
Dalam ruang keluarga pada malam hari aku berkumpul dengan tante Ira dan om Surya, mereka bercerita tentang seseorang lelaki yang mereka kagumi selama mereka tinggal di sini (kota perantauan). Aku baru pindah dari perumahan tempat ku sebagai pembantu yang dianggap sebagai anak angkat oleh pa Adya namun tidak dengan ibu Lisa sebagai istri pa Adya yang menganggap ku tetap sebagai seorang pembantu. Karena aku merasa sudah tidak nyaman lagi tinggal bersama orang tua angkatku dan memutuskan pindah ketempat Tante dan Om. aku masih sekolah kelas 3 SMK. Tante dan Om, mereka adalah penggangti orang tuaku disini. Mereka berceritra seseorang lelaki yang mereka anggap sebagai anaknya disini. Remon namanya, dia seoerang laki-laki yang pergi merantau dan bekerja keras di sini. Mereka selalu membanding-bandingkanku dengannya. Terutama Tante, dia sering banget cerita sama aku tentang lelaki itu, rasa penasaranku semakin ada dan ada. Pengin ketemu mencoba ingin tau seperti apa dia, dan tingkah lakunya seperti apa pula.
Saat itu sepupuku Diah menikah, pada saat acara besanan, aku ketemu sama ibu Eli (orang tua angkat Remon). Ibu Eli bertanya-tanya padaku.
“ Rena apa kegiatanmu di tempat budemu?”
Aku menjawabnya dengan kata-kata yang lembut dan tersenyum,, “kegiatanku bantu-bantu bude dan ngeles/les bimbel kalo malem, pagi sekolah siang bantu-bantu beresin rumah Tante Ira, kenapa ya bu??”.
“ Gini kamu bisa untuk ngajar anak saya yang masih SD dia susah banget buat belajar Ren, kamu mau ya.?”
berfikir sejenak “Baik tante saya mau, kapan ya tante saya mulai ngajarnya?”
"Minggu depan ya saya tunggu" Bu Eli
Seminggu berlalu
jadwal nya ngeles anaknya Bu Eli, Radit namanya, dia anak kelas 4 SD, aku mengajarinya harus super sabar, cara anak itu belajar sangat membuat ku bingung, bercanda terus-menerus. Aku ngajar dengan menggunakan pakaian keos oblong dengan lengan dilipat gelang aksesoris banyak. celana robek-robek bagian depan paha sebenarnya dari beli udah robek-robek bukan sengaja di robek.
Ditengah-tengah waktu aku sempat bertemu dengan Remon, dia sangat tampan, putih, tinggi, tapi sayang dia sangat dingin jutek sekali.
Deg... ternyata dia yang sering diceritakan oleh Tante.
Saat itu aku sudah tidak penasaran lagi, karena sudah bertemu walaupun aku tidak berbicara sama sekali dengannya. Sampai ahirnya aku berhenti mengajar Radit karena aku tidak bisa bahasa Arab. Aku hanya bisa berkata dengan jujur apa adanya, karena memang aku tidak bisa berbahasa Arab, jangankan bahasa Arab, membaca arab saja aku belum mampu sepenuhnya bisa 100%. Apa lagi jika menterjemahkannya, sangat tidak mungkin. belajar saja belum pernah jadi aku berhenti mengajar Radit.
Seling beberapa hari tempat tante Eli mengadakan acara arisan keluarga, aku di undang untuk datang acara tersebut, aku memakai kemeja ungu,rok hitam dan sandal jepit kaca ungu yang sangat licin sekali. (maklum belum punya penghasilan tetap jadi pakai baju alakadarnya) Sesampai disana aku disuruh membantu-bantu.
“Rena, bisa tolong belikan buah salak di bazar malam minggu. Kamu bareng yah sama Remon” Bu Eli
Aku hanya terdiam dan mengangguk “Baik bu,”
“Remon,, tolong belikan buah, buat tambahan untuk tamu-tamu. Kamu sama Rena yah. Ini uangnya” Bu Eli memberikan uangnya kepada Remon.
