
"Nak sadarlah..."
Membuka matanya, Nang In merasa pusing sekaligus panas di kedua pipinya, rupanya Zhou Jin sedang menampar kedua pipinya.
Merasakan tamparan Zhou Jin yang semakin kencang membuat Nang In ingin protes, karena Pria Tua itu sama sekali tidak menahan diri kepadanya, namun suara Lin Yue terdengar.
"Berhenti menampar In'er dasar tua Bangka!"
"Ma - maaf Yue'er, aku bermaksud untuk menyadarkannya"
"Tapi tidak berlebihan seperti itu!"
Mendengar Pria Tua itu kena marah, entah kenapa Nang In merasa puas, namun terkejut ketika tangan lembut mengelus kepalanya.
"Bagaimana keadaanmu Nak?"
"Tubuhku terasa sangat berbeda Guru, namun aku tidak tau kenapa"
Tidak menanggapi jawaban Nang In, Lin Yue fokus ke arah perut Nang In yang terdapat segel berbentuk tiga bilah cakar yang terlingkari tulisan kuno berwarna hitam.
Sebaliknya, segel di perut Zhou Jin kini menghilang, Lin Yue bisa menyimpulkan bahwa ritual tahap pertama telah selesai, sebenarnya ia sedikit khawatir dengan keselamatan Nang In, lagi pula ritual pemindahan ini berbeda dari ritual yang seharusnya dilakukan dan baru pertama kali ia lakukan.
"Apa ritual ini telah selesai Guru?" ucap Nang In dengan heran, menurutnya ritual ini terlalu mudah dan singkat, tidak seperti ritual yang ia bayangkan, yang dipenuhi darah dan teriakan.
Tentu saja Nang In tidak mengharapkan ritual yang mengerikan seperti itu, namun dirinya sudah siap dengan kemungkinan yang ada.
"Ritual pertama telah berhasil dan kita akan masuk ke ritual terakhir, jadi sebaiknya kau bersiap Nak" ucap Lin Yue sambil mengelus kepala Nang In lalu keluar dari lingkaran sihir.
__ADS_1
"Baik Guru"
Beberapa detik setelah Lin Yue dan Zhou Jin menjauh, jantung Nang In berdetak lebih kencang dari biasanya, temperatur tubuhnya naik pesat, ritual terakhir sepertinya akan segera dimulai!
"Ugkkh panas sekali!"
Perut Nang In terasa panas, ia bisa merasakan segel kuno di perutnya bereaksi, terbukti segel kuno itu berubah warna menjadi merah dan menyebar menuju dada. Lin Yue dan Zhou Jin yang sudah berada di luar lingkaran sihir serempak melakukan segel tangan, persegi terbuat dari qi berwarna merah terbentuk dan mengurung Nang In yang terlihat kebingungan.
"Proses terakhir ini akan sangat menyakitkan, jadi bertahanlah Nak! "ucap Lin Yue.
"UGKKH!"
Segel merah yang berada di tubuh Nang In membuatnya mengaum kesakitan, urat - urat keluar dari tubuhnya, selain merasa panas seperti terbakar, tubuhnya seperti sedang tercabik - cabik.
Kedua matanya memerah, darah keluar dari hidung, mulut dan telinga tanpa henti, tubuhnya bergetar hebat tampak meringkuk kesakitan, ia benar - benar merasakan apa itu penderitaan!
Nang In terlilit segel merah yang membuat tubuhnya dilanda rasa sakit yang teramat berlebihan, saking berlebihannya ia sempat berpikir bahwa mati lebih baik!
**
3 bulan kemudian.
Di bawah langit gelap yang diterangi cahaya bulan, terlihat seorang anak yang sedang terikat dengan rantai dilapisi aura ungu. Benar, anak itu adalah Nang In, bocah yang sedang melakukan ritual untuk menjadikan dirinya seorang Heaven Seal.
