Rumitnya Cinta

Rumitnya Cinta
eps 90


__ADS_3

disisi lain, Anin kini justru sedang menangis meratapi hidupnya yang berantakan. bagaikan sudah jatuh ketiban tangga pula. sebut saja begitu.


sudah dimarahin orang tua Rayhan, orang tua Nara. dan kini apa yang dilakukan Rayhan justru mengabaikan Anin begitu saja. sakitnya tuh disini, dihati Anin..


tapi Rayhan seolah menutup mata. tidak mau tahu apa yang sedang dirasakan Anin saat ini.. seakan Rayhan memang membenarkan kata para tetua yang mengatakan 'perusak rumah tangga'. sedangkan Anin sendiri tidak pernah menganggap dirinya seperti itu. Anin tidak merasa sebagai perusak rumah tangga seseorang. nyatanya pada dasarnya dari awal Anin adalah kekasih Rayhan sedari dulu. pikir Anin apa yang salah dengan dirinya. apa salahnya memperjuangkan cintanya. bukankah ini bukan salahnya.


tapi cinta yang diperjuangkan justru sibuk memperjuangkan cinta pada istri lainnya.


belakangan ini Rayhan selalu mencari cara untuk mengetahui hal apa saja yang dilakukan Nara persis seperti penguntit tanpa peduli kerasnya Anin melarangnya.


seperti pagi tadi, Rayhan yang memang bangun kesiangan nampak terlihat terburu-buru mengenakan pakaian setelan jasnya.


"sayang pelan pelan,kenapa kamu terlihat terburu-buru? ". tegur Anin yang melihat Rayhan.


" aku harus cepat kekantor ". Jawab Rayhan seadanya.


" kantor apa menguntit istrimu lagi?! ".bentak Anin yang seketika menghentikan tangan Rayhan yang sedang memasang dasi di lehernya di cermin depan walk in closet.


" Anin kau jangan memperkeruh keadaan. kau tahu keadaan kita sudah semakin sulit ". Rayhan memegang kedua bahu Anin. " aku tidak mau orang tuaku menyakitimu lagi, hem".


Anin melirik kearah tangan kekar Rayhan yang bertengger di bahunya. sedetik kemudian terdengar gelak tawa Anin sumbang.


"jadi aku harus apa, hem? ".


" aku harus bagaimana? belakangan ini kau mendiamkan ku, mengacuhkanku. aku pun tak lagi pernah kau sentuh!! sekarang kau seperti menganggapku bunga kering yang tak lagi ada gunanya! apakah aku harus diam saja, hah?!! ". kesal Anin dengan air mata kecewa yang sudah mulai tumpah.


" sebenarnya kau mengujiku atau menghinaku?! "


"Anin, tidak seperti itu. kumohon jangan katakan seperti itu". Rayhan memeluk tubuh Anin yang terguncang karena tangisannya.


percayalah Rayhan juga bingung harus bagaimana..


dan disaat itu ponsel Rayhan berdering. menandakan sang asisten si Doni menghubunginya.


" hem? ". jawab Rayhan berdehem setelah mengangkat ponselnya.


" tuan, saya sudah didepan. kenapa anda lama sekali. kita harus bergegas. tidak ada banyak waktu lagi ". crocos Doni kelepasan. karena menunggu Rayhan terlalu lama membuat mulutnya lupa mengerem


" cih.. ya! kenapa kau yang mengatur ku. "

__ADS_1


"anda lama sekali tuan. kita harus kekantor terlebih dahulu".


tut... sambungan telepon pun dimatikan


" ishh..dia ini kenapa . disini yang bosnya siapa sih! dasar ". gumam Rayhan kesal.


Rayhan menatap Anin yang ternyata juga sedang menatapnya.


" aku harus pergi ". cup...


Rayhan meninggalkan Anin yang terduduk lemas. bukan lemas karena belum makan. tapi karena sikap Rayhan yang memperlakukannya seperti ini..


