
Siang harinya suasana desa begitu sepi berbeda dari biasanya, itu karena hampir semua warga memilih untuk berdiam diri di dalam rumah karena takut kedatangan Tuan Wanyan dengan anak buahnya.
Sama halnya dengan Nang In, ia dibawa kepala desa untuk berdiam diri di rumahnya sambil menunggu para bandit datang.
Siang berganti sore, setelah menunggu beberapa lama terdengar suara keributan di desa, Nang In dan kepala desa segera pergi keluar untuk memeriksa asal keributan itu.
"Sepertinya itu suara Tuan Wanyan!" ucap salah satu warga yang keluar dari rumah.
"Benar, jangan - jangan mereka sudah datang?" ucap rekannya.
Mereka berempat termasuk Nang In menuju lapangan yang sebelumnya menjadi tempat pembunuhan Yanjian, di sana mereka melihat seorang pria kurus tinggi, dibelakangnya tiga puluh orang lengkap dengan pedang dan tombak memasang ekspresi garang di wajah mereka. Pria kurus menodongkan pedangnya dihadapan wanita paruh baya bersama cucu perempuannya.
"Cepat katakan apakah pagi tadi Yanjian kesini atau tidak?!" ucap pria kurus itu dengan nada kasar.
"A...Aku tidak tau Tuan" wanita tua itu menjawab dengan gugup.
"Kalau begitu aku akan membunuh cucumu agar kau berkata jujur!" ucap pria kurus itu lalu mengarahkan pedangnya di leher cucu perempuannya yang masih anak - anak.
"Tuan Wanyan, tolong jangan bunuh cucu saya Tuan! saya sungguh tidak tau apa - apa!" wanita tua itu menangis sambil memeluk erat cucunya, ia memohon agar pria kurus yang bernama Wanyan tidak menyakiti cucunya.
"Jadi orang bodoh yang bernama Wanyan itu kau?" Nang In yang tiba disana langsung bertanya dengan kepala miring kesamping.
Menoleh ke sumber suara mereka melihat seseorang yang mengenakan jubah dan topeng.
"Hei anak muda, jika kau masih sayang nyawa maka jaga ucapanmu!" ucap salah satu anak buah Wanyan.
Nang In fokus kepada wanita tua di depannya lalu berkata, "Nek, cepat segera masuk ke dalam rumah"
"Jangan berani pergi sebelum aku selesai berbicara!" ucap Wanyan dengan mata melotot.
Wanita tua itu menjadi enggan untuk melangkah lalu melihat ke arah Nang In dengan ekspresi ketakutan, saat itu suara Nang In kembali terdengar.
"Jika kalian mencari empat anak buah kalian yang tidak pulang, maka ikuti aku, aku tau di mana mereka" Nang In melirik ke arah wanita tua tadi lalu mengangguk.
Wanita tua menganggukkan kepala sebagai tanda mengerti lalu meninggalkan mereka tanpa dihalangi Wanyan.
"Cepat bawa aku ke tempat mereka!" ucap Wanyan dengan ekspresi kesal.
Nang In pun berjalan menuntun mereka masuk ke dalam hutan, ia sengaja menjauhkan mereka dari rumah penduduk karena takut diantara para warga akan dijadikan sandera.
Selain itu hal ini untuk mempermudahnya bertarung tanpa harus dilihat oleh para warga bagaimana cara Nang In akan membunuh mereka.
Kepala desa dan para warga tidak ikut masuk ke dalam hutan, mereka hanya berharap bahwa Nang In akan baik - baik saja dan permasalahan mereka terselesaikan.
Di dalam hutan Nang In terus membawa masuk mereka menuju tempat yang sudah ia siapkan.
"Apakah masih jauh?!" tanya Wanyan.
__ADS_1
"Sudah dekat" ucap Nang In dengan singkat.
"Jika kau berani membohongi kami, kau akan tau akibatnya!" ancam salah satu rekan anak buah Wanyan.
Nang In tidak menjawab dan hanya fokus menuntun mereka, setelah beberapa saat Wanyan kembali bertanya.
"Apakah masih jauh?!"
"Sudah dekat!" ucap Nang In dengan singkat.
Setiap kali Wanyan bertanya, Nang In selalu menjawab sudah dekat, hal ini membuat mereka curiga bahwa sebenarnya mereka telah ditipu.
"Hey bocah! apa kau mencoba menipuku?!" Wanyan yang sudah kehilangan kesabaran bertanya sambil mengeluarkan sebilah pedang dari punggungnya.
"Tidak, kita sudah sampai!" ucap Nang In sembari menyeringai dibalik topengnya.
"Bocah tengik ini menipu kita!" melirik ke arah sekitar yang mereka lihat hanyalah pepohonan, tidak ada tanda - tanda keberadaan anak buahnya.
"Apa kalian tuli, aku memang mengetahui keberadaan mereka tapi tidak pernah mengatakan jika mereka berada di dalam hutan?" Nang In memiringkan kepalanya, "Aku hanya meminta kalian untuk ikut, karena disinilah tempat aku akan membunuh kalian!"
"Pfft hahahaha, teman - teman dia bilang ingin membunuh kita? jangan bercanda, bocah ini pasti sudah gila hahahaha!" salah seorang rekan Wanyan tertawa mendengar ucapan Nang In, begitu pun dengan semuanya mereka tertawa gila menganggap bahwa ucapan Nang In sekedar candaan belaka.
Salah seorang dari mereka maju satu langkah sambil merentangkan kedua tangannya, "Hahaha kau ingin membunuhku? silahkan saja jika kau mampu-"
Blar!
Semua tawa mereka terhenti ketika melihat salah satu temannya mati mengenaskan dengan ekspresi kosong dan perut yang berlubang.
