
Semua warga yang menyaksikan pembunuhan itu hanya bisa menutup mulut dengan tangan mereka, sedangkan para ibu menutup mata anak - anaknya agar tidak melihat pemandangan yang seharusnya tidak mereka lihat.
"Ba - Bagaimana mungkin pemuda itu membunuh orang begitu mudahnya?" gumam kepala desa. Meski Wanyan adalah orang jahat yang memeras desanya, namun melihatnya mati dengan keadaan yang mengenaskan cukup membuat hati nurani pria tua itu tergerak.
Menyadari tatapan warga desa yang melihatnya dengan tatapan seperti melihat iblis yang terbebas dari neraka, membuat Nang In tersadar bahwa ia sudah bertingkah berlebihan.
"Karena kelompok bandit sudah tewas, aku pamit ingin menuju tempat berikutnya" ucap Nang In sambil membungkuk hormat.
"Tuan, kenapa anda buru - buru pergi, izinkan kami untuk membalas budi kepada anda" ucap kepala desa mencegah Nang In pergi bagaimana pun pemuda di depannya telah menyelamatkan desa mereka.
Nang In tidak menjawab melainkan melirik ke arah warga desa, kepala desa pun melakukan hal yang sama, saat itu ia baru menyadari alasan pemuda di depannya Ingin cepat - cepat pergi dari desanya.
"Maafkan sikap mereka tuan muda, mereka hanya takut dan tidak mengetahui jika anda sebenarnya orang yang baik" kepala desa membungkuk hormat dengan ekspresi tulus.
"Namun setidaknya terimalah sedikit pemberian dari saya tuan" kepala desa menyodorkan sekantung koin miliknya kepada Nang In.
"Terima kasih banyak namun tidak usah, karena aku masih mempunyai uang simpanan" Nang In menolak halus pemberian kepala desa karena ia masih mempunyai uang simpanan yang dihasilkan dari penjualan pil.
Kepala desa begitu enggan jika tidak memberikan apa pun kepada Nang In, namun pemuda itu bersikeras untuk menolaknya.
"Tuan muda ingin menuju kemana?" tanya Kepala desa.
Nang In menggeleng ringan, "Aku tidak mempunyai tujuan, namun sepertinya aku akan mampir di sebuah kota yang tidak jauh dari sini"
"Jika anda mencari kota, maka tidak jauh dari sini anda akan sampai di Kota Blackrock, kota itu begitu ramai dikunjungi para cultivator" Kepala Desa terdiam seperti mengingat sesuatu, "Oh apakah anda ingin mengikuti turnamen muda?".
"Turnamen muda?" tanya Nang In.
"Jadi anda tidak tau, setiap beberapa tahun sekali Kekaisaran Black Sun akan mengadakan turnamen muda yang biasanya diikuti oleh Cultivator muda yang tinggal diseluruh benua"
Turnamen muda akan diadakan beberapa tahun sekali di tempat - tempat yang berbeda, namun untuk kali ini turnamen itu akan diselenggarakan di Kota Blackrock.
Nang In berminat untuk melihat turnamen itu, lagi pula ini kesempatan yang bagus untuknya melihat cultivator seusianya bertarung.
__ADS_1
"Terima kasih untuk infonya, jika memungkinkan kalian untuk pindah ke kota terdekat agar lebih aman, kalau begitu saya pamit" ucap Nang In membungkuk hormat lalu melangkah pergi.
"Hingga saat ini aku bahkan belum mengetahui nama pemuda itu" Kepala Desa menghela nafas melihat punggung Nang In semakin menjauh.
Kepala desa melirik ke para warganya, ia berniat untuk menegur mereka karena berlaku tidak sopan dengan orang yang telah menyelamatkan desanya.
Tentang saran Nang In untuk meminta mereka pindah ke kota agar lebih aman, kepala desa harus berpikir berulang kali lagi pula begitu sulit untuk meninggalkan desa yang menjadi tempat kelahirannya.
Belajar dari pengalaman ini ia berniat untuk menyuruh para pemuda desa untuk belajar bela diri agar dapat melindungi desa mereka sendiri.
**
Nang In yang telah meninggalkan desa terus berjalan hingga matahari hampir menutup sinarnya, tujuannya adalah turnamen muda di Kota Blackrock, untuk sampai di kota ia harus melewati satu desa lagi.
Hari sudah semakin gelap, kebetulan tepat di persimpangan jalan ia melihat sebuah penginapan dan warung yang begitu ramai dikunjungi banyak orang, khususnya kalangan dewasa.
Masuk ke dalam kedai ia langsung menjadi pusat perhatian karena penampilannya yang serba tertutup, ia duduk di bagian belakang agar lebih nyaman untuk melihat sekitar.
