
Malam harinya ketika Nang In dan yang lainnya sudah berisitirahat dengan tenang, ia sedikit merinding ketika menyadari ada orang yang menunjukkan hawa keberadaan ke arahnya secara terang - terangan.
"Bukankah ini sudah malam, apakah mereka tidak mengantuk menyerang orang tengah malam seperti ini?" Nang In tidak bisa tidak bertanya dalam hati, khususnya orang yang ingin mencari masalah dengannya.
Pemuda itu keluar kamar kemudian berdiri di tengah halaman dengan tenang, menatap ke sekelilingnya yang begitu sepi, pemuda itu menghela nafas sebelum melirik ke arah tertentu.
"Apa kau tidak mengenal waktu? kenapa harus tengah malam seperti ini?" tanya Nang In dengan ekspresi datar ke sebuah pohon di depannya.
Pemuda itu tidaklah terkejut dengan sosok yang menemuinya, meski sempat bertemu sekali, namun pemuda itu tidak menurunkan kewaspadaannya sedikit pun.
"Aku hanya ingin menyapamu sebentar" ucap sosok yang berada di balik pohon.
Di balik pohon keluar seorang gadis berambut perak yang mengenakan jubah hitam, selain mempunyai wajah yang cantik, sepasang mata biru cerah menatap Nang In dengan tatapan penuh ketertarikan.
"Ada urusan apa kau menemuiku? bagiamana jika Tetua Fuan mencarimu?" tanya Nang In kepada gadis berambut perak di depannya.
"Cih, aku bukan anak kecil yang harus dijaga setiap saat! meski dia mempunyai tanggung jawab atas diriku, namun bukan berarti dia dapat selalu mengatur hidupku!" Gadis berambut perak berdecak tidak puas, meski sedang kesal gadis itu terlihat sangat manis.
Ya. Gadis itu adalah Bai Luinha!
'Menggunakan jubah hitam, menyusup ke kediaman seseorang, gadis itu benar - benar seperti seorang pencuri!' gumam Nang In dalam hati, ia benar - benar bingung bagaimana sosok yang dikenal sebagai salah satu dari 4 Angles melakukan hal seperti ini!
Nang In menghela nafas, lalu berkata dengan ekspresi tidak peduli "Lalu apa urusannya denganku?" tanya pemuda itu tanpa basa - basi, bukannya merasa jengkel, Bai Luinha justru tersenyum.
"Hmm seperti yang ku harapkan dari dirimu, begitu dingin dan cuek" Bai Luinha tersenyum sambil menggeleng ringan, "Ya. Tidak buruk juga!"
"Berhenti bertele - tele, sebenarnya apa yang kau inginkan?" ucap Nang In sambil menyipitkan matanya.
"Aku tidak bisa tidur" jawab Bai Luinha sambil tersenyum polos.
Melihat alasan konyol gadis di depannya, membuat sudut bibir Nang In berkedut, ia tidak habis pikir jika gadis itu menganggu waktu tidurnya yang berharga hanya karena tidak bisa tidur!
Menunjuk gadis berambut perak di depannya dengan ekspresi kesal, Nang In berseru, "Omong kosong! lalu apa urusannya denganku!?" tanya Nang In dengan nada sedikit meninggi, "Apa aku harus menceritakanmu dongeng sebelum tidur? atau aku harus-"
"Ya...tolong ceritakan aku dongeng sebelum tidur"
__ADS_1
Situasi seketika menjadi sunyi, Nang In menatap Bai Luinha dengan tatapan kosong, ia tidak menyangka gadis berambut perak itu menjawab dengan senyum polosnya, nampak tidak merasa bersalah mengganggu waktu istirahat seseorang!
"Gadis menyebalkan ini!" Nang In berdecak tidak puas, namun akhirnya pemuda itu menghela nafas panjang, "Baiklah, tapi ingat setelah ini segera pergi dari sini dan jangan ganggu aku!"
"Benarkan? terima kasih, kau benar - benar orang baik" Bai Luinha tersenyum ceria kepada pemuda di depannya, jika pria normal melihat senyuman gadis itu, mereka pasti semakin tergila - gila dengan kecantikannya.
Namun Nang In berbeda, bukannya terpukau atau merasa kagum, pemuda itu justru memasang ekspresi cuek, nampak tidak peduli sama sekali dengan kecantikan gadis itu!
"Berhenti basa - basi, cepat tentukan di mana aku akan membacakan mu cerita?" tanya Nang In tanpa basa - basi.
"Hmmm apa segitunya kau ingin berdua denganku?~" tanya Bai Luinha dengan senyuman menggoda, gadis itu mendekat ke arah Nang In.
"Menjauh dariku! kau membuatku risih!" ucap Nang In sembari menjauh dari Bai Luinha.
"Lucu sekali, jadi sekarang kau malu - malu~" ucap Bai Luinha sambil tersenyum, bukannya menjauh, gadis itu bahkan semakin lengket dengan merangkul tangan pemuda itu kemudian menariknya ke suatu tempat.
**
"Bagaimana, indah bukan tempat ini?" tanya Bai Luinha sambil merentangkan kedua tangannya, gadis itu memejamkan mata, merasakan dinginnya angin pada malam hari.
"Hmm lumayan" ucap Nang In dengan ekspresi datar, sebenarnya pemuda itu sangat kagum dengan lautan bintang yang saat ini ia lihat. Namun Nang In malu untuk mengakui secara langsung kepada gadis itu.
"Meski tempat ini bagus, tetap saja kita hampir ketahuan!" Nang In berdecak tidak puas kepada gadis berambut perak di depannya.
