
Nara sudah tidak lagi menangis. menangis pun percuma bukan. air matanya tidak akan mengubah apapun pada takdirnya. bahkan mungkin air matanya malah akan menjadi sia sia.
kini Nara hanya diam duduk di bangku halte. tidak tahu sudah seberapa lama ia duduk di sana. bus yang sedari berlalu lalang entah kemana saja tujuannya pun tidak dihiraukan nya. lagipula sebenarnya Nara tidak berniat untuk menaiki bus. Nara hanya menumpang duduk di halte saja karena memang Nara juga tidak tahu kemana arah tujuannya.
"sedang apa kamu disini? ". suara barinton Rayhan menggelegar memenuhi seluruh gendang telinga Nara yang sontak membuatnya tersadar dari lamunannya.
sejak kapan suaminya itu berdiri tepat didepannya? dan kenapa Nara baru menyadarinya. apa suaminya sedari tadi sudah ada di depannya?. apa dia juga melihatnya menangis tadi? haish... tapi dari gelagat Rayhan sepertinya ia baru saja datang. semoga saja begitu.
Nara mengucek matanya berulang kali, barangkali Nara salah lihat kan.
" ommo,, sejak kapan kamu disini?! ".tanya Nara beranjak dari duduknya, celingukan kekanan kekiri siapa tahu kan suami kampretnya sudah berdiri dari tadi dan melihatnya. apalagi kalau Anin juga tahu.mau ditaruh dimana mukanya jika mengetahui dirinya menangis tadi.
" ayok pulang ". jawab Rayhan lesu tidak peduli dengan pertanyaan Nara.berjalan mendahului Nara yang nampak kebingungan dengan sikap Rayhan.
" tu-tunggu dulu!
Rayhan menghentikan langkahnya berbalik menghadap Nara. terdengar jelas Rayhan menghela napasnya panjang sebelum ia mendekati Nara.
tepat dihadapan Nara, Rayhan menatap lekat manik mata milik Nara, membuat si pemilik mata menjadi salah tingkah dibuatnya.
plak... "aw".ringis Nara karena tiba-tiba saja Rayhan menjitak kepalanya. tidak begitu sakit sih, tapi itu sukses membuatnya terkejut. Nara tidak tahu kenapa Rayhan menjitak kepalanya seenaknya saja tanpa bilang terlebih dahulu. harusnya Rayhan bilang dulu maka Nara tidak akan mengizinkannya.
" ya!! kenapa kau memukul ku? ini termasuk KDRT! ". marah Nara tidak terima dengan kelakuan Rayhan.
" cih.. aku tidak memukulmu. aku hanya menjitakmu sedikit". protes Rayhan mendesah dengan berkacak pinggang. "kamu tahu, aku berlari kesana kemari mencarimu.dan dimana ponselmu?aku berkali-kali menghubungimu tapi tak kamu angkat satupun!".
" hey, siapa suruh kamu mencariku.. "
"tidak ada. aku hanya khawatir kamu akan merindukan aku.".jawab asal Rayhan yang membuat Nara membulatkan mulutnya.suaminya ini benar-benar tak ada tandingannya kalau untuk urusan berdebat.
"untung saja aku punya telepaty".sambungnya.
" Telepaty? ". gumam Nara tak mengerti.
telepaty yang dimaksud Rayhan disini sebenarnya adalah alat pelacak yang dipasangkan Rayhan diponsel Nara. berhubung Nara sama sekali tidak mengetahui tentang hal itu Nara hanya menganggap perkataan Rayhan hanyalah omong kosong belaka. mana ada orang biasa seperti Rayhan bisa melakukan hal yang tidak logis seperti itu.
" ish... terserah lah.. lalu dimana mobilmu? "
"kamu tidak dengar tadi, 'aku berlari mencarimu kesana kemari' itu berarti aku kesini tanpa mobil.. begitu saja tidak tahu, dasar lemot.. ayok pulang". Rayhan menarik tangan Nara untuk mengajaknya pulang tapi secepat mungkin Nara menepisnya.
__ADS_1
" tidak mau.. di-dimana Anin? ". tanya Nara ragu ragu. Nara sangat penasaran dengan apa yang terjadi diantara mereka.. dan kenapa Rayhan justru mencari Nara. dan dimana Anin.. Nara terus saja bertanya pada dirinya sendiri karena penasaran.
" bisa tidak jangan membahas itu! ".
" kenapa? apa yang terjadi? apa kalian bertengkar? terus dimana Anin?. lagipula kenapa kamu di.... ".
cup.. dengan gerakan cepat Rayhan membungkam bibir Nara dengan kecupan singkat. membuat Nara tidak bisa lagi melanjutkan kalimatnya.
" brisik.. mulutmu satu, tapi pertanyaanmu banyak sekali ".
Nara membulatkan matanya lebar lebar dengan kelakuan Rayhan. bagaimana bisa dia menciumnya ditempat umum seperti ini. bagaimana kalau ada yang melihatnya. dasar tidak tahu malu.
tidak terima dengan apa yang Rayhan lakukan, Nara lantas meninju lengan Rayhan marah. "sialan.! jangan mencuri ciumanku seenaknya. dasar mesum! ".
" hey hey hey... aku tidak pernah mencurinya. semua itu milikku. mengerti?! ". protes Rayhan menunjuk Nara dari atas sampai bawah.
Nara memutar bola matanya malas mendengar tuturan Rayhan yang sebenarnya ada benarnya juga. tapi Nara enggan membalas perkataan Rayhan lagi. meskipun dalam hati Nara tidak terima akan perkataan Rayhan. tapi sudahlah, orang waras lebih baik mengalah, bukan? Nara malas sekali harus berdebat dengan Rayhan yang notabenya keras kepala, egois, dan mau menang sendiri. Nara juga tidak akan bertanya lagi tentang Anin. mungkin Rayhan tidak mau membahasnya saat ini.
