Road To Immortality

Road To Immortality
Babak Utama IV


__ADS_3

"D - Dia bertarung seimbang dengan salah satu 11 Golden Stars?"


"Ternyata Weiheng tidak selemah yang dikira"


"Benar itu membuatku terkejut"


"..."


Para Cultivator yang menonton pertarungan Weiheng dengan Jian Long begitu terkejut karena Weiheng dapat bertarung seimbang dengan salah satu jenius dari Great Monastery.


"Hmm ternyata pria besar itu lumayan hebat juga, padahal yang dia lawan jenius dari salah satu sekte besar" Niiu mengelus dagu melihat Weiheng dan Jian Long dibawa pergi ke ruang pengobatan.


Jika pemenangnya adalah Jian Long, tentu hal yang wajar karena mengingat pemuda itu murid dari sekte besar yang menerima sumber daya yang mencukupi dan guru yang mengajarinya teknik kultivasi. Berbeda dengan Weiheng, seorang Rouge Cultivator yang harus mencari sumber daya sendiri dan berlatih tanpa arahan dari sekte manapun.


"Tentu saja pria beruang itu menang, meski otaknya sedikit tidak dipakai, namun secara kekuatan dia cukup memadai untuk bertarung seimbang dengan Jian Long" Nang In ikut bicara, lagi pula ia pernah bertarung sekali dengan Weiheng jadi pemuda itu paham tentang kemampuan pria besar itu.


Sementara Nang In dan Niiu yang membicarakan kemenangan Weiheng, Xuan Li fokus pada Zihan Shi yang ingin melanjutkan pertandingan.


"Baiklah untuk pertandingan selanjutnya kita akan melihat aksi dari salah satu Flame Warrior, dia adalah...Song Zixin!" teriak Zihan Shi sambil menunjuk sisi kanan, "Kemudian yang akan melawannya adalah Gomuy dari...Blood Mist Sect!"


Setelah mengatakan itu datang pemuda dari sisi kanan dan sisi kiri, mereka adalah Song Zixin dan Gomuy yang akan bertarung selanjutnya.


"Langsung saja pertandingan selanjutnya akan dimulai... sekarang!" teriak Zihan Shi kemudian menjauh dari dua pemuda yang akan bertarung tersebut.


"Hmm tak ku sangka aku akan bertarung langsung dengan salah satu Flame Warrior" ucap Gomuy sambil membungkuk hormat, "Suatu kehormatan untukku"


"Kau tidak perlu kaku terhadapku, lagi pula kita sama - sama Cultivator berbasis spirit api" Song Zixin tersenyum kemudian tiba - tiba menghilang lalu muncul di depan Gomuy sambil mengayunkan tinjunya.


Gomuy dengan sigap langsung menahannya seolah hal yang biasa, "Bukankah kau terlalu terburu - buru?"


"Ayolah apa kau mengikuti turnamen ini untuk mengobrol?" Song Zixin memiringkan wajahnya.


"Haha baiklah jika itu yang kau mau" setelah mengatakan itu Gomuy melepaskan tinju Song Zixin kemudian menendangnya dengan keras.


Song Zixin dapat menahannya namun terpental beberapa meter, pemuda itu tersenyum kemudian perlahan disekitar tubuhnya mengeluarkan percikan api.


"Bagaimana jika kita mulai lagi?" Song Zixin menyeringai kemudian detik berikutnya pemuda itu sudah berada di belakang Gomuy sambil mengayunkan tendangan apinya.


DUAR!

__ADS_1


Gomuy menahannya dengan tinju api miliknya, setelah itu keduanya sama - sama melancarkan serangan masing - masing, meski mereka bertarung dengan tangan kosong namun karena diselingi basic spirit api, serangan mereka sama sekali tidak bisa diremehkan.


"Mereka nampak seimbang, bukankah begitu Niiu?" Xuan Li bertanya kepada Niiu.


Niiu ingin menjawab namun Nang In lebih dulu menjawab, "Tidak, perlahan tapi pasti Song Zixin kualahan menghadapi setiap serangan Gomuy"


"Tapi jika dilihat-"


"Jangan hanya melihat secara asal - asalan, karena perbedaan ketrampilan mereka sangat jauh, Song Zixin membutuhkan tenaga yang lebih banyak untuk mengimbangi gerakan Gomuy"


"..."


"Apa? apa ada yang salah dengan ucapanku?ada apa dengan wajahmu?" tanya Nang In dengan ekspresi datar.


Mendengar ucapan Nang In membuat Xuan Li membuang muka sambil mengembungkan pipinya, gadis itu merasa sebal karena penilaiannya salah di mata Nang In. Biasanya kebanyakan orang yang berbicara dengannya tidak akan berani membantah atau mengeritik penilaiannya meskipun itu salah.


Namun Nang In justru berterus terang tanpa memperhatikan harga dirinya, hal itu membuatnya tersinggung sekaligus membuat Niiu tersenyum canggung kepada tingkah laku keduanya.


"Apa ini, kenapa dia bisa memojokkan Song Zixin begitu mudahnya?"


