
"apa!? ". pekik Mariska.
yah, kini mereka sudah pulang kerumah setelah mengetahui kenyataan menyakitkan seputaran rumah tangga putrinya yang mereka jodohkan beberapa tahun silam.
emosi Mariska membludak saat tahu ternyata menantunya si Rayhan telah menikah lagi dengan wanita lain. ditambah lagi dengan apa yang barusan didengarnya.
apa tadi?
hamil? putrinya 'Nara' hamil? maksudnya Nara anaknya??!
sebenarnya tadinya Mariska hendak tertawa bahagia mendapati Nara telah mengandung. ini merupakan sebuah kabar gembira yang sudah ditunggu tunggunya sejak lama. sebelum teringat sesuatu bahwa Nara nya hamil dengan Rayhan yang juga punya wanita lain.
senang atau sedihkah yang harus dirasakan Mariska begitu pula Burhan. sungguh Mariska sangat senang mendengar kabar kehamilan putrinya tapi Mariska begitu sakit hati dengan apa yang sudah dilakukan Rayhan.
sungguh menyesal bagi Mariska, apalagi Burhan yang dulu sudah menjodohkan Nara paksa. dan sangat sangat merasa bersalah setelah mengetahui fakta sebenarnya.
disini Burhan pantas disalahkan. memang pada dasarnya semua ini sepenuhnya adalah kesalahannya. dan juga para tetua yang dengan gegabah nya menjodohkan anak mereka tanpa adanya rasa cinta.
dikiranya ini masih zamannya siti nur baya kali..
" nak Rayhan sebaiknya kamu pulang!! ". tegas Burhan dengan suara beratnya. tangannya sudah mengepal menahan gejolak amarah. kalau saja Rayhan bukanlah anak dari sahabatnya sudah dipastikan Burhan sudah mencekiknya sedari tadi saat baru melihat Rayhan berada dirumahnya.
segeram dan semarahnya Burhan saat ini, ia masih mengingat bahwa Rayhan adalah anaknya Bagas. apalagi tadi Bagas sampai bersujud memohon maaf atas kesalahan putranya.
"ayah, ibu. ada kabar baik. Nara.... "
kalimat Rayhan terhenti saat Burhan menyela perkataannya. "kabar baik tentangmu yang juga memiliki wanita lain?! ".
deg...
Rayhan langsung tidak berkata apa apa lagi.
" apa ini. mereka sudah tau? " .gumam Ray membatin.
"ayah.... "
"pergilah jangan mencoba menjelaskan apapun". usir Burhan meminta Rayhan pergi. " dan untuk yang lainnya, biarkan Nara istirahat dan terimakasih "
Burhan meminta semua orang untuk pergi dari rumahnya termasuk Richo. karena saat ini emosinya sedang tidak bisa dikendalikan. takutnya orang yang tidak bersalah kena cipratan emosinya.
*
*
__ADS_1
*
Nara mengerjapkan matanya perlahan. membiasakan matanya dengan cahaya kamarnya yang menyeruak masuk ke indra penglihatannya.
hal pertama yang dilihatnya adalah sang ibu Mariska yang tengah memandangnya sayu dengan mata yang terlihat sembab seperti sehabis menangis.
" sayang. kamu bangun nak? ".
Mariska membantu Nara yang hendak bangun. mendudukkan putrinya diranjang, disandarkan nya tubuh Nara pada kepala ranjang.
" ibu.... ".lirih Nara.
" iya, nak? apa sayang? kamu mau makan? ".
" bu,, maafin Nara.. ".isak Nara tiba-tiba yang matanya sudah menganak sungai. "Nara nggak bisa wujudin impian ibu dan ayah.. ibu?.. Nara.. ".. Nara menjeda kalimatnya karena tidak sanggup lagi berkata kata.
" ssttt.. sayang stop. udah jangan dibahas lagi, yah. lebih baik kamu fokus pada kehamilanmu. mengerti? ".
mendengar itu Nara membulatkan matanya terkejut.
" i-ibu tahu Nara sedang hamil?! ".
Mariska hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. terselip rasa bersalah yang menjalar dihati kedua orang tua Nara. kesal, marah, kasihan, semua rasa itu bercampur lebur menjadi satu.
" stts, sudah ibu katakan, jangan dibahas. ibu sudah tahu semuanya. maafkan ibu nak". Mariska memeluk tubuh Nara gemetar.
disisi lain ayahh Burhan yang mendengar pembicaraan mereka pun langsung melangkahkan kakinya memasuki kamar Nara.
