Road To Immortality

Road To Immortality
Kota Green Sky


__ADS_3

Sejak kecil Qiau Mey mempunyai kemampuan salah satu dari 17 Magic Eyes, di mana ia terbiasa melihat aura di dalam diri setiap Cultivator yang ia temui, tidak terkecuali dengan manusia biasa, ketika seseorang mempelajari ilmu pedang, aura pedang akan mulai terbentuk dalam tubuhnya. Karena itu Qiau Mey melihat Nang In memancarkan aura pedang berwarna putih bersih yang penuh kesucian.


Menurutnya baru pertama kali ini ia melihat seseorang yang mempunyai aura pedang yang begitu tinggi, bahkan Ayahnya yang merupakan Patriack Heaven Moon Sect tidak mempunyai aura pedang setinggi itu.


Kekalahan Hwang Yuan membuat suasana sunyi sesaat, namun suara Nang In memecah keheningan tersebut.


"Tunggu apa lagi, bawa dia pergi dari sini!"


Beberapa murid masuk ke dalam arena dan membawa Hwang Yuan pergi untuk diobati.


Aksi Nang In mengalahkan Hwang Yuan membuat para murid yang menonton terkagum - kagum sekaligus heran.


Heran bagaimana bisa Nang In dengan Kultivasi Qi Gathering tingkat 12 mampu menahan serangan dari Hwang Yuan yang mempunyai tingkat Kultivasi Earth Foundation Low - Stage, bahkan menang dan mempermalukannya.


Setidaknya itu yang mereka pikirkan, namun bagi Nang In, apa yang ia lakukan barusan sangatlah sederhana, serangan yang dilancarkan Hwang Yuan memang kuat namun tidak memiliki dasar yang kuat, hanya sekedar menciptakan sama sekali tidak mengancam!


Mungkin karena kurang pengalaman atau kurang dilatih dengan matang, Nang In dengan mudah menekannya dengan qi tanpa harus menggunakan basic spirit nya, belum lagi sifat Hwang Yuan yang gampang tersulut emosi, membuatnya lebih mudah untuk dikalahkan.


Nang In tidak menyebut bahwa Hwang Yuan lemah, mungkin 'bodoh' adalah kata yang tepat untuk menggambarkan pemuda itu.


"Terima kasih"


Menoleh ke samping ia melihat Qiau Mey yang tersenyum ke arahnya.


"Tidak usah dipikirkan" ucap Nang In dengan singkat.


Qiau Mey ingin bertanya soal aura pedang yang Nang In miliki, namun gadis itu memilih menunda pertanyaannya sesaat dan menarik tangan Nang In.


"Apa yang ing-"


"Temani aku sebentar"


Nang In pasrah dirinya ditarik paksa oleh Qiau Mey menuju bangunan berlantai dua yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


Ketika masuk, di depannya terlihat seorang pria berumur 40 tahun sedang duduk bersila, pria itu memiliki fisik kurus dengan raut wajah yang begitu pucat, namun pancaran qi mengelilingi tubuhnya.

__ADS_1


Pria itu bernama Ming An, Patriack Heaven Moon Sect sekaligus ayah Qiau Mey. Saat keduanya masuk Ming An membuka matanya.


"Apa ada hal yang ingin kalian bicarakan?" ucap Ming An dengan ekspresi dingin.


Qiau Mey nampak ragu namun tetap memberanikan diri untuk menjawab, "Mohon maaf karena telah mengganggu waktu anda Patriack Mi-"


"Tidak usah terlalu formal, lagi pula tidak ada siapapun selain kita bertiga di ruangan ini" ucap Ming An tanpa mengubah ekspresnya.


"Maaf Ayah, izinkan aku untuk mengantar Saudara Nang melihat - lihat Kota Green Sky"


Ming An ingin menjawab, namun Qiau Mey buru - buru melanjutkan kembali.


"Ayah, kami janji akan pulang sebelum gelap!" ucap Qiau Mey dengan terburu - buru, takut ayahnya akan melarangnya.


"Pergilah"


Jawaban singkat dari Ming An membuat Qiau Mey terkejut, gadis itu mengira bahwa ayahnya akan melarangnya pergi ke kota.


"Te - Terima kasih Ayah, kalau begitu kami pergi"


Saat di pintu keluar Nang In langsung bertanya, "Apa harus gugup seperti itu saat berbicara dengan Ayahmu sendiri?"


"Sebenarnya aku tidak terlalu dekat dengan Ayahku, selain sibuk karena mengurus sekte, sikap Ayah kepadaku begitu dingin, membuatku sedikit canggung" ucap Qiau Mey sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.


Nang In menghela nafas, jelas hubungan keduanya tidak terlalu dekat, namun Qiau Mey masih termasuk gadis yang beruntung, mengingat dirinya sejak kecil yang tidak pernah mengenal ayah dan ibunya.