Rayhan hanya diam saja di sepanjang perjalanan pulang ke apartemen. bahkan terkadang Rayhan terlihat melamun entah memikirkan apa. membuat situasi Nara menjadi canggung dibuatnya. haruskah Nara mengajaknya berbicara terlebih dahulu? apa lebih baik Nara menghilang saja dari hadapan Rayhan sekarang juga. haish... dasar menyebalkan... padahal Nara sudah berbaik hati mau pulang dengannya sekarang dan tidak kabur.
dengan langkah gontai Nara tetap mengikuti Rayhan tanpa membuka suaranya. enak saja harus berbicara duluan..
pandangan matanya mengedar kemana saja asal tidak ke arah Rayhan. dan disaat itu Nara melihat pedagang pinggir jalan yang berjualan rujak. melihatnya saja sudah membuat Nara berliur dengan membayangkan betapa segarnya rujak disiang bolong.
" shh.. apa lagi??! ". desah Rayhan..
"mau itu". tunjuk Nara dengan air liur yang hampir menetes. Rayhan mengikuti kemana telunjuk Nara mengarah. dan saat itu pula gigi Rayhan serasa ngilu hanya sekedar melihatnya.
" igh.. Nara kamu yakin mau itu? melihatnya saja gigiku ngilu. nih lihat sampai bulu kudukku berdiri. lagipula apa itu higenis? ". bisik Rayhan dideket telinga Nara karena takut si penjual mendengar. tapi itu membuat Nara merasakan kegelian karena hembusan hangat nafas Rayhan.
" justru kamu yang malah membuat bulu kudukku berdiri". batin Nara cekikikan merasakan geli.
"tapi aku mau itu". eyel Nara yang mau tidak mau Rayhan harus menuruti. lagipula Rayhan cukup membayarnya saja, bukan?.
akhirnya Nara membawa bingkisan rujak ke apartemen. membayangkan nanas kedondong serta buah lainnya yang disiram dengan bumbu kacang pedas manis membuat Nara menjadi tidak sabar untuk memakan itu semua. Nara langsung pergi kedapur untuk menuangkan rujaknya kedalam piring. sedangkan Rayhan memilih untuk mengikuti istrinya dari belakang.
Nara duduk dihadapan Rayhan yang sedari tadi memperhatikannya. memakan lahap rujak itu tanpa peduli dengan tatapan jijik dari Rayhan.
"hey pelan pelan. menjijikkan sekali cara makanmu. kamu membuatku ilfil tau tidak!". ketus Rayhan tapi Nara tidak peduli dengan perkataan Rayhan dan malah menghabiskan nya tanpa tersisa.
__ADS_1
setelah habis Nara berniat membersihkan piring yang tadi digunakannya. tapi sepertinya Nara tidak sanggup untuk membersihkannya,mungkin karena kekenyangan setelah menghabiskan rujak tadi membuat perutnya menjadi sakit dan bergejolak.
"aw.. ". ringis Nara memegangi perutnya.
"kenapa? ". tanya Rayhan heran.
" perutku sakit. sepertinya aku overdosis rujak ". lirih Nara sambil memegangi perutnya yang kesakitan.
" overdosis? dasar bocah.kamu kira rujak itu obat apa.sudahlah jangan bercanda".. acuh Rayhan tak percaya.
"aku tidak bercanda..perutku memang sakit aw aw aduhh.. ".
melihat Nara yang memang benar-benar kesakitan membuat Rayhan ikut panik lantas mendekati nara.
" hey..kamu tidak apa apa? kita kerumah sakit yah".
Rayhan langsung menggendong tubuh mungil Nara dan membawanya kerumah sakit. disepanjang jalan Rayhan mengrutugi kebodohannya sendiri yang tidak percaya bahwa Nara memang benar-benar merasa kesakitan. Rayhan tidak tahu apa penyebabnya yang tiba-tiba saja membuatnya seperti itu. mungkin perkataan Nara ada benarnya bahwa dia overdosis rujak yang dia makan tadi.
setelah sampai dirumah sakit Nara langsung dibawa ke UGD dan diperiksa oleh dokter. Rayhan terus menggenggam tangan Nara tanpa berniat melepaskannya. tidak peduli dengan perintah dokter yang melarangnya ikut kedalam ruangan. dokter langsung mengambil tindakan dan memberinya obat untuk meredakan rasa nyeri diperut Nara.
"apa nona tadi makan sesuatu? ".tanya dokter
" tadi saya abis makan rujak dok.. emh.. apa saya ada alergi sesuatu mungkin dok? ".jawab Nara lesu.
" tidak nona. saya rasa nona baik baik saja. hanya saja ada yang membuat saya merasa janggal disini. saya belum tau pasti. tapi analisa saya sepertinya nona sedang mengandung".terang dokter itu yang sontak membuat Nara maupun Rayhan terlonjat.. ya. dokter yang ber tag name Dewi itu merasa ada sesuatu setelah memeriksa keadaan perut Nara. dan Dewi yakin kalau pasien yang bernama Nara ini sedang mengandung.
"ma-maksudnya apa dokter? ". tanya Rayhan tergagap.
" menurut analisa saya nona sedang hamil pak".
"hamil"
"hamil"
seru Rayhan dan Nara bersamaan
bersambung....
*****
__ADS_1
alurnya perlahan aja ya say....
ingat pesan author "selalu beri like dan vote kamu". jangan lupa juga comment kalian... thankyou 😘