
"Hati - hati! pemuda itu sangat kuat untuk anak seusianya, setidaknya kemampuannya tidak jauh berbeda dari 11 Golden Stars...!" ucap Sua Bo kepada Dung Ha dan Gung He.
Sua Boa atau Si Seruling Gila memperingati kedua rekannya, wanita itu menyadari ketika bentrok dengan Nang In bahwa kemampuan pemuda itu tidak bisa diremehkan. Belum lagi Nang In adalah orang pertama yang mengetahui penyamarannya dan langsung menyerangnya.
"Jika benar dia kuat bukankah itu bagus? Lagi pula tujuan kita kemari untuk itu...!" Gung He menyeringai kejam arah Nang In. Pria dengan palu besar itu seperti tidak sabar ingin mencabik - cabik Nang In.
"Jadi tujuan mereka kemari untuk melenyapkan bibit - bibit unggul?" gumam Nang In dalam hati, ekspresinya begitu dingin ketika mengetahui tujuan mereka. Hal itu menjadi jelas kenapa Sua Bo yang menyamar menjadi Sung Ling hendak melakukan pembunuhan beberapa kali dalam pertandingan.
"Sihir Es - Jarum Es!"
Swosh!
Nang In mengayunkan tangannya membuat bongkahan es yang begitu runcing menutupi arena pertandingan.
Crack!
Beberapa saat setelahnya bongkahan es seketika hancur menjadi beberapa keping, sosok Dung Ha dan Gung He muncul dari reruntuhan es sambil mengayunkan senjatanya.
"Serangan lemah seperti itu tidak ada artinya untukku bocah KEKEKEKE...!" Dung Ha tertawa gila sembari menebaskan dua sabitnya ke arah Nang In.
Swosh!Klang!
Nang In menepis serangan yang datang ke arahnya menggunakan perisai yang ia ciptakan dari es, dari arah belakang Qiau Mey mengambil posisi lalu menebas Dung Ha dengan cepat.
"Sangat kurang!" Qiau Mey berdecak tidak puas karena serangannya di tahan dengan mudah.
"Lemah sekali gadis kecil...!"
Dung Ha mengayunkan sabitnya membuat Qiau Mey terhempas ke belakang, Nang In langsung merubah bentuk perisainya menjadi belati kemudian melemparnya ke arah leher Dung Ha.
Dung Ha memutar leher menghindari belati yang mengarah padanya, dengan cepat pria berambut hitam itu mengayunkan dua sabitnya mengincar leher Nang In.
Klang!
__ADS_1
Nang In dapat menahannya dengan baik kemudian balas menyerang secara bertubi - tubi, keduanya bertarung dengan seimbang walaupun Dung Ha menyerang Nang In dari arah - arah yang sulit diduga.
Sementara Nang In fokus bertarung dengan Dung Ha, ia hampir melupakan Qiau Mey yang saat ini di desak oleh Gung He, pria dengan kampak besar itu mempunyai tingkat kultivasi Soul Wondering Mid - Stage, namun di depan Qiau Mey, Gung He sama sekali tidak menggunakan kekuatan kultivasinya, seperti menikmati ekspresi ketakutan gadis muda itu.
"Mey'er bertahan-...!" teriak Nang In melihat Qiau Mey terdesak, ia ingin langsung menolong gadis itu, namun saat itu juga pundaknya terasa sangat berat karena ditekan oleh aura pembunuh yang begitu pekat.
"Hey Otot Busuk, sampai kapan kau akan bermain - main...!" Dung Ha berdecak tidak puas sembari mengeluarkan aura Cultivator Soul Wondering Mid - Stage. Matanya mengarah pada Gung He yang sedang bertarung melawan Qiau Mey.
"Tu - Tubuhku sama sekali tidak bisa digerakkan...!"
Ditekan oleh Cultivator sekuat itu membuat tubuh Nang In tidak bisa bergerak, kedua tangannya yang gemetaran memaksa untuk menciptakan dua pedang yang terbuat dari es.
"Seni Pedang Emas - Tebasan Cahaya Ganda!"
Dari pedang Qiau Mey memancarkan sinar, gadis itu mengayunkan beberapakali menciptakan dua bilah cahaya yang disilangkan.
"Hahaha serangan yang menarik! tapi..." Gung He tertawa gila namun ekspresinya mendadak berubah menjadi tajam, "Sepertinya aku harus menyudahi ini...!"
Gung He melepaskan tekanan qi milik Cultivator Soul Wondering membuat jurus Qiau Mey langsung lenyap seketika. Pria besar itu menghilang kemudian muncul di belakang Qiau Mey sembari mengangkat palu besarnya.
Nang In yang berada di tekanan qi milik Dung Ha ingin pergi menyelematkan Qiau Mey namun saat itu juga ledakan yang begitu besar terjadi di tempat Qiau Mey berdiri.
Swosh!Duar!
Serangan Dung Ha menghasilkan suara yang begitu keras, sontak serangannya membuat para Cultivator yang bertarung menghentikan pertarungannya sejenak.
