
Rayhan keluar menuju taman di samping rumahnya. duduk di pinggiran kolam renang dengan perasaan yang kacau.bisa bisanya dia bersikap seperti itu, membayangkan wajah Nara saat sedang bersama Anin.
"apa aku sudah gila.. arghh".erang ray menjambak rambutnya frustasi. memandang langit malam yang gelap, tanpa sadar ray menengok arah balkon kamar Nara dan melihatnya.
" sedang apa dia.? dia belum tidur?. gumam Rayhan.
Rayhan terus mengamati Nara di balkon kamarnya yang kini tengah memandang langit yang begitu mendukungnya. nasib langit sama dengan hatinya yang sama-sama mendung.
hidup Nara bagaikan ikan yang terjebak dalam bubu, tak bisa keluar dari takdirnya. ia tak menyalahkan kedua orang tuanya dan apalagi menyalahkan Tuhan. tapi mau gimana lagi dirinya memang sedang mengeluh saat ini. Nara sangat tidak bahagia dengan pernikahan ini, tidak seperti yang diharapkan oleh kedua orang tuanya dan dirinya sendiri.
takdirnya benar-benar menyakitkan. dia mencintai richo tapi tak bisa bersanding dengannya. dan suami yang dinikahinya menikah dengan wanita lain. kini ia harus menyaksikan adegan panas mereka yang tidak semestinya dilihatnya. walaupun Nara memaklum itu adalah adegan lumrah bagi setiap pasangan suami istri tapi hatinya tak bisa membohonginya bahwa dia sakit hati dan ada rasa tidak terima.
"ibu, kau bilang ray adalah orang yang bakalan membuatku bahagia, tapi nyatanya dia menyakitiku.. hiks hiks. apa semua orang tercipta untuk bisa menyakitiku bu? aku mau pulang, aku mau sama ibu".rancau Nara dalam tangisannya.
Nara tak menyadari jika Rayhan sedang mengamatinya di bawah sana. Rayhan juga tidak tau kalau Nara sedang menangis gara-gara dirinya. dan tak mendengar rancauan Nara malam ini.
"aku penasaran apa yang dilakukannya".kata ray.
__ADS_1
***
paginya Nara menahan kekesalannya, berusaha seolah kejadian tadi malam tidak pernah di lihatnya. meskipun tadi malam mereka tidak jadi melakukan sesuatu yang biasa dilakukan suami istri, tapi Nara tidak mengetahuinya. setahu Nara mereka sudah melakukan sesuatu tadi malam.
dan itu sukses membuat Nara menjadi seseorang yang pendiam pagi ini. rasanya malas sekali harus bertatap muka dan apalagi mengobrol dengan Rayhan dan Anin.
padahal pagi ini Rayhan mencoba membuat Nara kesal seperti hari hari kemarin dengan cara memanas manasi Nara dengan adegan romantis mereka. namun itu tidak membuat Nara melirik atau kesal sedikitpun.
"ada apa dengan si bocah? apa dia kesambet, tidak biasanya dia seperti itu".gumam ray dalam hati, menatap Nara yang diam sambil makan sarapannya tanpa menganggap Rayhan dan Anin ada. tidak biasanya Nara yang cerewet bisa menjadi pendiam seperti ini.
" bocah, kamu kenapa, apa kamu sakit? "tanya Rayhan penasaran. namun Nara hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
" kok mules sih".tanya ray heran.
"iya sayang, biasanya orang cerewet kalau diam itu tandanya sedang menahan mules. iya kan? ".
" benarkah? memangnya semalam kau makan apa saja ".tanya ray khawatir.
__ADS_1
Nara tambah males dengan obrolan mereka yang tambah membuatnya tidak mood pagi ini. Nara pun akhirnya memilih beranjak dari kursi meja makan tanpa menghabiskan sarapan dimeja makan, dia membawa roti selai yang dia makan dan berpamitan pergi ke kampus.
" aku pergi ke kampus. bay".pamit Nara dengan tidak sopannya.
"heh tunggu! "
"bocah! "
"Nara!! "
teriak Rayhan memanggil Nara, namun Nara tak menghiraukan ray yang terus memanggilnya.
lebih baik dirinya ngampus untuk bertemu teman temannya dan melupakan masalah rumah tangganya.
sesampainya di kampus, apa yang diharapkan Nara meleleh begitu saja setelah berpapasan dengan orang yang lama tak dia temui.
"ra! ".
__ADS_1
" astaga.! kau mengagetkan ku saja".kaget Nara karena tiba-tiba dikejutkan sosok manusia di depannya.
pertemuannya dengan richo mantan kekasihnya membuat Nara tambah tidak mood pagi ini. tapi hatinya ada sedikit kelegaan karena richo muncul kembali dengan keadaan baik baik saja. Nara juga heran mengapa semenjak kejadian sewaktu itu richo menghilang bagaikan ditelan bumi.