
"Nona Qiau, kemana saja kau pergi?" Pemuda itu mendekat dengan ekspresi panik sekaligus marah.
"Aku hanya berjalan - jalan sebentar, apakah itu salah?"
"Tentu saja salah! seharusnya kau meminta izin terlebih dulu kepadaku sebagai tunanganmu!" ucap pemuda itu dengan nada tinggi.
Qiau Mey ingin menjawab namun tertahan, ekspresinya nampak seperti tertekan, tangannya mengepal erat bajunya.
Nang In yang melihat itu seketika paham dengan situasi yang terjadi.
Pemuda itu melirik ke arah Nang In dengan tajam lalu berkata, "Jangan berpikir bahwa karena kau dekat dengan Tetua Liang, sehingga kau bisa berlaku semena - mena!"
Nang In menaikkan satu alisnya, "Bukannya yang berlaku semena - semena adalah dirimu?"
"Jika kau mempermasalahkan sikap ku kepada Nona Qiau, hal itu tidak jadi masalah karena dia adalah tunanganku"
Nang In tersenyum lalu melirik ke arah Qiau Mey, "Nona Qiau, apakah benar bahwa dia adalah tunanganmu?"
Qiau Mey terdiam, nampak ragu untuk menjawab, "Aku..."
Melihat reaksi Qiau Mey, pemuda itu marah, "Nona Qiau cepat katakan pada orang asing ini, bahwa kita telah bertunangan!"
Qiau Mey nampak semakin tertekan, membuat pemuda itu semakin marah.
"NONA QIAU, BUKANKAH ORANG TU-"
"Bukankah jelas bahwa yang bertunangan adalah orang tua kalian dan bukan kalian?" tanya Nang In dengan muka polos, "Lagi pula Nona Qiau sepertinya tidak menganggapmu sebagai tunangannya"
"Berani sekali kau b-jingan!" pemuda itu mengeluarkan pedang lalu menyodorkan ke leher Nang In, "Bagaimana jika kita berduel!"
"Untuk alasan apa aku bertarung denganmu?" Nang In mengangkat bahunya, nampak tidak takut bahkan terkesan tidak peduli.
"Jika aku menang jauhi Nona Qiau dan angkat kaki dari tempat ini!"
"Jika kau kalah, maka putuskan pertunanganmu dengan Nona Qiau, bagaimana?"
Ucapan Nang In membuat Qiau Mey terkejut sekaligus bingung.
Pemuda itu terdiam sesaat, Nang In kembali bicara, "Jika kau takut, tidak apa - apa"
Mendengar Nang In meremehkan dirinya, pemuda itu menggertakan gigi, "Baiklah, jika kau menang! aku akan memutuskan pertunanganku dengan Nona Qiau!" teriak pemuda itu hingga terdengar oleh para murid yang berdekatan di sekitar area.
Nang In tersenyum kecil lalu melangkah menuju arena di depannya, "Baiklah, tunggu apa lagi?"
"Saudara Nang, ini-" Qiau Mey tampak ragu, karena dirinya Nang In harus berurusan dengan tunangannya.
"Tidak usah khawatir, aku hanya ingin melemaskan bahuku" Nang In tersenyum sambil melakukan pemanasan.
"B-jingan! akan ku bungkam mulut sombongmu itu!" pemuda itu naik ke atas arena.
Para murid dan beberapa Tetua yang mengetahui duel itu langsung berkumpul disekitar arena, mereka ingin menyaksikan murid paling berbakat dari Heaven Moon Sect bertarung.
Pada umumnya seorang Cultivator berumur 16 tahun yang sudah menembus Qi Gathering tingkat 12 dikatakan sebagai Cultivator berbakat, namun dibandingkan dengan pemuda yang akan menjadi lawan Nang In, hal itu bukanlah apa - apa.
__ADS_1
Pemuda itu bernama Hwang Yuan, diumurnya yang ke - 15 tahun dia berhasil menembus ranah Earth Foundation Low - Stage, membuatnya menjadi murid paling berbakat di Heaven Moon Sect dan begitu disegani oleh para murid juga dibanggakan oleh para Tetua.
Selain itu Hwang Yuan terlahir di keluarga bangsawan yang mendominasi Heaven Moon Sect, sekaligus Kakeknya Hwang Guo, menjadi kandidat Patriack sekte selanjutnya, membuatnya merasa di atas angin dan merasa bisa berlaku semena - mena karena dukungan keluarganya.
Hwang Yuan mengambil sebuah pedang kayu lalu melemparnya ke arah Nang In, "Pakai itu, jika menggunakan pedang asli, aku takut kau akan langsung mati dalam beberapa jurus!"
"Terima kasih atas perhatian anda Tuan Muda" Nang In tersenyum santai sembari membungkuk hormat.
Perlakuan Nang In justru membuatnya seperti direndahkan.
"Sepertinya kau benar - benar meremehkanku!" Hwang Yuan memasang kuda - kuda, ekspresinya kian serius, beberapa detik kemudian.
Swosh!
Pemuda itu melesat dengan cepat, "Ku bunuh kau!"
"Coba saja jika bisa", ucap Nang In sembari tersenyum mengejek.
