Rumitnya Cinta

Rumitnya Cinta
eps 81


__ADS_3

"Hamil??!!... ". seru Rayhan dan Nara bersamaan.


yaysc.. hamil? yang benar saja. apa Nara tidak salah dengar? kapan Nara melakukan hubungan intim dengan Rayhan hingga membuatnya hamil.?


tapi... tunggu dulu...


ingatan Nara memutar kembali memori otaknya.. dan ingatannya mulai terlihat jelas bagaikan kepingan kepingan pazle yang mulai tersusun rapi membentuk lembaran lembaran menyakitkan. dimana Nara memang pernah melakukan hal itu dengan Rayhan. dimana harga diri seorang Nara Atmadja diinjak dihina bahkan dilecehkan oleh suaminya sendiri.


yah. Nara sudah mengingatnya sekarang. Nara tidak pernah lupa meskipun sudah berusaha melupakannya. bagaimana suaminya sendiri memperkosanya. lucu bukan. sebenarnya melakukan **** dalam hubungan suami istri bukanlah kesalahan melainkan kewajiban mereka untuk sama-sama memenuhi tanggung jawab batin. tapi dalam posisi Nara semua hal itu merupakan tragedi yang sangat menyakitkan. bagaimana tidak, Rayhan melakukannya bukan atas dasar saling cinta dan meminta baik baik melainkan karena keegoisannya.


bahkan sampai sekarang pun pernikahannya masih tergantung pada surat perjanjian kontrak yang entah masih berguna atau tidak. lagipula Nara sudah tidak peduli lagi dengan kontrak itu. ada tidaknya surat perjanjian itu sama saja, tidak mengubah apapun pada hidupnya apalagi untuk pernikahannya. satu kata untuk ini, yaitu: Percuma.


dan Nara tidak menyangka tragedi yang menyakitkan ini justru malah membuahkan hasil. bagaimana mungkin ini bisa terjadi dalam satu kali pembuatan.


mengapa Tuhan mengabulkan doa yang tidak pernah Nara panjatkan. haruskah Tuhan menguji kesabarannya sampai sejauh ini?. belum juga Nara selesai menata perasaannya dan mencari cara untuk lepas dari Rayhan. tapi Nara sudah dikejutkan dengan perkataan dokter dihadapannya yang mengatakan bahwa dirinya hamil.


" dokter!! dokter jangan mencoba menakutiku! ba-bagaimana mungkin sa-saya bisa hamil?! ". gagap Nara yang masih tidak percaya.


" tenang nona, saya belum pasti ". jawab dokter dewi bingung. biasanya pasangan suami istri akan merasa senang dan bahagia kalau mendengar adanya tanda-tanda kehadiran sang buah hati. apalagi jika itu adalah yang pertama bagi mereka. tapi nyatanya tidak dengan pasutri yang satu ini.


" hey, tentu saja kamu bisa hamil. aku pernah melakukannya denganmu ".. Rayhan tidak menyangka bahwa tindakan paksa nya yang hanya dilakukan sekali ternyata bisa membuahkan hasil. bahagia? tentu saja. Rayhan masih tidak percaya benihnya tumbuh lebih cepat di rahim Nara dalam sekali pembuatan. berbeda dengan Anin yang justru lebih sering Rayhan hujami oleh benihnya tapi malah belum juga ada hasil, padahal Rayhan sudah menantikan sejak lama.


" Nara, kita melakukannya disofa,kamu ingat kan?". sambung Rayhan mencoba mengingatkan kembali ingatan Nara yang justru malah membuat Nara kalang kabut dibuatnya. bagaimana tidak, Nara merasa malu dibuatnya dengan mengatakan hal vulgar seperti itu. lihat saja wajah dokter itu bahkan ikut merona dengan tersenyum tipis dibibirnya yang entah apa lagi yang dipikirkannya.


"yaaa!! apa yang kamu bicarakan!! ".kesal Nara membungkam bibir Rayhan yang sudah seperti ember bocor itu. lalu tatapannya fokus lagi menghadap dokter dewi dengan menggenggam tangannya erat.


" kumohon dokter, jangan hamili saya. cabut kata kata dokter tadi, yah". kata Nara memohon dengan wajah memelas. "dokter, saya memang pernah melakukannya. tapi itu kan tidak disengaja. itu bukan keinginanku. tapi karena dia memaksaku". sambung Nara dengan menatap tajam Rayhan.


