
Nang In meningkatkan kewaspadaannya, namun perlahan aura pembunuh tersebut menghilang, detik itu juga terdengar suara keributan di lantai pertama.
Nang In mengecek suara keributan di lantai pertama, ia melihat tujuh orang salah satu dari mereka adalah pria botak yang mempunyai tinggi hampir dua meter, tubuh kekar ditambah penutup mata membuatnya nampak menakutkan.
"Aku tau putri Patriack Star Alchemist Association berada di sini! kalian semua, cepat beritahu di mana gadis itu berada!" Pria kekar itu berteriak ke arah para pengunjung dengan ekspresi garang.
Keenam rekan pria kekar itu masuk dan menyebar ke sudut ruangan membuat para pengunjung yang kebanyakan adalah manusia biasa langsung ketakutan.
Belum lagi mereka semua Cultivator yang berasal dari West End Sect, sekte kecil aliran hitam yang ada di Kekaisaran Black Sun. Meski hanya sekte kecil namun jika manusia biasa melawan mereka tentu perbedaannya akan sangat jauh.
Pada saat para pengunjung ketakutan dan terdiam, wanita tua yang merupakan pemilik penginapan langsung menghadang mereka dengan tubuh yang gemetaran.
"Tu - Tuan..., to - tolong jangan buat keributan di penginapan ini!" ucap wanita tua itu dengan ekspresi ketakutan.
"Hey tua bangka! berani sekali kau menghadang Tuan kami, apa kau tidak tau siapa dia?!" salah satu anak buah pria kekar itu berseru tidak puas.
"Bu...Bukan seperti itu Tuan, hanya saja-!"
Ucapan wanita tua itu tercekat karena melihat sebuah pedang yang berjarak satu senti dari lehernya.
"Sepertinya aku harus menebas lehermu terlebih dahulu agar kau paham!" Pria itu melirik pria botak disampingnya, "Dia adalah salah satu Cultivator terhormat di West End Sect, ia adalah Tuan Louwon!"
Cultivator di belakangnya berteriak dengan penuh semangat, pria botak yang disapa Louwon itu tersipu sambil membusungkan dada, nampak begitu bangga dengan sorakan yang ia terima.
Sedangkan para pengunjung yang mengetahui bahwa mereka berasal dari West End Sect, membuat lutut mereka menjadi lemas.
Mereka mengetahui tentang sekte tersebut karena beberapa hari terakhir mereka membuat kekacauan di beberapa desa yang letaknya jauh dari Kekaisaran.
"Cukup!" Louwon menghentikan sorakan teman - temannya lalu melirik ke arah wanita tua, "Hey! cepat beritahu di mana keberadaan gadis itu kepada kami, jika tidak, maka penginapan ini akan kami ratakan dengan tanah!"
Louwon mengeluarkan aura pembunuhnya yang membuat nenek dan para pengunjung gemetar.
"To...Tolong j - jangan ratakan tempat ini tuan, penginapan ini satu - satunya peninggalan suami saya!" wanita tua berlutut sambil meneteskan air mata. Penginapan ini adalah peninggalan terakhir suaminya yang akan ia jaga sampai akhir hidupnya.
"Kalau begitu cepat beritahu keberadaan gadis itu!" teriak Louwon di hadapan wanita tua itu.
Wanita tua itu terdiam, namun ekspresinya yang menyembunyikan sesuatu langsung diketahui oleh Louwon.
"Mohon maaf tuan, saya tidak tahu-"
Brak!
Louwon menggebrak meja disampingnya hingga terbelah menjadi dua, ia menuding wanita di depannya dengan mata melotot.
"Jika tidak ingin mati, jangan berani - berani membohongiku, biar ku tanya sekali lagi, di mana keberadaan gadis itu?" ucap Louwon mengulang pertanyaannya.
"A...Aku tidak tau Tuan-"
"Mati kau!" Louwon mengangkat tangan untuk menampar wanita di depannya, namun sebelum itu terjadi sebuah kursi kayu menghantamnya.
Brak!
Meski tidak melukainya, namun cukup untuk membuat harga diri pria besar itu terhina.
__ADS_1
"Siapa yang berani melempar ini pada ku!?" Louwon berteriak sembari menyapu pandangan disekitarnya.
"Aku!" Nang In berteriak membuatnya menjadi pusat perhatian seisi ruangan.
"Siapa kau!?" tanya Louwon kepada pemuda yang sedang menuruni tangga dengan santai.
"Aku?" Nang In menunjuk dirinya sendiri, "Aku hanya pengembara yang tanpa sengaja melihat para pengecut seperti kalian menggangu wanita tua yang sudah tidak berdaya lagi"
"Sepertinya kau punya nyali yang cukup untuk memprovokasiku!?" ucap Louwon sambil melotot ke arah Nang In.
"Tentu saja, kenapa tidak?" Nang In memiringkan kepalanya dengan ekspresi polos.
Melihat perawakan pemuda bertopeng yang masih remaja membuat pria itu mengerutkan keningnya, merasa pemuda di depannya tidak mempunyai otak karena terlalu berani kepadanya.
"Berani sekali bocah ingusan sepertimu tidak hormat pada Tuan kami?!" salah satu rekan Louwon berteriak ke arah Nang In.
Nang In menghela nafas, "Apa kalian bodoh!? kenapa aku harus hormat kepada b-jingan seperti kalian?!"
"Sialan bocah ini sudah melewati batas! akan ku bunuh kau!" salah satu rekan Louwon berlari ke arah Nang In dengan pedang yang dialiri qi.
"Mati kau-!"
Jleb
Sebelum pria itu mengayunkan pedangnya, Nang In lebih dulu menusukkan tangannya di dada pria itu hingga berlubang.
