
Penyerangan para Cultivator aliran hitam tidak hanya terjadi di arena pertarungan, tetapi di seluruh area kediaman Klan Song kerap terjadi pertarungan, seluruh anggota Klan Song berusaha sebisa mungkin untuk mengurangi korban jiwa dan mengurangi jumlah musuh, termasuk Song Guo yang sedang berhadapan dengan Sosok berjubah merah.
"Apa kau tidak akan melarikan diri lagi, Rao Wey Si Pelompat?" ucap Song Guo menghadang Sosok berjubah merah. Pria itu dengan tenang berhadapan langsung dengan sosok yang mempunyai kemampuan mengendalikan ruang tersebut.
"Ayolah temanku, sejak dulu kau memang tidak pernah berubah, selalu menggangguku!" ucap Sosok berjubah merah dengan nada santai, "Ya. Meskipun ini hal yang wajar karena aku menyerang kediamanmu..." sosok itu menangkupkan tudungnya memperlihatkan pria dengan bekas luka tebasan di mulutnya, mata bewarna biru gelap dengan rambut hitam yang panjang. Pria itu bernama Rao Wey Si Pelompat.
Pria itu mendapatkan julukan Si Pelompat karena kemampuannya yang dapat mengendalikan ruang, ia dapat pergi ke tempat yang diinginkan dengan bebasnya, selain itu ia dapat menciptakan portal yang dapat digunakan sebagai keluar masuk pasukannya.
"Sepertinya kau sudah bosan hidup hingga menyerang kediaman Klan Song, Rao Wey!" mata Song Guo berkilat dingin, "Atau mungkin kau sudah lupa siapa yang memberimu luka di mulutmu itu?"
"Benar sekali, 60 tahun yang lalu kau hampir mengirimku ke dalam neraka" Rao Wey menghela nafas sambil tersenyum lebar, "Tapi itu dulu, akhir - akhir ini aku merasa bertambah kuat dan sepertinya hari ini aku dapat mengambil nyawamu, temanku!"
"kau memang pembual yang handal, jika kau ingin mati dengan cara yang menyakitkan, kemarilah!" ucap Song Guo sambil memasang kuda - kuda tangan kosong, kedua tangannya terselimuti api, beberapa detik kemudian kobaran api itu berubah menjadi sarung tangan yang dilengkapi duri tajam dan motif api.
"Jadi kau benar - benar serius ingin membunuhku?" Rao Wey memiringkan wajahnya lalu tertawa, "Sebagai bukti penghormatanku akan ku berikan kematian yang cepat untukmu, teman!" Rao Wey mengeluarkan dua belati dari lubang hitam yang ia ciptakan.
"Benar aku tidak akan seperti dulu, akan ku pastikan kau akan mati di tanganku!" setelah mengatakan itu Song Guo mulai berlari, Rao Wey pun melakukan hal yang sama, keduanya saling bertarung satu sama lain.
Sementara itu di dekat aula milik Klan Song tidak terhitung jumlah mayat yang menggenangi seluruh sudut aula, mereka adalah jasad para Cultivator aliran hitam dan anggota Klan Song yang tewas akibat pertarungan, kedua kubu sama - sama menderita banyak korban jiwa.
Kali ini Cultivator yang bertugas berjaga di aula adalah ketiga Flame Warrior, mereka sedang bertarung dengan Wei Bo, Cultivator aliran hitam yang terkenal dengan keterampilan ilmu tangan kosongnya yang luar biasa.
"Kakak Li minumlah ini, pill itu akan mengurangi rasa sakitmu!" ucap Song Huan memberikan pill buatannya pada Song Li.
__ADS_1
Diantara keempat Flame Warrior, Song Huan adalah yang paling muda, ia yang paling lemah namun yang paling pintar dan berbakat dalam ilmu Alchemiy, pemuda itu sudah menjadi Silver Alchemist dan selalu menjadi otak dari Flame Warrior karena kebanyakan rencana berasal darinya.
"Terima kasih Adik Huan!" Song Li menelan pill pemberian Song Huan, pemuda itu terkena sedikit pukulan dari Wei Bo membuat beberapa tulang rusuknya retak.
Song Li sendiri adalah Cultivator pengguna dua pedang, pemuda itu yang paling tua dan pemimpin dari Flame Warrior, ia yang paling bijaksana dari keempatnya, pemuda itu dijuluki sebagai Sang Pedang Phonix karena selalu menghunuskan pedangnya untuk membela Phoenix Master, selain itu Song Li menjadi penyerang utama bersama Song Zixin.