"Tidak masalah, yang penting kita tidak ketahuan bukan? hehe" ucap Bai Luinha tertawa kecil.
Pada saat naik ke bukit mereka berdua harus menghindari beberapa anggota Klan Song yang berpatroli, karena keduanya mempunyai kemampuan menyusup yang baik mereka dapat mengelabui para penjaga dan sampai di puncak bukit dengan aman.
"Silahkan ceritakan padaku tentangmu?" ucap gadis itu sambil menyenggol perut Nang In.
"Tunggu, bukankah sebelumnya kau bilang dongeng? ah sudahlah!" Nang In tidak ingin berdebat lebih jauh maka dari itu ia memulai menceritakan tentang dirinya, "Aku tidak menjamin jika ceritaku akan menarik"
Bai Luinha menggeleng ringan, gadis itu seperti tidak sabar ingin mendengar kisah dari Nang In.
Nang In menghela nafas sebelum mulai menceritakan tentang dirinya, ia sedikit bercerita tentang awal perjalanannya, dimulai dari petualangannya di Heaven Moon Sect kemudian pertemuannya dengan Gong Mu di Southern Spear Sect hingga sampai dititik sekarang.
__ADS_1
Meski terkesan membosankan namun bagi Nang In, awal perjalanannya hingga sekarang merupakan titik yang membentuk dirinya hingga saat ini.
Ya. Tentu Nang In tidak menceritakan tentang dirinya yang mencuri harta berharga milik Black Skull Valley, kemudian bertemu dengan kedua gurunya, cerita yang bersifat penting tidak ia ceritakan. Meskipun ia percaya jika Bai Luinha tidak akan membocorkan apa pun tentang rahasianya, pemuda itu tetap akan berhati - hati.
"Ya. Meski tidak terlalu seru, namun setidaknya dengan perjalanan ini, aku tumbuh menjadi diriku saat ini" Nang In melirik ke arah gadis berambut perak di depannya, "Tentu tidak buruk bukan kisahku?"
Mendengar cerita Nang In, Bai Luinha mengangguk, "Itu kisah yang menarik, kau beruntung bisa menemukan kisahmu sendiri" Bai Luinha tersenyum, namun senyumannya menunjukkan kesedihan yang mendalam.
"Bagaimana denganmu?" Nang In spontan bertanya karena penasaran kenapa Bai Luinha menunjukkan ekspresi seperti itu.
Gadis itu tersenyum sembari sesaat menatap langit, "Kisahku sedikit memilukan, apa kau tetap ingin mendengarnya?"
"Tentu, kenapa tidak?" Nang In memiringkan kepalanya.
Bai Luinha menghela nafas sebelum mulai menceritakan kisah dirinya, "Aku anak dari dua Cultivator yang sangat berpengaruh di Frozen Island, sebelumnya apa kau tau jika tubuhku merupakan tubuh 'Ice Body'? para Demonic Beast begitu tergila - gila ingin memakan tubuhku karena dapat menguatkan kemampuan mereka,
Ayahku adalah pahlawan Frozen Island, dia gugur karena melindungi tempat kelahirannya dari serangan Demonic Beast yang mengincar diriku, namanya harum hingga sekarang, sedangkan ibuku..." Bai Luinha berhenti sejenak memaksakan dirinya agar tetap tegar, kemudian kembali melanjutkan.
"Ibuku seorang Cultivator paling jenius pada generasinya, namun sayang, dia meninggal karena harus melindungiku dari serangan Cultivator yang mengincar diriku..."
Melihat kedua mata Bai Luinha yang sedikit basah, Nang In ingin menghentikan gadis itu agar tidak bercerita lebih banyak lagi, namun nampaknya Bai Luinha sedang meluapkan emosinya.
Gadis itu begitu terpukul karena kematian kedua orang tuanya, sejak awal Bai Luinha selalu beranggapan bahwa dirinya penyebab matinya keduanya orangtuanya dan bencana yang menyerang pulaunya, karena itu dia depresi, tapi untuk menyembunyikan semua perasaan aslinya, dia bersikap kuat, kekanak - kanakan, seenaknya, hal itu untuk menutupi kesedihannya.
"Jika saja...! jika saja aku tidak ada...! mungkin ibuku tidak akan-" Bai Luinha menghentikan ucapannya karena Nang In mengelus kepalanya.
"Seorang ibu akan melakukan apa pun demi anaknya bahkan meski harus mengorbankan nyawanya. Ya, itulah orang tua, tidak masuk akal bukan?" Nang In terus mengelus kepala Bai Luinha sambil menatap langit, "Terkadang sesuatu yang tidak masuk akal itu nyata, kasih sayang seorang ibu nyata. Aku memang tidak mengetahui tentang orang tuamu, namun aku yakin jika kedua orang tuamu..."
Nang In tersenyum lembut ke arah Bai Luinha, "Sangat menyayangimu. Apa yang harus kau lakukan sebagai balas budi? hidup, tetaplah hidup dengan baik, karena itulah yang orang tuamu inginkan,
Sadarlah kau bukanlah pembawa kutukan, kau seorang jenius, Bai Luinha dari Frozen Island!"
Mendengar ucapan Nang In, Bai Luinha tertegun, gadis itu tanpa sadar menitikan air mata, menangis di pelukan Nang In.
Mengelus lembut kepala gadis itu, Nang In membiarkan Bai Luinha menangis sepuasnya hingga akhirnya keduanya tertidur dibawah jutaan bintang yang bertaburan di angkasa.
__ADS_1
Jangan lupa Like dan Coment- nya teman - teman.