"maafkan ayah juga, nak. ayah sangat bersalah. ayah tidak tau ini semua bakalan seperti ini. maaf".kini Burhan ikut memeluk putrinya beserta istrinya.
mendapat pelukan dari ayahnya Nara langsung merenggangkan pelukannya. " ayah! apa ayah baik baik saja?! ".kata Nara panik menyelisik wajah ayahnya. takut apa yang dulu pernah terjadi kini terulang kembali. dimana ayahnya sampai dirawat dirumah sakit karena masalah rumah tangganya.
" sayang, ayah baik baik saja. kamu jangan khawatir.. ". kata burhan memejamkan matanya sejenak."tolong maafkan ayah, nak". Burhan memeluk Nara.. kini mereka sama-sama tenggelam dalam kesedihan.
semenjak itu, Burhan melarang keras Rayhan untuk tidak menemui Nara. menutup akses yang berhubungan dengan Rayhan.
setiap waktu Mariska selalu memberi dukungan batin agar Nara nya tidak stress dan tertekan karena memikirkan masalahnya dengan Rayhan dan anak yang dikandungnya. bagaimanapun kandungannya saat ini adalah sebuah kecelakaan.
*
*
*
__ADS_1
pagi ini merupakan hari yang ditunggu tunggu Nara. dimana acara wisuda kampusnya di selenggarakan hari ini.
Nara nampak cantik setelah mendandani wajahnya dengan polesan make-up, mengenakan gaun kebaya yang sudah disiapkan Mariska..
kini mereka sudah siap untuk berangkat kekampus Nara dengan segala drama pagi tentunya. drama dimana Nara mengalami morning sickness.
Nara selalu mual bahkan sampai muntah disaat pagi hari. itu benar-benar sangat menyiksanya.
lebih menyiksanya lagi keinginan sang jabang bayi yang selalu ingin melihat wajah tampan suaminya yang sebenarnya Nara sama sekali tidak ingin melihatnya. keinginan itu sangat bertolak belakang dengan hatinya.
" sudah siap nak? ".tanya Burhan membuyarkan Nara yang nampak melamun. kini mereka sudah berada di dalam mobil dengan Nara yang duduk dibelakang, sedangkan Mariska didepan bersebelahan dengan Burhan.
Nara hanya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. entah mengapa rasanya Nara ingin menangis sekarang.semenjak dirinya tahu sedang hamil Nara menjadi lebih sensitif dari biasanya. sifat dan sikap Nara jadi berubah-ubah sesuai dengan mood nya.
" semoga semua berjalan dengan lancar ya, sayang. semua pasti akan baik baik saja, oke? ". kata Mariska menenangkan. seolah tahu kegundahan atau kegelisahan yang mungkin sedang Nara rasakan saat ini.
dan lagi lagi Nara hanya tersenyum menanggapi orang tuanya tanpa membuka suaranya.
***
sesampainya dikampus Nara tampak mengedarkan pandangannya mencari Dinda ditengah tengah hiruk piuk anak mahasiswa dan para orang tua lainnya. karena tadi Nara memang tidak bersama Dinda.
" ibu... ibu melihat Dinda? ".
" Dinda?... oh itu dia, sayang ". tunjuk Mariska saat melihat Dinda beserta orang tuanya yang sudah duduk di depan sana yang terlihat sedang mengobrol dengan entah siapa.
saking semangatnya,Nara langsung berlari untuk menyusul Dinda yang sudah terlebih dulu duduk disana tapi tiba-tiba saja pandangannya berkunang kunang..
" sayang, kamu baik baik saja? ". Mariska memegang pundak Nara yang terlihat limbung.
" ah,, Nara tidak apa apa bu".
"pelan pelan nak.. ". kata Burhan..
mereka menghampiri Dinda dan duduk dikursi yang sudah disiapkan sesuai dengan nomor yang tertera diundangan...
waktu puncak wisuda pun berlangsung. dimana para dosen memberikan dokumen kelulusan dan memindahkan toga dari samping kiri kesamping kanan.
Nara begitu antusias saat namanya 'Nara Atmadja' dipanggil oleh MC.. Nara yang sudah tidak sabar langsung melangkahkan kakinya menuju panggung.
" perhatian. suatu kehormatan untuk kampus kita karena diacara ini kita kedatangan tamu penting yang telah menyempatkan waktunya datang kesini. mari kita sambut. ini dia silahkan masuk pak". ucap mc tiba-tiba.
sontak membuat semua orang mengarahkan pandangannya pada pintu masuk gedung kampus tak terkecuali Nara.
__ADS_1