"Kakak Li sebaiknya kau tidak terlalu memaksakan dirimu, gunakan aku sebagai tamengmu!" seru Song Chu karena sewaktu bertarung Song Li memaksakan dirinya untuk bertarung sendirian, tidak seperti biasanya yang terpaku pada formasi.
Song Chu merupakan kakak tertua kedua setelah Song Li, pemuda itu memiliki badan yang kuat dan tinggi hampir 2 meter. Ia membawa perisai dan kampak besar yang beratnya mencapai 2 ton lebih. Ketika pertarungan ia sering kali berperan seperti sebuah benteng yang melindungi ketiga saudaranya.
"Tidak, lawan kali ini sangat berbahaya jika sedikit saja melakukan kesalahan, kita pasti akan mati!" ucap Song Li dengan ekspresi serius, pemuda itu setidaknya dapat mengetahui kekuatan Wei Bo yang telah mencapai ranah Sky Fondation High - Stage, sedangkan mereka bertiga hanya sampai Earth Fondation High - Stage.
Hal ini membuat Song Li sangat berhati - hati dengan lawannya kali ini. Belum lagi Wei Bo terkenal dengan kekejamannya dalam membunuh musuhnya, sekali ia bersikap ceroboh mungkin nyawanya atau nyawa saudaranya dapat terenggut dengan mudah.
"Siapa yang butuh pengampunanmu Tua Bangka! kami keempat Flame Warrior tidak akan meminta pengampunan dari pria bau tanah sepertimu!" teriak Song Chu dengan lantang, sorot matanya menunjukkan tekad yang tidak gentar sedikitpun.
"Be - Benar sekali! jangan remehkan kami Pak Tua!" Song Huo ikut berteriak dengan gugup, meskipun takut nyatanya pemuda itu tidak ingin kalah dari kakak keduanya.
Melihat kedua adiknya yang berani dan tidak gentar sedikitpun membuat Song Li tersenyum kecil, menghela nafas panjang pemuda itu berdiri dengan bantuan kedua pedangnya, "Kalian memang bodoh! kita bisa saja terbunuh jika tetap melawan Orang Tua ini?!"
"Selama mati bersamamu, aku tidak akan gentar Kak!" ucap Song Chu dengan sorot mata penuh keyakinan.
"Begitu juga denganku, a - aku tidak masalah jika harus mati bersama kalian!" Song Huo ikut berteriak.
__ADS_1
"Pffftt Hahahaha!" Wei Bo tertawa terbahak - bahak, pria itu mengusap air matanya, "Tidak ku sangka Flame Warrior pada generasi sekarang sangat lemah! sepertinya ini akan mudah untuk mengakhirinya!"
Setelah mengatakan itu Wei Bo menghilang dari pandangan, Song Li, Song Chu dan Song Huan bersiap pada posisi mereka, Song Li sebagai pemimpin mereka langsung memberi perintah.
"Lakukan Formasi Singa Baja!" ucap Song Li memberikan arahan.
"Baik!" Song Chu dan Song Hua menjawab secara serempak.
Di mulai dari Song Chu pemuda itu berdiri di depan Song Li dan Song Hua kemudian menancapkan kampaknya di tanah fokus dengan perisainya ia pegang dengan kedua tangannya.
"Teknik Singa Baja - Dinding Baja!"
Dari perisai yang dipegang Song Chu mengeluarkan aura berwarna merah yang membesar dan membentuk kepala singa raksasa yang siap menahan, Song Hua segera menyiapkan busurnya untuk menembak. Sedangkan Song Li bersiap untuk menebas dengan kedua pedangnya.
Setelah beberapa saat bersikap waspada dengan sekitar akhirnya Wei Bo menampakkan dirinya, ia muncul di hadapan Song Chu yang hendak mengeluarkan tinju pamungkasnya.
"Hey bodoh aku tepat dihadapanmu! Teknik Tinju Peledak - Pukulan 1000 ledakan!" Wei Bo melepaskan tinjunya ke arah perisai yang diciptakan Song Chu.
"Bersiap dia ada di depan!" Song Chu spontan berteriak membuat Song Li dan Song Huo langsung bersiap dengan musuh di depannya.
Swosh!Duar!
Pukulan dilepaskan menghasilkan ledakan yang meluap hingga beberapa detik, para Cultivator yang bertarung tidak jauh dari lokasi itu merasakan getarannya.
__ADS_1