Ketika pandangannya menyapu sekitar Nang In mengerutkan kening ketika melihat gadis yang ia kenal bertemu dengannya ketika berada di Kota Green Sky, gadis itu adalah Xuan Li, putri bungsu Patriack Star Alchemist Association beserta pengawal setianya yaitu, Niiu.
Seperti biasa Niiu tampil dengan pakaian tertutup namun tidak mengurangi daya tariknya ketika seseorang melihat mata indahnya, sedangkan Xuan Li, gadis itu berpakaian selayaknya bangsawan namun sikap dan ekspresinya menunjukan bahwa gadis itu sedang kesal karena suatu hal.
Nang In berusaha untuk tidak berurusan dengan gadis menyebalkan itu, lagi pula seingatnya gadis itu mempunyai dendam kepadanya karena perebutan Blood Carrot di Sky Treasure House.
Namun ketika ia berusaha untuk tidak menarik perhatian gadis itu, seorang pria mabuk dengan badan gempal menghampirinya dengan jalan yang terombang - ambing. Pria itu mengenakan pakaian yang sama dipakai kebanyakan orang di kedai ini.
Nang In mempunyai firasat buruk bahwa sebentar lagi ia akan mendapat masalah dan benar masalah itu datang ketika pria mabuk itu menghampiri mejanya.
"Tuan Bertopeng, kenapa kau duduk seorang diri, di mana kekasihmu? tunggu ada apa ini, kenapa ruangan ini berputar - putar?!" pria gendut itu berputar - putar di tempat seperti orang tidak waras.
"Apa kau bodoh, tentu ruangan ini berputar, lagi pula kita sedang berada di atas awan hahaha!" ucap salah satu temannya sambil tertawa bahagia.
"Hahahaha! disusul tawa teman - temannya yang sedang mabuk tidak jauh dari pria itu.
__ADS_1
Pria mabuk itu menoleh ke sekitar lalu matanya berbinar ketika melihat gadis cantik yang tidak jauh darinya sedang bersama salah seorang wanita yang mengenakan pakaian tertutup.
Ekspresi Nang In berubah ketika pria tersebut menuju meja Xuan Li dalam keadaan mabuk, pria itu berkata dengan ucapan yang membuat Nang In menggelengkan kepala.
"Hey cantik, apa boleh aku kenalan-"
Slash!
Belum sampai pria mabuk itu sampai di meja Xuan Li, Niiu langsung muncul di depan pria itu lalu mengayunkan belatinya hingga membuat tubuh pria itu terbelah menjadi dua bagian.
Kejadian ini membuat para gadis dan pengunjung yang melihatnya berteriak karena melihat isi perut dari pria itu, sedangkan teman - teman pria itu langsung bangkit dan berseru tidak puas karena temannya di bunuh.
"Apa yang kau lakukan, tidak bisakah kau menahan diri ketika berurusan dengan orang yang sedang mabuk?" ucap salah satu temannya yang mempunyai bekas luka di wajahnya.
Orang itu bernama Funsai, ia merupakan pemimpin di kelompok mereka, ketika ia berteriak, teman - teman disampingnya beranjak bangun mendukung apa yang diucapkan pria itu.
"Kenapa aku harus menahan diri, bukankah temanmu yang memulainya?" ucap Niiu sambil memiringkan kepalanya.
Hal ini membuat Funsai dan para bawahannya semakin marah, mereka semua mengeluarkan pedang dari pinggang mereka, namun sebelum itu terjadi kembali terdengar jeritan salah satu temannya.
"Sudah ku bilang bukan, untuk tidak menggangguku?" ucap Nang In kepada pria mabuk di depannya yang telah kehilangan lengan kanannya.
"KALI INI SIAPA LAGI?!" Funsai berteriak melihat temannya kembali terluka.
"Tenanglah Tuan, aku hanya sedang menolong pria ini agar terlepas dari pengaruh alkoholnya!" ucap Nang In sambil menunjuk pria yang sedang terbaring di depannya.
"KAU BILANG MEMOTONG LENGAN ADALAH MENOLONGNYA?!" Funsai berseru emosi, dadanya kembang kempis karena pemuda bertopeng di depannya.
"Hey - hey coba pikirkan, karena efek mabuknya, pria ini bisa saja kehilangan nyawa ketika menggangu orang yang salah, bukankah lebih baik kehilangan lengan dari pada kehilangan nyawa?" Nang In memiringkan kepalanya, "Lagi pula ini cuman lengan bukan?"
"CUMAN LENGAN! KAU BILANG INI CUMAN LENGAN, DASAR P-IKOPAT GILA, AKAN KU BUNUH KAU!"
Funsai yang sudah tidak mampu menahan emosi langsung menerjang ke arah Nang In seperti orang yang kesurupan.
__ADS_1