*


*


*


*


pintu gedung terbuka dengan menampakkan seseorang disana. orang itu berjalan menuju podium dengan didampingi seseorang dibelakangnya.


tapi Nara hanya diam terpaku melihat sosok orang yang tengah berjalan kearahnya. orang yang beberapa hari ini memporak porandakan hatinya.


hingga tanpa sadar orang itu ternyata sudah berada tepat didepannya. tersenyum tampan kearah Nara yang masih setia menatapnya. membuatnya terpesona akan senyuman itu hingga reflek membuat Nara juga ikut tersenyum.


tunggu dulu!..


tersenyum?..


ya Nara!! sadarlah orang itu adalah Rayhan. suami laknat nya. ia tidak harus tersenyum kan... haish...


" selamat atas kelulusanmu". ucap Rayhan sambil memindahkan tali toga dari sisi kiri kesisi kanan..


"sayang aku bangga padamu". imbuhnya kemudian berbisik ditelinga Nara.


dan hal itu sontak menyadarkan Nara dari bawah alam sadarnya bahwa orang yang ada di depannya adalah Rayhan.


Nara tidak menyangka bahwa bayinya benar-benar sangat ingin melihat wajah ayahnya. memang tidak bisa dipungkiri Nara merasa senang dan ada kelegaan melihat wajah Rayhan. tapi kan itu karena keinginan bayinya. bukan dari dirinya sendiri.. Nara sangat muak melihat wajah itu. apalagi dengan senyumannya yang memang sudah terpahat begitu apiknya..

__ADS_1


Nara lantas memundurkan langkahnya meninggalkan podium beserta acara wisudanya. tak peduli tatapan semua orang yang nampak bingung tidak mengerti. karena sejatinya belum ada yang tahu apa yang terjadi diantara Nara dan juga Rayhan.


tak terkecuali kedua orang tua Nara yang ikut menyusul kemana putrinya melangkah. begitupun Dinda dan Richo yang sebenarnya ingin menyusul Nara. tapi langsung dicegat kedua orang tua mereka masing-masing karena mereka belum mendapatkan giliran untuk maju kedepan.


" bo.doh bo.doh bo.doh.. kenapa aku tersenyum tadi! ". sesal Nara mengrutugi kelakuannya sendiri.memukul jidatnya sendiri gemas.


" Nona ". panggil Doni yang membuat Nara membalikkan tubuhnya..


" y-ya?".


"anda baik baik saja? ".


" tidak. iya.. enggak.. ".. aish.. Nara tersenyum canggung dengan jawabannya sendiri.. mengapa dirinya benar-benar menjadi bo-doh saat ini.


" tuan menitipkan ini". Doni memberikan paper bag kearah Nara..


jiwa kewanitaannya seketika muncul untuk cepat meraih paper bag itu.. naluri seorang wanita memang seperti itu kan. selalu merasa senang saat ada yang memberikan sesuatu yang berupa hadiah seperti ini.


benarkah ini hadiah?


"ah.ini aku tidak mau. aku tidak jadi menerimanya.. kau kembalikan saja pada tuanmu itu". Nara berniat mengembalikan lagi paper bag yang sudah ada ditangannya sesaat setelah menyadari lagi lagi kebodohannya muncul..


" Nara!! "


"sayang!! "


panggil Burhan dan Mariska bersamaan .


"permisi nona".pamit Doni tiba-tiba langsung melejit pergi..


" sayang kamu baik baik saja? kamu tidak apa apa kan? ". ucap Mariska membolak balikan tubuh Nara khawatir..


" ibu.. Nara baik baik saja.. ibu jangan berlebihan ".


" dasar tidak tahu malu. kenapa orang itu ada disana".ucap Burhan geram. karena Rayhan melanggar ketentuannya untuk tidak muncul lagi dihadapan putrinya.


"sudahlah ayah.. Nara tidak apa apa. Nara mau pulang sekarang". ucap Nara yang disetujui Burhan begitu juga Mariska. Nara nya harus banyak istirahat mengingat kondisinya sekarang tidaklah hanya membawa dirinya sendiri melainkan ada nyawa lain di perutnya.


mereka akhirnya pulang kerumah tanpa menunggu selesainya acara..

__ADS_1


__ADS_2