" hey, itu karena kamu menentangku. lagipula apa salahku? itu kewajibanmu! ". proses Rayhan tidak terima.


dokter dewi semakin dibuat bingung dan tidak mengerti dengan apa yang mereka katakan. kenapa kabar yang seharusnya bahagia malah menjadi perdebatan seperti ini. tidak masuk akal.


" tenang nona, saya tidak pernah menghamili anda. jika pun saya benar kalau anda hamil berarti suami anda lah yang sudah menghamili bukan saya! biar jelasnya mari kita lakukan USG ". kesal dokter karena dianggap menghamili Nara.


akhirnya mereka pun setuju untuk melakukan USG. Nara sangat berharap semoga apa yang dikatakan dokter adalah salah besar.


tetapi berbeda dengan Nara, Rayhan malah berharap sebaliknya. Rayhan berharap apa yang dikatakan dokter benar.


" selamat nona, anda memang sedang hamil. tolong jaga kandungan nona yah. jangan terlalu banyak makan nanas lagi. istirahat yang cukup. saya akan merekomendasikan susu dan vitamin untuk anda".


jeder.... sudah keberapa kali ini Nara serasa tersambar petir. hampir tak terhitung. mengapa selalu saja perasaannya dihempaskan oleh badai yang berupa takdir. apa salah hidupnya. Nara hanya ingin hidup bahagia, itu saja. apakah keinginan itu terlalu serakah baginya?.


"sungguh..? akh Nara, terimakasih". Rayhan memeluk Nara yang masih terdiam terpaku tak percaya. dunianya serasa berhenti saat ini. bagaimana Nara akan menghadapi Rayhan?. siapa yang harus disalahkan? bolehkah Nara benar-benar menyalahkan Tuhan? ini sungguh tidak adil, bukan?.


" menjauh dariku..!! ". teriak Nara mendorong tubuh Rayhan untuk menjauh. rasanya Nara sangat muak sekali dengan suaminya itu. pelukannya tidak membuatnya senang justru sebaliknya. benarkah Rayhan tidak tahu apapun tentang perasaannya? dasar tidak tahu malu.


dalam perjalanan pulang ke apartemen Nara hanya diam saja tidak mau menggerakkan mulutnya walaupun hanya sekedar untuk tersenyum. berbanding terbalik, Rayhan malah tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


" sayang, apa sebaiknya kita beritahu orang tua kita sekarang ". tanya Rayhan disela mengemudinya.

__ADS_1


sayang? cih.. kuping Nara sampai gatal mendengarnya.


" apa hak kamu memberitahu mereka. aku akan menggugurkannya!! ".


ciittt.... terdengar decitan roda mobil Rayhan karena direm mendadak. dada Rayhan serasa bergemuruh mendengar kalimat dari Nara.


" aku akan melupakan perkataanmu tadi. aku akan menganggap kamu tidak mengatakan apa apa, mengerti!! ".ucap Rayhan datar. tangannya mencengkram kuat kemudiannya menahan amarah. yah, tentu saja Rayhan marah, sangat marah. bagaimana istrinya itu mempunyai pemikiran untuk melenyapkan janin yang baru saja mereka ketahui. itu anaknya. anak Rayhan pula. dan Rayhan tidak akan membiarkan itu terjadi.


" kenapa kamu melakukan ini padaku?! dasar kurang ajar.. jahat. jahat".. marah Nara yang mulai terisak sambil memukul mukul Rayhan. tapi Rayhan tidak menghiraukan amukan Nara dan tetap melanjutkan mengemudi mobilnya.


belum sampai di apartemen, Rayhan mendapatkan telepon yang sudah dipastikan itu adalah Anin. Nara yakin, terlihat dari expresi Rayhan saat mengangkatnya.


"Nara, aku harus pulang kerumah sekarang. Anin membutuhkanku".


nah kan Nara sudah menduganya. mau marah tapi takut dosa. lebih baik diam saja lah sebelum darahnya naik.. terserah apa mau suaminya yang menyebalkan.


" kamu mau ikut denganku? ". tanya Rayhan.


" ikut denganmu? cih,, hello gue mau dikemanain.ogah ya jadi kambing conge ". batin Nara kesal.


" tidak, terimakasih ". tolak Nara jutek


" baiklah.. ".


"tapii... tidak bisa. kamu harus ikut denganku ". jika dipikir pikir Rayhan takut kalau nanti Nara ditinggal sendirian, istrinya itu akan melenyapkan anaknya. bagaimana kalau Nara nekad dan perkataan yang Nara tadi ucapkan dilakukannya. Rayhan tidak mau itu terjadi. Nara harus ikut kemana dia pergi, titik.