Remon “iya mah beli berapa kilo?”
“Beli 2 atau 3 kilo gapapa” Bu Eli
Tante Ira “Ren udah sono berangkat, malah bengong aja. Sambil kenalan sama Remon.”
Aku “Iya Tante"
Bu Eli dan Tante Ira menyuruhku beli bareng sama Remon. Hatiku deg-degan. Dalam hatiku “haduh deg-degan banget sih, padahal kan Cuma beli salak bareng”.
Yang lucunya lagi, aku saking groginya sampai-sampai naik motor sama dia kepleset, hampir jatuh, aku reflek memegang bahunya, karena aku pakai rok aku berfikir naik motor menyamping, tapi malah kepleset.
“Hati-hati, sendalmu sepertinya licin, udah naik seperti biasa ajah, jangan menyamping kaya tadi, ntar kepleset lagi” Remon sambil memegang tangan ku.
aku malu banget gila.. grogi abiiiiis ..
__ADS_1
Setelah nyaman naik motor di tengah-tengah perjalanan, dia bilang sama aku “Kenapa ga pake celana punk lg?”Remon
Aku kaget dan terkejut ternyata selama ini dia memerhatikan penampilanku, aku yang biasa pake celana punk dan tomboy . Aku berambut pendek, dan selalu di ikat kucir kuda. Dan terlihat seperti laki-laki. Aku hanya tersenyum dan menjawabnya
“Ini kan acara arisan keluarga kamu, masa pake celana begitu, ya tidak pantas dilihat lah. Melihat situasi dan kondisi.”.
“Oh..gitu ya? Kirain,, kan bagus juga pake celana punk” Remon
Aku hanya tersenyum dan menjawab ”Aah..ngarang”. setelah sampai di supermarket, dia tidak mau nemenin beli salak tapi aku desak terus sampai ahirnya dia mau nemenin walaupun dia masih di atas motor. Saat pulang aku dan dia diam sepanjang perjalanan pulang.
Entah mimpi apa aku bisa berbicara dengannya. Dan bisa berdua dengannya walaupun hanya sebentar. Tapi hatiku ngrasa sangat bahagia sekali. Seperti ada titik semangat baru dalam kehidupanku yang telah tenggelam dalam masa laluku. Aku sedang merasakan kekecewaan yang begitu mendalam pada laki-laki yang telah meninggalkanku. Yang telah mengajarkanku satu hal yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Kekecewaan itu membawaku dalam kebencian yang begitu dalam. Tapi aku hanya menyimpan kebencian itu dalam hatiku, tidak pernah aku perlihatkan padanya. Tapi setelah aku bertemu dengan Remon aku merasa sedikit demi sedikit rasa kagum mengelilingi pikiranku. Aku hanya bisa terdiam memikirkannya, entah apa yang akan terjadi kedepannya, akankah aku bertemu dengannya lagi? Atau tidak sama sekali? Senyumanya. Dan tutur katanya.
Setelah beberapa minggu sejak kejadian tersebut terlewat, Bu Eli mengundangku lagi untuk acara arisan yang kedua kalinya, seperti biasa aku bisa berharap bertemu kembali dengannya. namun sayangnya Remon tidak ada di sana, ada rasa kecewa dalam hatiku, kenapa dia tidak ada disini?? Aku memandang dan membatu. namun aku sibukkan dengan membantu orang-orang sibuk mempersiapkan acara itu. Di tengah-tengah kesibukanku, aku beruntung banget, Bu Eli menyuruhku untuk SMS ke Remon,
“Rena tolong SMS Remon lagi dimana”
Aku menjawab “aku ga punya nomernya bu”
Bu Eli memberikan nomer Remon kepadaku.. Aku SMS dia “mas Remon lagi dmana? Bu Eli nanyain.”