Keduanya sampai di pintu keluar sekte, awalnya mereka dihadang oleh salah seorang penjaga, namun Qiau Mey memberitahu bahwa ia sudah mendapatkan izin dari ayahnya untuk keluar sekte.


Penjaga itu pun memperbolehkan Qiau Mey dan Nang In pergi, disepanjang jalan keduanya mengobrol dengan asik, tentu Qiau Mey yang cenderung agresif bertanya, sedangkan Nang In hanya sekedar mengangguk - angguk kepala, menjawab secukupnya.


Keduanya berjalan cukup jauh menyusuri hutan, Nang In tidak mengetahui gadis itu ingin membawanya kemana, tetapi itu lebih baik dari pada harus terus mengurung diri di kamar.


Setelah beberapa saat, mereka berhenti di jalan yang permukaan tanahnya sedikit meninggi, dari bawah terlihat sebuah kota yang begitu luas.


"Kota itu bernama kota Green Sky, kota yang menjadi pintu masuk dari Kekaisaran Black Sun" ucap Qiau Mey sembari menunjuk Kota Green Sky dari kejauhan.

__ADS_1


Kota Green Sky adalah salah satu kota besar yang terletak di Kekaisaran Black Sun, seperti namanya kota ini begitu kaya dengan warna hijau, lebih tepatnya kota yang menghasilkan berbagai macam sayuran berkualitas tinggi, kota ini begitu terkenal karena menjadi pemasok sayuran untuk beberapa wilayah penting di Kekaisaran Black Sun, bahkan sampai ke luar kekaisaran.


Masuk ke dalam kota mereka berdua disugukan dengan pemandangan unik di mana setiap rumah penduduk memiliki setidaknya satu pohon yang tertanam di depan rumah mereka.


Membuat udara begitu sejuk, kepadatan qi di kota ini pun begitu banyak dan sangat asli, mungkin sangat berguna bagi para Cultivator untuk meningkatkan Kultivasi, namun sedikit kotor karena dedaunan yang berserakan di jalan.


Keduanya terus berjalan menuju dalam kota, mengamati aktivitas penduduk di sana, selain pohon yang tumbuh di depan rumah, mereka semuanya nampak normal, sama seperti mayoritas aktivitas yang dilakukan penduduk di kota - kota pada umumnya.


"Karena dekat hutan dan bukit, mayoritas mata pencarian disini adalah berkebun dan berdagang, tentu ada beberapa profesi lainnya namun tidak sebanyak dua tadi"


"Jadi kita kemari untuk membeli sayuran?" ucap Nang In memiringkan kepalanya.


"Tentu tidak, tujuanku yang sebenarnya ke kota ini adalah…", Qiau Mey menunjuk ke salah satu bangunan besar dengan penuh semangat, "Karena itu!"


Nang In melirik ke arah yang ditunjuk Qiau Mey, nampak bangunan megah yang begitu mencolok dari bangunan lainnya, di bangunan itu terdapat papan nama yang bertuliskan 'Happy Vegetables'.


Mengartikan arti namanya saja Nang In dapat menebak bangunan apa itu, di depan rumah makan itu berdiri dua Penjaga yang menjaga pintu masuk.


Masuk ke dalam, keduanya langsung menjadi pusat perhatian, selain Nang In yang mengenakan jubah hitam yang menunjukkan bahwa ia seorang pengembara, kecantikan Qiau Mey kerap membuat tidak fokus para pengunjung yang berada di tempat itu.


Beberapa pengunjung di sana memuji kecantikan Qiau Mey hanya sebatas rasa kagum, namun tidak sedikit juga mereka yang mempunyai pikiran jahat, tentu Nang In dapat mengetahuinya, namun ia hanya diam karena mereka tidak melakukan pergerakan apa pun.


Duduk di meja makan yang terletak paling pojok, mereka berdua langsung disambut hangat oleh pelayan wanita di sana.


"Tuan dan Nona ingin memesan apa?"


Nang In dan Qiau sudah selesai memesan, Nang In memutuskan untuk menyamakan pesanannya dengan Qiau Mey.


Nang In melirik ke arah sekitar, mayoritas pengunjung di sana adalah manusia biasa, tentu ada beberapa orang yang menarik perhatiannya, karena mereka adalah seorang Cultivator.


Suasana seketika menjadi panik, ketika terdengar suara keributan dari arah luar yang berujung terjadinya sebuah ledakan.


Duar!


Dua penjaga yang sebelumnya berdiri di depan pintu tiba - tiba terpental membentur dinding. Hal itu sontak membuat para pengunjung di dalam merasa terkejut sekaligus takut.

__ADS_1


Sosok pria besar dengan gadah raksasa masuk bersama rekan - rekannya yang mempunyai wajah suram, jelas mereka mempunyai niat yang tidak baik, sadar akan hal itu Nang In tersenyum kecil, sepertinya pertarungan terjadi di mana pun ia berada!


__ADS_2