" sudah kubilang aku TIDAK mau! ".


haishh.. suaminya ini yah tidak tahu apah apa artinya tidak mau! kalau tidak mau berarti ya tidak bisa. kalau tidak bisa ya jangan dipaksa. kalau dipaksa nanti jadi tersiksa. nah, kan authornya jadi mantun...


Rayhan sudah tidak peduli lagi Nara mau diajaknya pulang atau tidak. yang penting sekarang adalah Rayhan pulang untuk menemui Anin tanpa meninggalkan Nara.


sesampainya dirumah yang menurut Nara itu adalah rumah terkutuk, Nara nampak canggung. haruskah ia turut masuk mengikuti suaminya menemui istrinya yang lain? rasanya Nara teramat ingin menangis sekarang juga. ada rasa takut yang tiba-tiba menjalar ditubuhnya.


" turunlah, nanti akan ku jelaskan pada Anin ".


" a-aku tunggu disini saja".


melihat Nara yang nampak ragu ragu dan tidak berniat masuk akhirnya Rayhan pun tidak mau memaksanya.


"ya sudah. tunggu disini. jangan kemana-mana". Rayhan melirik ke bawah tepat diperut Nara yang masih rata. "tunggu dady disini. jangan biarkan momy pergi". ucapnya mengelus perut Nara halus berakhir dengan mengecup bibir Nara. membuat Nara mematung ditempat karena terkejut. gerakan Rayhan yang cepat dan tanpa ijin itu membuat Nara tidak bisa menolak ataupun menghindarinya. yang ada malah jantungnya yang menjadi berdebar tak karuan karena gugup.


setelah berat hati meninggalkan Nara dimobil Rayhan lekas berjalan cepat untuk segera menemui Anin yang katanya sangat membutuhkannya. Rayhan benar-benar menyesali kelakuannya yang tadi pagi sudah membentaknya. Rayhan sadar Anin melakukan itu juga karena kurangnya kasih sayang darinya.


" Anin... Anin.. ". teriak Rayhan memanggil nama Anin mencarinya. terdengar suara gemercik air shower yang terdengar mengucur dari arah kamar mandi. Rayhan yakin mungkin Anin sedang mandi atau semacamnya.


Rayhan langsung membuka pintu itu dan mendapati tubuh Anin yang sudah tidak berdaya dibawah guyuran shower.


" astaga Anin. apa yang kamu lakukan?! ". panik Rayhan langsung membopong Anin ala bridal style keluar dari kamar mandi. Rayhan tidak tahu mengapa Anin melakukan hal itu. Rayhan melucuti semua pakaian yang Anin kenakan dan membaringkan nya diranjang. tidak lupa pula ia langsung menutupinya dengan selimut.

__ADS_1


" Anin, tubuhmu panas sekali. sepertinya kamu demam". kata Rayhan yang menyadari suhu tubuh Anin tidak normal.


"maafkan aku sayang. aku telah membuat kesalahan". cicitnya dengan air mata yang sudah menetes. ya, Anin sangat menyesal telah mencoba berpaling dari Rayhan. dia terus merasa bersalah hingga menyiksa tubuhnya sendiri. tapi Anin juga tidak sepenuhnya menyalahkan dirinya sendiri. dia hilaf juga karena kesalahan Rayhan juga, bukan?.


mendengarnya mengungkit kembali kejadian itu membuat Rayhan menjadi meradang. ingin rasanya Rayhan marah dan pergi saja. tapi melihat Anin yang tidak berdaya membuat Rayhan mengurungkan niatnya.


" sudahlah, aku tidak mau membahasnya. aku akan mengompresmu dan memanggil dokter ". Rayhan beranjak dari bibir ranjang, tapi tangan Anin mencekal lengan Rayhan menghentikannya.


" aku kedinginan ". lirih Anin.


Rayhan benar-benar tidak berdaya melihat Anin yang seperti itu. Rayhan lantas membuka semua pakaiannya dan hanya menyisakan ****** ******** saja. ia merangkak naik ke ranjang dan mendekap tubuh Anin yang katanya kedinginan itu karena demam. Rayhan berharap apa yang dilakukannya akan membuat Anin lebih baik. Rayhan melakukan itu karena pernah mendengar hal semacam itu bahwa melakukan sentuhan kulit akan membuat suhu darah naik dan bisa menghangatkan tubuh, atau bagaimana lah itu yang jelas katanya bisa meredakan demam pada tubuh. dan Rayhan akan mencobanya barang kali perbuatannya ini adalah benar.


sedangkan disisi lain, Nara yang masih didalam mobil nampak sudah bosan karena menunggu terlalu lama tanpa melakukan apapun.