"Me - Mey'er...!" teriak Nang In begitu melihat Qiau Mey yang mendapatkan serangan dari Gung He. Pemuda itu merasa sangat kesal karena tidak bisa menyelamatkan Qiau Mey, "Ka - Kau terlalu memaksaku!"
Nang In melepaskan hawa dingin dan qi putih nya secara bersamaan, melihat qi putih yang merembes keluar dari tubuh Nang In membuat Dung Ha terkejut.
"Q - Qi berwarna putih? aku baru pertama kali melihat-" belum sempat Dung Ha menyelesaikan keterkejutannya, ledakan udara yang begitu dingin menerpa membuat suhu di sekitar arena mendadak turun.
Song Guo yang sedang bertarung dengan para pengkhianat Klan terkejut ketika menyadari suhu di sekitarnya mendadak rendah, seharusnya hal itu mustahil karena berada di kediaman Klan Song yang mayoritas Cultivator mempunyai basic spirit api.
__ADS_1
"Hawa dingin ini bukan milik Tetua Fuan! siapa pemiliknya?" ucap Song Guo penasaran dengan pemilik hawa dingin yang mengubah suhu disekitar arena, "Pemuda itu, bukankah dia yang pernah bertarung melawan Zixin'er!"
Di tengah arena, Song Guo melihat Nang In bertarung melawan pria berambut hitam dengan dua sabit panjang. Nang In nampak kesulitan karena tingkat kultivasi keduanya yang begitu jauh.
"Saudara Juji, Saudara Lu tolong bantu dua remaja itu, kita tidak boleh membiarkannya mati..!" Song Guo mengirim pesan kepada Song Juji dan Song Lu, kebetulan keduanya sedang berada di dekatnya.
"Tentu Saudara Guo...!" keduanya dengan hormat langsung menuruti permintaan Song Guo dan langsung menghampiri Nang In.
Swosh!Duar!
Setelah asap di arena menghilang, Qiau Mey yang sempat dikira terkena serangan telak Gung Be kini dapat terselamatkan berkat datangnya Zihan Shi, pria tua itu langsung menahan serangan Gung Be bahkan memukul mundurnya.
"Nona muda kau tidak apa - apa!?" tanya Zihan Shi kepada Qiau Mey yang sedang terluka, meski serangan tadi tidak mengenainya namun dampaknya tetap sampai padanya.
"A - Aku baik - baik saja Tetua, terima kasih karena telah menyelematkanku!" ucap Qiau Mey kepada Zihan Shi, gadis itu sangat berterima kasih karena jika telat diselamatkan tentu ia akan berakhir kondisi yang sangat buruk.
"Kalau begitu makan Pill ini, itu akan mengobati lukamu" ucap Zihan Shi.
"Terima kasih Senior" Qiau Mey langsung memakan Pill yang diduga Pill penyembuhan itu dan perlahan luka - luka di seluruh tubuhnya mengobati dengan sendirinya.
Sementara itu Nang In mengetahui bahwa Qiau Mey diselamatkan Zihan Shi membuatnya begitu lega. Namun meski begitu, ia tetap harus membicarakan tentang dirinya yang harus bertarung gila dengan pria berambut hitam yang
"Cih meski aku sudah mengeluarkan qi putih dan aura pembunuh secara bersamaan itu masih belum cukup untuk lepas dari b*jingan tengik ini...!" Nang In berdecak tidak puas karena tidak bisa lepas dari Dung Ha. Seberapa keras ia berusaha, pemuda itu masih belum cukup untuk melepaskan diri dari pria gila yang sedang ia lawan itu.
Alasan Nang In dapat bertahan dari serangan Dung Ha karena pria itu hanya bermain - main dengannya, setelah melihat qi putih milik Nang In, Dung Ha seperti monyet di musim kawin, benar - benar mempermainkannya!
"Bagus sekali, ternyata kau mempunyai qi yang sangat unik kekekke...!" Dung Ha tertawa gila, "Aku akan sedikit bermain - main denganmu lalu mengulitimu dengan perlahan Kekekeke...!" setelah mengatakan itu Dung Ha bergerak ke arah Nang In dengan aura tubuh yang mengeluarkan qi berwarna ungu gelap.
"Jurus Sabit Maut - Sabitan Malam!"
Dung Ha mengayunkan sabitnya menciptakan bilah - bilah yang berwarna ungu, Nang In bersiap melepaskan serangan balasan namun saat itu juga datang Song Juji dan Song Lu yang menahan serangan Dung Ha.
"Apa kau baik - baik saja bocah?" tanya Song Juji kepada Nang In namun sebelum pemuda itu menjawab, Nang In sudah berlari ke arah Qiau Mey dengan panik.
__ADS_1
"Apa kau tidak malu melawan bocah seusianya?" tanya Song Juji kepada Dung Ha, "Jika kau menginginkan lawan yang sepadan, lawanlah aku!!"