Road To Immortality

Road To Immortality
Weiheng Si Penantang


__ADS_3

"Apa kau tuli! menyingkir dari hadapanku!"


Louwon mengayunkan tinju besarnya, alih - alih menahan serangan justru pria berjubah membiarkan pukulan tersebut mengenainya.


"Cih, jadi muncul satu orang gila lagi!" Louwon mengeluarkan tekanan qi di kepalan tangannya, "Menyingkir dari hadapanku!"


Bang!


Louwon memukul pria berjubah itu bertubi - tubi, setelah pukulan kanan ia langsung menyusulnya dengan pukulan kiri, tidak membiarkan pria berjubah itu bertahan apalagi menyerang balik.


"Sudah ku bilang menyingkir dari hadapanku!" Louwon terus menerus memukul pria berjubah itu tanpa henti, setelah melancarkan beberapa pukulan ia baru menyadari jika kedua tangannya sedikit mati rasa.


"Tubuh orang ini sebenarnya terbuat dari apa!?" gumam Louwon dalam hati, sebelumnya ia percaya diri dengan fisiknya, namun setelah melihat Nang In, Louwon tidak lagi menyombongkan dirinya.


Belum lagi pria sebesar beruang yang sedang ia lawan, meski hanya membiarkan tubuhnya diserang olehnya, namun ia tetap merasakan sakit!


"Sialan, ku bilang menyingkir-"


Crep!


Louwon melancarkan tinjunya namun kali ini pria berjubah menahannya dengan tangan kiri.


"Apa hanya ini?" suara dingin namun lantang terdengar, pria berjubah menangkupkan tudungnya, memperlihatkan pria dengan rambut gaya landak panjang bewarna kuning.


"Aku menurunkan penjagaan ku serendah mungkin, karena mengira kau mampu untuk menghiburku" pria berambut kuning menggeleng ringan, "Tapi bahkan kau tidak mampu membuatku merasa geli, sungguh mengecewakan"


Tangan kiri pria berambut kuning mencekik Louwon hingga terangkat, lalu menyundul jidat Louwon hingga terdengar suara retakan.


Krack!


Louwon terbentur keras membentur lantai dengan jidat yang hancur dan berdarah, tidak sampai situ pria berambut kuning menendang Louwon tepat di bagian dada membuat pria itu terbang lima meter ke belakang menembus dinding.


Membuat para pengunjung termasuk Nang In tercengang, jelas tendangan yang dilancarkan tadi tidak mengandung qi sama sekali.


"Lemah! sangat lemah!" pria berambut kuning berdecak tidak puas lalu melirik ke arah wanita tua pemilik penginapan.


"Hey - hey bukankah dia Weiheng Si Penantang!"


"Benar, bukankah dia orang gila yang menantang Jendral Cursed Of Revenge?"


"Bahkan orang itu mengusik salah satu Tetua Black Skull Valley!"

__ADS_1


"Kabar - kabarnya orang itu gemar menyiksa lansia bahkan anak - anak!"


"..."


Para pengunjung di sana mulai bergunjing tentang identitas pria yang ternyata bernama Weiheng, pria besar itu terkenal karena sering menantang orang - orang kuat dan gemar membuat keributan di berbagai tempat.


"Weiheng?" Nang In melirik pria di depannya, ia nampak tertarik dengan pria itu karena ukuran tubuhnya yang hampir menyerupai seekor beruang.


Weiheng berjalan ke arah wanita tua itu dengan tubuh tegap, saat semua orang mengira bahwa Weiheng akan melukai wanita tua itu, justru perbuatannya mengejutkan semua orang.


Weiheng merogoh sakunya lalu menyodorkan nasi kepal yang dililit daun pisang, membuat wanita tua itu terkejut namun menerimanya dengan senyum ramah.


"Te - Terima kasih anak muda"


"Seharusnya kau tidak perlu melawan jika tidak mempunyai kekuatan, karena sama saja kau mengantarkan nyawamu sendiri" ucap Weiheng kepada wanita tua yang tingginya hanya sebatas perutnya.


Sebagai balasan wanita tua itu tersenyum lembut, ia menatap pria besar di depannya dengan ekspresi tulus.


Di pojok ruangan, Louwon langsung bangkit lalu berteriak penuh emosi, "A - AKU SUDAH MUAK! AKU MUAK MENJADI LEMAH, MESKI HARUS MATI PUN AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN"


Louwon mengeluarkan seekor cacing merah yang menggeliat aneh, "Dengan ini! aku akan bertambah kuat dengan cepat! lalu kalian semua akan aku habisi HAHAHAHA!"


Pria itu tertawa gila lalu menelan cacing merah itu, beberapa detik setelahnya tubuh Louwon menggeliat dengan cara aneh lalu mengeluarkan tekanan qi, tubuh pria itu membesar dan menghitam seperti logam, lantai yang ia pijak langsung hancur karena berat pria itu.


"Blood Worm!?" Nang In memasang ekspresi serius di wajahnya, "Bagaimana bisa dia memiliki Blood Worm, ada yang aneh, apa ada orang yang memberikannya?!"


