Road To Immortality

Road To Immortality
Dipermainkan


__ADS_3

Namun sebelum Funsai sampai di tempat Nang In, pria itu menghentikan langkahnya karena mendengar teriakan dua temannya.


Menoleh ke belakang ia melihat dua kepala temannya yang terpisah dari tubuhnya, di depan mereka Niiu memandang rendah dua mayat di depannya.


"A - APA YANG KAU LAKUKAN B-JINGAN!"


Funsai berteriak ke arah wanita di depannya, matanya memerah panas, pria itu melihat Niiu dengan tatapan kebencian.


"Bukankah sudah jelas, aku sedang mengurangi jumlah pecundang di dunia ini!" ucap Niiu dengan nada datar sambil memainkan belatinya.


"KAU! DASAR B-JINGAN RENDAHAN AKAN KU BUNUH!"


Funsai kembali menerjang ke arah Niiu dengan pedang di tangan kanannya, namun lagi - lagi pria itu berhenti di tengah jalan karena kembali mendengar teriakan temannya.


"Ti....Tidak!"


Menoleh ke sumber suara ia melihat temannya ditusuk tepat di bagian dada oleh pemuda bertopeng, ironinya pedang itu miliknya sendiri, hal itu membuat Funsai menggertakan gigi lalu berlari ke arah Nang In.


"K - KAU LAGI! AKAN KU BUNUH-"


"Ka - Kakiku....!"


"Tidak...jangan bunuh aku!"


Lagi - lagi Funsai menghentikan langkahnya mendengar jeritan teman di belakangnya, setiap kali ia menuju ke arah Nang In pasti Niiu akan membunuh temannya, begitu pun sebaliknya, rasanya ia sedang dipermainkan oleh keduanya.


Hal ini yang perlahan membuat pria itu bingung. Menoleh ke arah depan dan belakang, ia melihat satu persatu temannya dihabisi dengan kejam, barulah ia menyadari bahwa saat ini nyawanya dan nyawa teman - temannya berada di ujung tanduk.


"Ti - Tidak...! jangan bunuh sahabatku..! tidak!" Funsai berteriak frustasi melihat satu persatu sahabatnya dibunuh dengan sadis.


Tanpa mempedulikan tangisan Funsai, Niiu menyerang rekan pria itu tanpa ampun menggunakan belatinya, meski mereka berlutut sekali pun wanita itu tidak menahan diri untuk mengirim mereka ke alam berikutnya.


Nang In memutuskan untuk melakukan hal yang sama, entah kenapa demon jade dalam dirinya terus mendorongnya untuk membunuh dan terus membunuh, rasanya perasaan haus darah dalam dirinya selalu bangkit jika melihat darah tepat di depan matanya.


Nang In menyerang anak buah Funsai dengan cara memotong lengan atau kaki mereka lalu membunuh mereka dengan cepat.


"Ka - Kakiku....!"


"Tidak, tanganku...!"

__ADS_1


"Ku mohon ampuni-!"


"Jangan...!"


Jeritan kematian teman - temannya yang menggema di telinga Funsai, membuat pria itu terdiam dengan wajah yang tertekan, pria itu mengingat pertama kali ia membentuk kelompok lalu mengumpulkan orang, setelah cukup banyak, mereka melakukan berbagai macam kejahatan, perampokan, pembunuhan, perdagangan manusia dan lain sebagainya.


Hal ini yang membuat pria itu berpikir jika perbuatan yang mereka lakukan sebelumnya sedang dipertanggung jawabkan detik ini juga, semakin lama Funsai tidak lagi mendengar jeritan teman - temannya.


"Ti - Tidak!"


Pria itu berlutut dengan ekspresi kosong, nampak tidak percaya jika teman - teman seperjuangannya telah tewas begitu mudahnya.


"Ke - Kenapa kalian membunuh teman - temanku?" tanya Funsai dengan ekspresi ketakutan, mental pria itu sudah hancur sepenuhnya.


"Aku tidak akan memberi ampun jika ada orang yang berniat buruk pada anakku" ucap Niiu dengan dingin, sebagai pengawal setia, Niiu sudah mencurahkan hidupnya untuk melindungi Xuan Li yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.


"Sedangkan aku!" Nang In membuka topengnya memperlihatkan mata merah dengan seringai kejam yang membuat tubuh Funsai membatu karena ketakutan.


"Aku hanya ingin bermain - main dengan kalian!"


Mendengar jawaban singkat dari Nang In membuat Funsai bertambah ketakutan, tubuh pria itu gemetar hebat karena melihat sosok iblis di depannya.


Nang In mengambil pedang di pinggang Funsai lalu mengarahkan di leher pria itu, "Selamat tinggal!"


Sekali tebas sebuah kepala menggelinding di lantai, setelah membunuh Funsai, Nang In tiba - tiba berlutut sambil batuk, kedua matanya yang memerah kembali menghitam seperti sebelumnya.


