
Rena menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur mengelai nafas ada perasaan senang karena akan pindah dari rumah ini namun sisi lain harus menuruti dan menyerahkan sebagian upahnya nanti saat sudah bekerja. “Bagaimana mungkin? Apakah aku akan menyerakan semuanya? Cepat atau lambat pasti tante akan menanyakannya langsung ke bu Siska. Tante orangnya nekat tidak mungkin aku berbohong. Hmmm kerja saja belum kenapa harus pusing memikirkannya lebih baik aku istirahat saja” Rena memejamkan matanya tidak lama kemudian HP nya berdering singkat. “Siapa malam-malam mengirim pesan” Rena membuka pesan yang dikirim oleh Remon
“Apakah kamu baik-baik saja?” (Heeey dia mengirimku pesan) Rena dalam hati.
“Memangnya kenapa? Perasaan aku baik-baik saja”
“Bukankah tadi sewaktu aku berkunjung kamu berdebat dengan mbak Ira?”
“Oh itu aku baik-baik saja”
“Kapan Kamu akan pergi ketempat kerjaan baru?”
“Besok aku mulai bekerja, dan lusa harus sudah pindah. Kenapa memangnya?”
“Biar aku bantu kamu pindahan?”
“Tidak perlu aku bisa sendiri, lagipula tempatnya dekat bukankah kamu juga sibuk?”
“Baiklah, ya sudah istirahat sana”
“Iya terimakasih”
Rena tersenyum-senyum sendiri dan merasa sedikit tenang sejak berdebat dengan tantenya, dia tidak menyangka hanya sebuah pesan bisa menghilangkan sedikit beban pikirannya. Rena menutup slimut untuk beristirahat.
Surya baru saja pulang dari pekerjaannya, Ira menyambut dengan wajah cemberut “Ada apa? Kenapa wajahmu ditekut seperti itu?”
“Rena lusa akan pindah, aku tidak suka itu”
“Kenapa memangnya? bukankah bagus jika dia pergi?”
“Bagus bagaimana? Nanti siapa yang melakukan pekerjaan rumah dengan gratis, kita hanya menyediakan dia tempat tidur dan makan seadanya, aku tidak mau mencari pengganti dengan memberikan gaji hanya buang-buang uang saja dan aku tidak mau mengerjakan semua sendiri terlalu melelahkan”
Surya memeluk istrinya “Sayang kamu jangan khawatir mintalah dia untuk pulang paling tidak seminggu sekali untuk merapikan rumah”
Ira terdiam dan berfikir ”Kamu benar, besok akan aku tambah persyaratan dia keluar dari sini”
__ADS_1
“Memangnya kamu memberikan syarat apa?”
“Aku ingin setelah dia menerima gaji nanti dibagi dua, untuk kita separuh gajinya”
“Kenapa kamu melakukan itu? Dia cukup membereskan pekerjaan rumah kita saja dalam seminggu sekali”
“Kamu membela Rena?”
“Bukannya membela dia kan posisi sedang sekolah kita selama ini tidak memberikan dia uang untuk pembayaran sekolahnya kan? Kita hanya memberikan untuk ongkos saja. Biarkan dia bekerja dan menerima sepenuhnya gajinya untuk keperluan sekolahnya”
“Oh jadi selama ini kamu peduli dengan Rena?”
“Sayang bukannya aku peduli, coba jika posisi itu terjadi anak kita nanti?”
“Kamu mimpi...!!!! Sampai sekarang kita belum dikaruniai anak sampai berapa lama lagi menunggu? Aku sudah pasrah tidak mau menginginkannya lagi...!!!!!”
“Ya sudah anggap saja Rena seperti anak kita apa salahnya?”
“Aku tidak setuju, lebih baik Remon jadi anakku daripada Rena”
“Kamu selalu saja membela Rena...!!! Atau jangan-jangan kamu suka sama dia hah..!!!”
“Sudahlah aku lelah pulang kerumah bukan untuk berdebat tapi untuk beristirahat”
“Selalu saja seperti itu, jika memang suka sama Rena lebih baik kamu ceraikan saja aku..!”
“Sayang.!! Kamu jangan asal bicara, mana mungkin aku menyukainya bahkan usianya masih remaja aku sudah tua, selama ini yang aku cintai hanya kamu Ira. Jangan mengada-ada deh”
“Alasan saja..!!” Ira menyelimuti tubuhnya menangis tanpa suara air mata mengalir
Surya membersihkan tubuhnya mengganti baju melihat istrinya menyelimuti tubuh dengan perasaan bersalah dia memeluk istrinya yang membelakanginya “Maafkan aku jika tadi aku salah”
Ira hanya terdiam Surya mencium lehernya Ira berusaha menghindarinya “ Apa Kamu tidak mau melayani suamimu lagi?”dengan lirih sambil memeluk erat istrinya.
“Sudahlah kamu bilang tadi lelah istirahatlah, maafkan aku juga karena terlalu emosi” membalikan tubuhnya dan membalas pelukan suaminya membalas dan melanjutkan aktivitas yang dilakukan suaminya.
__ADS_1
000
Rena melakukan rutinitas seperti biasa bangun sepagi mungkin merapikan semua isi rumah terkecuali kamar tante dan omnya, menyiapkan sarapan dan berangkat sekolah. Setiap pagi Rena menyempatkan diri mampir ke danau tapi tidak untuk pagi ini karena sedikit kesiangan dan tergesa-gesa. Menuju ke sekolahan kini karaknya lebih jauh dibandingkan sebelumnya saat bekerja di tempat Pak Adya. Setengah perjalanan bertemu dengan Nino, motor Nino berhenti dan membalikan arah
“Hey sendirian aja ayok aku antar”
“Haha iya memang dari dulu aku sendiri, tak usah lah duluan aja”
“Jangan menolak sebentar lagi telat loh”
“Oke karena kamu memaksa aku akan menerimanya” Rena membonceng Nino dan motorpun berjalan perlahan.
“O ya darimana? Tumben pagi-pagi udah jalan?”
“Aku mengantar mamih kerja”
“Sepagi ini?”
“Iya”
“Kamu kerja dimana?”
“Aku belum mencari dan masih menganggur”
“Udah banyak uang nih ceritanya?”
“Hehe susah nyari Ren”
“Usaha pasti dapet”
“Iya nanti aku usaha cari lagi” Motorpun berhenti didepan gerbang sekolah
“Terimakasih tumpangannya lain kali aku akan mentraktirmu”
“haha akan aku tunggu” Nino meninggalkan Rena yang masih melambaikan tangannya (Hmm Andai saja dia mau menjadi istriku dimasa depan nanti pasti sangat menyenangkan memiliki istri yang mandiri)
__ADS_1
Nino mengenal Rena tidak terlalu lama namun dia langsung merasakan perasaan yang berbeda, selama berdua dengan Rena ada rasa nyaman namun dia tidak berani mengungkapkannya karena tau masalah masa lalu Rena dengan mantanya. Nino masih menganggao Rena akan menutup hatinya untuk laki-laki seperti yang Rena katakan saat menceritakan semuanya. Nino hanya bisa bersama dengan status petemanannya.