Pandangan Nang In langsung menyapu ke seluruh ruangan, namun pemuda itu tidak menemukan siapa pun yang mencurigakan, kecuali di satu tempat, Nang In mengambil sebuah pedang di dekatnya lalu melemparnya di arah tertentu.


Seketika pedang yang melesat itu terhenti dan melayang - layang di tempat, hal ini membuat semua orang yang melihatnya terkejut, setelah beberapa saat akhirnya muncul sosok berjubah merah dari balik ketiadaan menangkap pedang yang dilempar Nang In.


"Sudah ku duga!" ucap Nang In dengan serius.


"Mengesankan, bagaimana bisa kau mampu menyadari keberadaanku?" puji sosok berjubah merah.


"Bagaimana mungkin aku tidak menemukanmu, sementara aura pembunuh yang begitu pekat memancar dari tubuhmu?" ucap Nang In sambil memiringkan kepala.


"Hahahaha padahal aku sudah bersusah payah untuk menyembunyikan aura pembunuhku, namun sepertinya berkamuflase bukan bakatku" sosok berjubah merah itu tertawa lalu pandangannya mengarah pada Louwon, "Tunggu apa lagi, kau sudah mendapatkan kekuatan iblis, habisi dia?!"


"B - Baik Tuan!" ucap Louwon dengan hormat lalu menyeringai kejam, ia menatap Weiheng lalu beberapa detik kemudian menghilang dari tempat.


Sosok Louwon seketika muncul di depan Weiheng lalu menghantam wajahnya dengan tangan hitam seperti logam.

__ADS_1


"Rasakan itu HAHAHAHA, pasti sakit bukan?"


Weiheng terkena telak, tidak sampai situ Louwon kembali menghujani Weiheng dengan pukulan beruntun, serangannya menjadi dua kali lebih kuat dan cepat dari sebelumnya.


Namun meski dengan serangan kuat itu Weiheng tidak bereaksi apa pun selain membiarkan tubuhnya dihantam, hal ini membuat semua orang merasa heran, termasuk Nang In.


"BAGAIMANA? BAGAIMANA? MENYAKITKAN BUKAN? CEPAT AKUI SAJA?"


Louwon berteriak dengan ekspresi gila, pria itu menyerang Wiiheng secara bertubi - tubi, Weiheng mengerutkan keningnya lalu untuk pertama kalinya ia melayangkan tinjunya ke arah Louwon.


BANG!


Louwon menyilangkan kedua tangannya namun tetap terpental tujuh meter menghancurkan meja dan kursi di belakangnya.


"Aku memang menyukai pertarungan, namun bertarung dengan orang menjijikan sepertimu sangat membuatku muak!" Weiheng berjalan ke arah Louwon, "Akan ku akhiri ini dengan cepat!"


"APA MASIH BELUM CUKUP!?" Louwon berteriak dengan nada putus asa, kedua lengannya hancur, menoleh ke sosok berjubah merah, ia langsung bersujud di tempat, "TUAN! BERI AKU LEBIH BANYAK KEKUATAN, AKU AKAN MENUKARNYA DENGAN APA PUN, BAHKAN DENGAN JIWAKU SEKALI PUN, AKU AKAN-"


"Cukup!" sosok berjubah hitam langsung menyela ucapan Louwon, "Kau sudah gagal!"


"Tolong Tuan! beri aku kesempatan untuk menjadi pengikut mu!" ucap Louwon sambil mencium lantai berulang kali.


"Akan ku beri kau kesempatan sekali lagi, jika kau berhasil membunuh pria besar itu" ucap sosok berjubah merah lalu merentangkan kedua tangannya, "Kau akan bergabung dengan kami!"


Louwon menatap Weiheng yang berjalan ke arahnya dengan tatapan kebencian, "JIKA BUKAN KARENA KAU! AKU PASTI SUDAH-"


Ucapan Louwon tercekat karena melihat Weiheng tiba - tiba muncul tepat di depannya sambil mengangkat tangan kanannya.


DUAR!


Pukulan Weiheng mendarat tepat di dada Louwon membuat suara retakan tulang yang begitu keras. Tidak sampai situ Weiheng berteriak dengan ekspresi gila sembari menginjak - injak tubuh Louwon dengan ganas.


"MATI! MATI! MATI! MATI!"


Suara ledakan beruntun terdengar, Weiheng menginjak tubuh Louwon hingga tulang dan organ dalam pria itu hancur.


Sontak pemandangan ini membuat para pengunjung menutup mulut bahkan ada di antara mereka yang mengeluarkan isi perut mereka, karena tidak tahan dengan pemandangan yang mereka lihat.


Setelah membunuh Luowon dengan sadis, Weiheng menatap ke sekitarnya, pandangannya terarah pada Nang neng dan Sosok Berjubah Merah yang sejak tadi memperhatikannya.


Menyeringai dengan ekspresi gila, pria itu melotot dengan sembari mengeluarkan aura pembunuh yang lebih pekat dari punya Nang In.

__ADS_1


"Selanjutnya!?"


__ADS_2