"Si - Sial, sebenarnya apa yang tadi aku katakan, kenapa aku mengucapkan kalimat mengerikan seperti itu" gumam Nang In merasa heran dengan dirinya beberapa saat lalu.


Sejak ia membunuh Wanyan dengan anak buahnya, kepribadian Nang In terkadang berubah menjadi sosok yang gila membunuh.


Nang In bangkit lalu berjalan menuju meja tempat ia duduk sebelumnya, meletakkan beberapa koin perak lalu keluar dari kedai menghiraukan tatapan penuh ketakutan para pengunjung di sana.


Sementara Niiu yang melihat Nang In pergi tersenyum dalam cadarnya, tidak ada yang mengetahui apa yang sedang dipikirkan wanita itu kecuali dirinya sendiri.


"Demon jade! ini semua karena giok terkutuk itu...!" gumam Nang In sambil keluar dari kedai.


Kekhawatiran kedua gurunya benar, ketika demon jade bangkit, Nang In akan selalu haus akan hasrat membunuh dan cinta pertumpahan darah.


Seperti halnya makan dan tidur yang menjadi kebutuhan pokok manusia, kini setiap bulannya, Nang In harus memuaskan nafsu membunuhnya dan memberi 'makan' demon jade dengan makhluk hidup atau dengan jumlah qi yang cukup.

__ADS_1


Meski belum mengetahui dampak jika tidak memenuhi hasrat tersebut, namun sudah pasti bahwa itu bukanlah hal yang baik.


Namun dengan semua hal jelek yang terdapat pada demon jade، giok terkutuk tersebut mempunyai kemampuan diluar nalar untuk menyerap sebagian qi dan baru - baru ini giok itu memperlihatkan kemampuan khususnya yaitu menyerap hampir semua jenis makhluk hidup menjadi kekuatannya.


Dengan kata lain, semakin Nang In membunuh dan menyerap banyak makhluk hidup, maka pemuda itu akan semakin kuat dengan sendirinya.


**


Ketika Nang In sudah keluar dari kedai dan hendak melanjutkan perjalanan, suara yang tidak asing memanggilnya.


"Tunggu!"


Menoleh ke belakang ia terkejut karena yang memanggilnya adalah Niiu dan dibelakangnya Xuan Li tengah menunggu disebuah kereta kuda.


"Kau memanggilku Nyonya?" ucap Nang In basa - basi.


"Tentu siapa lagi" ucap Niiu dengan singkat.


"Ada keperluan apa hingga Nyonya memanggilku?" tanya Nang In.


"Kami hendak pergi ke Kota Blackrock untuk melihat turnamen muda, namun aku mendapat kabar jika tepat di desa selanjutnya terdapat cultivator aliran hitam yang menguasai desa tersebut, untuk berjaga - jaga" Niiu melirik ke arah Xuan Li, "Putri cantik kami ingin menyewa anda sebagai pengawal untuk sampai di Kota Blackrock"


"Bukankah senior lebih kuat dariku, kenapa repot - repot ingin membayarku?" tanya Nang In, ia tidak ingin terkena masalah jika dekat dengan Xuan Li.


"Aku hanya ingin berjaga - jaga saja, selain itu kami bisa membayar mahal anda"


"Maaf aku sama sekali bukan orang yang kekurangan-" ucapan Nang In tersangkut di tenggorokan karena Niiu mengeluarkan kotak yang berisi spirit herb yang begitu langka.


Mata Nang In berbinar, "I..Ini? apakah ini benar - benar-"


Sebelum Nang In menyentuh spirit herb tersebut Niiu langsung menutup kotaknya, membuat pemuda itu menjadi lebih penasaran.


"Jika kau bersedia menjadi pengawal kami, maka spirit herb ini akan menjadi milikmu, menarik bukan?" ucap Niiu lalu menaruh kotak tersebut di space ring miliknya.


Nang In diam - diam menelan ludah, apa yang ada di kotak tersebut merupakan Blood Carrot, spirit herb yang sebelumnya hendak ia beli di Sky Treasure House, spirit herb itu kurang lebih berusia 20 tahun sehingga membuat aroma yang terpancar begitu pekat.


Nang In menghela nafas lalu menjawab, "Baiklah, aku terima tawaranmu"


Niiu tersenyum dalam cadarnya, "Kalau begitu ikut aku, Tuan Putri pasti senang dengan kehadiranmu"

__ADS_1


Nang In mengikuti Niiu menuju kereta kuda yang terdapat lambang Star Alchemist Association, melihat gadis di depannya yang berekspresi buruk ketika melihatnya, diam - diam Nang In bergumam dalam hati.


"Bukankah kau bilang gadis ini senang dengan kehadiranku? lalu apa - apaan dengan tatapan yang seakan ingin menerkamku itu!"


__ADS_2