Diamond, sekte itu lebih menekankan cultivator untuk mempelajari keterampilan belati, mereka terbiasa menjadi assassin atau mata - mata. Meski hanya sekte menengah namun Night Dagger Sect tidak bisa diremehkan karena mempunyai hubungan dengan Black Skull Valley.
Nang In pun balas menjabat tangannya, "Salam kenal Saudara Xuo, ku harap kita bisa berteman baik"
Xuo Duo tersenyum tipis lalu mengalihkan pandangannya ke pertarungan yang terjadi di depannya. Pertarungan mereka menjadi semakin seru untuk dilihat karena keduanya sama - sama melancarkan kemampuan yang tidak biasa.
"Bagaimana menurut saudara tentang kemampuan Saudara Jian?" tanya Xuo Duo melihat ke arah biksu muda yang mengayunkan tongkat besi.
Nang In menaikkan satu alisnya melihat biksu yang memainkan tongkat besinya seperti menggerakkan anggota tubuhnya sendiri, pemuda itu bernama Jian Long, diusianya yang baru berusia 15 tahun ia sudah mencapai Earth Fondation Low - Stage sehingga menjadi salah satu dari 11 Golden Stars yang berasal dari Great Monastery.
Tidak seperti Frozen Island yang terkadang memamerkan taringnya, Great Monastery begitu tertutup oleh dunia luar, lokasinya terletak di puncak gunung yang berada di Kekaisaran Heaven Golden. 'Cinta damai' adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan biara itu.
Karena meski perang besar antara aliran putih dan aliran hitam berkecamuk, Great Monastery memutuskan untuk diam dan jarang untuk ikut campur kecuali keadaan yang begitu mendesak. Lagi pula para biksu di dalamnya tidak terlalu tertarik dengan urusan dunia cultivator, mereka hanya ingin bermeditasi sesuai dengan ajaran keagamaan mereka.
Meski begitu, Great Monastery dirumorkan lebih kuat dari Frozen Island karena Patriack mereka yang mempunyai julukan Biksu Gila, sebelumya ia merupakan cultivator aliran hitam yang begitu kejam dan memutuskan untuk berubah ke arah jalan yang lurus, singkat cerita ia berhasil menjadi penerus Great Monastery.
__ADS_1
Xuo Duo mengamati dengan cermat pertarungan Weiheng dan Jian Long, Nang In menduga bahwa Xuo Duo sedang mengukur kekuatan sekaligus mencari kelemahan Weiheng dan Jian Long, apa yang dilakukan Xuo Duo merupakan cara yang bagus untuk menambah peluang untuk menang jika sewaktu - waktu bertarung dengan keduanya.
"Gerakan biksu itu cukup cepat dan yang paling penting tubuhnya begitu lentur" ucap Nang In sembari mengelus dagu.
Apa yang membuat Nang In merasa kagum selain permainan tombak Jian Long adalah tubuhnya yang begitu lentur, seolah - olah tidak mempunyai tulang belakang. Gerakan tangannya yang begitu luwes membuat tongkat yang diayunkan seperti sebuah cambuk.
Selain itu tongkat hitam yang dicampur warna emas milik Jian Long merupakan salah satu spirit tool yang mempunyai kualitas tinggi dan termasuk salah satu harta Great Monastery hal itu juga yang mendukung kemampuannya menjadi semakin baik.
"Tapi sayangnya itu belum cukup untuk mengalahkan orang itu!" Ekspresi Nang In menjadi serius ketika menatap orang yang menjadi lawan Jian Long.
Pemuda dengan tubuh sebesar beruang yang memiliki rambut kuning, meski hanya menggunakan tangan kosong, namun karena kekuatan fisiknya yang tidak normal ia mampu menandingi sosok biksu tersebut.
Pemuda itu pernah melawan Nang In sekali, ia adalah Weiheng!
"Hahahaha menarik! gerakanmu begitu cepat dan sangat lentur, tapi bisakah kau mengikutiku gerakanku?" Weiheng menyeringai lalu bergerak dengan cepat lebih dari sebelumnya, kekuatan dan kecepatannya membuat Jian Long terpaksa harus meningkatkan kecepatannya.
Permainan tongkat yang dilakukan Jian Long termasuk jurus tingkat tinggi, namun Weiheng mampu menahannya dengan kemampuan tangan kosong. Memang menyerang secara membabi buta, namun setiap serangan yang dilepaskan melebihi kekuatan Jian Long sendiri.
Pertarungan mereka menjadi semakin serius hingga menjadi pusat perhatian para murid disekitar mereka, alhasil Nang In memutuskan melanjutkan perjalanan untuk kembali melihat - lihat seisi Klan. Lagi pula akan jadi masalah jika Weiheng mengenalinya.
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan Xuo Duo, Nang In menjauh dari kerumunan, Xuo Duo yang melihat telah Nang In menjauh, menyipitkan mata, diam - diam pemuda itu mengamati tingkat praktisi Nang In namun tidak berhasil membaca pemuda itu sama sekali. Nalurinya berkata bahwa bukan tindakan yang baik jika mencari urusan dengan Nang In.
Meski begitu Xuo Duo tetap menyeringai lebar, ia seperti menemukan sesuatu yang menarik. 'Menarik, sepertinya aku mempunyai lawan yang bisa aku hancurkan kekeke!'