Kejadian ini membuat para pengunjung menutup mulut, sedangkan teman - teman pria yang terbunuh, begitu terkejut karena teman mereka mati di tangan pemuda yang tak mereka kenal.
"Bocah ini seorang cultivator?" ucap Louwon dengan terkejut, karena sebelumnya ia tidak bisa merasakan tingkat praktisi Nang In.
"B - Bunuh bocah itu!" teriak Louwon memberi perintah.
Lima orang dibelakang Louwon langsung berlari ke arah Nang In, masing - masing dari mereka merupakan cultivator di ranah Qi Gathering 3.
"Akan ku bunuh kau bocah!" salah seorang dari mereka menyerang Nang In menggunakan pedangnya.
Nang In memasang kuda - kuda tanpa menggunakan senjata, dengan keterampilan tangan kosong yang diajarkan Zhou Jin, ia membanting pria itu ke lantai, merebut pedangnya lalu menginjak dada pria itu hingga terdengar suara ledakan dan membuat darah terciprat di lantai.
"D - Dasar bocah gila!"
Ketiga rekannya menyusul menyerang Nang In dengan penuh emosi, mereka menyerang menggunakan pedang namun Nang In dengan mudah menahan bahkan memukul mundur ketiganya.
"Jangan remehkan bocah ini, dia lebih hebat dari yang kita kira!" ucap salah satu dari ketiganya lalu menciptakan segel tangan, "Fire Magic - Flame burst!"
Wush!
Semburan api mengincar Nang In, pemuda itu membentuk segel tangan, angin muncul di telapak tangannya, melakukan gerakan menari seketika angin yang berada di telapak tangannya menggiring api untuk selaras dengan tariannya.
"Ba - Bagaimana mungkin?!" ucap Cultivator yang melepaskan jurus api tersebut.
"Aku kembalikan ini padamu!" ucap Nang In lalu mengarahkan api yang ia kendalikan ke arah pria tadi dengan tekanan api yang bertambah besar.
"Kalau begitu aku akan-"
__ADS_1
Wush!
Belum sempat Cultivator itu melakukan sesuatu, tekanan api yang begitu besar langsung mengenainya, membakarnya hingga seluruh tubuhnya menghitam seperti arang.
"Sialan, dia sangat hebat!" ucap salah satu dari dua Cultivator yang masih tersisa.
Melihat teman - temannya dibunuh dengan sangat mudah membuat keduanya semakin waspada kepada Nang In, namun saat itu juga Nang In melepaskan aura pembunuh yang membuat tubuh mereka berdua gemetaran.
"A - Aura pembunuh ini?!"
"Bagaimana mungkin dia mendapatkan aura pembunuh sebanyak ini!?"
"Sekarang cepat beritahu aku bagaimana caraku membunuh kalian?" ucap Nang In sambil berjalan dengan tenang menuju keduanya.
"Ti - Tidak! jangan mendekat, jangan!"
"Tolong ampuni ka - kami tuan!"
Kedua Cultivator yang tersisa langsung bersujud di tempat, sekujur tubuh mereka penuh dengan keringat, mereka memandang Nang In dengan tatapan penuh ketakutan seperti melihat malaikat maut yang hendak mencabut nyawa.
"Bukankah sebelumnya kalian ingin membunuh wanita tua itu?" tanya Nang In.
"Ti - Tidak Tuan....kami hanya-"
Slash!
Nang In langsung memenggal kepala keduanya hingga menggelinding di lantai, kini pemuda itu menatap pria besar di depannya dengan hasrat membunuh.
"Kau selanjutnya!"
"Be - Beraninya kau mengancamku, bocah!" meski dengan tubuh gemetaran Louwon melepaskan aura pembunuh kepada Nang In membuat pemuda itu sedikit tertekan.
"Ba - Bagaimana haha? bukankah aura pembunuhku mampu membuatmu ketaku-"
Ucapan Louwon tersangkut di tenggorokan karena tubuhnya tiba - tiba gemetar dan berlutut dengan sendirinya, Nang In melepaskan aura pembunuhnya menghilangkan aura milik Louwon.
"Bagaimana bisa pemuda sepertinya memiliki aura pembunuh sepekat ini!, apa kau Jio Shirong!?" tanya Louwon dengan ekspresi panik.
Mendengar pria di depannya yang menyebutkan nama acak membuat Nang In menggeleng ringan, jelas pikiran pria itu sudah tidak sehat.
"Berhenti mengucapkan omong kosong dan matilah!" Nang In kembali menambahkan aura pembunuh miliknya membuat Louwon semakin tertekan.
Saat itu juga Louwon sadar bahwa saat ini ia sedang berada diambang kematian, namun di detik - detik terakhir pria itu mengerahkan semua kemampuannya untuk satu hal, yaitu melarikan diri.
Nang In hanya melihat Louwon berlari menjauh, ia tidak berniat menghentikannya karena ada seseorang yang akan melakukannya.
"Aku tidak peduli lagi! aku harus kabur dan bertahan hidup, setelah itu akan ku balas perbuatanmu bocah hahaha!" Louwon menengok ke belakang sambil tertawa gila, namun ketika ia kembali menengok ke depan, ia menabrak sesuatu yang begitu keras hingga membuatnya terjatuh.
Mendongak ke atas Louwon melihat seorang pria berjubah hitam yang mempunyai tinggi dua meter lebih dengan tubuh kekar menutupi pintu keluar, jelas ukuran tubuhnya melebihi ukuran tubuh pria itu.
Mendongak ke atas, Louwon melihat sepasang mata berwarna ungu yang menatapnya dengan tatapan dingin.
"Ka - kali ini siapa lagi!?"
__ADS_1