Membuka mata, ia merasa kepalanya sangat pusing, "Apa yang terjadi?" ucapnya dengan nada lirih, seingatnya dia sedang dalam proses ritual untuk menjadikan dirinya sebagai seorang Heaven Seal.
Setelah 3 bulan mengalami penderitaan yang teramat menyakitkan, Nang In akhirnya bisa bernafas lega meskipun sesaat, karena melirik ke sekitar ia terkejut dengan pemandangan yang ada di depannya, tempat yang Nang In lihat begitu berbeda dengan hutan yang ia lihat sebelumnya.
__ADS_1
Sebelumnya hutan Pulau Rempah merupakan hutan beriklim tropis yang tidak terlalu panas dan tidak sering mendung, namun sekarang hutan itu berbeda.
Sejauh mata memandang Nang In hanya melihat benda putih dan bongkahan es yang menenggelamkan segalanya, matahari tidak menampilkan wujud, hanya awan putih yang menerbangkan salju yang tidak ada batasnya.
Suhu menjadi lebih rendah, sangat rendah, namun entah kenapa ia sama sekali tidak terpengaruh dengan suhu rendah tersebut, justru merasa sangat nyaman, hal ini membuatnya merasa aneh!
"Apa yang terjadi?!"
Belum sempat mengetahui situasi yang ada di sekitarnya, Nang In kembali dibuat terkejut dengan keadaan tubuhnya, badan bagus yang ia latih sebelumnya berubah menjadi kurus kering seperti hanya menyisakan tulang, wajahnya tirus menampilkan tulang di pipinya yang mengisyaratkan tidak makan selama berbulan - bulan.
Nang In tidak menyadari bahwa rambutnya sempat memutih dan kembali menghitam setelah dirinya sadar, bahkan kedua matanya tampak berbeda dari biasanya. Selain itu, segel merah yang sebelumnya menyiksa dirinya telah hilang, menyisakan segel berbentuk tiga bilah cakar yang terlingkari tulisan kuno berwarna hitam di dadanya.
Mengesampingkan keadaannya, ia berpikir untuk mencari kedua Gurunya, namun rantai berwarna ungu mengikatnya dengan kencang.
Beberapa saat setelahnya, tanah yang ia pijak bergetar, sebuah benteng terbuat dari es muncul dari bahwa tanah, menampilkan kesan berkelas pada benteng tersebut karena terbuat dari es yang dipahat.
Pintu benteng terbuka memperlihatkan dua sosok yang ia kenal. Melihat kedua Gurunya muncul, Nang In merasa senang, setelah mengalami siksaan yang begitu berat, kedatangan Guru sekaligus orang tuanya membuatnya merasa tenang.
Seperti biasa, Zhou Jin datang dengan wajah yang penuh dengan lebam, Pria Tua itu seperti sangat suka mencari alasan agar dipukuli oleh istrinya, benar - benar membuatnya heran!
Sedangkan Lin Yue, wajah wanita Tua itu selalu tampil dingin dan cuek, tapi sebenarnya ia sangat baik, setidaknya jika sedang tidak marah.
Melihat muridnya yang masih hidup meski telah mengalami siksaan berat, Lin Yue merasa bersalah sekaligus bersyukur, merasa bersalah karena usul darinya Nang In harus mengalami penderitaan dan merasa bersyukur bahwa Nang In masih hidup, meski dengan keadaan tubuh yang kurang sehat.
Wanita Tua itu tersenyum lalu mengelus rambut Nang In, "Kau berhasil Nak"
Merasa tangan halus menyentuhnya, Nang In memejamkan mata, ia tersenyum merasakan kelembutan tangan wanita tua itu.
__ADS_1
Merasakan kasih sayang dari kedua Gurunya, Nang In merasa bersyukur dan hal ini yang memantapkan tujuannya untuk terus bertambah kuat hingga mampu melindungi orang - orang yang disayanginya, sekaligus mencari keberadaan pamannya!