Pedang kayu saling berbenturan, keduanya berhadapan saling menekan satu sama lain. Hwang Yuan menggertakan giginya, ia terkejut jika dirinya kalah dalam hal kekuatan.
"Lemah!"
Setelah mengatakan itu Nang In menendang perut Hwang Yuan hingga terhempas beberapa meter. Hwang Yuan dengan sigap mengayunkan pedangnya beberapa kali.
"Terima ini!"
"Wind Magic - Wind Slash"
Beberapa bilah angin melesat dengan cepat memotong udara dan menggores permukaan lantai, Nang In melakukan sedikit gerakan menghindari semua serangan itu dengan mudah.
"Wind Magic - Wind Blow!"
Wosh!
Hembusan angin hijau muncul dari bawah ke atas, menerbangkan Nang In hingga 10 meter ke atas langit lepas.
Hwang Yuan mengalirkan mana di pedangnya lalu mengayunkan dengan cepat dan berulang kali.
"Wind Magic - Wind Slash!"
Puluhan bilah hijau berukuran kecil berterbangan ke arah Nang In, nampak lebih ganas dari serangan sebelumnya.
Tidak hanya itu, Hwang Yuan kembali melakukan segel tangan, angin hijau merembes keluar dari tubuhnya.
"Wind Magic - Wind Eagle!"
Angin hijau tersebut membentuk seekor elang lalu terbang ke arah Nang In.
Hwang Yuan tersenyum seakan sudah menang, namun senyuman itu tidak bertahan lama, karena menyaksikan apa yang dilakukan Nang In.
"Mengesankan, namun jika hanya itu tidak akan cukup untuk mengalahkanku!" di udara tubuh Nang In mengeluarkan qi murni.
Dia mengalirkan qi di pedangnya lalu mengayunkan dengan cepat, lebih cepat dari yang dilakukan oleh Hwang Yuan.
__ADS_1
Slash! Slash! Slash!
Belasan bilah berukuran besar yang terbuat dari qi murni tercipta, memblokir semua jurus Hwang Yuan yang mengarah padanya.
Mendarat ke lantai dengan lembut, Nang In berkata, "Harus ku akui bahwa jurus - jurus tadi sangat mengesankan, namun kau melupakan sesuatu yang penting"
Nang In menunjuk Hwang Yuan menggunakan pedangnya, "Kau melupakan eksistensi asli dari gaya Heaven Moon Sect dalam memainkan pedang"
"DIAM! ORANG LUAR SEPERTIMU TAHU APA TENTANG HEAVEN MOON SECT!"
Hwang Yuan menggertakan gigi, dadanya kembang kempis karena marah juga lelah, tidak disangka serangannya dapat ditahan dengan mudah oleh Cultivator yang tingkat Kultivasinya lebih rendah darinya.
Nang In sengaja membiarkan semua orang mengetahui tingkat Kultivasinya untuk menekan mental Hwang Yuan dan menghancurkan kesombongannya. Diremehkan oleh seseorang yang tingkat Kultivasinya lebih rendah darinya, bagi pemuda itu, sudah seperti sebuah penghinaan!
"Bahkan orang asing sepertiku dapat memahami gaya Berpedang Heaven Moon Sect dengan mudah", Nang In memainkan pedang yang tampak indah namun mematikan.
Semua orang tampak terhipnotis melihat gerakan Nang In yang seperti sedang menari, nampak tenang menyejukkan hati, seperti rembulan yang menyinari kegelapan malam.
Qiau Mey yang melihat itu tanpa sadar menumpahkan air matanya, ia mengingat sosok yang telah lama ia rindukan.
"Jika kau hanya menggunakan nafsu untuk mengejar kekuatan, kau tidak akan mampu memahami arti dari gaya berpedang Heaven Moon Sect yang sesungguhnya"
Sembari melakukan tarian pedang, Nang In terus menasihati, tidak! lebih tepatnya menginjak - injak harga diri Hwang Yuan.
"DIAM!"
"Kau akan tersesat di dalam hutan kesombongan dan jurang keputusasaan tanpa batas"
"DIAM"
"Mati membusuk tanpa bisa melakukan apa pun"
"DIAM, KU BILANG...!"
Seluruh tubuh Hwang Yuan tertutupi angin, merasa harga dirinya diinjak - injak, ia melesat dengan ganas seperti ingin mencabik - cabik Nang In!
"Gaya berpedang Heaven Moon Sect menitik beratkan pada ketenangan dan keindahan disetiap gerakannya..." Nang In menyambut serangan Hwang Yuan.
"DIAM!"
Swosh! Slash!
Hwang Yuan melancarkan serangan dan melewati Nang In begitu saja, keduanya terdiam sesaat sampai Nang In mengayunkan pedangnya.
"Seperti rembulan indah yang menyinari gelapnya malam!"
Krak!
Pedang kayu Hwang Yuan patah menjadi dua lalu terjatuh tidak sadarkan diri, duel ini sudah jelas siapa pemenangnya.
"Saudara Nang, bagaimana bisa..."
Mata Qiau Mey melebar saat melihat gerakan Nang In, bahkan menunjukkan reaksi aneh, kedua mata gadis itu sedikit bersinar, membuat mata birunya nampak lebih indah dari biasanya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kau memiliki aura pedang setajam ini!?"