" haish, aku bosan sekali! ". Nara memandang langit yang terlihat mulai redup bertanda akan turunnya hujan.


" sepertinya akan turun hujan. apa lebih baik aku masuk rumah saja?tidak..tidak,jangan..tapi... tapi kalau tidak masuk kalau hujan pasti aku akan terjebak disini ". gumamnya menimbang nimbang


dan benar saja, rintik mulai jatuh kebumi menandakan akan segera mulai turunnya hujan. dengan gerakan buru buru Nara keluar mobil dan masuk rumah. ia tidak mau terjebak dimobil dan bosan sendirian. Nara akan masuk diam diam tanpa sepengetahuan Anin dan tidur dikamarnya yang dulu pernah ditempatinya. okeh itu ide bagus kan..


Nara mengayunkan langkahnya pelan menaiki anak tangga. Nara sangat berhati-hati menapakan kakinya dan mewaspadakan pandangannya. takutnya kepergok Anin, Nara rada takut dan malu kalau sampai itu terjadi. entah kenapa rasa itu muncul kalau memikirkan nama Anin. seperti ada rasa bersalah atau semacamnya yang mengusik hatinya. kendatipun adanya Nara ditengah tengah mereka bukanlah kesalahannya melainkan karena perjodohan konyol ini.


Nara menghentikan langkahnya tatkala melihat pintu kamar Anin dan Rayhan yang nampak tidak ditutup..


" ya. pintunya tidak ditutup? kalau aku lewat apa Anin tidak akan melihatku nanti? ". gumam Nara.


baru niat melangkah Nara mendengar sayub sayub menggelikan ditelinganya.


" Anin, apa tubuhku sudah menghangatkanmu? ".


" tubuh? hangat? sedang apa mereka? apa mereka? haish..! ".


penasaran Nara pun mengintip untuk melihat apa yang sedang mereka lakukan. apapun yang dilihatnya nanti Nara tidak akan cemburu, bukan? harusnya begitu. semoga.. tapii nyatanya melihat sendiri suaminya berada dibawah satu selimut dengan wanitanya apalagi dengan bertelanjang dada dan sedang mendekap dengan begitu intimnya ternyata membuat Nara hampir terserang jantung. pikiran Nara mulai berimajinasi, membayangkan pasti tadi mereka melakukannya dan dengan bodohnya dia menunggu dimobil sampai bosan.


perasaan Nara bagai diremas remas sekarang. itu sakit, sungguh. hingga tak terasa membuatnya tidak bisa untuk tidak menangis. ya, Nara menangis. mengingat Rayhan juga pernah menyetubuhi nya. bagaimana bisa Rayhan melakukan itu pada dua wanita. hati Nara kembali terasa tersayat seolah ada yang sengaja menggores luka tepat didalam sana.


Nara menutup mulutnya untuk meredakan suaranya agar tidak terisak. memundurkan langkahnya untuk segera pergi dari tempat terkutuk ini. memang tidak ada salahnya Nara menyebutnya rumah Rayhan adalah rumah terkutuk, pada dasarnya memang begitu.


Nara berlari keluar menerjang hujan yang sudah turun deras. tak peduli akan pakaiannya yang menjadi basah. yang penting saat ini adalah keluar dari rumah menyakitkan ini.


dipertengahan jalan Nara bingung arah yang akan ditujunya. lagi lagi Nara kebingungan. menyedihkan. Nara duduk di trotoar tak peduli dingin yang mulai menusuk kulitnya.


tatapannya masih menatap lurus melihat rintikan hujan yang tiba-tiba berhenti. tunggu dulu!! berhenti? tapi didepan sana masih lebat. kenapa hujannya hanya berhenti diatasnya?. Nara melirik keatas memastikan kenapa hanya ditempatnya saja yang sudah berhenti hujan.


dan Nara begitu terkejut ketika menemukan seseorang dibelakangnya. ternyata bukan hujan yang sudah berhenti, melainkan ada seseorang yang tengah memayunginya ditengah hujan.


bersambung....


*****

__ADS_1


kira kira siapa orangnya? simak kelanjutannya di episode berikutnya😊


ingat pesan author "selalu beri like dan vote kalian". thankyou 😘


__ADS_2