"Apa murid dari Blood Mist Sect memang sekuat ini?"


"Benar, kemampuan bela diri mereka begitu jauh satu sama lain"


"..."


"Sepertinya kau cukup tangguh!" Song Zixin tersenyum setelah terpental dari serangan Gomuy.


"Tidak, aku hanya beruntung karena kau sama sekali belum menunjukkan kemampuanmu yang sebenarnya" Gomuy tersenyum ringan, ia tidak dibutakan dengan kesombongan meski dapat memojokkan Song Zixin.


"Untuk Cultivator kuat sepertimu bukankah kau terlalu merendah?" Song Zixin memiringkan kepalanya.


Gomuy tersenyum lalu melebarkan kedua tangannya, "Untuk apa aku sombong? dunia ini luas, sangat banyak jenius di luar sana yang mempunyai kemampuan di luar akal sehat, contohnya pemuda itu..." Gomuy melirik ke arah ke tempat Star Alchemist Assosiasiation, lebih tepatnya ke arah Nang In.


"Aku heran kenapa pemuda sekuat dirinya tidak ikut turnamen sebesar ini?" Gomuy tersenyum ke arah Nang In.


"Benar, dia orang yang kuat" ucap Song Zixin sembari melihat Nang In, "Namun bagaimana kau tau bahwa dia orang yang kuat, apa kau pernah bertarung dengannya?"


"Tidak, namun hanya melihatnya saja membuatku tau bahwa pemuda itu sangat kuat" Gomuy menatap tajam Nang In, "Bagaimana tidak, lihatlah pancaran qi disekitar tubuhnya yang tidak biasa itu"

__ADS_1


Song Zixin terkejut dengan ucapan Gomuy, setidaknya ia mengetahui Nang In kuat karena karena pernah bentrok dengannya ketika berada di kediamannya, sedangkan Gomuy hanya dengan melihat bisa mengetahui bahwa Nang In kuat? Tentu hal ini membuatnya terkejut!


"Sepertinya aku benar - benar harus bertarung serius melawanmu!" ucap Song Zixin sambil menatap tajam, perlahan percikan api menari - nari disekitar tubuhnya.


BLUSH!


Kobaran api yang begitu panas tiba - tiba menyelimuti tubuh Song Zixin, perlahan api yang berkobar mengecil dan berkumpul di kedua tangan dan kaki membentuk cakar dan membentuk tanduk di kepala, sosoknya sedikit berubah dengan penampilannya yang baru.


"Sihir Api - Zirah Singa!, Baiklah bagaimana jika kita mulai lagi!"


Gomuy menyeringai melihat perubahan Song Zixin, "Jadi kau memutuskan untuk lebih serius? Bagus, itu baru menarik!" Sebagai seniman bela diri tangan kosong, pemuda itu segera memasang kuda - kuda, kedua kepalannya diselimuti api yang begitu besar.


Keduanya tiba - tiba menghilang kemudian muncul di tengah - tengah arena sembari menyerang satu sama lain.


Swosh!Blar!


Asap dan percikan api berkobar di antara keduanya, setelah beberapa saat saling mendorong keduanya menghilang kemudian saling baku hantam satu sama lain, keduanya menyerang secara bergantian, memukul, menendang, membanting, mencakar.


"Teknik Bara Api - Tinju Api Beruntun!"


Gomuy melakukan kuda - kuda dasar kemudian memukul secara beruntun menciptakan bola - bola api yang bergerak ke arah Song Zixin.


BLUSH!


"Sihir Api - Cakaran Singa Api!"


Song Zixin mencakar semua bola api yang mengarah padanya dengan mudah.


SLASH!BLAR


Setelah itu keduanya kembali baku hantam satu sama lain, meski Song Zixin kalah dalam teknik namun karena basic spirit apinya yang begitu besar hal itu yang membuat ia dapat melukai Gomuy.


"Ini seperti tidak ada habisnya, sepertinya harus ku akhir sekarang!" ucap Song Zixin sambil mengusap darah di mulutnya.


Karena serangan Gomuy pemuda itu terpental beberapa meter, Song Zixin yang nafasnya sudah memburu mengambil inisiatif dengan menciptakan bola api kecil di telapak tangannya. Pemuda itu memejamkan mata kemudian perlahan bola api itu membesar hingga panasnya dapat terasa oleh para penonton.


"Sepertinya kau sangat bersemangat, kalau begitu aku juga...!" ucap Gomuy sembari tersenyum gila, pemuda itu melakukan kuda - kuda yang begitu unik membuat api menari - nari disekitar tangannya. Api itu terserap kedalam kepalan tangan kanannya hingga membuat tangannya memerah api.


"Cukup, kau tidak boleh melakukan lebih dari ini!"

__ADS_1


Saat Gomuy ingin melepaskan tinjuan apinya, terdengar pesan telepati dari seseorang yang ia kenal, pemuda itu spontan mengarah pada sosok berjubah merah yang berada di kursi penonton.


Menghela nafas panjang, Gomuy mengangkat tangannya, "Aku menyerah...!"


__ADS_2