Keterkejutan mereka bahkan belum berakhir saat Nang In menyerang salah satu temannya dengan pukulan yang sama namun mengarahkannya tepat di bagian dada, seketika orang itu hancur dengan keadaan yang sama bahkan sedikit lebih parah.
Dua orang mati dengan cara dan keadaan yang mengerikan, sedangkan Wanyan dan ke dua puluh tujuh anak buahnya hanya bisa mematung tanpa bisa mengedipkan mata, karena pembunuhan begitu cepat terjadi.
"Apa ada hal lain lagi yang ingin kalian tertawakan?" ucap Nang In dengan nada yang ramah namun terdengar mengancam.
"Bu - Bunuh anak itu!" Wanyan memberi perintah kepada para anak buahnya.
Saat itu mereka yang percaya diri dengan jumlah, langsung menyerang dengan teriakan yang mengalahkan ketakutan mereka.
Nang In menciptakan dua pedang dari es lalu ikut berlari ke arah mereka, gerakannya yang terlalu cepat membuat ia dapat menangkis semua serangan yang mengarah padanya.
"Sakura Bloosom Teqnique - Tarian Pertama!"
Gerakan Nang In yang semula berfokus pada bertahan kini menjadi lebih lentur seperti orang yang sedang menari. Dua pedang di tangan kanannya bergerak dengan lihai memotong satu persatu kerongkongan anak buah Wanyan.
Satu, dua, tiga, mayat para bandit berjatuhan dalam hitungan detik, jika hanya itu bukan apa - apa karena setiap mayat setidaknya tubuh mereka telah terpisah menjadi dua bagian dan paling parah mereka terpotong menjadi puluhan daging cincang.
"Hahaha ini menyenangkan, sangat - sangat menyenangkan!
__ADS_1
HAHAHAHAHA!"
Diantara puluhan daging yang Nang In injak, pemuda itu tertawa gila dengan kepala yang mendongak langit, ekspresi Nang In begitu bahagia dengan kedua mata yang berubah warna menjadi merah darah!
Hal ini membuat para bandit ketakutan, mereka hendak melarikan diri namun saat itu juga, siapa pun yang ingin melarikan diri mereka semua pasti mati dengan belati es yang menancap di tenggorokan mereka.
"To - Tolong tuan, kami telah melakukan kesalahan, tolong ampuni kami" salah satu bandit bersujud meminta pengampunan.
Nang In berjalan santai ke arah pria tersebut, lalu di depan tatapan terkejut semua orang ia menginjak kepala bandit tersebut hingga hancur memuntahkan otak dan segala isinya.
Setelah membunuh semua anak buah Wanyan, Nang In berlutut sambil menutupi wajah dengan dengan tangannya, ada hal penting yang sejak tadi mengganggunya.
"Sial! Ini mengerikan, tidak salah lagi ini pasti efek dari demon jade!" gumam Nang In sambil menyeringai kejam.
Kepribadian Nang In kini berubah sedemikian rupa menjadi pribadi sadis yang menikmati pembunuhan, ia menebak bahwa perubahan yang terjadi pada dirinya akibat efek dari demon jade.
Pada saat itu, bayangan Nang In yang semula normal perlahan menggeliat lalu membentuk mahluk aneh dengan mulut yang dipenuhi taring tajam.
Kemudian bayangan itu perlahan meluas dan 'memakan' satu persatu jasad yang sudah terbelah menjadi dua maupun yang sudah menjadi puluhan daging cincang, hal itu benar - benar disapu bersih!
"Ah. Perasaan ini begitu menakjubkan!" ucap Nang In sambil mendongak langit, ekspresi pemuda itu nampak bahagia namun sangat gila.
Melihat pemandangan yang begitu mengerikan membuat Wanyan takut setengah mati, meski dirinya Cultivator Qi Gathering 5 namun dipastikan dapat dibunuh dengan mudah oleh pemuda di depannya.
Segera Wanyan melarikan diri dengan sisa keberanian yang ia miliki, pria itu menuju di desa untuk meminta perlindungan dari para warga agar meminta Nang In mengampuni nyawanya.
"Tolong aku! Ada iblis yang ingin membunuhku!" setelah tiba di desa, Wanyan berteriak seperti tidak mempunyai rasa malu.
Para warga desa spontan menutup pintu rumah mereka saat melihat kedatangan pria itu dengan wajah ketakutan.
Kepala desa menggeleng ringan melihat pria di depannya, ia merasa kasihan namun mengingat bahwa Wanyan merupakan orang yang memerasnya ia menjadi enggan untuk menolongnya.
"Mau kemana kau?" ucap Nang In yang berhasil menyusul Wanyan.
Kepala desa menghirup nafas dingin ketika melihat jubah Nang In yang bermandikan darah, "Sebenarnya siapa pemuda ini?"
"Tolong jangan bunuh saya! saya berjanji akan berbuat baik!" teriak Wanyan.
"Hmm benar juga, bukankah kau ingin pergi di mana para anak buahmu pergi?"
Wanyan menggeleng cepat, ia paham jika para anak buah yang ia cari sudah mati di tangan pemuda di depannya.
"Di mana letak persembunyianmu!" ucap Nang In.
Wanyan spontan memberitahu lokasi markasnya pada Nang In, pemuda itu melihat ke arah kepala desa, pria tua itu mengangguk lalu memerintahkan para warga untuk pergi ke tempat persembunyian Wanyan.
"Bagus, tugasmu sudah selesai"
__ADS_1
Mendengar ucapan Nang In, Wanyan tersenyum karena mengira pemuda itu mengampuninya namun ia salah, karena disaat yang sama sebuah tangan sudah menembus dadanya hingga berlubang. Pria kurus itu jatuh dengan ekspresi terkejut dan mental yang sudah sepenuhnya hancur.