Dia menjawab simple “ya saya lagi di jalan”
itu pertama kali dia SMS aku. Rasa seneng itu bener-bener seperti ingin terbang. (Haha.... orang sedang kasmaran segala SMS itu selalu di pandang terus menerus) saat ku ingat dia, tidak pernah ada pikiran untuk menghapusnya sama sekali. Bahkan aku kunci. Aku berfikir dia akan SMS aku duluan ternyata tidak sama sekali. Sampai aku jenuh, saking berharap sebuah SMS doang. Jenuh dan jenuh...
Pernah satu hari aku di suruh SMS sma Tante Ira di suruh datang ke rumah.
(Yessssss kesempatan niiiih.. hehe walaupun jawabnya simple)
“sampai kapan yah aku cuma nyimpen nomernya doang? Hidiiih ngapain ya mikirin orang yang belum tentu mikirin aku juga,, hah males ni lama-lama. Mending mencoba nyari laennya ja daaaah”
“Mas Remon maaf, Tante Ira nyuruh mas datang ke rumah”
Lama menunggu balasan...
Memandang HP berkali-kali, berharap ada jawaban namun sepi.
Jam 7 malam seperti biasa aku menyulam, (pekerja sampingan selain menuntut ilmu). Datang motor ke tempat bude, aku ga nyangka ternyata Remon datang tanpa membalas SMS ku sama sekali.
“Permisi, mbak Ira ada.??” Remon bertanya padaku
“Ada mas, sebentar ya saya panggilkan, silakan masuk duduk dulu”
Tante sedang tiduran di kamar,
Tok-tok-tok... "Tante ada mas Remon, ,”
Tante membuka pintu “Oh ya, suruh masuk”
__ADS_1
“Udah Tante, lagi duduk di depan”
“Ya udah kamu bikinin kopi apa teh gih”
“Iya Tante”
“Eh Remon, udah lama.??”
“Baru mbak, Maaf tadi siang Rena SMS saya di suruh kesini”
“Iya Mon, O ya minum dulu ya”
“Reeeen, minumnya mana” Tante memanggilku yang sedang membuat air minum
“Iya Tante, sebentar lagi selesai”
“Lelet amat sih.!!”
“Iya Tante maaf tadi manasin air dulu”
“kan di termos ada gimana sih, yaudah sana masuk.!!”jawab Tante dengan ketus
“Ya Tantee”
Aku masuk ke kamar lanjut menyulam karena masih banyak yang belum selesai. “mungkin ini akan selesai besok atau tengah malam, tinggal beberapa lagi tapi agak sulit, mending lanjut aja lah toh tante lagi ngbrol sama tamu” Pasang hetset ke kuping dengerin radio sambil menyulam.
“Mon, maaf biasa Rena mah lelet ngapa-ngapain” Tante Ira
“Iya mbak, Gapapa”Remon
“Gimana kabar kamu? Lama ga main ke sini lupa ya sama mbak”
“Enggak mbak, lagi sibuk aja kerjanya lagi hampir 3 hari ga tidur, biasa kerja di toko yang 24 jam waktu nya jadi ga bisa di atur bener-bener. Siang buat tidur, malam buat kerja. Ini lagi kebetulan libur aja bisa main”
“Oh gitu, orang mah cari kerjaan yang ga nguras waktu gitu Mon, di kantor kek atau pabrik”
“Iya Mbak, Cuma lagi belum ada nanti mau cari-cari”
“Mon gimana kabar bu Eli.?”
“Belum tau mbak, aku belum ke sana”
“Loh kok belum, kenapa.??”
"belum sempat mbak"
"Mon, udah punya gebetan belum kenalin sama mbak sini perasaan kesini sendiri Mulu hehehe"
__ADS_1
"belum punya mbak. belum mikirin nanti lah saatnya ada pasti ketemu"
Bersambung.....